NovelToon NovelToon
Dikira Satpam Rendahan Ternyata Raja Tentara Bayaran

Dikira Satpam Rendahan Ternyata Raja Tentara Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lin Yuan hanyalah seorang satpam biasa yang ingin menikmati hidup tenang setelah meninggalkan gelarnya sebagai Raja Tentara Bayaran paling mematikan.

Namun, hari-harinya berubah menjadi kacau ketika ia terjebak kesepakatan menjadi pacar palsu seorang CEO wanita sedingin es bernama Shen Yuxuan demi menggagalkan pertunangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Kehancuran bisnis keluarga Zhao bagaikan badai yang menyapu bersih Kota Hai.

Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Zhao Ming melihat kekaisaran yang dibangunnya selama puluhan tahun runtuh menjadi debu.

Semua koneksi bisnisnya memutus hubungan, bank bank menarik pinjaman mereka, dan aparat penegak hukum mulai mengaudit perusahaannya atas tuduhan korupsi dan pencucian uang.

Zhao Ming duduk di ruang kerjanya dengan rambut yang berantakan dan mata merah karena kurang tidur.

Di depannya, Zhao Tian masih terbaring lemah di ranjang dengan bahu yang dibalut gips.

"Ayah, kita harus lari ke luar negeri."

Zhao Tian merintih kesakitan, rasa arogansinya telah sepenuhnya menguap.

"Pria itu... Lin Yuan... dia bukan manusia. Dia pasti akan membunuh kita semua."

Zhao Ming menggebrak mejanya dengan marah.

"Aku tidak akan lari dan meninggalkan semua hartaku begitu saja."

Urat urat di dahi Zhao Ming menonjol keluar menahan amarah yang sudah mencapai ubun ubun.

"Kalau kita harus mati, keluarga Shen juga harus ikut hancur bersama kita."

Zhao Ming mengambil sebuah ponsel satelit rahasia dari brankasnya.

Dia menelepon satu satunya kelompok tentara bayaran hitam dari luar negeri yang masih berutang budi padanya.

"Kirim tim terbaik kalian. Targetnya adalah kediaman utama Jenderal Shen."

Zhao Ming memberikan perintah dengan nada putus asa yang diwarnai kegilaan.

"Aku ingin kalian menculik istri sang Jenderal. Jika Lin Yuan atau Jenderal Shen melawan, bunuh mereka di tempat."

Siang hari di kediaman keluarga Shen, suasana terasa cukup tenang setelah hiruk pikuk berita pagi tadi.

Lin Yuan sedang bersantai di taman belakang, mengasah sebuah pisau lipat kecil miliknya.

Di dalam rumah, Nyonya Shen sedang sibuk mengatur pelayan untuk menyiapkan makan siang.

Jenderal Shen sedang pergi ke markas militer daerah untuk mengurus beberapa hal, sementara Shen Yuxuan dan Mengyao berada di kantor.

Tiba tiba, insting tempur Lin Yuan yang telah tertidur pulas berteriak memberikan tanda bahaya yang sangat besar.

Bulu kuduknya meremang dan suhu tubuhnya seolah turun beberapa derajat.

Ini bukan ancaman dari preman jalanan atau pembunuh bayaran kelas dua.

Ini adalah aura dari para profesional yang terbiasa membantai manusia di zona perang.

Sring.

Lin Yuan menutup pisau lipatnya dan langsung melesat masuk ke dalam rumah.

"Nyonya Shen, tiarap."

Lin Yuan berteriak keras memperingatkan Nyonya Shen yang sedang berdiri di dekat jendela ruang makan.

Trang. Prang.

Suara kaca jendela pecah berantakan terdengar bersamaan dengan suara tembakan yang memakai peredam suara.

Berapa peluru bersarang di dinding tepat di tempat Nyonya Shen berdiri sedetik yang lalu.

