Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 34
"Kalau dia tetap keras kepala, kita pakai cara lain!" potong Bu Ratna cepat, matanya berkedip panik mencari akal.
"Ingat, Aulia itu anak yatim piatu! Dia tidak punya orang tua atau keluarga besar tempat bersandar. Selama ini dia cuma punya kita dan Cantika! Mana mungkin dia tega membiarkan Cantika tumbuh tanpa sosok ayah, sementara dia sendiri tahu rasanya tumbuh tanpa orang tua?"
"Benar juga," sahut Rika, menyeringai tipis.
"Aulia pasti punya trauma sendiri soal keluarga yang tidak utuh. Kita serang dari sisi psikologisnya! Kita tekan rasa bersalahnya. Tegaskan ke dia kalau keputusannya bercerai cuma bentuk keegoisan yang bakal mengorbankan masa depan dan mental Cantika!"
Galang mengusap wajahnya yang kasar, setitik harapan kembali bermekaran di hatinya yang cemas.
"Berarti besok pagi-pagi sekali aku harus ke rumah Aulia? Bagaimana kalau Pak Toto dan satpam kompleks langsung mengusir kita lagi sebelum sampai pintu?"
"Makanya kamu jalan duluan sendiri!" sela Pak Hendra tegas.
"Kamu tunggu di luar kompleks atau cegat saat dia mau mengantar Cantika terapi. Buat dia iba, Galang! Tunjukkan muka paling menyedihkanmu. Ingatkan dia betapa kasihan Cantika kalau sampai jadi anak broken home seperti dirinya dulu. Menangislah di kakinya kalau perlu!"
"Baik, Yah... Aku bakal lakukan apa saja. Yang penting Aulia tidak kirim bukti itu ke Pak Yuda dan tidak ajukan gugatan," bisik Galang penuh kepasrahan, jemarinya mengepal erat.
Di saat keluarga Galang sedang kebingungan menyusun rencana di rumah mereka, sebuah mobil SUV hitam tampak terparkir tenang di depan gerbang rumah Aulia.
Ghani turun dari kursi pengemudi, lalu memutar untuk membukakan pintu belakang. Dengan hati-hati, dia menggendong Cantika yang tertidur lelap akibat kelelahan setelah menjalani sesi terapinya. Di sampingnya, Farrel berjalan mendekat sambil membawakan tas perlengkapan Cantika dengan sangat sigap.
Aulia keluar dari rumah, menyambut mereka dengan helaan napas lega yang begitu dalam.
"Terima kasih banyak ya, Pak Ghani. Maaf jadi merepotkan kamu dan Farrel..." ucap Aulia tulus, matanya berkaca-kaca menatap putri kecilnya yang kini berada di garapan Ghani.
"Sama sekali tidak merepotkan, Bu Aulia," potong Ghani dengan suara berat dan tenang.
"Yang terpenting Cantika sampai rumah dengan selamat dan tidak perlu menyaksikan drama dari orang-orang itu lagi. Oh iya, di mana kamar Cantika?"
"Ah iya, sebelah sini, Pak Ghani. Biar saya saja, merepotkan anda," Aulia merasa tak enak.
"Tidak merepotkan kok!"
Ghani membawa Cantika masuk dan membaringkannya perlahan di atas kasur dengan sangat pelan. Farrel menaruh tas Cantika di atas meja dengan hati-hati.
"Tante Aulia, tadi Cantika hebat banget pas terapi. Katanya dokter progressnya bagus!" bisik Farrel bangga, menyunggingkan senyum hangat yang mirip sekali dengan ayahnya.
Aulia mengusap rambut Farrel dengan lembut.
"Terima kasih ya, Farrel sayang, sudah jagain Cantika hari ini."
"Tiap hari juga boleh kok tante!" jawab Farrel yang memang sangat senang bermain bersama dengan Aulia.
Setelah memastikan Cantika tertidur nyaman, mereka bertiga kembali ke ruang tamu. Namun Ghani lebih memilih mengobrol di teras luar, dia masih tahu tata krama, apalagi di dalam rumah Aulia tak ada suaminya dan mereka bukan mahram.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ghani.
"Aman, aku masih bisa menghadapi mereka yang pastinya tak akan menyerah dan akan kembali lagi. Apalagi kalau tahu aku akan bertemu dengan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Dia pasti akan sangat frustasi,"
Ghani terkekeh pelan, sebuah senyum tipis berwibawa terukir di wajah tegasnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi teras, menatap Aulia dengan pandangan penuh apresiasi.
"Baguslah kalau kamu sudah siap. Aku hanya khawatir kamu lemah di depan mereka!" ucap Ghani, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah kekacauan yang sedang dihadapi Aulia.
