Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Apartemen Atharazka
Sehari setelah akad nikah dilangsungkan, Amora resmi meninggalkan rumah keluarga Atmojo.Pagi itu, Atharazka membawanya untuk tinggal di apartemen pribadinya.
Perjalanan menuju apartemen dipenuhi keheningan. Atharazka mengemudikan mobil dengan tenang, sesekali menerima panggilan singkat melalui headset Bluetooth yang membahas pekerjaan di Askara Group. Setelah panggilan itu berakhir, suasana kembali sunyi.
Amora duduk di kursi penumpang sambil memangku tas kecil berisi barang-barang miliknya yang ia bawa dari hotel. Sesekali ia melirik ke arah pria di sampingnya, lalu kembali mengurungkan niat untuk berbicara.
Ia terus menyusun kalimat di dalam kepala.
"Ngomong sekarang nggk ya? Atau nanti saja setelah sampai?" batinnya.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya ia memberanikan diri.
"Mas Razka..."
Pria itu tidak menoleh, tetapi menjawab singkat.
"Hm?"
"Nanti aku mau ke rumah Ayah sama Mama dulu. Barang-barangku masih di sana. Aku belum sempat beresin apa-apa."
Razka terdiam beberapa detik.
"Oke," jawabnya singkat.
Mobil kembali dipenuhi kesunyian. Beberapa saat kemudian, Atharazka kembali membuka percakapan.
"Mulai besok saya sudah masuk kantor."
Amora menoleh.
"Kamu enggak perlu ngikut jadwal saya."
"Maksudnya?"
"Saya sering pulang malam. Kadang juga ada perjalanan dinas mendadak."
Nada bicaranya tetap datar, seperti sedang menjelaskan aturan kerja kepada rekan bisnis.
"Kamu bebas mengatur kegiatan kamu sendiri."
Amora mendengarkan dengan saksama.
"Kalau mau tetap kerja di D'Endra Group, silahkan. Kalau mau resign juga terserah. Saya enggak akan ikut campur."
Amora menggeleng pelan.
"Aku tetap kerja, Mas. Aku masih punya tanggung di perusahaan ayah"
"Bagus."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Atharazka. Tidak lama kemudian, ia kembali berkata tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Satu hal lagi."
Amora menunggu.
"Saya enggak akan mengatur kehidupan pribadi kamu selama kamu juga menghargai kehidupan saya."
Ucapan itu terdengar seperti sebuah kesepakatan, bukan percakapan antara pasangan yang baru menikah.
Amora menggigit bibir bawahnya pelan.
"Iya Mas"
Atharazka melanjutkan.
"Kalau suatu hari nanti kamu merasa enggak sanggup menjalani pernikahan ini, bilang saja terus terang."
Amora mengernyit.
"Saya enggak suka hubungan yang dipertahankan karena terpaksa."
Kalimat berikutnya membuat Amora membeku.
"Kalau memang sudah enggak bisa dipertahankan, kita selesaikan secara baik-baik. Enggak perlu saling menyiksa."
Amora menatap jendela di sampingnya, berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang berubah sendu.
Ia mengerti maksud Atharazka. Pernikahan ini memang bukan hasil dari keinginan mereka berdua. Namun mendengar suaminya membahas kemungkinan berakhirnya rumah tangga bahkan sebelum mereka benar-benar memulai kehidupan bersama tetap membuat dadanya terasa sesak.
Meski begitu, Amora tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya.
Ia hanya menganggukkan kepala kecil.
"Aku ngerti, Mas."
Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara mereka. Mobil terus melaju membelah jalanan kota, membawa dua orang yang kini terikat sebagai suami istri, tetapi masih dipisahkan oleh jarak yang bahkan lebih jauh daripada perjalanan yang sedang mereka tempuh.
.
.
.
Mobil yang dikendarai Atharazka Bagaskara akhirnya memasuki area parkir sebuah apartemen premium di pusat kota. Bangunan menjulang tinggi itu berdiri megah dengan dominasi kaca yang memantulkan cahaya siang. Sejak masih berada di dalam mobil, Amora sudah bisa menebak bahwa harga setiap unit di tempat itu pasti bernilai fantastis.
Bukan karena ia asing dengan kehidupan mewah. Sejak kecil, Amora tumbuh dalam keluarga Danendra Atmojo yang hidup berkecukupan. Meski beberapa waktu lalu D'Endra Group sempat mengalami krisis hingga hampir kehilangan segalanya, keluarganya tetap terbiasa dengan fasilitas terbaik. Hanya saja, Amora memang tidak pernah tertarik hidup sendiri di apartemen. Baginya, rumah keluarga selalu menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.
