Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — KEJUTAN DI KAMPUS
Senin pagi membawa hembusan udara segar di lingkungan Universitas Arunika. Setelah hampir dua pekan bergulat dengan drama perjodohan, pernikahan mendadak, dan adaptasi di lingkungan pesantren, Aurel akhirnya melangkahkan kakinya kembali ke selasar gedung Fakultas Seni dan Desain.
Aurel mengenakan kemeja oversized garis-garis biru laut yang dipadu dengan celana jins kehitaman dan sepatu kets putih favoritnya. Rambut bergelombangnya ia biarkan terurai bebas, berayun lembut seiring langkah kakinya yang penuh rasa rindu akan kehidupan normal. Bagi Aurel, kampus adalah satu-satunya benteng di mana ia merasa menjadi dirinya sendiri secara utuh—Aurel si mahasiswi tingkat akhir yang independen, bukan Aurel si istri ustadz.
Namun, Ilusi tentang "kehidupan normal" itu runtuh tidak sampai sepuluh menit setelah ia menginjakkan kaki di selasar.
"Aureeel!" Maya yang baru saja keluar dari ruang dosen langsung melambaikan tangan heboh. Ia berlari kecil mendekati Aurel, meneliti sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cengiran penuh arti. "Gimana kehidupan rumah tangga, Bu Ustadz? Masih selamat kan? Nggak ada drama nangis-nangis di pojokan kamar?"
Aurel memutar bola matanya pelan, menyenggol bahu Maya seraya berjalan beriringan menuju kantin tengah. "Jangan mulai, May. Aku ke sini mau bimbingan revisi bab empat sama fokus lulus, bukan mau diinterogasi."
Maya tertawa geli. "Ya maaf, abisnya kamu ngilang beberapa hari setelah nikah. Kita kan kepo!"
Namun, saat mereka melintasi koridor utama gedung C, Aurel mulai menyadari ada yang tidak beres. Beberapa kelompok mahasiswa yang sedang duduk di bangku-bangku semen tampak menoleh ke arahnya. Bisik-bisik halus terdengar merayap di antara hembusan angin. Pandangan mata beberapa junior dan teman seangkatannya tertambat pada jemari tangan kanan Aurel—tepatnya pada cincin emas polos yang kini melingkar manis di jari manisnya.
Aurel mengerutkan dahi, menegang. Kabar Pernikahannya ternyata sudah menyebar cepat seperti api menyiram rumput kering.
"Sumpah ya, rumor di kampus ini lebih cepat dari koneksi Wi-Fi," gumam Aurel ketus, mempercepat langkah kakinya.
Di area kantin yang riuh, Dito yang sedang duduk memegang gelas es teh melambaikan tangan. Saat Aurel dan Maya duduk di meja yang sama, Dito menyeringai tipis.
"Selamat datang kembali di dunia nyata, Mbak Pengantin," goda Dito santai.
"Dito, kalau kamu ikut-ikutan ngeledek, aku lempar botol kecap ini ke mukamu," ancam Aurel seraya menarik mangkuk baksonya.
Sebelum Dito sempat membalas, dua orang mahasiswi seangkatan mereka dari jurusan ilmu komunikasi menghampiri meja mereka dengan raut penasaran yang tidak ditutup-tutupi.
"Aurel! Beneran kamu udah nikah?" tanya salah satu dari mereka, matanya langsung menatap fokus ke arah cincin di jari Aurel. "Anak-anak pada heboh di grup angkatan! Katanya suamimu anak kiai besar ya? Ustadz muda yang sering ceramah di YouTube itu bukan sih?"
Aurel menahan napas sejenak. Ia sangat membenci momen ketika kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik atau bahan gosip tanpa izin. Pipi Aurel memanas oleh rasa risih yang membakar.
"Iya," jawab Aurel singkat dan datar, tanpa senyum.
"Wah, seriusan?!" mahasiswi satunya lagi menepuk tangan pelan dengan wajah takjub. "Kok bisa sih, Rel? Kamu kan anaknya santai banget, sering nongkrong malam, kok mau nikah sama ustadz? Terus gimana rasanya? Pasti tiap hari dikasih ceramah ya? Atau kamu sekarang wajib pakai kerudung kalau keluar rumah?"
Pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi itu terasa memojokkan, seolah-olah pernikahan Aurel adalah sebuah lelucon atau fenomena aneh yang patut dipertanyakan keabsahannya.
Aurel menegakkan punggungnya, menatap kedua mahasiswi itu dengan pandangan dingin yang tajam.
"Biasa aja," jawab Aurel singkat, menggidikkan bahunya dengan raut tidak peduli yang dipaksakan. "Nggak ada yang aneh. Suamikupun nggak pernah ribet ngatur-ngatur hidupku."
Kedua mahasiswi itu bertukar pandang kaku, menyadari ketidaksenangan di raut wajah Aurel, sebelum akhirnya pamit pergi dengan nada canggung.
Maya menepuk-nepuk bahu Aurel pelan. "Sabar, Rel. Biasalah, anak-anak pada kaget aja."
Aurel tidak menyahut. Ia mengaduk-aduk mangkuk baksonya tanpa selera. Biasa aja, katanya tadi kepada orang-orang. Padahal di dalam dadanya, Aurel tahu betul bahwa tidak ada satu pun hal di dalam hidupnya yang terasa biasa saja sejak pria bernama Muhammad Rasyid Al-Faruqi itu hadir.
