Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Waktu seolah membeku di dalam ruang VVIP Intensive Care Unit Rumah Sakit Saint Jude. Suara bising dari alarm ventilator dan isak tangis yang tertahan mendadak sirna, tergantikan oleh degup jantung dua anak manusia yang kembali bersinggungan setelah satu dekade terpisahkan oleh kematian dan pengkhianatan.
Navarro Von-riccardo melesat dengan kecepatan yang membutakan, menghancurkan jarak yang memisahkan mereka.
Pria tegap yang selama sepuluh tahun ini hidup bagaikan mayat berjalan itu langsung merengkuh tubuh Issabelle ke dalam sebuah pelukan yang teramat erat, dramatis, dan posesif.
Ia membenamkan wajahnya ke ceruk leher wanita itu, menghirup aroma mawar es yang nyata—bukan lagi halusinasi dari botol alkoholnya.
Tubuh Navarro gemetar hebat, bahu lebarnya terguncang oleh ledakan emosi yang tidak mampu lagi ia bendung.
Ini nyata.
Mawar esnya masih hidup. Ia bisa merasakan detak jantung wanita itu, kehangatan kulitnya, dan presensi fisiknya yang begitu absolut.
Namun, di tengah luapan kerinduan Navarro yang begitu gila, tubuh Issabelle justru menegang kaku bagaikan sebatang baja.
Sentuhan Navarro, aroma maskulin pria itu, dan kehangatan dada bidangnya seketika memicu badai tsunami di dalam jiwa Issabelle.
Tangan wanita itu mengepal kuat di sisi tubuhnya, menahan hasrat untuk membalas pelukan pria yang sepuluh tahun menjadi poros dunianya itu.
Dengan sekuat tenaga, Issabelle mengumpulkan sisa-sisa rasionalitasnya. Ia mendorong dada Navarro, mencoba melepaskan diri dari dekapan yang mengancam akan meruntuhkan benteng pertahanannya.
"Lepas..." desis Issabelle, suaranya terdengar tertahan.
Navarro tidak bergeming. Ia justru semakin mempererat pelukannya, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, wanita ini akan kembali menguap menjadi abu seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Tidak... jangan pergi lagi Sayang.. kumohon..." rintih Navarro parau di telinga Issabelle.
Issabelle memejamkan matanya, menguatkan hatinya yang terasa seperti diiris oleh belati tak kasat mata.
Dengan gerakan kasar dan tenaga taktis yang terlatih, ia menyentak tubuhnya mundur, memaksa lengan kekar Navarro terlepas dari pinggangnya.
"Lepaskan aku!" bentak Issabelle, suaranya melengking dingin, membelah keheningan ruangan dengan ketajaman yang membekukan.
Deg.
Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis. Tangan Navarro menggantung di udara, kosong.
Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata abu-abu Issabelle dengan ekspresi yang begitu hancur dan kebingungan.
Kilat mata wanita di depannya tidak lagi memancarkan kehangatan masa remaja mereka; yang ada hanyalah dinding es yang teramat tebal dan tak tertembus.
"Apa maksudmu, Mine?" suara Navarro bergetar, nyaris berupa bisikan putus asa.
"Ini aku... Kau hidup. Kau kembali padaku. Kenapa kau—"
Issabelle memotong ucapan pria itu dengan tatapan yang menghunus jantung. Ia mengangkat dagunya, menampilkan aura yang tidak tersentuh.
"Aku kemari bukan untukmu," ucap Issabelle datar, tanpa nada. Ia melirik sekilas ke arah ranjang pesakitan di mana ibunya terbaring sekarat.
"Aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada ibuku, dan ingin menitipkan salam untuk mendiang ayahku."
Issabelle kemudian mengalihkan pandangannya kembali menatap Navarro. Tatapannya begitu kosong, seolah pria di depannya tidak lebih dari sekadar rintangan jalan yang tidak berarti.
"Menyingkir dariku, Tuan Navarro Von-riccardo," perintah Issabelle, mengucapkan nama lengkap pria itu dengan penekanan formal yang luar biasa kejam, menciptakan jurang pemisah yang tidak bisa dijembatani oleh apa pun.
Kata 'Tuan Navarro Von-riccardo' menghantam dada Navarro layaknya peluru kaliber lima puluh.
Seluruh pertahanan dan dominasinya sebagai penguasa runtuh seketika. Ia melihat kebencian yang murni di mata wanita itu.
Sebuah kebencian yang beralasan.
