Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tidak jauh dari butik itu, ada salon premium yang menjadi langganan para sosialita dan istri pengusaha. Karin melangkah masuk dan langsung di sambut seorang resepsionis dengan ramah.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"
Karin mengedarkan pandangannya sejenak sebelum menjawab, "Saya ingin mengubah penampilan."
"Baik, silahkan ikut saya!"
Karin mengikuti resepsionis menuju kursi salon. Sementara itu Arga memilih duduk di ruang tunggu setelah meletakan semua kantong belanjaan di samping kuri tunggu.
Tak lama kemudian, seorang penata rambut datang.
"Perubahan seperti apa yang Anda inginkan?"
Karin menatap panulan dirinya di cermin. Rambut panjangnya nampak kusam dan tidak terawat. Selama ini ia hanya mengikatnya asal, bahkan lupa kapan terakhir kali ia enar-benar merawat diri.
Karin tersenyum tipis. "Ubah seluruh penampilan saya. Panjang rambutnya tetap di pertahankan."
Penata rambut itu mengangguk.
"Baik, Nyonya."
"Potong bagian yang rusak, lakukan perawatan yang terbaik. Buat tampilannya lebih rapih. Warnanya tetap hitam alami."
"Baik, Nyonya. Silahkan ikut saya."
Karin mengikuti penata rambut itu, berpindah ruangan untukdi cuci rambutnya dan creambath, serta hair spa terlebih dulu.
Setelah semua perawatan rambut selesai, Karin berpindah ke ruangan perawatan wajah. ia melalukan semunya, facial, perawatan kulit, manicure, dan pedicure.
Hampir empat jam berlalu. Saat seluruh perawatan selesai, Karin kembali duduk di depan cermin. sebagai tahap akhir wajahnya di poles oleh perias wajah profesional.
"Sudah selesai, Nyonya. Anda nampak jauh lebih cantik dan segar dari sebelumnya."
Karin membuka matanya, Ia menatap pantulan dirinya cukup lama di cermin. Wajahnya kini nampak lebih segar. Rambut hitam panjangnya jatuh lembut hingga melewati bahu, berklau sehat. Kulitnya terlihat lebih cerah dan terawat tanpa menghilangkan kecantikan alaminya.
Karin tersenyum puas.
"Bagaimana, Nyonya. Anda puas dengan hasilnya?"
Karin mengangguk pelan. "Ya, terima kasih."
Karin bangkit untuk membayar semua perawatannya. Ia meraih kartu milik Dimas dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada resepsionis.
"Silahkan." Karin menyodorkan kartunya
"Baik, Nyonya." Resepsionis itu segera mengambilnya, dan langsung memproses pembayaran. Setelah selesai ia mengembalikan kartu beserta struknya pada Karin, sambil berkata.
"Suami Nyonya benar-benar setia. Dari tadi beliau menunggu di ruang tunggu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan saat kami bilang boleh kembali setelah Nyonya seleai, beliau hanya bilang akan meunggu Nyonya sampai selesai."
Karin sempat terdiam, lalu mengikuti arah pandang resepsionis. Di ruang tunggu Arga masih duduk dengan tenang. Dan ia hanya tersenyum pada resepsionis itu lalu melangkah menghampiri Arga.
Melihat karin berjalan mendekat, Arga lagsung berdiri. Arga sempat terdiam beberapa detik.
"Sudah selesai, Nyonya?" tanyany akhirnya.
"Sudah."
Arga biasanya tidak pernah berani menatap majikannya terlalu lama, tetapi perubahan Karin begitu jelas.
Tanpa sadar Arga berkata pelan, "Nyonya terlihat.... jauh lebih anggun."
Karin tersenyum tipis. "Benarkah?"
Arga segera mengangguk. "Iya, Nyonya."
Karin tak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah menuju pintu pintu keluar pusat perbelanjaan dengan percaya diri. Baginya hari ini adalah awal. Sedikit demi sedikit, ia akan mengambil kembali harga dirinya dan membuat semua orang yang pernah menyakitnya menyesal.
Di tempat lain.
Ponsel Dimas kembali berbunyi. Satu Notifikasi transaksi belum sempat ia cerna, kini muncul lagi nominal yang membuatnya geram.
Wajahnya langsung berubah. Matanya membelalak saat melihat total pengeluaran sampai ratusan juta.
"Siapa yang berani menggunakan kartu yang ku simpan sebagai cadangan?" gumamnya geram, sambil menggertakan giginya.