NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran pada diri sendiri

Kantor Pusat Rio Group – Kota A

Ruangan sekretaris pribadi Rio berubah menjadi pusat krisis dalam hitungan menit. Suara ketikan keyboard dan telepon berdering saling bersahut-sahut menciptakan simfoni kekacauan yang kontras dengan keheningan mencekam di wajah Rio. Ia duduk di balik meja mahogani, jari-jarinya mengetuk permukaan kayu dengan ritme yang tidak teratur,tanda kecemasan yang jarang terlihat pada pria yang biasanya begitu terkendali.

"Pak, kami sudah menghubungi tiga portal berita utama. Dua setuju menarik artikel dalam satu jam, tapi satu lagi meminta klarifikasi resmi sebelum menghapus," lapor sekretarisnya, suaranya tegang namun tetap profesional. "Kami juga sedang melacak sumber unggahan asli. Awalnya dari akun anonim di forum lokal, tapi IP-nya terenkripsi."

Rio mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari layar ponsel yang menampilkan screenshot artikel itu. Foto Siska di club itu... pakaian minim, pose yang terlalu akrab dengan pria yang tidak asing bahkan itu adalah dirinya. Judulnya : "Pengusaha muda Ternama Kota A Tertangkap Basah dengan perempuan lain? Kehidupan Malam yang Tersembunyi!"

Ini bukan sekadar gosip. Ini adalah serangan terencana. Seseorang ingin menghancurkan reputasinya, dan secara tidak langsung, menghancurkan sisa-sisa harga diri Davina sebagai mantan istrinya. Jika Zahra melihat ini, atau jika teman-teman sekolahnya menyebarkan... Rio menggertakkan gigi. Rasa bersalahnya terhadap Siska bercampur dengan kemarahan yang membakar. Dia menggunakan Siska sebagai pelarian emosional, dan sekarang wanita itu menjadi korban dari permainan kotor orang lain.

"Klarifikasi resmi akan keluar dari kantor humas kita," perintah Rio, suaranya rendah tapi tajam. "Tulis bahwa foto itu adalah manipulasi digital, hasil editan jahat yang bertujuan memfitnah. Siska adalah karyawan berprestasi yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi saya. Dan tambahkan..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah pahit. "...tambahkan bahwa saya akan menempuh jalur hukum terhadap penyebar hoaks ini. Jangan beri celah sedikitpun."

"Siap, Pak."

Setelah sekretarisnya keluar, Rio berdiri dan berjalan ke jendela. Pandangannya kosong menatap gedung-gedung tinggi Kota A. Skandal ini adalah cermin sempurna dari kekacauan dalam hidupnya sendiri. Dia mencoba mengendalikan narasi publik, sementara narasi pribadinya hancur berantakan.

Dia melindungi Siska dari sorotan media, tapi tidak bisa melindungi hatinya dari bayangan Davina. Dan yang paling menyakitkan: dia menyadari bahwa rasa paniknya bukan hanya tentang reputasi bisnis, tapi tentang ketakutan kehilangan satu-satunya hal yang masih murni dalam hidupnya,cinta seorang suami terhadap  mantan istrinya.

Rumah Davina – Kota C

Zahra terbangun dari tidur siangnya dengan rambut acak-acakan dan mata masih mengantuk. Davina segera bangkit, tersenyum lembut saat putrinya merenggangkan tangan minta dipeluk.

"Mama... Zahra mimpi tadi," gumam Zahra sambil memeluk leher Davina erat-erat.

"Mimpi apa, Sayang?" tanya Davina, mengusap punggung kecil itu.

"Mimpi Papa datang jemput Zahra. Tapi Papanya sedih banget. Terus Papa bilang maaf, terus pergi lagi."

Jantung Davina berhenti berdetak sesaat. Pelukan Zahra tiba-tiba terasa seperti beban yang luar biasa berat. Anak seusia ini seharusnya tidak membawa beban emosi orang dewasa dalam mimpinya. Davina menahan air mata, memastikan suaranya tetap stabil saat menjawab.

"Itu cuma mimpi, Zahra. Papa sayang kamu. Mama juga sayang kamu. Kita aman di sini."

Zahra mengangguk, tapi matanya masih menyimpan keraguan anak-anak yang intuitif. Davina membawanya ke ruang tamu, menyiapkan camilan sore, dan mengalihkan perhatian dengan cerita boneka kelinci.

Tapi di dalam dirinya, badai sedang berkecamuk. Mimpi Zahra adalah manifestasi dari ketegangan yang ia rasakan meski tidak dipahami sepenuhnya. Anak-anak menyerap energi orang tua mereka seperti spons.

Ponselnya bergetar lagi. Bukan dari Adit kali ini, tapi dari Dila sepupunya

Pesan-pesan berlalu-lalang dengan cepat:

"Vina, kamu lihat berita itu belum?"

