NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027: Kebaikan Tidak Untuk Diperas

Rumah Mbah Warno berdiri di pinggir tempat pembuangan sementara, lebih tepat disebut gubuk yang menolak roboh.

Atap sengnya ditahan batu bata. Dindingnya campuran tripleks, spanduk bekas, dan papan tua. Di depan pintu ada karung botol plastik yang disusun rapi. Orang miskin yang hidup dari sisa orang lain sering lebih tertib daripada orang kaya yang hidup dari menipu rasa kasihan.

Bima datang pagi dengan motor sewaan biasa. Ia sengaja tidak membawa mobil mahal. Di tangan kirinya ada map kosong. Di tangan kanannya ada sarapan bubur ayam.

Mbah Warno terkejut. "Nak Bima benar datang?"

"Saya janji, Mbah. Makan dulu. Setelah itu kita lihat catatan."

Mbah Warno menerima bubur dengan mata berkaca-kaca. "Mbah belum bisa bayar."

"Kalau semua kebaikan harus langsung dibayar, dunia ini bangkrut, Mbah."

Mereka duduk di kursi plastik yang kakinya tidak sama panjang. Mbah Warno mengeluarkan buku catatan, struk transfer dari agen BRILink, dan beberapa kuitansi sekolah yang tampak meragukan. Bima memotret semuanya, memberi nomor, lalu menanyakan kronologi tanpa memotong.

Lima tahun lalu, Mbah Warno bertemu Agung di depan masjid. Anak itu menangis karena katanya tidak bisa membeli sepatu sekolah. Bu Waginah, ibunya, datang belakangan, bercerita tentang suami yang kabur, utang, biaya ujian, dan ancaman putus sekolah. Mbah Warno membantu sekali. Lalu dua kali. Lalu menjadi kebiasaan.

"Mbah pernah lihat rumah mereka?"

"Pernah sekali dari jauh. Katanya ngontrak kecil. Tapi Bu Waginah selalu bilang jangan datang, malu sama tetangga."

Bima mengaktifkan Peretas Tingkat Tinggi hanya sebatas mencari jejak publik: alamat KTP lama, media sosial Agung, unggahan Bu Waginah, foto motor, tag lokasi. Tidak perlu membobol hidup mereka. Kebohongan orang sering cukup banyak di tempat terbuka.

Dalam dua puluh menit, gambarnya jelas.

Agung memang anak SMA dan belum tentu jahat sepenuhnya. Fakta tetap jelas: ia hidup jauh dari cerita anak miskin yang hampir putus sekolah. Rumahnya permanen. Bu Waginah punya usaha katering kecil. Motor matic itu miliknya. Beberapa foto menunjukkan Agung memakai sepatu baru, makan di kafe, dan ikut les privat.

Yang lebih buruk: Mbah Warno bukan satu-satunya.

Ada tiga donatur lain di komentar lama Bu Waginah. Polanya sama: biaya sekolah, sakit mendadak, uang praktik, seragam hilang.

Bima menyimpan data itu sebagai petunjuk awal, lalu mencari jalur legal yang bersih. Ia meminta Mbah Warno menelpon Bu Waginah di pengeras suara. Drone Bayangan merekam dari sudut ruangan, bukti utama tetap ponsel Mbah Warno.

"Bu," kata Mbah Warno gugup, "Agung masih kurang biaya apa?"

Suara Bu Waginah langsung berubah manis. "Aduh, Pak Warno. Kebetulan sekali. Besok ada biaya ujian tambahan. Kalau bisa lima ratus ribu dulu. Kasihan Agung, Pak. Dia sudah malu sama teman-teman."

Bima menulis: klaim baru, jumlah Rp500.000, alasan ujian tambahan.

Ia memberi isyarat agar Mbah Warno bertanya, "Boleh saya bayar langsung ke sekolah?"

Di seberang, hening.

"Jangan, Pak. Sekolahnya ribet. Nanti saya yang urus. Bapak percaya sama saya, kan?"

Bima mengambil ponsel dan berbicara tenang. "Bu Waginah, ini Bima. Saya sedang bersama Mbah Warno. Besok kita bertemu di sekolah Agung. Kita cek biaya ujian itu bersama."

Suara Bu Waginah berubah tajam. "Siapa kamu ikut campur?"

"Orang yang sedang menghitung uang Mbah Warno selama lima tahun."

Telepon diputus.

Mbah Warno pucat. "Nak, jangan sampai Agung dimarahi ibunya."

