NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Canggung

Senja berhasil menghindari Rayhan hampir sepanjang pagi.

Dia sarapan lebih cepat, mengirim jadwal ke Pak Hadi sebelum Rayhan bertanya, lalu berangkat ke sanggar dengan alasan Ko Jefri ingin membahas konsep pertunjukan donasi. Semua alasan itu benar. Hanya saja, kebenaran juga bisa dipakai untuk bersembunyi.

Di mobil, Pak Hadi tidak mengomentari apa pun.

Itu membuat Senja semakin curiga.

"Pak Hadi," katanya akhirnya, "kalau seseorang ingin tidak membicarakan sesuatu, apakah rumah ini tetap akan tahu?"

Pak Hadi menatap jalan dari kursi depan. "Rumah tidak tahu, Nyonya. Tapi udara kadang berubah."

Senja menutup wajah dengan map catatan.

"Jadi tahu."

"Saya tidak mengatakan begitu."

Dia menyerah.

Di sanggar, Lara menagih cerita tepat setelah pemanasan.

"Nanti," bisik Senja.

"Kamu bilang nanti sejak kemarin."

"Ini bukan tempatnya."

"Berarti ada sesuatu."

Senja pura-pura tidak mendengar dan masuk ke latihan duet baru yang disiapkan Ko Jefri. Karena konsep pertunjukan donasi mulai dibicarakan, Ko Jefri mengundang seorang penari tamu laki-laki dari kelompok lain untuk mencoba kemungkinan formasi berpasangan. Gerakannya tidak romantis. Lebih seperti tubuh yang saling menopang saat jatuh dan bangkit.

"Senja, kamu jatuh ke sisi kanan. Dia menahan dari belakang bahu, bukan pinggang," instruksi Ko Jefri.

Senja mengangguk.

Penari tamu itu sopan. "Maaf kalau terlalu kuat."

"Tidak apa-apa," jawab Senja.

Musik dimulai. Senja bergerak dari posisi berdiri, lutut melemah seperti tubuh yang kehilangan tenaga, lalu penari tamu itu menahan bahunya agar dia tidak benar-benar jatuh. Sentuhan itu teknis, cepat, dan sepenuhnya bagian dari koreografi.

Namun saat mereka mengulang untuk ketiga kalinya, pintu sanggar terbuka.

Rayhan masuk bersama Pak Hadi.

Langkah Senja terlambat setengah hitungan.

Penari tamu itu otomatis menahan lebih kuat agar dia tidak goyah. Tangannya berpindah sedikit dari bahu ke punggung atas.

Wajah Rayhan tidak berubah.

Justru itu masalahnya.

Lara yang melihat dari sudut langsung menutup mulut dengan botol minum.

Ko Jefri mematikan musik. "Pak Wijaya?"

Rayhan mengangguk singkat. "Aku mengantar dokumen dari Gedung Kesenian. Pak Hadi bilang Senja di sini."

Pak Hadi memegang amplop cokelat, tampak sangat ingin menghilang.

Senja melepas posisi latihan dan berdiri tegak. "Dokumen apa?"

"Jadwal ruang kosong dan estimasi teknis yang diperbarui."

"Bisa dikirim."

"Bisa."

Jawaban itu membuat Lara batuk kecil.

Ko Jefri berjalan mengambil amplop. "Terima kasih. Kami memang membutuhkannya."

Rayhan menyerahkan amplop kepada Ko Jefri, tetapi matanya sempat jatuh pada penari tamu yang berdiri tidak jauh dari Senja. Penari itu, malang sekali, langsung menunduk sopan meski tidak melakukan kesalahan apa pun.

"Latihan duet?" tanya Rayhan.

"Untuk konsep tubuh yang jatuh dan ditolong," jawab Ko Jefri. "Masih eksplorasi."

"Hm."

Hanya itu.

Namun Senja bisa merasakan udara berubah.

Setelah Rayhan dan Pak Hadi keluar ke area tunggu, Lara langsung mendekat.

"Dia cemburu."

"Jangan mengada-ada."

"Aku punya mata."

"Itu latihan."

"Aku tahu. Dia juga tahu. Tetap cemburu."

Senja menatap pintu. "Rayhan tidak mungkin..."

Lara mengangkat alis.

Senja berhenti bicara.

Latihan setelah itu menjadi lebih kacau daripada sebelumnya. Setiap kali penari tamu menahan bahunya, Senja sadar Rayhan ada di luar. Itu membuat gerakannya terlalu hati-hati. Ko Jefri akhirnya menghela napas.

"Kita berhenti dulu. Senja, selesaikan urusanmu dengan Pak Wijaya sebelum kamu membuat koreografi ini terlihat seperti orang takut disentuh."

Wajah Senja memerah.

"Ko!"

