Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Devan merengkuh pinggang ramping Savira, membawa gadis itu menuju sofa tanpa melepaskan ciumannya. Ruangan dingin dengan AC 18°C itu menjadi panas akibat ulah mereka.
Waktu seakan berjalan lambat. Hanya ada napas dan detak jantung yang berlomba. Sampai kaki Devan menabrak sofa.
Brakk.
Tubuhnya jatuh terduduk, membuat ciuman itu lepas. Dengan napas yang sama-sama memburu, mata mereka saling mengunci.
Savira duduk di atas pangkuan Devan. Rambutnya berantakan. Bibirnya basah dan sedikit bengkak. Ia tertawa kecil, pipinya merah.
"Ceroboh banget, Dok." katanya pelan. Nunduk. Tangannya menarik dasi Devan.
Devan menatap intens wajah Savira. Jempolnya mengusap bibir basah itu. Savira kembali mengangkat wajahnya, hingga pandangan mereka bertemu. Devan menghela napas berat, matanya gelap. Tapi ada ragu di sana.
Tangannya kini berada di tengkuk Savira, menariknya semakin dekat. "Saya tidak bisa berhenti." Bisiknya. Suaranya serak. Menahan gejolak dalam tubuhnya.
Savira meremas dasi Devan. Menimbulkan desiran hebat dalam tubuh pria itu hingga ia kembali melabuhkan ciuman ke bibir Savira.
Bukan ciuman lembut. Tapi sebuah ciuman panas yang menuntut. Kobaran nafsu mengambil alih kewarasan dan logika yang selama ini selalu bisa ia kendalikan dengan sempurna.
Tangannya semakin aktif menjelajah setiap inci tubuh Savira. Hingga desahan nikmat lolos begitu saja dari mulutnya.
"Enghhh... Dok..." rintih Savira memejamkan matanya. Menikmati sapuan lidah hangat Devan di sepanjang tulang selangkanya.
Savira yang baru pertama di perlakukan seperti itu, tidak bisa menolak kenikmatan yang Devan tawarkan. Sentuhan Devan terlalu memabukkan. Ia lupa jika dirinya adalah gadis keras kepala yang menjunjung tinggi harga dirinya. Sampai....
Srekkkk.....
Savira langsung membuka mata ketika Devan menarik kasar baju scrub nya hingga sobek.
"Dok...." rengeknya. Reflek tangannya menutup dada. Hembusan AC central menyentuh kulit pundaknya yang terbuka.
Devan meraih tangan Savira, menjauhkan tangan itu dari dadanya. "Saya tidak bisa membuat tanda di leher mu. Tapi di dadamu..." Devan langsung mengecupnya lembut.
Wajah Savira semakin merah. Antara rasa malu dan menikmati. Detik selanjut, apa yang di lakukan Devan membuat tubuhnya lemas seperti jeli, dan bersamaan darahnya terasa mendidih.
Savira tidak bisa mendeskripsikan kenikmatan yang ia rasakan. Hingga tubuhnya menegang tak terkendali di atas pangkuan Devan. Sesuatu di bawah sana mengalir deras tanpa bisa ia cegah.
Devan memeluk erat tubuh lemas Savira. Membiarkan kepala gadis itu berada di dadanya. Mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain. Tidak ada kata. Hanya hembusan napas yang masih saling memburu.
"Dok..." bisik Savira menyembunyikan wajahnya di ceruk Devan. Malu. Tapi jauh dalam hatinya ada perasaan bahagia yang tak terkira.
Cup...
Devan mengecup singkat pundak mulus Savira. "Maaf. Saya tidak bisa menahan diri." kata Devan.
Tapi kata maaf itu bukan benar-benar permintaan maaf. Lebih ke formalitas. Karena di matanya tidak ada penyesalan sama sekali. Yang ada hanya kepuasan dan rasa lega.
Savira meremas kemeja Devan dengan sisa tenaganya. "Apa menurut dokter saya wanita murahan...?" ia merasa Devan menghancurkan harga dirinya.
Statusnya sebagai pacar simpanan, ternyata belum cukup mengoyak egonya. Hingga ia berbuat sejauh ini. Dan jika di banding dengan Feli. Savira tidak ada apa-apanya. Membuatnya merasa semakin kecil dan tidak berharga.
Rahang Devan mengeras. Matanya menyala marah. Ia tidak suka dengan pertanyaan Savira. Di genggam nya tangan Savira yang masih meremas kemejanya. Tidak kasar. Tapi tegas.
