Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga—Keterlambatan Tamu Agung
Suasana di dalam aula kian menegang setelah mendengar pernyataan blak-blakan dari Shen Mufeng. Namun, Gu Mingyue yang menyadari perubahan atmosfer itu justru menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Jenderal Agung Shen, seingatku pernah mendengar sebuah rumor bahwa strategi perang adakalanya memang berada di luar batas akal sehat kita," ucap Mingyue pelan, memecah keheningan yang mencekam.
Mendengar intervensi tersebut, Shen Mufeng justru terkekeh pelan. "Putri sulung Anda begitu cerdas, Jenderal Gu."
Sementara itu, Jenderal Gu masih mematung diam dengan wajah kaku.
"Tentu saja, kecerdasannya itu jelas bukan turun darimu, melainkan dari istrimu, Nyonya Besar Gu," ejek Shen Mufeng lagi tanpa tedeng aling-aling.
Jenderal Gu mengepalkan tangannya di balik jubah, berusaha menahan geram sebelum memaksakan suara, "Jenderal Agung Shen terlalu memuji putriku."
"Tentu saja tidak. Sebab, kehadiran Nona Besar Gu di sini setidaknya berhasil membawa sedikit kelegaan di antara ketegangan para pejabat yang hadir," ucap Shen Mufeng pelan.
Namun, sepasang mata elangnya menyapu seisi ruangan dengan tatapan jenaka sekaligus mengintimidasi, membuat para pejabat yang tadinya menahan napas langsung memalingkan wajah dengan canggung.
Tepat setelah tatapan intimidatif Shen Mufeng menyapu ke segala penjuru, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar bergema dari arah luar aula. Begitu sosok itu melangkah masuk, seisi ruangan langsung tertuju padanya.
Zhao Yuchen berdiri di sana dalam balutan jubah biru bangsawannya yang tampak kusut di bagian depan. Napasnya tersengal-sengal, sementara wajahnya memerah dengan bulir peluh yang membasahi dahi.
Tak berselang lama, Gu Lian menyusul masuk ke dalam ruangan. Gaun hanfu merah mudanya yang senada dengan kulit putihnya tampak tidak rapi, terutama di bagian rok bawah yang terlihat sangat kusut. Dengan napas yang sama-sama tersengal, wajah gadis itu merona merah padam, dan ia berjalan dengan tubuh yang seolah gemetar menahan sesuatu.
Melihat pemandangan memalukan itu, Gu Mingyue menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin sebelum melempar pertanyaan dengan nada suara yang teramat lembut.
"Adik, apakah kamu sangat ketakutan hingga tubuhmu gemetar seperti itu?"
Gu Lian yang akhirnya berhasil mencapai kursinya tampak terdiam sesaat. Jika dilihat secara saksama, riasan di sudut bibirnya agak berantakan.
"Salam, Ayahanda. Tadi ... Lian terlambat karena bangun agak siang," kilah Gu Lian terbata.
Gu Mingyue menatap lekat rona merah di wajah adiknya yang tidak wajar. "Adik, apakah kamu kelelahan setelah berlarian?" tanyanya lagi, berpura-pura cemas.
Gu Lian menatap balik mata Gu Mingyue, mencoba menyembunyikan kepanikan. "Kakak, maafkan saya. Adik memang agak kelelahan."
"Duduklah dan nikmati jamuannya. Namun, jika kamu merasa tidak nyaman dengan pakaianmu yang kusut itu, mintalah Li'er untuk mengambilkan pakaian ganti terbaik milikku."
Gu Lian menggeleng pelan dengan senyum kaku. "Kurasa tidak perlu, Kak."
"Baiklah, jika kamu berubah pikiran, katakan saja padaku." Tatapan Gu Mingyue mendikte tajam selama beberapa saat. "Sebab selain kusut, pakaianmu juga tampak agak basah karena keringat."
"Terima kasih atas perhatiannya, Kakak."
Tiba-tiba, sebuah suara paruh baya menginterupsi pelan. "Nona Besar Gu sungguh sangat perhatian, bahkan pada hal-hal kecil milik adiknya," puji Pejabat Wang yang kembali bersuara. "Semoga kalian berdua selalu akur seperti ini."
Gu Mingyue menyunggingkan senyum samar. Ia mengangkat cawan araknya ke arah Pejabat Wang sebagai bentuk penghormatan, lalu meminumnya dengan anggun.
