NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

​Sepeninggal ibunya, ruangan itu kembali sunyi untuk beberapa saat. Riska melangkah perlahan mendekati ranjang, menatap lekat tubuh ringkih Nadya yang masih begitu pucat. Tanpa aba-aba, pertahanannya runtuh, ia langsung merengkuh tubuh Nadya ke dalam pelukan erat yang bergetar.

​"Nad, maaf... maafin gue, ya..." tangis Riska pecah seketika, raungannya terdengar begitu menyayat hati di balik ceruk leher Nadya. "Ini semua gara-gara gue. Seandainya hari itu gue tidak memaksa lo untuk menerima tawaran iklan itu, lo tidak akan pernah bertemu dan dilukai oleh si gila Arnold."

​Nadya bisa merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa hebat dari tubuh sahabatnya yang bergetar. Bahkan dalam hitungan detik, bahu pakaian rumah sakit yang ia kenakan kini telah basah oleh air mata Riska yang tumpah tak terbendung.

​"Lo tahu gak, sih? Dari kemarin gue hubungin nomor lo sama sekali gak aktif. Ponsel om dan tante juga sama saja. Untung tadi gue nekat datang ke rumah lo," ucap Riska terbata-bata di sela isaknya, mencoba menumpahkan seluruh kepanikan yang dipendamnya sendiri. "Bi Siti bilang lo masuk rumah sakit karena ditusuk. Sialan, seharusnya dari kemarin-kemarin gue langsung datang ke rumah lo. Bodoh banget ya gue jadi sahabat...

​"Ya, Ris. Lo emang bodoh," sahut Nadya santai, sembari menepuk-nepuk lembut punggung Riska untuk menenangkannya.

​"Kok lo malah mengatain gue bodoh, sih Nad?" Riska langsung menguraikan pelukannya, mengerucutkan bibir dengan nada protes yang kentara meski matanya masih sembap merah.

​Nadya terkekeh pelan melihat ekspresi sahabatnya itu. "Ish, lagian lo sendiri yang ngaku bodoh tadi. Gue cuma mengiyakan."

​Riska mendengus jengkel, mengusap kasar sisa air mata di pipinya. "Iya sih, tapi... ah, sudahlah."Raut wajahnya seketika kembali meredup, berganti kecemasan yang mendalam saat menatap Nadya. "Gue benar-benar tidak menyangka, Nad, kalau Arnold bisa seberbahaya itu, hanya karena cinta"

​"Gue juga, Ris," bisik Nadya. Ia sendiri masih tidak habis pikir bagaimana penolakannya bisa memicu kegilaan Arnold hingga cowok itu nekat buta hukum dan melakukan tindakan kriminal sekeji ini.

​Namun, benak Nadya justru mengembara lebih jauh. Jika dipikir-pikir, posisinya saat ini tidak jauh berbeda dengan Arnold, seorang pengejar yang mendambakan hati seseorang yang sama sekali tidak menginginkannya. Pertanyaan mengerikan itu tiba-tiba mencuat, menghantam relung hatinya. Jika suatu hari nanti gue melihat Kak Rexsaka bersanding dengan wanita lain, apakah gue akan menjadi senekat Arnold? Apa gue juga akan jadi monster yang tega mencelakai Kak Rex dan wanita itu?

​Lamunan gelap itu seketika buyar oleh tepukan pelan di bahunya.

​"Lo kebiasaan ya, Nad. Kalau lagi ngobrol sama gue pasti selalu melamun," protes Riska, membuyarkan keheningan yang sempat tercipta.

​Nadya tersenyum getir, menggeleng pelan. "Gue... gue cuma lagi berpikir, bagaimana kalau ternyata gue ini sama saja? Sama gila dan mengerikannya seperti Arnold."

​Riska mengernyitkan dahi, menatap Nadya dengan tatapan tak habis pikir. "Ngomong apa sih lo, Nad? Ya jelas bedalah! Lo itu berjuang demi cinta, bukan terobsesi mau membunuh orang. Jangan menyamakan diri lo sama psikopat kayak dia, ah. Seram gue dengarnya."

​Kata-kata Riska perlahan menarik Nadya kembali ke realitas, mengikis sejenak kabut kecemasan yang sempat menggelayuti pikirannya. Ia mengembuskan napas lega, menyadari betapa konyolnya ketakutan itu baru saja. Berusaha mengalihkan atmosfer yang sempat menegang, Nadya menegakkan sedikit posisi duduknya dan menatap sahabat sekaligus manajernya itu dengan raut penuh rasa bersalah.