"Itu benar Siska? Kok bisa-bisanya..."

"Kasian banget Zahra nanti dengar-dengar..."

"Rio harus bertanggung jawab!"

" Enak banget dia ya ,nyakitin kamu gini "

Davina menatap layar itu dengan tatapan datar. Tidak ada kemarahan meledak-ledak. Tidak ada dorongan untuk membela atau menyerang. Hanya kelelahan yang mendalam. 4 tahun pernikahan telah mengajarkannya bahwa skandal suami bukanlah tentang dia; itu tentang ego, kekuasaan, dan kegagalan komunikasi.

Dan sekarang, setelah perceraian, dia akhirnya bebas dari drama itu,secara legal. Tapi secara emosional? Luka lama masih terbuka lebar setiap kali nama Rio disebut dalam konteks negatif.

Ia mematikan notifikasi dari Dila sepupunya. Lalu membuka chat Adit yang masih terbaca: "Maafkan aku, Davina."

Dua pesan. Dua pria. Dua jenis penyesalan yang berbeda. Satu meminta maaf karena melanggar batas privasi; satu lagi (meski belum diucapkan) akan meminta maaf karena gagal melindungi keluarganya dari aib publik. Davina meletakkan ponselnya menghadap ke bawah. Hari ini, dia tidak akan membalas siapa pun. Hari ini, dia hanya akan menjadi ibu bagi Zahra. Itu saja. Cukup.

Apartemen Siska – Kota A

Siska duduk di tepi tempat tidurnya, ponsel tergenggam erat di tangan. Layarnya menampilkan artikel yang sama. Tangannya gemetar. Bukan karena takut pada Rio,dia tahu Rio akan menyelesaikannya. Tapi karena malu. Malu yang menusuk tulang.

Dia ingat pagi hari ini, saat Rio bilang "Aku butuh bicara serius nanti malam. Tentang kita." Kalimat itu sekarang terdengar seperti vonis hukuman mati. Rio tidak akan membatalkan pembicaraan itu karena skandal ini. Justru sebaliknya,skandal ini akan mempercepat akhir dari hubungan semu mereka.

Air mata jatuh tanpa suara. Bukan tangisan histeris, tapi tangisan sunyi seseorang yang menyadari bahwa cintanya yang tulus telah digunakan sebagai perisai oleh pria yang dicintainya. Dia rela menunggu, rela menerima sisa-sisa perhatian, rela menjadi "proses"tapi dia tidak rela menjadi alat untuk menyembunyikan luka orang lain dari dunia.

Ponselnya berdering. Nama 'Rio' muncul.

Siska menatapnya lama. Lalu, dengan napas yang bergetar, ia menekan tombol terima.

"Halo, Rio..."

"Siska..." Suara Rio terdengar lelah, tapi tegas. "Aku sudah atasi artikelnya. Besok pagi, semua akan hilang. Aku janji."

Jeda panjang. Siska menutup mata.

"Terima kasih, Rio. Tapi... aku pikir kita tidak perlu bicara malam ini. Aku sudah mengerti apa yang ingin kamu katakan."

"Siska, jangan—"

"Aku mencintaimu, Rio. Tapi cintaku bukan tempat sampah untuk rasa bersalahmu. Kamu berhak mencari Davina. Dan aku berhak mencari seseorang yang mencintaiku utuh, bukan sebagai pelarian."

Sambungan terputus. Siska meletakkan ponselnya, lalu menangis bukan karena kehilangan Rio, tapi karena ia menemukan keberanian untuk memilih dirinya sendiri.

Malam Hari – Tiga Kota, Tiga Kesadaran

Di Kediaman Davina, Davina memandikan Zahra, menyanyikan lagu pengantar tidur yang sama sejak bayi. Di antara busa sabun dan tawa renyah anaknya, ia merasakan sesuatu yang langka: kedamaian yang tidak bergantung pada validasi pria mana pun.

Di Kota A, Rio duduk sendirian di apartemennya yang mewah tapi kosong. Untuk pertama kalinya, dia tidak memikirkan Davina atau Siska. Dia memikirkan Zahra. Dan pertanyaan yang selama tujuh tahun ia hindari: "Apa warisan yang sebenarnya ingin kutinggalkan untuk anakku?"

Dan di suatu tempat di antara keduanya, Adit menatap langit malam dari balkon apartemennya. Pesan "Maafkan aku" masih terkirim, belum dibalas. Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak merasa cemas menanti balasan. Dia merasa... lega.

Karena meminta maaf yang tulus bukan tentang mendapatkan pengampunan; itu tentang mengakui kesalahan dan memberi ruang bagi orang lain untuk sembuh,dengan atau tanpa dirinya.Ia tidak memaksakan kehendaknya, namun itulah di sebut kedewasaan.

Tiga jiwa. Tiga jalan. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, mereka semua berjalan menuju arah yang sama: kejujuran pada diri sendiri.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!