Wanita paruh baya itu menjerit tertahan dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai sesuai perintah Lin Yuan.

Lin Yuan langsung meluncur di atas lantai marmer dan menarik tubuh Nyonya Shen berlindung di balik meja makan kayu mahoni yang sangat tebal.

"A-apa yang terjadi, Lin Yuan?"

Nyonya Shen bertanya dengan wajah pucat pasi dan seluruh tubuh bergetar ketakutan.

"Keluarga Zhao mengirim anjing anjing rabies mereka untuk jalan jalan ke sini, Ibu Mertua."

Lin Yuan masih sempat tersenyum tipis dan menggunakan panggilan sayang untuk menenangkan wanita itu.

Suara langkah sepatu bot militer yang berat terdengar memasuki ruang tengah dari berbagai arah.

Mereka bergerak dengan formasi taktis, menyisir ruangan dengan sangat efisien.

Ada sekitar delapan orang tentara bayaran berpakaian serba hitam dan membawa senapan serbu taktis.

'Mereka menggunakan peredam suara agar tidak memancing perhatian dari luar.'

Lin Yuan menganalisis situasi dengan sangat cepat di dalam kepalanya.

'Aku tidak punya senjata api, tapi pertempuran jarak dekat seperti ini adalah spesialisasiku.'

Lin Yuan memberi isyarat kepada Nyonya Shen untuk tetap diam.

Dia mengambil sebuah garpu perak dari atas lantai yang jatuh dari meja tadi.

Wushhh.

Lin Yuan berguling keluar dari balik meja dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Dor dor dor.

Tiga tembakan diarahkan ke tempat Lin Yuan muncul, namun semuanya meleset karena target mereka bergerak terlalu cepat.

Sebelum para penyerang itu sempat menyesuaikan bidikan, Lin Yuan sudah berada di depan salah satu dari mereka.

Srak.

Lin Yuan menusukkan garpu perak itu tepat ke urat nadi leher penyerang tersebut dengan akurasi yang mengerikan.

Darah muncrat keluar dan pria itu ambruk tanpa sempat berteriak.

Lin Yuan langsung merebut senapan serbu dari tangan mayat itu dan berputar dengan mulus.

Tat tat tat tat.

Terdengar rentetan tembakan balasan dari senapan yang kini berada di tangan Lin Yuan.

Dia menembak dengan sangat akurat tanpa menggunakan bidikan mata (aim down sight).

Empat penyerang di ruang tengah langsung tewas dengan lubang peluru tepat di tengah dahi mereka.

Pertarungan jarak dekat itu berlangsung kurang dari sepuluh detik.

Tiga penyerang tersisa yang berada di lorong dapur terkejut melihat rekan rekan mereka dihabisi dengan begitu mudah.

Mereka segera mencari perlindungan di balik dinding dan mulai menembak secara membabi buta ke arah ruang makan.

Pecahan marmer dan serpihan kayu berterbangan di udara.

Lin Yuan kembali berlindung di balik meja makan, memeriksa sisa peluru di magasin senapannya.

'Hanya sisa lima butir, mereka lumayan mahir juga.'

Tiba tiba, suara deru baling baling helikopter terdengar mendekat dari arah atap rumah.

Jenderal Shen ternyata tidak pergi dengan tangan kosong.

Mantan komandan militer itu sepertinya telah menyadari pergerakan musuh dan kembali membawa pasukan elitnya sendiri.

Terdengar suara pecahan kaca dari lantai atas, diikuti oleh rentetan tembakan dari luar rumah.

Pasukan khusus Jenderal Shen telah mengepung kediaman tersebut.

"Lin Yuan, kau di dalam?"

Suara berat Jenderal Shen terdengar menggema dari pengeras suara helikopter di luar.

"Amankan istriku, biarkan pasukanku yang membersihkan sisa-sisa sampah ini."

Mendengar suara suaminya, Nyonya Shen langsung bernapas lega dan mulai menangis tertahan.

