❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Why Am I Like This?
Aku masih terdiam dengan jantung yang belum juga tenang.
Perlahan aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Aku ingin melupakan semua yang terjadi hari ini, terutama kejadian beberapa saat lalu.
Aku menarik selimut hingga menutupi tubuhku, lalu memejamkan mata.
Beberapa menit aku hanya berbaring tanpa benar-benar tertidur.
Di dalam hati, aku berdoa berkali-kali sambil membayangkan wajah Lee Jun-ha. Entah kenapa itu selalu berhasil membuatku sedikit lebih tenang.
Beberapa saat kemudian, samar-samar aku mendengar suara gelak tawa.
Aku mengernyit.
Dengan perlahan aku membuka mata.
Aku langsung tertegun.
Aku berada di sebuah taman yang asing. Rumput hijau terbentang luas. Pohon-pohon berdiri rapi di sekelilingku. Langit terlihat cerah, tetapi entah kenapa suasananya terasa aneh.
Kenapa aku ada di sini?
Aku menoleh ke depan.
Di sana, seorang pria dan seorang wanita sedang berlari saling mengejar sambil tertawa.
Awalnya wajah mereka terlihat samar.
Namun semakin kuperhatikan, semakin jelas siapa mereka.
Javier dan Devina.
Mataku langsung membelalak.
Kenapa ada mereka?
Dan kenapa mereka terlihat seperti itu?
Bukankah mereka sudah putus?
Mereka berlari di atas hamparan rumput sambil tertawa bahagia.
"Wah, mereka couple goals banget, ya?" ucap seseorang.
Aku langsung menoleh ke kanan.
Kulihat Salsa dan Yuni berdiri di sana.
"Mbak Salsa? Mbak Yuni?" gumamku.
"Iya." Yuni mengangguk. "Cocok banget."
"Cowoknya ganteng, ceweknya cantik," sambung Salsa. "Kalau jalan bareng kayak gitu cocok banget."
Aku kembali menatap ke depan.
Javier dan Devina masih tertawa.
Semakin lama aku memperhatikan mereka, semakin aneh perasaanku.
Ada sesuatu yang menjalar perlahan di dalam dada.
Dadaku terasa sesak.
Aku mengernyit.
Kenapa aku merasa seperti ini?
"Naya..."
Aku menoleh ke kiri.
"Lila?"
Lila berdiri di sampingku.
Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
"Kamu masih bilang kamu nggak cemburu setelah lihat mereka?" ucapnya.
Aku terdiam.
Seharusnya aku bisa langsung membantahnya.
Seharusnya aku bisa berkata dengan lantang bahwa aku tidak cemburu.
Namun entah kenapa kata-kata itu tidak mau keluar dari mulutku.
Lila berjalan mendekat lalu berdiri di belakangku. Kedua tangannya memegang bahuku.
"Lihatlah baik-baik," ucapnya pelan.
Aku kembali menatap Javier dan Devina.
"Mereka bahagia."
Dadaku semakin sesak.
"Apakah rasa cemburu itu benar-benar nggak ada?" lanjut Lila.
Aku masih diam.
"Rasakan, Naya..."
Aku menelan ludah.
"Lihatlah. Itu suamimu dengan wanita lain."
Seketika dadaku terasa jauh lebih sesak daripada sebelumnya.
Aku bahkan kesulitan bernapas.
Tak lama Javier dan Devina berjalan mendekat ke arahku.
Aku langsung menatap Javier.
"Naya..." ucapnya.
Aku menunggu kelanjutan kata-katanya.
Namun entah kenapa firasat buruk mulai muncul.
"Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi."
Mataku langsung melebar.
Apa?
Apa yang dia katakan?
"Aku akan kembali bersama Ina."
Jantungku serasa berhenti berdetak.
Hah?
Bukankah Devina sudah menikah?
Bukankah dia sudah punya suami?
Lalu kenapa Javier mengatakan hal seperti itu?
"Ayo, sayang."
Devina mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu mereka berdua berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku.
Aku hanya bisa diam.
Otakku berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Lalu tiba-tiba Lila memutar tubuhku hingga menghadapnya. Kedua tangannya mencengkeram bahuku erat.
"Kejar, Nay! Rebut kembali suamimu!" serunya.
Aku masih diam.
"Naya! Kejar!" teriak Lila sambil mengguncang tubuhku.
Tubuhku berguncang ke depan dan ke belakang.
Semakin keras Lila mengguncangku, semakin sakit dadaku.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk tepat di tengah dada.
Sakit...
Benar-benar sakit...
"Sakit... sakit... sakit..." gumamku lirih.
Tak lama terdengar suara seseorang dari kejauhan.
"Nay... Naya..."
Suara itu terdengar samar.
"Naya..."
Suara itu semakin jelas.
"Naya..."
Aku langsung membuka mata.
Napas kuembuskan kasar.
Kulihat langit-langit kamar yang sudah tidak asing.
Aku berada di kamarku.
Aku kembali ke rumah.
Ternyata tadi hanya mimpi.
Aku menghela napas panjang.
"Ada apa, Nay? Kamu mimpi buruk?"
Aku langsung menoleh.
Kulihat Javier di samping tempat tidur sambil menatapku dengan wajah khawatir.
"I-iya." Aku mengangguk pelan. "Aku mimpi buruk."
"Pantes kamu sampai nangis begitu."
Aku tertegun.
Refleks tanganku menyentuh pipi.
Benar saja.
Air mata masih membasahi wajahku.
Aku benar-benar menangis?
"Kamu mimpi apa sih?" tanya Javier. "Tadi aku dengar kamu ngomong 'sakit... sakit...' terus."
Aku langsung mengalihkan pandangan.
Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Bagaimana mungkin aku menceritakan mimpi aneh itu?
"Ehm... aku..." Aku berpikir cepat mencari alasan. "Aku jatuh."
"Kamu mimpi jatuh?" ulang Javier.
"Iya."
Javier mengernyitkan dahi.
Tatapannya jelas menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya.
Sebelum dia sempat bertanya lagi, aku buru-buru bangun dari tempat tidur.
"Eh, udah subuh." ucapku. "Ayo salat."
Tanpa menunggu jawaban Javier, aku segera keluar kamar dan menuju kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku langsung bersandar di baliknya.
Kenapa aku bermimpi seperti itu?
Dan kenapa dadaku terasa sakit saat melihat Javier bersama Devina?
Bukankah aku tidak menyukai Javier?
Aku bahkan tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan sungguhan.
Kalau Javier kembali dengan Devina atau bersama wanita lain, seharusnya aku biasa saja.
Seharusnya aku tidak peduli.
Tapi kenapa rasanya seperti itu?
Kenapa dadaku sampai sesak?
Kenapa aku menangis?
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Aku kembali diantar bekerja oleh Javier.
Dan sepanjang perjalanan kami hanya diam.
Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Terlebih bayangan tentang mimpi itu masih terekam jelas di kepalaku.
Kenapa aku harus bermimpi seperti itu?
Kenapa aku tidak bermimpi bertemu Lee Jun-ha saja?
Bukankah selama ini Lee Jun-ha yang selalu memenuhi pikiranku?
Lalu kenapa justru Javier dan Devina yang muncul di dalam mimpiku?
Aku terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan hingga tidak sadar mobil Javier sudah berhenti tepat di depan Sina Bank.
"Nay... Naya!"
"Hah?" Aku langsung menoleh.
"Udah sampai."
Aku melihat ke luar jendela.
Benar saja.
Gedung Sina Bank sudah berdiri tepat di depanku.
"Oh... udah sampai, ya?" gumamku.
Aku segera melepaskan sabuk pengaman.
"Nanti pulangnya naik ojek lagi?" tanya Javier.
Aku menoleh ke arahnya.
"Iya. Kamu nggak usah khawatir sama aku." Aku mengangkat satu alis. "Kamu ini bukan benar-benar suamiku atau supirku."
"Oke."
Aku langsung mendengus pelan.
Jawaban itu lagi.
Kenapa dia selalu menjawab oke?
Aku pun membuka pintu mobil lalu turun.
Begitu masuk ke halaman bank, lagi-lagi aku melihat Fahri.
Begitu melihatku, senyumnya langsung mengembang.
"Cie... dianterin suami lagi."
Aku memutar bola mata.
"Bilangnya nggak suka, tapi dianterin lagi."
"Kemarin kami nginep di rumahku karena ibuku sakit. Jadinya ya aku dianterin lagi."
"Ibu kamu sakit apa?" tanya Fahri.
"Cuma masuk angin, kok."
"Oh..." Fahri mengangguk pelan. "Tapi, Nay, keliatan lho kalau suami kamu perhatian."
Aku menghela napas.
"Buktinya dia mau nganterin kamu."
"Ya masa di depan orang tuaku dia biarin aku berangkat sendiri sih?" balasku.
"Tapi tetap aja..." gumam Fahri.
"Udah ah, yuk masuk."
Aku segera berjalan menuju pintu masuk bank sebelum Fahri kembali memulai ceramahnya tentang Javier.
Setelah menyapa satpam, aku masuk ke dalam gedung dengan Fahri yang berjalan di belakangku.
Begitu sampai di ruang karyawan, kulihat Salsa dan Yuni sudah lebih dulu datang.
"Pagi, Naya," sapa Yuni.
"Pagi."
Aku tersenyum tipis lalu meletakkan tas di meja.
Namun saat melihat mereka berdua, pikiranku langsung kembali pada mimpiku. Aku tanpa sadar menatap mereka beberapa detik.
Kalau mereka benar-benar melihat Devina...
Apakah mereka akan mengatakan hal yang sama seperti di mimpiku?
Apakah mereka akan menganggap Javier dan Devina lebih cocok daripada aku dan Javier?
"Nay... Naya!"
Aku tersentak ketika Yuni menepuk pundakku.
"Hah?"
"Kenapa bengong?" tanya Yuni.
"Nggak apa-apa."
"Kamu mikirin suami kamu ya, Nay?"
Aku langsung menoleh.
Ternyata Fahri sudah masuk ke ruang karyawan.
"Nggak. Ngapain aku mikirin dia?" bantahku cepat.
"Ya nggak tahu." Fahri mengangkat bahu. "Oh iya, tadi Naya dianterin suaminya lagi, lho."
Salsa langsung menatapku.
"Kemarin kamu bilangnya nggak suka, Nay. Eh, sekarang dianterin lagi." Ia tersenyum jahil. "Apa sekarang udah suka nih?"
"Nggak! Belum!" seruku.
"Kalau sekarang belum, berarti suatu hari bakal suka dong?" sahut Salsa.
"Nggak!" Aku langsung berdiri. "아니야! 언제까지라도 나는 그 남자를 좋아하지 않을 거야. 절대! (Nggak! Sampai kapan pun aku nggak akan suka sama cowok itu. Nggak akan pernah!)”
Mereka bertiga langsung terdiam.
Aku masih terengah karena terlalu bersemangat.
Beberapa detik kemudian Fahri mengernyit.
"Kamu ngomong apa sih, Nay?"
"Iya." Yuni ikut mengangguk. "Ngomong pakai bahasa yang kami ngerti dong."
Aku langsung mengibaskan tangan.
"Bukan apa-apa. Lupain aja."
"Lah, gimana mau dilupain kalau kami nggak ngerti?" ucap Fahri.
"Pokoknya lupain aja. Lebih baik kita ke depan. Jangan bahas aku dan suamiku lagi."
"Ya elah, Nay..." Salsa menggeleng pelan. "Kamu selalu gitu deh. Setiap kita mau tahu soal kamu dan suami kamu, pasti langsung ganti topik."
"Benar." Fahri mengangguk setuju.
Yuni tertawa kecil.
"Udah, Sa. Nanti juga kalau Naya udah suka sama suaminya, kita bakal dengar cerita bucin dia setiap hari."
"Mbak Yuni!"
Aku langsung mengepalkan kedua tanganku.
Mereka bertiga malah tertawa bersamaan.
Aku mendecakkan lidah.
Kesal.
Kenapa sih mereka selalu menggodaku soal Javier?
Padahal aku sudah berkali-kali bilang kalau aku tidak menyukainya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku keluar dari ruang karyawan dan berjalan menuju meja kerjaku.
Dengan perasaan yang masih kesal, aku menyalakan komputer lalu mulai menyiapkan segala sesuatu untuk bekerja.
Tak lama kemudian Salsa datang dan duduk di meja sebelah.
Ia menyalakan komputer sambil sesekali melirik ke arahku.
"Nay..."
Salsa berhenti sejenak sebelum akhirnya berkata,
"Jangan terlalu membenci orang. Nanti bisa jadi orang yang kamu benci itu malah jadi orang yang paling kamu cintai."
Aku langsung menoleh.
"Aku nggak benci Javier. Aku cuma nggak suka aja." Aku kembali menatap layar komputer. "Nggak cinta aja."
Salsa menghela napas panjang.
Entah kenapa ekspresinya terlihat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan tembok.
Setelah itu ia ikut fokus pada komputernya.
Sementara aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Namun entah kenapa ucapan Salsa tadi terus terngiang di kepalaku.
Aku langsung menggeleng pelan.
Tidak mungkin.
Aku dan Javier?
Tidak mungkin.
Beberapa menit kemudian pintu bank dibuka dan para nasabah mulai berdatangan.
Yuni dan Fahri mulai menekan tombol antrean. Aku dan Salsa pun melakukan hal yang sama.
Salsa melayani seorang bapak-bapak, sementara aku melayani seorang ibu-ibu.
Setelah urusannya selesai, aku kembali menekan tombol antrean.
Tak lama kemudian, seorang pria muda berjalan menuju mejaku.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ucapku dengan senyum profesional.
Namun alih-alih langsung menjawab, pria itu malah menatapku beberapa detik.
"Naya?" ucapnya.
Aku mengernyit bingung.
Di meja sebelah, Salsa bahkan sempat melirik ke arah kami.
Kenapa pria ini tahu namaku?
"Kamu Naya, kan? Naya Arletta."
Eh?
Siapa dia?
"Iya, benar. Apakah kita saling mengenal?" tanyaku.
Pria itu tersenyum.
"Aku Pandu, Nay. Teman SMA kamu."
Pandu?
Aku berpikir beberapa saat, berusaha mengingat wajah-wajah teman SMA yang sudah lama tidak kutemui.
Lalu tiba-tiba ingatanku menemukan sosok yang cocok.
"Ah... Pandu!"
Aku refleks berseru.
Namun begitu sadar masih berada di bank, aku langsung menutup mulut.
Aku melirik Salsa dan nasabah yang sedang dilayaninya.
"Maaf... maaf..." gumamku pelan.
Pandu tampak menahan tawa.
Aku segera kembali memasang ekspresi profesional.
"Maaf, Pak Pandu. Ada yang bisa saya bantu?"
Pandu terlihat sedikit bingung mendengar perubahan sikapku yang mendadak. Namun beberapa detik kemudian ia tampaknya memahami situasinya.
"Oh... iya." Ia berdeham pelan. "Saya mau melunasi pinjaman orang tua saya."
"Baik. Bisa saya lihat kartu identitas dan buku pinjamannya, Pak?"
Pandu langsung menyerahkan keduanya.
Aku menerima dokumen itu lalu mulai memeriksa data di sistem.
Setelah memastikan identitas peminjam dan beberapa data lainnya sesuai, aku memproses pelunasan pinjaman tersebut.
Beberapa menit kemudian semuanya selesai.
Aku mencetak bukti transaksi lalu menyerahkannya kepada Pandu.
"Ini bukti pelunasannya, Pak. Alhamdulillah pinjamannya sudah lunas."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Pandu menerima dokumen itu.
Namun setelah transaksi selesai, ia tidak langsung pergi.
Ia malah masih berdiri di depan mejaku.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku.
"Ehm..."
Pandu tampak ragu-ragu.
Lalu akhirnya ia berkata,
"Apakah saya bisa minta nomor kamu?"
Aku langsung terkejut.
Nomor telepon?
Untuk apa?
Meski begitu, aku tetap menjaga ekspresi profesional.
"Maaf, Pak. Kalau Bapak memiliki pertanyaan terkait layanan bank, Bapak bisa langsung menghubungi customer service."
Aku bukannya tidak mau memberikan nomor teleponku.
Namun saat ini aku sedang bekerja sebagai teller.
Aku tidak mungkin memberikan nomor pribadiku begitu saja di depan nasabah lain.
"Oh..." gumam Pandu.
Tak lama kemudian ia kembali membuka suara.
"Kalau begitu... boleh minta kertas kosong?"
Aku mengernyit bingung.
Kertas kosong?
Untuk apa?
Meski tidak mengerti maksudnya, aku tetap mengambil selembar kertas kosong dan menyerahkannya kepadanya.
Pandu segera menulis sesuatu.
Setelah selesai, ia melipat kertas itu lalu menyodorkannya kepadaku.
"Terima kasih."
Setelah mengatakan itu, Pandu akhirnya pergi.
Aku menatap kertas kecil di tanganku.
Dengan penasaran kubuka lipatannya.
\[ Ini nomor aku. Nanti hubungi aku, ya. \]
Aku mengernyit.
Apa-apaan ini?
Aku melirik ke arah pintu masuk bank tempat Pandu tadi pergi.
Lalu tanpa banyak berpikir, kuselipkan kertas itu ke saku bajuku.
Setelah itu aku kembali menekan tombol antrean.
Namun entah kenapa, sepanjang melayani nasabah berikutnya, pikiranku beberapa kali kembali teringat pada selembar kertas yang kini tersimpan di saku bajuku.
Hari ini benar-benar aneh.
Dimulai dari mimpi tentang Javier dan Devina.
Dan sekarang tiba-tiba bertemu Pandu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Entah kenapa aku merasa hari ini baru saja dimulai.