Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Istana Marmer
Suara dengung rendah bernada mekanis menggema dari ruang generator bawah tanah ketika sistem otomatisasi listrik darurat kediaman Jalan Widya Mulia dipaksa melakukan bypass oleh tim teknis luar Konsorsium.
Satu detik kemudian, aliran listrik bertegangan tinggi kembali mengalir deras. Belasan lampu kristal mewah yang menggantung di langit-langit lobi utama berkedip cepat sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menyala terang, membanjiri seluruh ruangan dengan cahaya kekuningan yang benderang.
Bagi mata yang terbiasa dengan kegelapan total, transisi mendadak ini terasa seperti hantaman fisik. Namun, di balik lensa kacamata termal pasifnya yang otomatis menyesuaikan tingkat paparan cahaya dalam waktu 0.01 detik, Nathan bahkan tidak mengedipkan mata.
Ia perlahan melepas kacamata taktis tersebut, melipatnya dengan satu gerakan tenang, dan menyelipkannya ke dalam saku jas dalam. Matanya yang hitam pekat kini menatap lurus ke arah pintu jati ganda di ujung lobi depan.
Di bawah siraman cahaya lampu kristal yang hangat, keindahan estetika lobi marmer itu kini telah berubah menjadi pemandangan dari palung terdalam neraka.
Genangan darah merah segar mengalir lambat dari koridor barat dan timur, menodai marmer putih mengilat dengan pola-pola abstrak yang mengerikan.
Tiga jasad dari Tim Alfa tergelatak kaku di dekat pilar, sementara dari kejauhan di ruang konservatori kaca, keheningan mengonfirmasi kematian Tim Beta.
DUAARR!
Pintu jati ganda depan hancur berantakan akibat hantaman alat pendobrak hidrolik bertekanan tinggi seberat 25 kilogram yang digunakan oleh Tim Gamma. Serpihan kayu jati berlapis pernis terbang ke segala arah bersamaan dengan embusan angin badai dan cipratan air hujan yang lebat.
Tiga agen Tim Gamma menerobos masuk dengan gerakan taktis yang sangat agresif. Mereka mengenakan rompi antipeluru tingkat tinggi tipe K-3, helm balistik taktis dengan pelindung wajah, dan memegang senapan serbu kompak kaliber 5.56 mm yang siap menyalak.
Namun, begitu kaki mereka menginjak lantai marmer lobi, langkah mereka langsung terhenti seketika.
Mata ketiga agen elit tersebut membelalak di balik pelindung wajah mereka.
Insting militer mereka yang telah terlatih selama bertahun-tahun di berbagai zona konflik global dipaksa mencerna sebuah anomali visual yang mustahil, tujuh rekan terbaik mereka telah tewas secara brutal dalam waktu kurang dari 15 menit, dan di tengah kehancuran itu, seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi sedang berdiri dengan tenang di anak tangga pertama tangga utama.
Pria itu memegang sebuah pistol taktis kaliber 9 mm yang dilengkapi peredam suara panjang di tangan kanannya.
Laras senjata itu mengarah santai ke lantai, dan ekspresi wajahnya begitu datar, seolah ia sedang menyambut tamu biasa di sore hari yang cerah, bukan berdiri di atas tumpukan mayat.
"Kontak di tangga utama!" teriak Gamma-Satu, pemimpin tim Gamma, mencoba mengabaikan rasa dingin yang tiba-tiba mencengkeram tengkuknya.
"Tembak! Tembak!"
Tetapi Nathan bergerak jauh lebih cepat daripada sinyal motorik yang dikirimkan oleh otak Gamma-Satu ke jari telunjuknya.
Sebelum laras senapan Gamma-Satu sempat terangkat sejajar dengan dada Nathan, Nathan telah melepaskan dua tembakan beruntun yang sangat presisi dari posisi pinggulnya.
TAP! TAP!
Dua peluru berkecepatan tinggi meluncur keluar dari laras pistol Nathan yang diredam. Peluru pertama menghantam tepat di pelat baja pelindung leher Gamma-Satu, meremukkan tulang selangkangnya seketika.
Peluru kedua, yang dilepaskan dengan deviasi sudut mikro, menembus celah sempit di antara helm balistik dan pelindung wajahnya, langsung menghancurkan jembatan hidung menuju pusat otaknya.
Gamma-Satu ambruk ke depan seperti pohon tumbang, senapan serbunya terlepas dari genggaman dan menghantam lantai marmer dengan bunyi logam yang keras.
"Pemimpin tumbang!" teriak Gamma-Two panik. Ia segera merunduk di balik pilar marmer terdekat, sementara tangannya menembakkan rentetan peluru secara membabi buta ke arah tangga utama.
TATATATAP!
Rentetan peluru kaliber 5.56 mm merobek karpet beludru merah yang melapisi tangga utama, menghancurkan pagar pembatas kayu berukir dan mengirimkan serpihan kayu yang beterbangan seperti pecahan granat.
Namun, anak tangga pertama itu kini telah kosong.
Nathan telah melompat ke samping sebelum tembakan pertama dilepaskan, memanfaatkan gravitasi untuk meluncur turun di sepanjang sisi luar pagar tangga dan mendarat dengan mulus di balik sofa kulit besar di lobi tengah.
Gamma-Three, yang mengambil posisi tiarap di dekat pintu masuk yang hancur, memindai area tangga dengan panik. "Target hilang! Dia tidak ada di tangga!"
"Periksa titik buta di belakang sofa! Dia terluka, dia pasti bersembunyi di sana!" sahut Gamma-Two melalui sistem interkom helmnya, napasnya terdengar sangat memburu.
Di balik sofa kulit, Nathan memeriksa sisa amunisi di dalam magasin pistolnya. 11 butir tersisa. Angka yang lebih dari cukup.
Ia mendengar suara langkah kaki Gamma-Three yang mendekat dengan sangat hati-hati, sol sepatunya berdecit di atas marmer yang basah oleh air hujan dari pintu depan yang hancur. Jarak mereka kini hanya 4 meter.
Nathan tidak menunggu untuk disergap. Ia mengambil sepotong pecahan kayu jati pintu yang hancur di dekat kakinya, lalu melemparkannya ke arah koridor timur, tempat jasad-jasad Tim Beta berada.
PRANG!
Pecahan kayu itu menghantam pot tanaman hias keramik hingga pecah.
Mendengar suara pecahan tersebut, refleks Gamma-Three langsung memutar arah senapannya ke arah koridor timur dan melepaskan tembakan pendek.
TAP! TAP! TAP!
Di saat yang sama ketika perhatian Gamma-Three teralih, Nathan meluncur keluar dari balik sofa dari arah yang sepenuhnya berlawanan.
Dengan posisi tubuh yang sangat rendah dekat dengan lantai, Nathan menutup jarak 4 meter tersebut dalam waktu kurang dari 0.8 detik.
Sebelum Gamma-Three sempat menyadari bahwa suara pot pecah itu adalah umpan taktis, Nathan sudah berada di bawah garis pandangnya.
Tangan kiri Nathan mencengkeram laras senapan Gamma-Three, mendorongnya ke atas dengan kekuatan yang luar biasa, sementara ujung laras pistolnya sendiri ditempelkan langsung di bawah dagu helm balistik Gamma-Three yang tidak terlindungi pelat baja.
"Selamat tinggal," bisik Nathan lirih.
TAP.
Satu tembakan diredam dilepaskan dari jarak nol. Daya hancur peluru kaliber 9 mm pada jarak sedekat itu langsung melubangi tengkorak Gamma-Three dari dalam, menewaskannya seketika tanpa sempat mengeluarkan erangan.
Nathan menangkap tubuh Gamma-Three yang lemas agar tidak jatuh terlalu keras, menggunakannya sebagai perisai balistik taktis saat ia memutar tubuhnya menghadap pilar marmer tempat Gamma-Two bersembunyi.
Sesuai perkiraan Nathan, Gamma-Two langsung keluar dari balik pilar begitu melihat bayangan rekannya berputar. Ia langsung menarik pelatuk senapannya.
TATATATAP!
Lima peluru menembus tubuh mati Gamma-Three yang dipegang erat oleh Nathan.
Nathan menahan hantaman kinetik tersebut dengan otot-otot lengannya yang kuat, menjaga posisinya tetap stabil sementara ia membidik dari balik bahu mayat tersebut.
TAP! TAP!
Dua tembakan balasan dilepaskan oleh Nathan dalam satu detik yang sama.
Peluru pertama menghantam pergelangan tangan kanan Gamma-Two yang memegang pelatuk senapan, menghancurkan tulang sendinya dan memaksa senjata tersebut jatuh ke lantai.
Peluru kedua melesat tepat sasaran menuju mata kanan Gamma-Two yang terbuka lebar karena ketakutan di balik kacamata taktisnya.
BUP.
Gamma-Two terhuyung-hudung ke belakang sebelum akhirnya ambruk membentur pilar marmer, menyisakan noda darah merah yang panjang di dinding marmer putih tersebut saat tubuhnya melorot jatuh tanpa nyawa.
Keheningan kembali menguasai lobi kediaman Jalan Widya Mulia, hanya diiringi oleh suara rintik hujan badai dari luar pintu yang hancur dan deru napas Nathan yang tetap teratur tanpa ada kelelahan fisik yang berarti.
