Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 4
Dunia Alysia serasa runtuh. Dia tidak siap jika Arkhasa melihat ini. Dia segera menarik tangan Arkhasa agar menjauh dari jendela.
"Bukan, Sayang. Itu hanya orang yang mirip Papa," bohong Alysia, suaranya tercekat.
Dia meraih bahu Arkhasa, menatap mata putranya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Arkha, dengarkan Mama. Kadang-kadang, orang dewasa harus melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi satu hal yang pasti, Mama akan selalu ada di sini, untuk kamu."
Arkhasa mengerjap polos, masih mencoba mencari sosok ayahnya di kejauhan.
"Oh... oke, Mama. Tapi Papa bilang dia mau ke Singapura, kan? Apa mungkin dia naik pesawat lewat sini?"
Pertanyaan polos itu menghantam Alysia tepat di ulu hati. Dia memeluk Arkhasa erat-erat, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Dia tahu sekarang. Damian tidak hanya tidak mencintainya, Damian telah menanamkan kebohongan sistematis di sela-sela rutinitas mereka.
Alysia melepaskan pelukannya, menarik napas dalam, dan menyalakan mesin mobil. Dia tidak akan menangis di depan anaknya. Tidak hari ini.
"Arkha, bagaimana kalau kita makan es krim di tempat lain? Dan setelah itu, kita akan membeli buku-buku baru untuk hadiah karena Arkha sudah hebat di sekolah hari ini?"
"Mau! Mau banget!" seru Arkhasa, melupakan sosok pria yang dia sangka ayahnya tadi.
Saat mobil keluar dari area parkir, Alysia melirik sekali lagi ke arah pintu masuk The Grand Pavilion. Ia tidak merasakan kemarahan yang meluap-luap. Yang dia rasakan adalah kejernihan yang menyakitkan.
Enam tahun itu sudah cukup.
Di dalam tasnya, dia memiliki paspor, dokumen-dokumen penting yang sudah dia simpan rapi, dan akses ke rekening 'A.L.S' yang jumlahnya cukup untuk memulai hidup di kota lain. Dia tidak perlu lagi menuntut komitmen Damian untuk Family Day. Dia tidak perlu lagi menyiapkan kemeja, kopi hitam, atau dokumen-dokumen di atas nakas.
Alysia menginjak pedal gas, membawa mobilnya menjauh dari bayang-bayang The Grand Pavilion. Setiap putaran roda terasa seperti menjauhkan dirinya dari kehidupan yang selama ini menyesakkan dadanya. Dia tidak menuju rumah.
Dia meluncur menuju pusat perbelanjaan paling eksklusif di kota itu, tempat yang biasanya hanya dia lewati dengan pikiran, "Itu bukan tempatku."
Di dalam mal, suasana yang terang benderang dan alunan musik yang elegan terasa kontras dengan badai yang baru saja menerjang jiwanya.
Arkhasa berlarian kecil dengan gembira, matanya berbinar melihat toko mainan, sementara Alysia berjalan di belakangnya, langkahnya kini terasa lebih ringan, meski setiap tarikan napas masih menyisakan perih.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti di depan sebuah butik desainer kelas atas. Selama enam tahun, dia selalu membatasi diri untuk tidak membeli apa pun kecuali kebutuhan rumah tangga. Namun, hari ini, jemarinya meraba tas dan mengambil kartu yang di berikan Damian. Kartu yang jarang dia belikan untuk membeli barang pribadi yang cukup mahal. Karena untuk acara formal, Damian akan mengirim orang butik mengantar langsung ke rumah.
"Arkha, sayang," panggil Alysia lembut.
"Mama ingin membeli sesuatu. Kamu mau menunggu di toko buku sebelah sana sebentar?"
Arkhasa mengangguk patuh, segera berlari menuju deretan buku bergambar yang dia sukai.
Alysia melangkah masuk ke sebuah toko perhiasan itu. Pelayan toko menyambutnya dengan ramah, namun Alysia menatap koleksi gaun yang terpajang dengan pandangan yang berbeda. Dia tidak lagi mencari pakaian yang "pantas untuk istri Damian".
Dia memilih satu set perhiasan yang cocok untuknya. Beberapa potong pakaian kerja serta sepasang sepatu hak tinggi dengan merek yang biasanya hanya dia lihat di majalah. Dia juga mengambil parfum dengan wangi yang tajam dan berani, bukan wangi bunga lembut yang selama ini. Toh Damian juga tak pernah peduli.