​"sorry, Ris... gue malah bahas yang enggak-enggak," ucap Nadya, suaranya kini beralih lebih serius. "Terus, bagaimana soal proyek iklan kemarin? Pihak klien pada marah tidak sama kita karena gue tiba-tiba batal datang? Atau... prosesnya ditunda?"

Riska tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot lesu seolah beban berat baru saja bertumpu di sana. Tatapannya mendadak layu, dipenuhi rasa tidak enak saat harus menyampaikan kenyataan pahit ini pada Nadya yang masih terkulai lemas.

​"Mereka... mereka memutuskan untuk mengganti modelnya, Nad," cicit Riska dengan suara yang merendah. Namun, sedetik kemudian ia buru-buru mendekat dan mendekap Nadya hangat. "Tapi ini murni bukan salah lo, Nad. Mereka saja yang tidak sabaran! Padahal kemarin mereka sendiri yang memohon-mohon ke gue agar lo mau jadi modelnya. Tapi lo gak usah fikirkan itu. Untuk urusan kerjaan, nanti bisa gue cari lagi. Yang penting sekarang lo selamat. Lo jauh lebih berharga dari pekerjaan apa pun, Nad."

​Nadya terdiam, membiarkan keheningan merayap sesaat di antara mereka. Otaknya berputar, menimbang-nimbang sebuah solusi yang sudah lama ingin ia sampaikan.

​"Ris, untuk sementara sampai gue bener-bener sembuh, lo terima tawaran kerja dari Papa aja, ya?" tawar Nadya setelah keheningan merayap beberapa saat. Ia mencoba peruntungannya kembali, berharap kali ini Riska mau menerima posisi di salah satu perusahaan ayahnya, tawaran yang dulu sempat gadis itu tolak mentah-mentah.

​Dulu, Andy memang menentang keras keputusan Nadya terjun ke dunia modeling. Demi berkompromi, Nadya sengaja menolak semua pinangan agensi besar dan memilih bergerak independen hanya berdua dengan Riska. Ia tidak mau terikat kontrak agensi yang akan membebaninya untuk selalu aktif dan mengejar target di industri hiburan.

Lagipula, motif awalnya menjadi model sangat sederhana, sekadar pembuktian di mata Rexsaka. Namun seiring waktu, prioritas itu melunak, Nadya bertahan di dunia ini murni demi menopang roda perekonomian Riska.

​Riska meremas pelan jemarinya sendiri. Ada rasa segan yang teramat besar jika harus terus merepotkan keluarga Nadya. Ia paling takut jika orang-orang mencapnya sebagai benalu yang mendekati Nadya hanya demi memanfaatkan kekayaan gadis itu.

​Namun, realitas hidup tidak memberinya ruang untuk sekadar memelihara gengsi. Riska butuh pekerjaan instan. Ada adik yang harus ia sekolahkan dan hidupi.

Mengharapkan bantuan dari sang kakak pun rasanya mustahil, kehidupan kakaknya sendiri sudah tertatih-tatih bersama suaminya, bahkan tak jarang sang kakak justru datang mengetuk pintunya untuk meminta bantuan finansial.

​Menyadari punggungnya sudah membentur dinding realitas, Riska akhirnya mengangguk pasrah.

​"Makasih banyak ya, Nad," bisik Riska tulus, kembali mendekap hangat tubuh sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca, meluruhkan sisa-sisa ego yang sempat ia pertahankan.

***

Berbeda terbalik dengan kamar rawat Nadya yang diselimuti keharuan sepasang sahabat, atmosfer di kamar Amar justru mencekam. Ketegangan di dalam ruangan itu mendadak memuncak begitu Rexsaka melangkah maju, mewakili Amar untuk mengutarakan niat agar pria paruh baya itu berhenti dari pekerjaannya sebagai sopir keluarga mereka.

​"Berhenti bekerja?"

​Andy mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang sarat akan intimidasi. Ia memalingkan pandangan, menatap tajam langsung ke arah Rexsaka yang berdiri tegap di hadapannya.

​"Setelah dia gagal menjaga keselamatan putriku, kamu dengan mudahnya meminta dia untuk berhenti bekerja, ha?!" sahut Andy retoris.