"Aku baik-baik saja. Lusa aku akan bertemu dengan pimpinannya langsung. Semua dokumen penggelapan uang tabungan Cantika dan bukti-bukti perselingkuhan yang sudah ada di tangan Pak Yudha juga,"
Aulia mengangguk perlahan. Ada helaan napas lega yang lolos dari dadanya.
"Terima kasih banyak, Pak Ghani. Kalau bukan karena bantuan Anda, mungkin saya masih kebingungan harus menghadapi mereka dari mana."
"Sama-sama, Bu Aulia. Kita sama-sama berjuang untuk anak-anak hebat kita. Bukan anak nakal ataupun anak yang menurut ornag lain aib apalagi cacat! Lagi pula dari informasi yang saya dapat dari Pak Yudha jika perusahaan tempat Galang bekerja memang menjungjung integritas karyawannya dengan sangat baik." jawab Ghani tegas.
Farrel, yang dari tadi duduk mendengarkan sambil memainkan mobil-mobilannya, ikut menimbrung dengan polosnya.
"Tante Aulia, kalau Om jahat itu datang lagi besok dan marah-marah, Tante langsung panggil Farrel dan Papa aja ya! Biar Papa yang urus! Papa Farrel itu adalah Papa yang paling hebat!" celetuk Farrel dengan gaya sok tangguh yang langsung membuat Aulia dan Ghani terkekeh.
"Terima kasih ya, Farrel pahlawan Tante," sahut Aulia lembut sambil mencubit gemas pipi anak laki-laki itu.
Namun, keceriaan kecil itu kembali memudar saat Aulia teringat betapa liciknya keluarga Galang. Ia menatap ke arah gerbang rumahnya yang tertutup rapat.
"Saya kenal betul tabiat Bu Ratna dan Rika, Pak Ghani. Kemungkinan besar besok pagi Galang akan mencegat saya di jalan, menggunakan Cantika dan status saya yang yatim piatu untuk membuat saya merasa bersalah. Mereka pasti berpikir trauma broken home saya bisa dipakai untuk melunakkan hati saya," ujar Aulia, nada suaranya berubah dingin dan datar.
Ghani menatap Aulia dengan tatapan tajam namun protektif.
"Mereka salah menilai kamu, Aulia. Justru karena kamu tahu rasanya tumbuh tanpa orang tua, kamu tahu persis bahwa membiarkan anak tumbuh bersama ayah penipu dan manipulatif jauh lebih merusak ketimbang tumbuh tanpa sosok ayah sama sekali."
"Besok pagi, sebelum kamu mengantar Cantika terapi, saya akan minta pengawal pribadi saya untuk mengawal motormu dari jarak aman. Jadi, kalau Galang nekat melakukan aksi nekat di jalanan, dia akan langsung berhadapan dengan orang-orang saya, bukan kamu."
Mata Aulia berkaca-kaca. Perhatian dan perlindungan yang ditunjukkan Ghani terasa sangat nyata, sesuatu yang sama sekali tak pernah dia dapatkan selama bertahun-tahun menjadi istri Galang.
"Pak Ghani... ini sudah terlalu banyak. Saya benar-benar tidak enak..."
"Jangan merasa tidak enak," potong Ghani cepat namun lembut.
"Ini bukan cuma soal kamu, tapi juga soal keselamatan Cantika. Apalagi Cantika juga adalah sahabat Farrel, dia juga berhak bahagia!"
Ghani kemudian menoleh pada anaknya. "Yuk, Farrel. Kita pulang dulu, biar Tante Aulia dan Cantika bisa istirahat."
"Siap, Papa!" Farrel berdiri dan melambaikan tangan pada Aulia.
"Dah Tante Aulia! Besok Farrel main ke sini lagi ya!"
Aulia mengantar Ghani dan Farrel hingga ke samping mobil SUV hitam mereka. Setelah melihat mobil itu melaju menghilang di ujung jalan kompleks, Aulia membalikkan badan dan menatap rumahnya.
Bila esok Galang benar-benar datang membawa skenario serang psikologis dan drama air mata buayanya, Aulia sudah tidak takut lagi. Dia sudah menyiapkan kejutan yang jauh lebih mematikan untuk menghancurkan sisa-sisa kesombongan mantan suaminya itu. Mungkin dulu hal itu akan membuatnya lemah dan tunduk kepada mereka, namun seprti yang di katakan oleh Ghani, Cantika harus berada di tempat yang sehat. Untuk kesembuhannya juga.
diawal bapaknya galang ikut si pak hendra..tapi disini melihat kegilaan anak dan istrinya tiba2 pak hendra hilang.