Begitu mobil berhenti, Atharazka keluar lebih dulu tanpa banyak bicara. Ia mengambil beberapa barang miliknya dari bagasi, lalu berjalan menuju lobi. Amora hanya bisa mengikuti dari belakang sambil membawa koper yang kemarin ia bawa ke hotel.
Mereka memasuki lift pribadi yang langsung menuju lantai tujuh belas. Selama perjalanan naik, tidak satu pun percakapan terjadi. Keheningan terasa begitu canggung hingga suara mesin lift terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Atharazka melangkah keluar lebih dahulu menuju sebuah unit di ujung koridor. Ia menempelkan sidik jarinya pada panel digital di samping pintu. Dalam hitungan detik, kunci elektronik terbuka.
"Masuk," ucapnya singkat.
Amora melangkahkan kaki perlahan. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan.
Apartemen itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Ruang tamunya menyatu dengan ruang makan dan dapur bergaya island. Seluruh furnitur didominasi warna hitam, abu-abu, dan cokelat gelap. Tidak ada pajangan lucu ataupun hiasan yang memberi kesan hangat. Semuanya tampak bersih, rapi, dan terorganisir dengan sempurna.
Suasananya... begitu mirip dengan pemiliknya.
Dingin.
Atharazka meletakkan kunci mobil di atas meja konsol sebelum akhirnya memecah keheningan.
"Ikut."
Amora segera mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah panjang suaminya menuju lorong.
"Lorong ini ada tiga kamar," ujar Atharazka tanpa menoleh. "Kamar saya di tengah."
Ia kemudian menunjuk pintu di sebelah kanan.
"Kamu pakai kamar itu."
Pandangan Amora beralih ke pintu yang dimaksud. Letaknya persis di sisi kanan kamar Atharazka.
"Kalau kamar yang satunya lagi?" tanyanya hati-hati.
"Kamar tamu. Jarang dipakai."
Amora mengangguk pelan sebagai tanda mengerti.
Atharazka kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Ada beberapa aturan selama tinggal di sini."
Amora otomatis menegakkan tubuhnya.
"Pertama, jangan masuk ke kamar saya tanpa izin."
"Iya, Mas."
"Kedua, saya biasa bekerja sampai larut malam. Jadi kalau pintu kamar saya tertutup, anggap saja saya sedang istirahat atau bekerja. Jangan mengetuk kecuali memang ada urusan penting."
"Baik."
"Ketiga, apartemen ini dibersihkan petugas setiap tiga hari sekali. Saya suka semuanya tetap rapi."
Amora kembali menganggukkan kepala.
"Saya juga suka bersih, Mas."
Tatapan Atharazka sempat beralih sekilas kepadanya, lalu kembali lurus.
"Bagus."
Amora mengembuskan napas lega. Setidaknya masih ada satu hal yang sejalan dengan kebiasaan mereka.
Beberapa detik kemudian, ia kembali memberanikan diri bertanya.
"Kalau aku mau masak... boleh?"
Pertanyaan itu membuat Atharazka berhenti melangkah.
"Kenapa? Lebih praktis pesan makanan."
"Aku lebih suka masak sendiri. Lebih nyaman aja."
Atharazka terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Silahkan."
Wajah Amora sedikit berbinar.
"Asal setelah selesai dapur kembali seperti semula."
"Tentu, Mas. Aku pasti beresin."
"Terserah kamu mau mengatur kamar sendiri atau bagaimana. Selama tidak mengubah ruangan lain tanpa bicara sama saya."
"Iya."
Setelah semua ucapannya selesai, Atharazka menarik koper kecil miliknya.
"Saya mau istirahat. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini."
Ia berjalan menuju kamarnya, lalu berhenti sejenak di depan pintu.
"Oh ya."
Amora mendongak.
"Kalau tidak ada sesuatu yang mendesak, kita tidak perlu saling mengganggu."
Kalimat itu diucapkan datar, tanpa nada marah ataupun ramah.
Belum sempat Amora memberi jawaban, Atharazka sudah membuka pintu kamarnya lalu menghilang di baliknya. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang menutup rapat.
Kini apartemen itu kembali sunyi. Amora berdiri seorang diri di tengah ruang keluarga. Ia mengedarkan pandangan sekali lagi ke seluruh ruangan yang kini akan menjadi tempat tinggalnya.
Perlahan ia menarik napas panjang.
"Pelan-pelan aja, Mora," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis pada diri sendiri. "Mas Razka memang bukan orang yang mudah didekati. Kalau ingin bertahan di sini, aku yang harus belajar menyesuaikan diri."
Dengan semangat yang berusaha ia bangun sendiri, Amora pun melangkah menuju kamar di sisi kanan milik Atharazka, kamar yang mulai hari itu akan menjadi ruang pribadinya di apartemen lantai tujuh belas tersebut.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