​Niat awal Andy melangkah kaki ke kamar ini memang untuk memecat Amar atas keteledorannya. Namun, intervensi dari Rexsaka yang justru mendahuluinya untuk meminta pengunduran diri sang sopir, seketika menyulut ego dan amarah Andy sebagai seorang ayah hingga ke titik tertinggi.

​"Tapi ayah saya sudah gagal menjalankan tugas dari Anda. Karena itu, Anda pasti berniat memecatnya, bukan? Jadi, sebelum itu terjadi, lebih baik dia mengundurkan diri," sahut Rexsaka datar. Seolah tak secuil pun gentar oleh kilat amarah di mata Andy, ia balik menantang tatapan tajam pria paruh baya itu.

​Andy mendengus sinis, rahangnya mengeras.

"Tidak semudah itu, anak muda. Ayahmu harus tetap bertanggung jawab atas keteledorannya."

​"Bertanggung jawab seperti apa yang Anda maksud, Tuan Andy?" cecar Rexsaka, nadanya meninggi satu oktav. "Putri Anda sendiri yang memilih nekat untuk menangkis pisau itu. Lalu sekarang, Anda dengan mudahnya melimpahkan seluruh kesalahan pada ayah saya?"

​Bukannya Rexsaka tidak tahu terima kasih atas pengorbanan Nadya. Jauh di lubuk hatinya, ia sadar betul jika bukan karena aksi nekat gadis itu, ia mungkin sudah kehilangan sang ayah hari ini. Namun, melihat sikap arogan Andy yang terus-menerus menyudutkan dan menyalahkan ayahnya, harga diri Rexsaka berontak. Ia tidak akan tinggal diam membiarkan ayahnya dijadikan kambing hitam.

​"Saka..." potong Amar parau dari atas brankar. Suaranya yang lemah menyiratkan peringatan keras agar putranya itu segera menahan diri dan tidak memperkeruh suasana.

"Maafkan Rexsaka, Tuan. Saya akan bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi atas kegagalan saya. Anda bisa memotong gaji saya atau apa pun, saya tidak keberatan," potong Amar cepat, berusaha meredam ketegangan sebelum situasi semakin tak terkendali.

​Andy terdiam. Ia menghela napas panjang lalu menatap Amar lekat-lekat. Mengamati tubuh pria paruh baya itu yang tampak ringkih dan sama babak belurnya, sudut hati Andy yang keras perlahan melunak. Logikanya kembali bekerja; tidak seharusnya ia mengedepankan ego dan melampiaskan seluruh murkanya kepada Amar seorang.

​"Sudahlah, Amar. Saya juga minta maaf," ucap Andy akhirnya, nada suaranya melandai, mengikis ketegangan yang sempat memuncak. "Tidak seharusnya saya membebankan semua kesalahan ini kepadamu. Kamu pasti mengerti, kan? Melihat putriku dalam kondisi seperti itu... ayah mana yang tidak akan tersulut emosinya?"

​Amar mengangguk lemah, gurat lega samar terlihat di wajah tuanya. "Iya, Tuan. Saya sangat mengerti."

​"Kalau begitu, saya tidak akan memecatmu ataupun menerima pengunduran diri ini. Kamu akan tetap bekerja seperti biasa setelah keadaanmu pulih total, dan saya tidak akan memberikan hukuman apa pun," putus Andy menyudahi ketegangan.

​"Iya, Tuan. Terima kasih banyak atas pengertian Anda," sahut Amar tulus, guratan lega kini tercetak jelas di wajah tuanya.

​Ucapan pasrah sang ayah sontak membuat Rexsaka menoleh, menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata tak suka sekaligus kecewa karena ayahnya memilih untuk kembali tunduk.

​Sementara itu, Andy kembali mengalihkan pandangannya pada Rexsaka, mengunci netra pemuda itu dengan tatapan menilai yang begitu dalam. Kilat di matanya seolah sedang membaca isi kepala Rexsaka, mengukur sedalam apa harga diri dan potensi yang dimiliki pemuda keras kepala ini. Di dalam benaknya, Andy tengah menimbang-nimbang dengan matang, memastikan apakah rencana besar yang telah ia susun untuk melibatkan pemuda ini nanti adalah sebuah keputusan yang tepat atau tidak.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!