"Mbah masih membela anak itu. Bagus. Tapi sekarang kita bedakan Agung dan ibunya. Kalau Agung ditekan, dia saksi. Kalau dia menikmati, dia ikut bertanggung jawab. Kita cari faktanya."

Bima menghubungi Bripka Wanto dan Pak Wisnu. Karena lokasinya masih Waringin dan pola penipuan menyasar warga rentan, Wanto setuju menerima laporan awal. Wisnu menyarankan membawa catatan, struk, rekaman telepon, dan pernyataan tertulis Mbah Warno.

Siang itu, mereka pergi ke sekolah Agung. Bima tidak datang sebagai orang marah. Ia datang ke bagian tata usaha, bertanya sopan tentang biaya ujian tambahan. Staf sekolah memeriksa sistem.

"Tidak ada biaya lima ratus ribu, Pak. Ujian sudah termasuk pembayaran semester. Agung juga tidak menunggak."

Mbah Warno memegang meja.

Di luar ruangan, Agung berdiri dengan wajah hancur. Bu Waginah datang sepuluh menit kemudian, marah-marah. Ia berhenti ketika melihat Bima, staf sekolah, dan dua lembar bukti transfer di meja.

"Ini urusan keluarga kami!" bentaknya.

Bima menatapnya. "Bukan. Ini urusan uang Mbah Warno. Dan mungkin uang tiga orang lain."

Agung tiba-tiba menangis. "Bu, sudah. Aku capek. Mbah Warno selalu kasih uang, tapi Ibu pakai buat arisan juga."

Wajah Bu Waginah pucat.

Kalimat anaknya sendiri lebih kuat daripada semua dokumen.

Sore itu, laporan awal dibuat di Polsek Waringin. Bu Waginah dipanggil untuk klarifikasi, lalu statusnya naik ketika tiga donatur lain berhasil dihubungi dan polanya sama.

Mbah Warno duduk di bangku Polsek, memegang bukunya seperti memegang tulang hidupnya.

"Nak Bima," katanya lirih, "Mbah bodoh, ya?"

"Tidak, Mbah. Orang baik tidak bodoh. Yang salah orang yang mengira kebaikan bisa diperas terus."

[SBE: Misi Selamatkan yang Tulus selesai]

[Peringkat: A]

[Poin +2.000]

Bima tidak memberi uang tunai langsung di depan Mbah Warno. Ia belajar dari kasus-kasus sebelumnya: bantuan tanpa struktur bisa menjadi masalah baru. Ia menghubungi Yayasan Kasih Sehat, membuat dana bantuan hidup atas nama program lansia, dan mengatur agar Mbah Warno mendapat tempat tinggal layak serta rekening bantuan bulanan.

Ketika Mbah Warno melihat saldo awal Rp125.000.000 di rekening program yang sah, tangannya gemetar.

"Siapa yang melakukan ini?"

Bima berdiri agak jauh, topi menutupi wajahnya.

Ia tidak menjawab.

Tiga donatur lain datang ke Polsek sore itu setelah dihubungi Pak Wanto. Seorang penjual gorengan, seorang guru ngaji, dan seorang sopir angkot. Jumlah uang mereka lebih kecil. Pola ceritanya sama. Biaya seragam. Biaya ujian. Biaya praktik. Semua dikirim ke rekening yang diarahkan Bu Waginah.

Bu Waginah mencoba membentak mereka satu per satu. "Kalian dulu ikhlas! Jangan sekarang minta balik!"

Bima meletakkan buku Mbah Warno di meja. "Ikhlas membantu anak sekolah berbeda dengan ikhlas ditipu. Jangan campur dua kata itu untuk menyelamatkan diri."

Pak Wanto meminta Bu Waginah duduk. Agung menunduk di kursi saksi, menangis tanpa suara. Bima tidak menyerangnya. Anak itu sudah terlalu lama dipakai sebagai alat. Ia tetap diminta memberi keterangan. Memperlakukan saksi dengan baik tetap tidak boleh mengaburkan fakta.

Ketika laporan selesai, Mbah Warno tidak langsung berdiri. Ia menatap tiga donatur lain, lalu berkata, "Ternyata Mbah tidak sendirian."

Penjual gorengan menjawab pahit, "Orang seperti kita sering malu mengaku tertipu, Mbah. Makanya dia berani ulang."

Kalimat itu membuat Bima makin yakin: kasus kecil ini perlu selesai dengan catatan hukum. Uang kembali saja tidak cukup.

Kebaikan tidak selalu perlu tanda tangan. Penipuan selalu perlu nama pelaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!