Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Two Loyal Shadows
Atmosfer di taman Kediaman Awan Merah mendadak berubah drastis. Tatapan mata polos Mu Xuanyuan yang biasanya menghiasi paras tampannya menguap tanpa bekas, berganti dengan pandangan tajam seorang penguasa abadi yang sanggup menggetarkan jiwa. Aura tak terlihat merayap halus di udara, membuat dedaunan di sekitar mereka berhenti bergoyang.
Leng Yan, yang berdiri hanya beberapa langkah di depannya, menghentikan kipas lipat keemasannya. Senyum flamboyannya sedikit tertahan.
Sebagai seorang pakar ranah Immortal King yang mendominasi dunia bawah, sensor spiritualnya memberi peringatan bahaya yang teramat sangat. Di hadapannya saat ini bukan lagi pangeran gila yang bisa digoda sesuka hati, melainkan sesosok entitas mengerikan yang menyembunyikan kekuatannya di balik keindahan parasnya.
"Oho... tatapan mata ini," bisik Leng Yan dengan suara pelan, matanya berkilat penuh pemujaan yang makin menjadi-jadi. "Begitu dingin, begitu berkuasa. Sungguh, semakin kau menunjukkan sisi aslimu, semakin sulit bagiku untuk memalingkan pandangan, Pangeran Xuanyuan."
"Leng Yan," panggil Xuanyuan dengan nada datar yang dingin. "Kau menyebut Balai Lelang Xingzhou. Apa yang ingin kau sampaikan?"
Leng Yan mengibaskan kipasnya kembali, berusaha menguasai detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Jaringan intelijen Paviliun Redup mendeteksi pergerakan mencurigakan. Rumor tentang 'Eliksir Pemurni Darah Naga' dan 'Buah Kristal Es' yang disebarkan oleh Han Xingzhou rupanya memancing ikan-ikan besar dari luar kerajaan. Bukan hanya sekte-sekte lokal, tetapi utusan dari Kekaisaran Shenlong dan Sekte Iblis Darah juga telah mengutus pakar mereka ke ibu kota."
Leng Yan melangkah mendekat, merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan halus.
"Dan yang paling menarik... Pangeran Ke-3 milikmu itu, Lu Cangqiong, secara rahasia telah menghubungi sekte pembunuh bayaran untuk mengacaukan lelang tersebut. Dia berencana merebut eliksir itu demi menerobos ranahnya secara paksa sebelum Ujian Perburuan Musim Semi dimulai."
Xuanyuan mendengarkan laporan itu tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia justru mengulas senyum tipis—senyuman anggun namun dipenuhi rasa meremehkan yang amat sangat.
"Mengacaukan lelang milik Han Xingzhou?" Xuanyuan terkekeh pelan. "Cangqiong benar-benar melompati batas kebodohannya sendiri. Dia pikir balai lelang terbesar di benua itu hanya dijaga oleh pedagang biasa?"
"Tentu saja tidak," sahut sebuah suara wanita yang tegas dan nyaring dari arah atas tembok kediaman.
Brak!
Leng Shuang melompat turun dari tembok taman dengan pedang panjang terikat di punggungnya. Pakaian tempur ringkasnya menegaskan aura tomboi dan ketegasannya. Ia menatap kakaknya dengan pandangan jengkel yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
"Kakak! Bisakah kau tidak berdiri terlalu dekat dengan Pangeran Ke-14?!" bentak Leng Shuang seraya melangkah cepat dan memukul lengan Leng Yan dengan sarung pedangnya.
"Sudah kubilang, jangan mencampuri urusan keluarga kerajaan atau balai lelang rahasia itu! Kau ini pemilik rumah bordil, bukan menteri pertahanan!"
"Aduh, Shuang'er!" ringis Leng Yan sambil mengelus lengannya dramatis. "Aku hanya sedang bertukar informasi penting dengan calon pangeran impianku! Kenapa adik kembarku sendiri selalu menjadi penghalang kisah asmaraku?!"
"Kisah asmara kepalamu!" tembak Leng Shuang penuh emosi, memasang raut wajah facepalm yang amat dalam.
"Kau ini pria! Dia juga pria! Dan yang paling penting, dia ini pangeran kekaisaran yang sedang berpura-pura gila! Jika para petinggi istana melihatmu berkeliaran di sini setiap hari, Paviliun Redup milik kita bisa diserbu pasukan kerajaan!"