"Apa yang kamu pikirkan, Ra? Kamu satu-satunya wanita paling berharga di mata ku. Kenapa sampai berpikir seperti itu?" Katanya tak habis pikir.
"Apa yang kita lakukan, itu normal. Itu kebutuhan kita sebagai orang dewasa karena sudah menyalakan pemicunya." suaranya lebih tenang.
Perlahan, tangannya mengangkat dagu Savira agar menatapnya. "Buang semua pemikiran negatif dari kepalamu. Kamu wanita yang saya inginkan." Kata Devan kembali meyakinkan Savira.
Gadis itu mengangguk kecil, dan kembali memeluk Devan. Menyembunyikan wajah merahnya. Devan tersenyum dan membalas pelukan gadis nya, tanpa protes. Tanpa suara.
.....
Savira bersenandung kecil dalam lift. Wajahnya secerah mentari pagi. Tubuhnya terasa ringan seperti kapas. Ia lupa jika dua jam yang lalu hidupnya bagai tahanan di ruang sidang.
Sesekali Savira tersenyum malu mengingat kegilaan yang baru saja ia lakukan bersama konsulennya. Benar-benar tidak waras dan tidak tahu tempat. Bagaimana jika tadi ada yang datang ke ruangan Devan? Entahlah, Savira tidak memikirkan hal itu tadi. Ia terlalu sibuk menikmati sentuhan kekasih nya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Di depannya, dr. Arlo berdiri dengan wajah datarnya. Savira refleks menunduk sebelum keluar lift.
Arlo menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki Savira.
Setelah itu ia masuk dalam lift tanpa suara.
Merasa di perhatikan. Savira merapihkan bajunya yang masih sangat rapi. Licin bekas setrikaan.
"Aneh." Batin Savira berjalan menuju ruang residen.
Saat pintu terbuka, Savira melihat dr. Erika duduk di kursi plastik sambil memegangi lolipop. Sepertinya permen itu menenggelamkan dr. Erika dalam lamunan. Hingga ia tidak sadar jika Savira datang.
"Permennya lucu ya, Dok." celetuk Savira duduk di kursi sebelah dr. Erika.
"Hemmm..." sahut dr. Erika senyum lebar.
Savira ikut tersenyum melihat itu. Sepertinya dr. Erika sedang jatuh cinta.
Brak ..
Tangan dr. Erika gebrak meja. Ia menoleh ke Savira. "Kapan datangnya?" Sepertinya dr. Erika baru sadar dari lamunannya.
Savira nyengir kuda. "Belum lama. Tapi cukup untuk mendiagnosa kalau dr. Erika sedang jatuh cinta." sahut Savira menggoda.
Tak ayal pipi dr. Erika merah padam. "Si-siapa yang jatuh cinta." Elaknya. Memasukkan lolipop itu ke saku jasnya. Menunduk malu.
"Iya juga tidak apa-apa, Dok." Savira semakin menggodanya. "Jadi. Siapa pria beruntung itu?" tanya Savira sambil menjawil dagu dr. Erika.
"Tidak ada, Vi...." Ia masih mengelak. "Ehh, Vi..." Ia menahan tangan Savira. "Tangan kamu kok bau parfum dr. Devan?"
Tubuh Savira langsung kaku. "Ma-masak sih?" Suaranya gugup.
Dokter Erika menyipitkan matanya. Menyentuh lengan Savira. "Kamu ganti baju, Vi?"
Dorrr....
Pertanyaan itu terasa seperti peluru yang menembus jantung Savira. Ia tidak berpikir sebelumnya jika seseorang akan menyadari jika ia ganti baju.
"Kamu tadi pake scrub biru muda dech. Bukan hijau." Mata dr. Erika masih meneliti Savira. "Baru lagi. Kapan beli nya? Kok gak ajak-ajak."
Napasnya tercekat. Dalam hati merutuki Devan yang memberikan baju scrub baru padanya. Tapi mau bagaimana lagi? Scrub birunya yang kusut itu sudah di koyakan Devan. Belum lagi bagian celananya yang basah kuyup karena ulah Devan.
Kali ini, Savira benar-benar di buat mati kutu dengan pertanyaan sederhana dr. Erika. Otaknya kosong. Buntu. Tidak bisa berpikir harus menjawab apa.
*
*
*
*
*
To be continued