"Aku hanya bicara sebagai koreografer."

Lara berbisik, "Koreografer yang sangat menikmati drama."

Senja keluar ke area tunggu dengan langkah kaku. Rayhan berdiri dekat jendela, membaca pesan. Pak Hadi tidak terlihat, mungkin sengaja memberi ruang.

"Kamu mengganggu latihan," kata Senja.

Rayhan mengangkat wajah. "Aku hanya mengantar dokumen."

"Dokumen bisa dikirim."

"Kamu sudah mengatakan itu."

"Jadi?"

"Jadi aku mendengarnya."

Senja menarik napas. "Itu latihan. Sentuhan tadi bagian dari koreografi."

"Aku tahu."

"Dia tidak melakukan apa pun."

"Aku juga tahu."

"Lalu kenapa wajahmu seperti mau memecat seseorang?"

Rayhan menatapnya beberapa detik.

"Aku tidak suka."

Jawaban itu begitu jujur sampai Senja lupa marah.

"Kamu tidak suka?"

"Tidak."

"Tapi kamu tahu itu latihan."

"Ya."

"Dan kamu tahu tari kadang membutuhkan partner."

"Ya."

"Jadi?"

Rayhan memasukkan ponsel ke saku. "Mengetahui sesuatu masuk akal tidak otomatis membuatku menyukainya."

Senja terdiam.

Itu bukan jawaban yang dewasa sepenuhnya. Tetapi juga bukan larangan. Bukan tuduhan. Bukan kontrol. Hanya pengakuan kasar dari seseorang yang jarang mengakui perasaannya.

"Kamu mau melarangku latihan duet?" tanya Senja pelan.

"Tidak."

"Yakin?"

"Aku tidak sebodoh itu."

Senja hampir tersenyum. "Kamu yakin?"

Rayhan menyipitkan mata. "Jangan menguji."

"Aku hanya bertanya."

"Aku tidak akan melarang." Suaranya lebih rendah. "Tapi mungkin aku perlu waktu untuk terbiasa."

Kalimat itu membuat seluruh kemarahan Senja turun setengah.

"Aku bisa memberitahumu kalau ada latihan partner."

"Tidak perlu minta izin."

"Aku tidak bilang minta izin. Aku bilang memberi tahu."

Rayhan diam sebentar. "Itu boleh."

Senja mengangguk. "Dan kamu tidak boleh masuk tiba-tiba dengan wajah membunuh orang."

"Wajahku memang begini."

"Tidak. Wajahmu punya beberapa tingkat mengerikan."

Untuk sepersekian detik, Rayhan tampak ingin membantah. Lalu dia berkata, "Baik. Aku akan mencoba tingkat yang lebih rendah."

Senja tertawa.

Suara itu keluar begitu saja.

Rayhan menatapnya, dan ketegangan di wajahnya melunak sedikit.

Dari pintu sanggar, Lara mengintip tanpa malu. "Sudah selesai? Kami butuh penari kami kembali."

Senja menoleh tajam. "Lara!"

Rayhan berkata datar, "Ambil dia."

Lara menunjuk Rayhan. "Jangan cemberut dari luar. Mengganggu estetika."

Rayhan menatapnya.

Lara langsung mundur, tetapi masih tertawa.

Senja kembali ke ruang latihan dengan wajah panas. Namun kali ini, saat penari tamu kembali menahan bahunya sesuai koreografi, tubuhnya tidak terlalu kaku.

Di luar, Rayhan tetap menunggu beberapa menit sebelum pergi.

Dia tidak masuk lagi.

Saat Pak Hadi mendekat, Rayhan sempat berkata, "Penari tamu itu..."

Pak Hadi menunggu.

Kalimat berikutnya hampir keluar: cari tahu siapa dia.

Perintah itu mudah. Terlalu mudah. Dalam dunia Rayhan, setiap rasa tidak nyaman biasanya diselesaikan dengan informasi, pengawasan, dan kendali. Tetapi dari balik kaca, Senja sedang mengulang gerakan jatuh dan bangkit. Dia tidak terlihat terancam. Dia terlihat bekerja.

Rayhan menutup mulutnya.

"Tuan muda?" tanya Pak Hadi hati-hati.

"Tidak jadi."

Pak Hadi menunduk. "Baik."

Rayhan memasukkan tangan ke saku, menggenggam ponsel yang tidak jadi dipakai untuk memberi perintah.

Tetapi sebelum benar-benar keluar, dia melihat Senja bergerak di cermin, jatuh dan ditahan oleh orang lain, lalu bangkit dengan kekuatannya sendiri.

Dia masih tidak suka.

Namun untuk pertama kalinya, Rayhan membiarkan rasa tidak suka itu tetap menjadi miliknya, bukan menjadi pagar untuk Senja.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!