"Saya ambil ini semua," ucap Alysia kepada pelayan, suaranya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Memberikan kartu dari Damian untuk membayarnya.
Bunyi gesekan kartu di mesin EDC terdengar seperti dentuman kecil yang meruntuhkan dinding pertahanan terakhir Alysia. Pelayan toko yang tadi sempat meliriknya dengan keraguan tipis mungkin karena penampilan Alysia yang sederhana dan tidak "eksklusif" seperti pelanggan mereka biasanya kini berubah menjadi sangat sopan.
"Terima kasih, Nyonya. Apakah barang-barangnya ingin langsung dipakai atau kami bungkus dengan kemasan kado?" tanya pelayan itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Bungkus saja," jawab Alysia datar.
Saat menerima tas belanjaan mewah itu, Alysia merasakan sensasi aneh. Ini bukan tentang nilai barangnya. Ini tentang mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi haknya selama enam tahun dia hidup dalam pengekangan. Selama ini, dia hidup dengan budget rumah tangga yang ketat sementara Damian memutar uang dengan angka yang tak bisa dia bayangkan.
Menggunakan kartu ini bukan hanya untuk memanjakan diri, tapi sebagai bentuk "pajak" atas enam tahun masa mudanya yang dia habiskan sebagai bayang-bayang di rumah itu.
Dia melangkah keluar dari toko, menenteng tas-tas itu dengan angkuh. Dia tidak merasa perlu menyembunyikannya. Jika Damian nantinya bertanya, dia punya seribu satu alasan untuk berbohong, persis seperti yang dilakukan pria itu sepanjang hari ini.
Alysia menghampiri toko buku. Arkhasa sedang duduk di lantai, terpaku pada sebuah ensiklopedia luar angkasa.
"Mama!" seru Arkhasa saat melihat Alysia. "Lihat, ada buku tentang planet! Ternyata ada planet yang jauh sekali, ya?"
Alysia menatap anaknya dengan tatapan sendu. Planet yang jauh. Ya, Arkha, batinnya, seperti jarak antara dunia Mama dan dunia Papa.
"Arkha mau buku itu?" tanya Alysia.
"Boleh, Ma?"
"Tentu saja. Ambil apa pun yang Arkha suka."
Mereka keluar dari mall dengan beberapa kantong tambahan. Alysia merasa setiap langkahnya di mal itu adalah langkah latihan sebelum dia benar-benar melangkah keluar dari hidup Damian.
Dia tidak merasa cemas lagi. Rasa takut yang dulu selalu menyelimuti, takut Damian marah, takut Damian tidak suka, takut Damian akan meninggalkannya, seolah menguap begitu saja.
Saat mereka tiba di parkiran, Alysia memasukkan tas-tas itu ke bagasi. Dia tidak langsung masuk ke mobil. Dia berdiri di sana sejenak, menatap gedung pencakar langit di kejauhan.
Dia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah notifikasi pesan singkat dari asisten rumah tangga mereka.
Ibu, Bapak sudah pulang. Beliau tanya kenapa Ibu dan Nak Arkha belum pulang?
"Dia tidak jadi ke Singapura palsunya? Apa karena melihat banyak notif mahal transaksiku makanya dia pulang?" bisik Alysia.
'Tadi jalan-jalan sebentar, ini sedang di perjalanan pulang. Sampaikan pada Bapak, jangan menunggu, kami sudah makan di luar,'
Alysia memasukkan ponsel ke tasnya. Dia duduk di balik kemudi, menyalakan mesin, dan menoleh ke kursi belakang. Arkhasa sudah tampak mengantuk, memeluk buku barunya.
"Arkha, tidur saja, ya. Kita akan sampai di rumah sebentar lagi," bisik Alysia.
Dia melajukan mobilnya membelah kemacetan sore. Malam ini, dia akan kembali ke rumah itu. Dia akan berakting seperti istri yang tidak tahu apa-apa, menyiapkan teh, dan membiarkan Damian merasa dia masih memegang kendali.
Namun, di dalam hatinya, Alysia sudah tidak lagi tinggal di rumah itu. Pikirannya sudah berada di tempat lain, di kota yang jauh, di apartemen kecil namun hangat yang mungkin akan segera dia tempati. Setiap kilometernya mendekati rumah, Alysia justru merasa sedang menjauh dari penjara yang dia buat sendiri.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat