Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan si Pengagum
Celine sampai di rumah dengan wajah cemberut. Tidak tahan berlama-lama di tempat yang sama dengan Gabriel, perempuan itu melangkah pergi menuju kamarnya.
"Ngeselin banget, cowok brengsek. Tahunya cuman jahil doang. Aku bakal bersyukur banget kalo tiba-tiba dia pindah dari komplek," gerutunya menutup pintu kamar. Perempuan itu menghempaskan badannya di kasur, menutup mata sejenak.
"Capek banget."
Celine meraih ponselnya, menggulir layar beranda media sosial. Jemarinya berhenti di salah satu postingan. Dia mengusap foto itu pelan lantas menghela napas gusar. Orang secakep ini kok gak jadi punyaku, ya?
Celine terpikir sesuatu. Perempuan itu beralih akun. Akun yang sudah dibuat lama tapi tak benar-benar dia gunakan.
"Kali ini harus berani," gumamnya. "Kalaupun aku chat dari sini, belum tentu dia tahu itu aku."
Celine mengirimi permintaan pertemanan lantas mengirimi pesan.
Malam Ares.
Jantung Celine berdebar-debar, matanya berkedip begitu ia menjauhkan ponselnya. Harap-harap cemas jika Ares merespon pesannya. Namun sudah berlalu beberapa menit sejak pesan singkat itu, tidak ada balasan pesan. Padahal lelaki itu sedang aktif, terbukti ketika notifikasi permintaan pertemanannya diterima.
"Gak di follback," kata Celine kecewa, dia menarik napas panjang kemudian membuka room chat.
Lagi ngapain sekarang? Boleh kenalan enggak.
Celine menahan napas beberapa detik setelah mengirim bubble chat tersebut. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggerogoti tenggorokannya. Malu luar biasa sampai dia menutup mata.
Sedangkan di sisi lain, Ares mengusak rambutnya yang setengah basah dan duduk di meja belajar dengan laptop yang menyala. Jemarinya berhenti begitu membuka permintaan pesan, akun tidak dikenal mengirimkannya pesan.
"Geli banget," gumam Ares, ia mengabaikan pesan itu kemudian mematikan ponselnya. Kini fokusnya sibuk pada layar laptop yang menampilkan berbagai desain yang berbeda. Pekerjaannya harus selesai dalam tiga hari.
"Capek banget dikejar deadline, but its okay yang penting bisa makan."
Ting
Notifikasi kembali terdengar, layar ponselnya menyala dengan gelembung notifikasi di layar.
Kok cuman diread doang? Kamu lagi sibuk ya, yaudah deh kalau gitu. Semangat, ya!
"Apa-apaan sih dia ini," gerutu Ares lantas dia meraih ponselnya membuka pesan masuk kemudian mengirimi balasan.
Siapa? —Ares
Celine mengulum bibirnya begitu balasan pesan dia terima di ponselnya. Perempuan itu dengan cepat mengetik.
Panggil aja El.
Balasan pesan dari Ares berikutnya membuat Celine mengerucutkan bibir.
Berhenti kirimi aku chat, kita gak sedekat itu buat kamu seenak jidat spam.
Kok gitu sih, kan aku cuma mau kenalan. Bukannya aku punya niat jahat. —El
Celine membanting ponselnya ke kasur, mengacak-acak rambutnya karena Ares mengabaikan pesannya. Perempuan itu mengetik pesan kemudian menghapus lagi, rasanya terlalu memalukan jika Celine mengirimi pesan lagi pada Ares.
Lima belas menit kemudian ia berhasil mengirimkan pesan setelah menyakinkan diri. Halo Ares gak papa kalau kamu gak balas chat aku. Masih banyak waktu buat kita saling kenal. Pasti kamu sekarang lagi belajar kan, jaga kesehatan ya.
Ares menghela napas panjang begitu bunyi notifikasi terdengar. Dia berpikir untuk memblokir akun tidak dikenal itu, tapi pesan berikutnya membuat dia terpaku sejenak.
Aku selalu suka kamu, jadi please jangan blokir aku. Beneran deh, aku tuh gak ada niat jahat ataupun sekedar ngejahilin. Aku cuman pengen kenalan. —El
"Selalu suka aku?" batin Ares kemudian mengalihkan pandangannya pada album di pojok meja. Sudah lama buku kecil itu berada di sana, tersimpan rapi dengan simpul yang diikat rapi.
Mau kamu apa? —Ares
Kurang jelas, ya? Kan tadi aku udah bilang, cuma pengen kenalan.
"Bukannya udah kenal?" cibir Ares.
Introduce ur self, gak pake nama palsu. Biar kenal. —Ares
El aja deh, nama asli aku mah gak usah kamu tahu. Belum siap soalnya.
Ares mendengus kesal lantas ia menghubungi Celine secara panggilan vidio. Hal itu membuat Celine kelabakan, dia berulang kali menolak panggilan vidio, tapi Ares kembali menghubungi.
Berhenti Ares TvT, aku benar-benar tidak ingin menunjukkan wajahku. Nanti deh, janji kalau aku udah cukup berani baru kita ketemu.
Gak butuh nanti. —Ares
Ares kemudian meraih album foto lantas mengambil gambar, mengirimkannya pada Celine.
Ini punyamu?
Jantung Celine berdebar, agak gugup ketika di melihat album fotonya masih disimpan Ares. "Kalau aku ngaku albumnya punyaku, gak papa kan ya?" pikirnya.
Iya itu punyaku, gak nyangka kamu jaga baik-baik.
Sebentar lagi bakal di tong sampah, jika kamu gak datang buat ambil barangmu. Mesum banget ambil foto orang sembarangan, kalau kamu gak datang ini bisa kulaporin ke polisi. Aku merasa terganggu. —Ares.
"Dih, alay banget! Segala ke polisi," seru Celine menyipitkan mata lantaran kesal.
Buat kamu aja deh, itung-itung foto album pribadi. Please jangan bawa-bawa ke polisi. Aku juga enggak mesum ya!
Banyak banget omongnya, padahal udah jelas banget ini. —Ares
Ares mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Malam ini pekerjaannya tidak juga selesai, tapi laki-laki itu memilih untuk menunda sebentar untuk mengirimi pesan pada Celine yang tak kunjung membalas, padahal sudah dibaca.
Ini Celine, ya? Iseng saja dia bertanya begitu, mana tahu orang dibalik nama El mengakuinya sendiri. Namun centang satu di room chat membuatnya tercengang. Pantas saja pesannya tidak dibalas, sepertinya perempuan itu memblokir akunnya.
"Maksudnya ini apa?"
Celine merutuki kebodohannya, dia meletakkan ponselnya dengan pundak yang terasa berat. Perempuan itu berbaring di kasur dengan rona samar di pipinya. "Harusnya aku tidak mengiriminya pesan, benar-benar memalukan!" katanya. "Udahlah, mending tidur. Kalau aku ladeni balasannya bisa-bisa kebongkar identitasku."
Celine hendak menarik selimut, dia bahkan sudah mematikan lampu. Namun beberapa saat kemudian layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi pesan yang membuatnya jantungan.
Ngapain malam-malam begini ngirimi pesan? Kalau berani kontakan di sini aja. Kamu pikir aku gak tahu, pesan itu kamu yang kirim? —Ares
Masalahnya pesan itu dikirim di WhatsApp resmi, ada namanya tertera di sana.
Lekas Celine mematikan data ponselnya kemudian meletakkannya di nakas samping ranjang. Cepat-cepat perempuan itu menutup mata, mencoba melupakan pesan yang baru saja dia terima.
Salut banget sih author lucu gemes