Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Alex memasukkan tangannya dalam saku celananya menatap kesal sekaligus masa bodoh kepada Erlangga, dia juga sangat tidak suka berada di dekat dengan keluarga Pratama terutama Erlangga yang merupakan salah satu sumber penderitaan Wina.
"Jika bukan karena Wina, aku sudah menghajar mu sejak tadi, kamu dan keluargamu hanya membuat dia susah saja". Sungut Alex dengan tidak ramah sama sekali
Erlangga tidak membalas apapun perkataan Alex kepadanya, dia mengerti jika keduanya begitu membenci keluarganya, dia yakin jika Alex dan ibunya pasti sudah mengenal Wina sejak lama sampai mereka tahu apa yang terjadi pada Wina selama ini.
"Sepertinya kalian mengenal Wina sejak lama sampai begitu membenci keluargaku". Ucapnya tidak peduli dengan perkataan Alex barusan.
Alex tersenyum sinis sekaligus menatapnya dengan tatapan mengejek dan menghina.
"Tentu saja, aku adalah kakak angkat Wina yang diangkat langsung oleh ayah Aditama sedangkan ibuku adalah pekerja dirumah Wina selama bertahun-tahun sebelum dirinya memulai usaha".
Alex berjalan kembali mendekati Erlangga dengan kepala tegak dan tatapan tajam penuh intimidasi. Kini keduanya telah berhadapan satu sama lain, hawa disekitar mereka berubah mencekam.
Kedua lelaki yang begitu mencintai Wina itu kini saling menatap penuh emosi seakan bisa membakar seluruh yang ada disana.
"Kamu sudah mendapatkan kesempatan berkali-kali untuk membantu dan melindunginya sebelumnya, jangan hanya karena kamu melindungi si kembar kamu merasa berhak atas dirinya, ingat itu adalah kewajibanmu melindungi mereka karena kamu ayahnya sedangkan Wina bukan siapa-siapa untukmu".
Alex melangkah lebih dekat, sepatu mereka nyaris bersentuhan, mata tajam elang Alex begitu tajam hingga membuat Erlangga sedikit gemetar walau dia pandai menyembunyikan nya.
"Itu bukan urusanmu tuan Erlangga, yang berhak memutuskan segala sesuatu bukan kamu atau ibumu tapi Wina sendiri, hanya karena anda kakak angkat dan ibu anda seperti ibu bagi Wina, kalian bisa berbuat keputusan seenaknya, aku memang berterima kasih atas apa yang kamu lakukan tapi bukanlah utu kewajibanmu untuk melindungi Wina karena kamu kakaknya".
Erlangga membalik kata-kata Alex kepadanya tadi, dia tidak akan menyerah apalagi takut pada Alex hanya karena dia seorang mafia, dulu dia terlalu banyak mengalah dan ketakutan sehingga dia kehilangan dan membuat Wina menderita tapi sekarang dia tidak akan pernah lagi melakukan kesalahan yang sama.
"Benarkah?, sayangnya itu urusanku tuan Erlangga Pratama, aku tidak akan membiarkan dia bersama denganmu, kamu hanya membuatnya menderita apalagi keluargamu itu, jangan lupa jika kecelakaan pesawat itu juga bagian dari perbuatan keluargamu". Ucapnya dengan dingin dan tajam.
Nafas Alex mulai memburu, dia sedang menahan amarahnya untuk tidak menghajar dan membunuh lelaki di hadapannya ini.
"Mereka bukan keluargaku lagi tuan Alexander, aku sudah memutuskan hubunganku dengan mereka semua sejak aku kembali bertemu dengan Wina, aku sudah bahkan mengorbankan nyawaku untuknya karena aku tahu yang aku hadapi adalah keluargaku sendiri, dan itulah hal terberat bagi seorang anak".
Matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana hancurnya hatinya melihat ibu dan ayahnya yang masuk penjara bahkan dihukum berat belum lagi beberapa sepupunya yang bernasib sama.
Tapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk membela mereka karena mereka memang sudah keterlaluan dan pantas mendapatkan nya tetapi tetap saja hatinya patah melihatnya
"Anda tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan saya saat harus menegakkan keadilan pada keluarga sendiri, mengkhianati nurani sebagai seorang anak yang begitu mencintai orang tuanya".
Mata itu kembali berkabut amarah, sesal dan emosi yang ingin ditumpahkan tapi terasa sangat menyakitkan jika dikeluarkan.
"Bahkan saat suara saya meninggi pada orang tua anda, anda sudah mengamuk seperti itu terus menurut anda bagaimana perasaan saya ketika kalian semua menghina kedua orang tuaku tanpa ampun, terlepas dari mereka bersalah atau tidak, saya tetaplah seorang anak".
Alex kini sadar atas kesalahannya, keluarganya yang bersalah bukan lelaki yang ada didepannya tapi dirinya dan sang ibu menghina keluarganya seperti tidak ada harganya sampai mereka berdua lupa jika Erlangga tetaplah seorang anak yang menyayangi orang tua dan pasti terluka atas perkataan nya.
Tapi egonya mengalahkan nuraninya, dia tidak mau Wina kembali dalam bahaya jika dekat dengan Erlangga, dia khawatir mereka memasang pelacak pada diri Erlangga agar tahu keberadaan Wina, itu sebabnya dia menyuruh anak buahnya melakukan pendeteksi alat pelacak pada tubuh Erlangga.
"Jika kamu sudah tahu keluargamu seperti itu sebaiknya kamu jangan menunjukkan diri pada Wina karena semakin kamu berada disini, semakin banyak masalah yang Wina dapat".
Tangan Erlangga mengepal erat, dia tidak Terima dengan perkataan itu.
"Saya akan melindungi Wina dengan nyawa saya, mereka melakukan semua itu bukan karena saya tapi karena dendam pribadi mereka, sekalipun saya jungkir balik untuk meredamnya tetap saja mereka akan melakukannya bahkan tidak menganggap saya, jadi apa yang anda katakan itu adalah salah besar
Dia menatap Alex dengan tatapan menantang, dia tidak akan menyerahkan Wina pada siapapun kecuali Wina sendiri yang memilihnya, dia akan kembali berjuang mendapatkan Wina.
Dia seolah terobsesi dengan wanita itu walau dia tidak memaksa Wina tetapi keinginan memilikinya sangat besar.
Alex tersenyum sinis, lelaki ini ternyata punya tekad yang besar juga untuk mengalahkannya dalam pertarungan mendapatkan Wina, bahkan tidak takut kepadanya sama sekali.
"Mari kita lihat, apakah Wina akan memilihmu".
certia cukup menarik🙏