Navarro sadar betul, meskipun bukan tangannya yang menarik pelatuk yang membantai klan Dubois, namun ikut campur klannya lah yang membiayai seluruh kehancuran tersebut. Ia menanggung dosa ayahnya.
Tubuh tegap Navarro seketika melemah. Seluruh tenaga seolah terkuras dari otot-ototnya.
Pria yang ditakuti oleh seluruh mafia Pantai Barat itu akhirnya hanya bisa tersenyum—sebuah senyuman yang teramat perih, getir, dan dipenuhi oleh penerimaan atas hukuman abadinya.
Navarro mengangguk pelan, setitik air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Ia memundurkan langkahnya, memberi jalan dengan patuh.
Dan tubuhnya yang dulunya kokoh tak tergoyahkan itu, kini bisa dengan mudah ditepis oleh bahu Issabelle saat wanita itu melangkah melewatinya dengan langkah yang tegap dan dingin.
Issabelle berjalan mendekati ranjang rumah sakit, mengabaikan tatapan syok dari Harrison Wade, Toby, Claire, Skylar, dan terutama Chloe yang tadi menamparnya.
Jejak kemerahan di pipi kiri Issabelle akibat tamparan Chloe sama sekali tidak mengurangi wibawanya. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wanita paruh baya yang melahirkannya.
Sloane membuka matanya dengan susah payah.
Di balik masker oksigen yang berembun, sepasang mata Sloane yang sayu membelalak lemah.
Air mata langsung mengalir deras dari sudut matanya saat melihat wajah putri sulungnya yang selama sepuluh tahun ini ia tangisi.
"I... Issa..." suara Sloane terdengar seperti hembusan angin yang teramat rapuh.
Issabelle menatap ibunya dengan ekspresi datar yang tidak terbaca, namun ia perlahan mengulurkan tangannya ke belakang, menarik lembut lengan kecil Cassandra agar melangkah maju bersamanya.
"Aku kemari untuk mengenalkan anakku padamu, Ibu," ucap Issabelle, suaranya sangat tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di sekitarnya.
Cassandra, yang sedari tadi menggenggam erat tangan ibunya, menatap Sloane dengan sepasang mata gelapnya yang memancarkan kecerdasan di atas rata-rata.
Bocah sembilan tahun itu tidak tampak ketakutan melihat selang-selang medis, ia hanya menatap wanita tua itu dengan rasa ingin tahu dan empati yang dalam.
"Cassandra..." perintah Issabelle lembut kepada putrinya. "Ucapkan selamat tinggal pada Nenekmu untuk yang terakhir kalinya."
Mendengar instruksi ibunya, Cassandra maju selangkah.
Tangan kecilnya terulur, menyentuh punggung tangan Sloane yang dingin dan keriput. .
"Halo, Nenek," ucap Cassandra dengan suaranya yang cempreng namun sopan.
"Mommy sering menceritakan tentang Nenek sebelum aku tidur. Nenek tidak perlu merasa sakit lagi. Semoga perjalanan Nenek menuju rumah baru terasa menyenangkan."
Sloane menatap wajah Cassandra. Garis wajah bocah itu, rambut hitam lebatnya, dan terutama mata gelapnya.
Sloane mengerti segalanya dalam satu tarikan napas yang tersengal.
Putrinya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga melahirkan sebuah kehidupan baru dari kehancuran masa lalu.
Sang ibu menatap Issabelle kembali dengan tatapan yang dipenuhi oleh permohonan maaf yang tak terhingga.
Air mata Sloane terus mengalir membasahi bantalnya. Perlahan, di balik masker oksigennya, Sloane menarik sebuah senyuman—senyuman pertama yang paling tulus dan lega yang pernah ia tunjukkan selama sepuluh tahun terakhir. Ia menganggukkan kepalanya perlahan, seolah mengatakan bahwa ia kini bisa pergi dengan tenang.
Garis hijau di monitor taktis mulai melambat secara drastis.
Bunyi bip yang tadinya mengalun putus-putus, perlahan bertransformasi menjadi satu nada panjang yang statis.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Sloane Wade' telah menghembuskan napas terakhirnya. Ia pergi dengan damai, membawa serta bayangan wajah putri dan cucunya di retina matanya.
Tangisan histeris Claire dan Toby kembali pecah memenuhi ruangan, sementara Harrison menunduk, mencium tangan mendiang istrinya untuk yang terakhir kali.
Namun Issabelle tetap berdiri tegak.
Tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh dari mata abu-abunya di detik kematian ibunya. Ia hanya menatap wajah damai Sloane, membiarkan keheningan mengambil alih jiwanya.
...ooOoo...