Gu Juechen dan Feng Wuchen yang menyaksikan interaksi dua bersaudara kembar itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ketegangan yang tadinya membumbung tinggi mendadak buyar oleh komedi picisan kakak-beradik pemilik rumah bordil tersebut.
Xuanyuan kembali menggelengkan kepala seraya menghembuskan napas pelan. Akting dinginnya luntur, berganti dengan helaan napas lelah.
"Kalian berdua benar-benar pasangan kembar yang sangat bising."
Leng Shuang langsung menghentikan omelannya, lalu berbalik dan membungkuk hormat kepada Xuanyuan dengan sikap prajurit sejati.
"Mohon maaf atas kelakuan kakak hamba yang tidak tahu malu ini, Pangeran Ke-14. Hamba tahu Anda memiliki kekuatan luar biasa yang menyamar di istana ini. Hamba hanya memastikan bahwa Paviliun Redup tidak akan diseret ke dalam pusaran konflik tahta Anda."
Xuanyuan menatap Leng Shuang dengan sedikit rasa kagum. Berbeda dengan kakaknya yang flamboyant dan bertindak berdasarkan impuls keindahan, Leng Shuang sangat praktis, tajam, dan realistis.
"Jangan khawatir, Nona Leng Shuang," balas Xuanyuan ramah.
"Selama kakakmu tidak mencoba memelukku atau menulis puisi picisannya di dinding kediamanku, Paviliun Redup akan tetap aman."
"Dengar itu, Kakak?! Hentikan puitismu!" gertak Leng Shuang seraya melotot ke arah Leng Yan.
Leng Yan hanya merajuk pelan, mengibaskan kipas emasnya seraya menatap Xuanyuan dengan mata berbinar. "Tapi keindahan Pangeran Xuanyuan terlalu sayang untuk dilewatkan dalam diam..."
"Ayo pulang!" Leng Shuang langsung menjambak bagian belakang kerah jubah sutra merah Leng Yan untuk kedua kalinya hari itu, menyeret tubuh kakaknya yang cukup jangkung itu memanjat tembok taman.
"T-tunggu! Shuang'er! Aku belum selesai bicara tentang Ujian Perburuan! Pangeran Xuanyuan! Jangan lupa bahwa aku akan selalu mendukungmu dari balik bayangan!" jerit Leng Yan dramatis saat tubuhnya dipaksa melompati tembok oleh adiknya.
Gedebuk!
Suara tubuh Leng Yan yang mendarat agak kasar di luar tembok disusul oleh omelan nyaring Leng Shuang yang memudar di kejauhan.
Taman kembali sunyi.
Feng Wuchen melangkah mendekati Xuanyuan. "Yang Mulia, mengenai kabar dari Leng Yan tentang Pangeran Ke-3 yang menyewa pembunuh bayaran untuk menyerang Balai Lelang Xingzhou..."
"Sampaikan pesan pada Han Xingzhou dan Po Jun," potong Xuanyuan tenang. Ia berjalan menuju meja batu taman dan menduduki kursi ukirnya dengan gaya anggun.
"Biarkan para pembunuh bayaran itu masuk ke dalam balai lelang. Namun, begitu mereka melangkah melewati pintu utama... pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang keluar dalam keadaan bernapas."
"Diterima, Yang Mulia," sahut Feng Wuchen tegas.
"Dan mengenai Ujian Perburuan Musim Semi tiga hari lagi..." Xuanyuan menyunggingkan senyuman jahil yang sangat memikat.
"Gu Juechen, siapkan tenda terbaik, beberapa botol anggur buah dari ruang dimensi, serta seperangkat alat pancing. Kita akan menjadikan arena perburuan kekaisaran sebagai tempat piknik pribadi."
Gu Juechen tersenyum lebar. "Hamba akan menyiapkan bahan makanan terbaik, Yang Mulia. Pangeran Ke-3 pasti akan sangat 'terkesan' melihat Anda menikmati hidup di tengah ancaman binatang buas."
Xuanyuan mengangkat pandangannya ke arah langit cerah Kekaisaran Tianming. Di balik topeng pangeran gila dan lemah yang ia kenakan setiap hari, pergerakan catur kekuasaannya telah dimulai.
Gelombang kekacauan mungkin akan segera melanda benua, tetapi bagi seorang Immortal Emperor Puncak, semua itu tak lebih dari panggung sandiwara yang siap ia nikmati.