Pukul empat sore, langit Kota Arunika mendadak berganti warna menjadi abu-abu gelap. Tanpa jeda panjang, hujan deras disertai angin kencang langsung mengguyur bumi, membuat ratusan mahasiswa berteduh dan menumpuk di area lobi utama kampus.
Aurel berdiri di dekat tiang beton lobi bersama Maya dan Dito. Ia menatap derai hujan yang menghantam pelataran parkir dengan desah napas frustrasi.
"Aduh, mana mobilku parkirnya agak jauh lagi di depan lapangan basket," keluh Aurel seraya melihat jam di ponselnya. "Gimana mau ngambilnya kalau hujannya sederas ini?"
"Tunggu berteduh sebentar aja, Rel," saran Dito. "Nanti kalau rada reda, tak antar pakai payungku."
Tepat saat itu, di tengah barisan mobil yang merayap perlahan melintasi jalanan depan lobi kampus, sebuah mobil SUV hitam yang sangat dikenal Aurel berhenti perlahan. Lampu hazard-nya menyala kedip-kedip di bawah siraman air hujan.
Pintu pengemudi terbuka.
Seorang pria keluar membawa sebuah payung besar berwarna biru tua. Pria itu mengenakan kemeja katun abu-abu rapi dan celana kain gelap. Peci hitamnya terpasang simetris, dan cara berjalannya begitu tenang melintasi genangan air hujan di pelataran.
Beberapa mahasiswi yang berdiri di sekitar lobi langsung berbisik-bisik, mengagumi perawakan tegap dan aura tenang pria yang baru saja datang tersebut.
Mata Aurel membelalak sempurna. "Rasyid?!"
Rasyid melangkah naik ke selasar lobi yang kering, melipat payung birunya pelan. Matanya dengan cepat menemukan keberadaan Aurel di antara kerumunan mahasiswa.
Rasyid mengatupkan kedua tangannya di dada, memberikan salam sopan kepada Maya dan Dito yang berdiri di samping Aurel. "Assalamu’alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas... eh, Ustadz Rasyid!" jawab Maya terperanjat, sementara Dito mengangguk penuh rasa hormat.
Aurel merasa seluruh mata di lobi kampus kini tertuju pada mereka berdua. Wajahnya mendadak memerah panik, bercampur rasa malu dan bingung yang luar biasa. Ia melangkah satu tindak mendekati Rasyid, berbisik kencang dengan nada menuntut di antara gemuruh suara hujan.
"Kenapa kamu ke sini?!" bisik Aurel kaku. "Kenapa kamu nggak ngabarin?"
Rasyid menatap wajah panik istrinya. Matanya yang jernih memancarkan kehangatan yang amat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan rasa ingin tahu dari puluhan mahasiswa di sekitar mereka.
"Karena hujan," jawab Rasyid singkat dan polos. Pria itu menyerahkan sebuah payung lipat kecil warna merah muda dari balik lipatan tangannya kepada Aurel. "Saya kebetulan ada keperluan di kantor kementerian agama di dekat sini. Saya ingat kamu bilang hari ini ada jadwal kuliah sampai sore, dan melihat hujan deras turun, saya pikir kamu mungkin kesulitan menuju area parkir."
Aurel menatap payung merah muda di tangannya, lalu menatap Rasyid dengan alis terangkat tinggi.
"Kan aku bisa jalan sendiri kalau udah reda! Atau bisa pinjam payung Dito!" sergah Aurel pelan, berusaha sekuat tenaga menekan intonasi suaranya agar tidak terdengar seperti sedang bertengkar di depan umum.
"Saya tahu kamu bisa," balas Rasyid mantap, tanpa ragu sedikit pun.
"Terus kenapa kamu tetep nekat ke sini?" cecar Aurel lagi, dadanya berdegup kencang oleh perasaan asing yang berkecamuk.
Rasyid menatap lurus ke dalam netra cokelat terang milik Aurel. Sebuah kurva senyum tipis—sangat halus namun begitu tulus—terukir di bibirnya.
"Karena saya cuma ingin menjemput istri saya," jawab Rasyid pelan. Suaranya rendah, namun tegas merayap masuk menembus gemuruh hujan dan riuh rendah lobi kampus.
Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tanpa rasa malu, tanpa niat pamer, hanya sebuah pengakuan polos dari seorang suami yang khawatir akan istrinya.
Aurel membeku seketika.
Lidahnya yang biasanya amat lincah menyusun kata-kata tajam mendadak lumpuh total. Tenggorokannya serasa tersumbat, dan kata-kata sanggahan yang sudah ia susun menguap begitu saja tanpa sisa. Pipinya mendadak terasa hangat dan membara hingga ke balik daun telinga.
Maya di belakangnya tampak menahan jeritan gemas seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara Dito hanya bisa tersenyum geleng-geleng kepala melihat pemandangan tersebut.
"Ayo," ajak Rasyid halus seraya kembali membuka payung biru besarnya, memayungi sebagian besar tubuh Aurel dari cipratan air hujan yang terbawa angin di tepi selasar. "Mobil saya terparkir di depan."
Aurel tidak sanggup membalas sepatah kata pun. Dengan kepala menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya dan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan, ia melangkah maju, berjalan berdampingan di bawah satu payung bersama pria berpeci hitam tersebut menuju mobil yang menanti.