**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Latihan Bela Negara
Di luar studio Kemang, langit Jakarta mulai gelap. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Keira merasa masa depan tidak hanya berisi ruang ICU.
Seminggu kemudian, masa depan itu tetap padat, tetapi mulai punya bentuk. Pagi untuk latihan dasar di studio Sophia, siang untuk kelas, sore untuk RS Kurnia, malam untuk tugas dan membaca materi teori gerak. Rayhan mengatur jadwal makan seperti sekretaris pribadi yang terlalu galak, sementara Keira belajar menerima bantuan tanpa merasa setiap suapan adalah utang.
Liana belum sadar, tetapi kondisinya stabil.
Karena itu, saat UI mengumumkan program latihan bela negara dua hari untuk mahasiswa baru dan lintas jurusan, Keira tidak punya alasan resmi untuk menolak. Program itu diadakan di fasilitas pelatihan luar kampus, bekerja sama dengan instruktur profesional. Materinya tidak seberat militer sungguhan, tetapi cukup membuat mahasiswa kota mengeluh sejak pagi: baris-berbaris, outbound, first aid, simulasi evakuasi, dan sesi menembak target dengan senjata latihan berpeluru karet di bawah pengawasan ketat.
Keira berdiri di lapangan dengan topi terlalu besar, rompi pelindung, dan wajah kurang tidur.
"Kau yakin tidak mau surat izin sakit?" tanya Rayhan.
Ia muncul dengan seragam latihan hitam, tampak terlalu cocok dengan suasana sampai beberapa mahasiswa lupa mengeluh. Sebagai atlet kampus dan peserta tingkat lanjut, Rayhan diminta membantu instruktur di sesi fisik dan simulasi.
"Aku sudah terlalu sering absen," jawab Keira. "Kalau aku terus bersembunyi karena Mama sakit, Mama akan marah saat bangun nanti."
Rayhan menatapnya sebentar. "Kau makin keras kepala."
"Belajar dari pacarku."
Senyum Rayhan muncul cepat. "Ulangi."
"Tidak."
Peluit instruktur menyelamatkan Keira dari rayuan berikutnya.
Sesi menembak target dimulai setelah makan siang. Mahasiswa dibagi per kelompok. Senjata latihan itu tidak mematikan, tetapi bentuk dan bobotnya tetap membuat Keira tegang. Ia berdiri di garis tembak, kedua tangan memegang grip terlalu kaku.
"Bahumu turun," kata instruktur.
Keira mencoba mengikuti, tetapi bidikannya tetap bergerak.
Rayhan datang dari belakang. "Boleh saya bantu?"
Instruktur mengenal reputasinya dan mengangguk. "Pastikan jari tetap aman sampai aba-aba."
Rayhan berdiri tepat di belakang Keira. Tangannya menutup punggung tangan Keira, mengatur posisi jari, lalu telapak kirinya menahan siku Keira agar tidak terlalu tegang. Tubuhnya tidak menempel sepenuhnya, tetapi cukup dekat untuk membuat Keira lupa suara lapangan.
"Napas," bisiknya.
"Aku bernapas."
"Tidak. Kau menahan."
Keira menarik napas pelan.
"Lihat target. Jangan lihat senjata. Senjata cuma jalan. Tujuanmu di depan."
Kalimat itu terdengar seperti pelajaran lain yang tidak hanya tentang menembak.
Rayhan mengarahkan moncong ke sasaran. "Saat siap, tekan pelan. Jangan tarik kasar."
Keira menekan pelatuk.
Peluru karet menghantam lingkar luar target.
"Kena!" seru Sania dari belakang garis, ikut dalam kelompok berbeda.
Keira menoleh dengan mata berbinar. "Kena."
Rayhan menatapnya, bukan target. "Aku lihat."
Ia tidak berkata bangga, tetapi wajahnya sudah mengatakannya.
Di sisi lain lapangan, Varian berdiri bersama beberapa mahasiswa senior. Sejak skandal Tania, ia tidak banyak bicara di depan Keira, tetapi tatapannya selalu hadir seperti noda yang tidak mau hilang. Di tangannya ada cup milk tea dari kantin pelatihan, sedotan masih menempel di bibir.
"Rayhan sekarang jadi pelatih pribadi?" ucap Varian cukup keras. "Hati-hati, Keira. Dia selalu suka mengatur orang sampai tidak bisa bernapas."
Keira menegang.
Rayhan tidak melepaskan tangan Keira. "Kau iri karena tidak ada yang mau kuajari?"
Beberapa mahasiswa tertawa kecil.
Varian tersenyum. "Aku cuma khawatir. Dia baru saja mengorbankan banyak hal demi keluargamu, kan? Jangan-jangan nanti kau juga harus membayar dengan cara lain."
Keira tidak memahami seluruh maksudnya, tetapi kata mengorbankan membuat dadanya tersentak.
Rayhan merasakan perubahan tubuhnya.
"Kei," katanya pelan. "Pegang senjata."
"Ray..."
"Aman. Aku yang bidik."
Instruktur hendak menegur, tetapi Rayhan sudah mengangkat tangan memberi tanda bahwa ia masih berada di area aman. Ia mengambil senjata latihan dari Keira, mengubah posisi ke target samping yang kosong, lalu matanya bergeser ke tangan Varian.
"Rayhan," instruktur memperingatkan.
Rayhan tersenyum. "Tidak kena orang."
Ia menekan pelatuk.
Peluru karet melesat melewati jarak aman, menghantam cup milk tea di tangan Varian. Cup itu pecah dari sisi, teh susu muncrat ke seragam putih Varian.
Lapangan sunyi satu detik.
Lalu tawa meledak.
Varian berdiri kaku, seragamnya basah kecokelatan, sedotan masih menggantung bodoh di tangannya.
Rayhan menurunkan senjata, menyerahkannya kembali kepada instruktur dengan sopan. "Maaf, Pak. Target bergerak."
Instruktur menahan mulutnya agar tidak tertawa. "Jangan ulangi."
"Siap."
Keira menatap Rayhan dengan mata melebar. "Kau gila."
"Sedikit."
"Kalau kena tangannya?"
"Tidak akan."
"Terlalu percaya diri."
Rayhan menunduk, suaranya hanya untuk Keira. "Kalau tentang melindungimu, aku harus percaya diri."
Di seberang lapangan, Varian meremas cup yang sudah rusak. Kali ini tidak ada senyum di wajahnya.
Keira melihat itu, lalu untuk pertama kalinya tidak merasa takut. Ia mengangkat senjata latihan lagi, membidik targetnya sendiri, dan menekan pelatuk.
Peluru kedua mengenai lingkar tengah.
Rayhan bertepuk tangan satu kali, pelan tetapi jelas.
"Itu pacarku."
Instruktur ikut melihat target dan mengangguk. "Bagus. Untuk pemula, kontrol napasmu cepat membaik. Ingat rasa tembakan kedua itu."
Keira menurunkan senjata latihan dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Selama beberapa minggu terakhir, tubuhnya lebih sering gemetar karena takut. Hari itu, untuk pertama kalinya, gemetar itu berubah menjadi tenaga.
Rayhan mengambil handuk kecil dari meja perlengkapan dan menyodorkannya.
"Lap tanganmu. Kau berkeringat."
"Aku baru menembak lingkar tengah."
"Aku tahu."
"Kau tidak terdengar cukup kagum."
Rayhan menunduk, senyumnya melembut. "Kalau aku bilang aku sangat kagum, kau akan besar kepala?"
"Mungkin."
"Bagus. Sesekali besar kepala juga perlu."