21.15.
Seluruh tim penyerbu lapangan Konsorsium Mahkota, sepuluh agen terlatih yang disewa dengan nilai jutaan dolar kini telah disapu bersih sepenuhnya oleh satu orang dalam waktu lima belas menit.
Nathan membuang jasad Gamma-Three ke lantai. Ia berdiri tegak, merapikan kembali jas hitamnya yang kini ternoda oleh beberapa cipratan darah musuh, lalu berjalan perlahan menuju pintu keluar lobi yang hancur.
Ia memungut salah satu radio komunikasi dari saku taktis Gamma-Two, memasangnya di telinganya, dan menekan tombol transmisi.
"Vera," panggil Nathan, suaranya terdengar sangat tenang namun membawa aura kematian yang begitu pekat hingga membuat frekuensi statis di radio seolah membeku seketika.
"Papan caturmu sudah kosong. Seluruh pionmu di dalam rumah ini sudah hancur."
Di dalam van komando taktis di bukit pinus, Vera Sterling menatap layar telemetrinya dengan tatapan kosong yang dipenuhi oleh kengerian ekstrem.
Sepuluh garis merah datar berjejer rapi di layar monitornya. Seluruh tim tempur terbaiknya telah dilenyapkan seperti anak ayam di bawah cakar harimau.
"Bagaimana... bagaimana mungkin ada manusia seperti ini di Megapura?" bisik Vera dengan bibir yang gemetar. Seluruh keyakinan dirinya sebagai mantan perwira intelijen militer swasta hancur berkeping-keping dalam waktu semalam.
"Aku memberi satu kesempatan terakhir, Vera," lanjut Nathan dari seberang radio. "Keluar dari van-mu, berjalan ke halaman depan dengan tangan di atas kepala, atau aku sendiri yang akan datang ke bukit itu dan memastikan kematianmu menjadi hal paling menyakitkan yang pernah tercatat dalam sejarah medis."
Vera merasakan darah di seluruh tubuhnya mendadak membeku.
Namun, insting bertahan hidupnya yang licik segera mengambil alih kendali pikirannya yang panik. Ia menyadari bahwa ia masih memiliki satu kartu as yang belum dimainkan.
"Nathan... atau siapa pun nama aslimu," desis Vera, suaranya bergetar hebat namun ia mencoba menahan ketakutannya.
"Kamu sangat hebat. Tapi kamu lupa satu hal. Aku tidak datang ke sini sendirian di perimeter luar. Aku memiliki dua agen cadangan yang baru saja memanjat pipa air luar menuju balkon kamar tidur utama Clara Wijaya semenjak dua menit yang lalu."
Nathan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu lobi yang hancur. Matanya menyipit tajam.
"Kamar tidur utama dilapisi pintu baja ringan, Nathan," lanjut Vera dengan tawa histeris yang terdengar gila di radio.
"Tapi anak buahku membawa peledak termit kompak tingkat tinggi. Hanya butuh waktu tiga puluh detik untuk melelehkan kunci pintu tersebut. Begitu mereka masuk, Clara akan berada di bawah laras senjata kami. Jika kamu membuat satu gerakan mencurigakan, aku akan memerintahkan mereka untuk menembak kepalanya terlebih dahulu sebelum kami mati!"
Bzzzt.
Ponsel taktis di saku dada Nathan bergetar keras. Sebuah panggilan darurat dari Rendra langsung menerobos masuk secara paksa ke saluran enkripsinya.
"Nathan! Kami mendeteksi adanya lonjakan tanda panas termal yang sangat tinggi di area balkon lantai dua kamar tidur utama!" teriak Rendra panik dari seberang satelit.
"Ada dua orang musuh yang berhasil menyusup dari sisi luar tanpa terdeteksi sensor karena tertutup badai! Mereka sedang memasang peledak suhu tinggi di engsel jendela kamar Clara!"
Nathan mematikan radio komunikator Vera seketika. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun terakhir, ekspresi wajahnya yang biasanya sedingin es berubah drastis, menampilkan kemarahan purba seorang Raja Perang yang murka karena miliknya yang paling berharga terancam.
Ia berputar dengan kecepatan luar biasa, melompati jasad Gamma-Satu di lantai, dan berlari kencang menaiki tangga utama menuju lantai dua di tengah gemuruh petir yang membelah langit malam.
Berani sekali kalian ingin menyentuhnya, batin Nathan dengan haus darah yang meledak hebat di dalam dadanya. Aku akan mencabik-cabik kalian hingga tidak tersisa sepotong tulang pun.