"Ngomong-ngomong, saya mendengar kabar burung bahwa Nona Besar Gu akan segera menikah dengan Tuan Muda Zhao," lanjut pria paruh baya itu lagi.
Sensasi déjà vu seketika menghantam benak Gu Mingyue. Ucapan Pejabat Wang masih persis sama seperti di kehidupan lalunya. "Sungguh berkat dari Dewa jika pernikahan itu memang terjadi. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi."
Gu Mingyue tidak lagi tersipu malu seperti dulu. Ia justru mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Zhao Yuchen yang sejak tadi matanya terus mencuri pandang ke arah Gu Lian.
"Saya rasa, Tuan Muda Zhao jauh lebih menyukai adik saya, Gu Lian," ucap Mingyue tenang, memotong harapan kosong semua orang.
Seketika itu juga, suasana aula mendadak hening. Beberapa pasang mata menatap Gu Mingyue dengan pandangan syok dan tidak percaya. Namun, sang Putri Sulung justru menggeser arah tatapannya, mengunci pandangannya tepat pada manik mata Shen Mufeng.
"Sama halnya seperti saya ... yang jauh lebih menyukai Jenderal Agung Shen, sang penolong saya."
BOM!
Keheningan yang tadinya canggung seketika pecah menjadi riuh bisikan yang riuh rendah di sudut-sudut ruangan. Shen Mufeng perlahan menoleh, menatap Gu Mingyue dengan sepasang mata elangnya yang berkilat tajam dan berbahaya. Sebelah alisnya terangkat tipis. Tangannya yang memainkan cawan arak seketika berhenti.
Gu Mingyue masih mengingat jelas rumor jahat yang beredar luas di kehidupan sebelumnya: desas-desus bahwa Shen Mufeng tidak memiliki ketertarikan pada wanita. Seolah membenarkan berita itu, sang Jenderal Agung memang tidak pernah menikah, bahkan hingga Gu Mingyue tewas di usia pernikahannya yang ketujuh di masa lalu.
Kini, pria berwibawa itu menatapnya lurus tanpa ekspresi. Di sisi lain, Zhao Yuchen juga memelotot ke arah Gu Mingyue dengan wajah tersinggung.
"Apa maksud Anda berkata seperti itu, Nona Besar Gu?" tuntut Zhao Yuchen, berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.
Gu Mingyue membalas tatapan itu dengan ketenangan sedingin es. "Tidak ada maksud lain, Tuan Muda Zhao. Saya hanya kebetulan melihat ... betapa lembutnya tatapan Anda yang tertuju kepada adik saya sejak melangkah masuk ke aula ini."
"Tapi..." Ucapan Zhao Yuchen menggantung di udara, tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa malu dan amarah yang bergolak.
"Bagaimana jika pernikahan Anda dan Gu Lian segera dilaksanakan saja?" potong Gu Mingyue dengan nada bicara yang meniru antusiasme tipis.
Namun, sebuah deheman berat dan penuh penekanan dari ayahnya seketika memotong kalimat Mingyue.
"Gu Mingyue, urusan pernikahan sebaiknya kita bicarakan nanti setelah jamuan ini selesai," tegur Jenderal Gu dengan kilat mata memperingatkan.
Gu Mingyue menyunggingkan senyum samar yang tampak patuh, namun sorot matanya tetap dingin. "Tentu saja, Ayahanda. Saya juga perlu bersiap karena saya telah menemukan pria yang cocok untuk saya."
Suasana di dalam aula kian mencekam, diselimuti keheningan yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Tatapan para tamu undangan bergerak gelisah, menatap bergantian antara Gu Mingyue yang tampak tenang dan Shen Mufeng yang masih bergemas dalam kebungkamannya.
Sebelum ayahnya sempat mengamuk karena harga dirinya diinjak-injak, Gu Mingyue kembali melempar umpan matang. "Sebab, saya telah menyaksikan sendiri bagaimana kegagahan Jenderal Agung Shen ketika menolong saya di Jembatan Xue, saat festival lentera di pasar pusat bergulir."
Seketika itu juga, lusinan pasang mata langsung beralih menatap Shen Mufeng dengan penuh rasa ingin tahu. Ucapan blak-blakan dari Putri Sulung kediaman Gu tersebut seolah menjadi kapak besar yang siap mematahkan rumor jahat tentang sang Jenderal Agung yang selama ini beredar di ibu kota.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya