Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
Setelah merasa posisinya aman dan duit miliaran sudah di tangan, sifat asli Ardi langsung kumat. Rasa takut yang kemarin sempat menciut gara-gara dikejar bank, kini menguap tanpa bekas, digantikan rasa jemawa yang meledak dua kali lipat. Dalam pikirannya, dia adalah pengusaha jenius yang tidak akan bisa dikalahkan oleh keadaan.
Pagi itu, Ardi turun ke ruang makan dengan setelan jas necis dan aroma parfum mahal yang menyengat. Begitu duduk di kursi, dia langsung melempar beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas meja di depan Sarah.
"Sarah, ini uang tunai lima juta buat tambahan uang belanja minggu ini," ucap Ardi santai. "Kemarin-kemarin kan kamu sempat bingung soal uang dapur. Sekarang tidak usah irit-irit lagi. Mau masak sup iga tiap hari juga silakan."
Rika yang baru duduk langsung menyambar uang itu dengan mata berbinar. "Wah, Di! Mbak pinjam satu juta, ya, buat bayar belanjaan online yang datang siang nanti."
"Ambil saja, Mbak. Tenang, urusan kantor sudah beres semua kok," sahut Ardi dengan tawa renyah.
Sarah hanya tersenyum sangat manis—senyuman polos yang biasa dia tunjukkan selama lima tahun ini. Dia mengambil sisa uang di meja dan memasukkannya ke kantong daster.
"Makasih ya, Mas. Kamu memang hebat, cepat sekali menyelesaikan masalah kantor," kata Sarah dengan nada suara kagum yang dibuat-buat. "Kemarin wajahmu sempat pucat sekali, aku sampai takut ada masalah besar."
Ardi mengibaskan tangan, mengalihkan pembicaraan dengan nada meremehkan yang khas. "Halah, kamu itu ibu rumah tangga tidak usah ikut pusing memikirkan urusan kantor. Urusan bisnis itu rumit, kamu juga tidak bakal paham. Yang penting uang belanja aman, rumah ini aman, kamu tahu beres saja."
Sarah mengangguk-angguk polos seolah patuh sepenuhnya. "Oh... begitu ya. Iya juga sih, aku kan tidak paham urusan begitu. Syukurlah kalau semuanya sudah beres."
Sarah mengalihkan pandangannya ke arah cangkir kopi, menyembunyikan kilatan sinis yang nyaris lolos dari matanya. Bodoh, rutuk Sarah dalam hati, mengejek kepongahannya sendiri. Dia benar-benar mengira daster longgar dan rutinitas dapur ini membuat otakku ikut menyusut?
Sarah menahan diri agar tidak mendengus keras saat mendengar tawa renyah Ardi yang masih bersahut-sahutan dengan Rika. Ardi selalu menganggapnya sebagai pajangan rumah yang tidak mengerti apa-apa tentang angka, saham, atau hukum bisnis. Pria itu lupa—atau mungkin terlalu sombong untuk mengingat—bahwa sebelum mereka menikah, Sarah adalah lulusan terbaik administrasi bisnis yang sengaja mengalah demi mendukung karier suaminya. Ardi mengira kepatuhannya selama lima tahun ini adalah tanda kelemahan, padahal itu adalah cara terbaik untuk mengumpulkan setiap detail informasi tanpa memicu kecurigaan.
"Mas, aku ke belakang dulu ya, mau cek jemuran," pamit Sarah dengan nada suara yang masih dijaga agar tetap lembut.
"Ya, sana. Jangan lupa nanti sore masak yang enak." sahut Ardi tanpa menoleh, sibuk memamerkan jam tangan barunya kepada Rika.
Begitu melangkah melewati pembatas ruang makan dan masuk ke area dapur yang sepi, senyum polos di wajah Sarah langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi sedingin es. Dia meraba kantong dasternya, meremas lembaran uang lima juta yang diberikan Ardi dengan penuh penghinaan tadi. Uang itu tidak ada apa-apanya dibanding seluruh aset yang kini sudah berpindah tangan secara sah di bawah namanya.
Sambil pura-pura memilah pakaian di dekat mesin cuci, Sarah merogoh ponsel kedua yang dia sembunyikan di balik tumpukan detergen. Jari-jarinya dengan cepat mengetik sebuah pesan singkat kepada pengacaranya.
“Umpan sudah dimakan sepenuhnya. Dia merasa di atas angin. Siapkan berkas eksekusi aset untuk minggu depan. Aku ingin melihat sekaya apa dia tanpa sepeser pun uang di kantongnya.”
Setelah menekan tombol kirim, Sarah menghapus pesan tersebut dan menyelipkan kembali ponselnya ke tempat tersembunyi. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap ke luar jendela dengan senyum kemenangan yang tertahan. Ardi ingin dia tahu beres? Maka Sarah akan memastikan semuanya benar-benar "beres" hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk suaminya yang sombong itu.