Lin Yuan tersenyum dan membuang senapan serbunya yang hampir kehabisan peluru.

Tiga penyerang di dapur tadi kini sedang disibukkan oleh serangan pasukan khusus dari arah belakang mereka.

Lin Yuan tidak membuang kesempatan itu.

Dia melesat maju bagaikan hantu dan menyelesaikan sisa musuh dengan patahan leher yang sangat efisien.

Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh anggota tim tentara bayaran hitam itu telah musnah.

Kediaman keluarga Shen yang indah kini penuh dengan lubang peluru dan bau mesiu.

Pintu utama didobrak terbuka, Jenderal Shen melangkah masuk dengan seragam militer lengkap dan wajah yang sangat murka.

Melihat istrinya selamat tanpa luka sedikit pun, Jenderal Shen menghela napas panjang dan memeluk wanita itu dengan erat.

"Aku berjanji ini yang terakhir kalinya kau berada dalam bahaya, istriku."

Jenderal Shen berbisik lembut, menenangkan Nyonya Shen yang masih syok.

Jenderal tua itu kemudian menoleh ke arah Lin Yuan yang sedang membersihkan noda darah dari kemejanya dengan sapu tangan.

"Kau membunuh lima dari mereka hanya menggunakan satu garpu dan senapan rampasan?"

Jenderal Shen bertanya dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.

"Garpu itu punya Ibu Mertua, jadi lumayan tajam, Jenderal."

Lin Yuan menjawab santai, menutupi kemampuan mengerikannya dengan candaan.

Jenderal Shen mendengus pelan dan menatap tajam ke arah anak buahnya.

"Siapkan semua kendaraan lapis baja. Kita akan pergi ke kediaman utama keluarga Zhao sekarang juga."

Aura membunuh sang jenderal meledak keluar, membuat para prajurit elitnya pun bergidik ngeri.

"Mereka sudah melewati batas. Hari ini, keluarga Zhao akan dihapus secara permanen dari peta Kota Hai."

Lin Yuan membuang saputangannya yang kotor dan tersenyum miring.

"Boleh aku ikut, Paman? Aku masih punya urusan yang belum selesai dengan Tuan Muda Zhao."

Jenderal Shen mengangguk tegas.

"Kau akan memimpin tim Alpha bersama denganku. Mari kita berikan pelajaran pada lintah lintah itu."

Aliansi mematikan antara mantan Raja Tentara Bayaran dan pensiunan Jenderal Bintang Tiga kini bersiap untuk meratakan keluarga Zhao dengan tanah.

Puncak dari konflik di Kota Hai ini akan menjadi tontonan yang sangat mengerikan bagi mereka yang berani menentang keluarga Shen.

1
Kak Seto Kangen Band
coba lebih gede lagi cleavage nya kak👍
Reed
Lingtiang /Drool//Drool//Drool/
Reed
Hore, sepuluh Bab /Determined/. Jadikan 20 Bab Thor updatenya /Curse//Curse//Curse/
Reed
Sangat bombastis /Drool/, mana 10 Babnya Kak /Curse//Curse//Curse/
Reed
/Hunger//Hunger//Hunger/, Up Lagi Kak /Drool//Drool//Drool/
Reed
/Drool//Awkward//Awkward/, Ditunggu 8 Babnya /Curse//Curse//Curse/
Reed
Wah /Hunger//Hunger//Hunger/, langsung 10 Bab Thor /Curse//Curse/
Reed: Kamu pasti bisa Kak /Determined/
total 2 replies
Gege
lempar semua Thor 10k kata..gasss
Gege
mendadak MC ditabrak truk tronton Daan...Ding...😄🤣🤭
Tri Wahyuni: Gege berulah lagi🤭😅😅
total 2 replies
Gege
ada suara dingg...engga ini Thor...😄🤣
Yui: ehehehe, bukan system inih/Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!