Di mata seluruh orang yang berada di ruangan itu—termasuk di mata Navarro yang memperhatikannya dari sudut ruangan dengan tatapan hancur.
Issabelle tampak seperti seorang ratu yang tidak memiliki hati. Ia mengucap kata-kata perpisahan dengan kasar, menepis pelukan pria yang mencintainya, dan berdiri tanpa emosi saat ibunya menghembuskan napas terakhir.
Namun, tidak ada yang tahu kebenaran di balik topeng tersebut. Mulut dan hati Issabelle sama sekali tidak menyuarakan nada yang sama.
Walaupun ia dengan dingin mengatakan kata-kata kejam tersebut, demi Tuhan... sepanjang perjalanan udara dari Texas menuju Los Angeles, wanita itu telah hancur.
Di dalam kamar mandi jet pribadinya yang terkunci rapat, Issabelle telah menangis sejadi-jadinya.
Tangisannya begitu memilukan, meratapi takdir ibunya yang harus mati secepat itu, meratapi masa mudanya yang terenggut, dan meratapi kenyataan bahwa ia harus kembali menghadapi masa lalu yang sangat ingin ia kubur.
Riasan make-up tebal yang kini bertengger sempurna di wajahnya bukan lah sekadar simbol totalitas kedewasaan.
Foundation berlapis dan eyeshadow bernuansa gelap itu sengaja diaplikasikan oleh tangannya yang gemetar hanya untuk satu tujuan: menyembunyikan mata sembabnya yang bengkak akibat menangis berjam-jam.
Ia harus terlihat kuat. Ia harus terlihat tak tersentuh. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di cafe klan Riccardo atau keluarganya yang lain.
Apakah kau pikir aku tidak ingin membalas pelukanmu, Navarro? batin Issabelle menjerit pilu, meski wajahnya tetap sedatar porselen saat ia menatap wajah tenang ibunya.
Ketika kau memelukku tadi, ketika aku menghirup aroma tubuhmu setelah sepuluh tahun berada dalam pelarian yang sepi, demi Tuhan... rasanya aku ingin runtuh saat itu juga.
Aku ingin menangis keras di bahumu. Aku ingin menceritakan padamu betapa takutnya aku saat melahirkan Cassandra sendirian di usia tujuh belas tahun.
Aku ingin kau mendekapku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pikiran Issabelle berkecamuk hebat. Ego dan cintanya sedang berperang dalam skala yang mematikan.
Namun, setiap kali bayangan tentang kenyamanan pelukan Navarro muncul, bayangan lain yang jauh lebih mengerikan ikut menyertainya.
Bayangan Jasad ayahnya yang membeku di atas lantai marmer.
Tubuh Martha yang berlumuran darah. Jeritan para pelayan setianya yang dibantai tanpa ampun.
Dan dokumen transfer dana berlogo The Riccardo Holding yang memfasilitasi seluruh tumpah darah tersebut.
Kebencian atas kehilangan keluarganya gara-gara bantuan finansial dan senjata dari klan Riccardo adalah tembok baja yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh cinta sebesar apa pun.
Tidak peduli seberapa menderita Navarro saat ini, tidak peduli seberapa hancurnya pria itu akibat rasa bersalah, fakta sejarah tidak akan pernah berubah.
Darah keluarga Dubois dihancurkan klan Von-riccardo selamanya.
Kita tidak ditakdirkan bersama, Navarro. Tidak akan pernah, lanjut batin Issabelle dengan kepedihan yang menyayat hati.
Langit dan bumi akan mengutukku jika aku bersanding dengan pria dari garis darah yang memusnahkan keluargaku.
Kau boleh memiliki separuh dari genetika Cassandra, kau boleh memberikan mata gelapmu pada putriku, tetapi hanya sampai di situ.
Cassandra adalah anakku. Milikku seutuhnya. Aku tidak akan pernah membiarkan dia terseret ke dalam neraka klanmu.
Issabelle menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh gejolak emosinya ke dasar jurang yang paling gelap. Ia mengencangkan genggaman tangannya pada Cassandra kecil, memastikan bahwa putrinya berdiri aman di sisinya.
Ia lalu memutar tubuhnya, bersiap untuk melangkah keluar dari ruangan duka tersebut.
Ia telah menyelesaikan misinya. Ia telah mengucapkan salam perpisahan, dan sekarang saatnya untuk kembali menghilang ke dalam bayang-bayang padang Texas, meninggalkan Navarro Von-riccardo yang masih berdiri kaku, menatap punggung rapuhnya dengan keputusasaan abadi yang tidak akan pernah menemui ujungnya.
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