Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kirei Sang CEO
Wanita muda berpenampilan elegan yang sejak tadi duduk di meja sebelah melangkah mendekat ke arah meja Bumi, Alya, dan Dika. Tatapan matanya yang tajam dan cerdas terfokus sepenuhnya pada selembar tisu makan yang dipenuhi coret-coretan rumus oleh Bumi. Solusi radikal yang sempat ia dengar selintas dari mulut Bumi benar-benar menarik perhatiannya, seolah ada seberkas cahaya di tengah kegelapan krisis yang mencekik perusahaannya.
"Maaf mengganggu waktu makan malam kalian," ucap wanita itu dengan nada suara yang halus namun tegas, memancarkan aura kepemimpinan yang kuat. "Saya sangat tertarik dengan solusi analisis yang baru saja Anda utarakan tadi. Kalau boleh, apakah saya dan asisten saya diizinkan untuk bergabung sebentar di meja ini?"
Bumi menatap wanita itu dengan santai, lalu tersenyum ramah sembari merapikan posisi duduknya. "Oh, silakan, Mbak. Enggak apa-apa kok, gabung aja. Kebetulan makanan kami juga belum datang."
Alya dan Dika saling berpandangan sejenak dengan wajah heran, namun mereka tetap menggeser posisi duduk mereka untuk memberikan ruang. Setelah mendapatkan izin, wanita muda itu langsung menarik kursi kosong dan duduk, diikuti oleh asisten pria paruh bayanya yang bernama Roni. Asisten itu masih memasang wajah masam dan tampak tidak senang dengan situasi ini.
Wanita itu merapikan posisi jas kerjanya, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Bumi dengan sikap yang sangat profesional. Jika dilihat dari dekat, usia wanita ini tampaknya berada sedikit di atas Bumi, mungkin hanya terpaut sekitar dua atau tiga tahun saja. Namun, pembawaannya sudah sangat matang layaknya seorang eksekutif mapan.
"Perkenalkan, nama saya Kirei," ucap wanita itu mengenalkan dirinya dengan senyuman tipis yang menawan. "Dan ini asisten pribadi saya, Pak Roni. Saya adalah CEO dari PT Artha Samudra yang saat ini kebetulan sedang mengalami sedikit guncangan di pasar modal."
Bumi membalas jabat tangan tersebut dengan genggaman yang mantap namun sopan. "Saya Bumi, Mbak Kirei. Dan ini teman-teman saya, Alya sama Dika."
"Salam kenal, Mas Bumi, Mbak Alya, Mas Dika," sahut Kirei ramah. Tanpa mau membuang waktu lebih lama karena beban di pundaknya sudah sangat berat, Kirei langsung menunjuk ke arah tisu makan di atas meja. "Mas Bumi... bisa tolong jelaskan kembali dengan lebih detail mengenai skema pembalikan sentimen pasar yang Anda sebutkan tadi? Perusahaan saya benar-benar sedang berada di ujung tanduk karena penurunan harga saham yang sangat tajam."
Belum sempat Bumi membuka mulut untuk merespons permintaan Kirei, Roni langsung memotong pembicaraan dengan nada suara yang penuh nada mendebat dan skeptis.
"Maaf, Bu Kirei, tapi saya rasa kita tidak perlu membuang-buang waktu berharga kita di sini," sela Roni dengan dahi berkerut dalam, menatap Bumi dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Dalam pikiran saya, anak-anak muda ini paling-paling cuma mahasiswa tingkat awal yang baru belajar teori ekonomi makro di kampus. Mereka belum pernah terjun langsung ke dunia kerja yang kejam, apalagi paham seluk-beluk permainan bandar saham skala korporasi! Solusi bocah ini bisa-bisa malah bikin perusahaan kita makin hancur berantakan!"
Dika yang mendengar ucapan Rendra itu sempat agak tersinggung dan hendak menyahut, namun Bumi buru-buru menahan tangan Dika di bawah meja, memberi isyarat agar temannya itu tetap tenang.
Kirei sendiri langsung menoleh ke arah asistennya dengan sorot mata yang dingin dan penuh teguran. "Pak Roni, tolong jaga sikap Anda. Di dalam situasi krisis seperti sekarang, semua konsultan keuangan senior kita yang bergaji mahal itu pun tidak ada yang bisa memberikan jalan keluar yang konkret. Mereka semua cuma menyuruh saya menyerah! Jadi, tidak ada salahnya kita bersikap lebih terbuka dan mendengarkan perspektif lain."
Kirei kembali mengalihkan pandangannya kepada Bumi, matanya memancarkan keseriusan yang mutlak. "Silakan dilanjutkan, Mas Bumi. Saya mau mendengar kelanjutannya."
Mendengar keterbukaan dan kepercayaan dari Kirei, Bumi mendadak merasa sangat antusias. Otak supernya langsung bekerja dengan kecepatan penuh, memproyeksikan seluruh data pergerakan grafik pasar modal yang ia kuasai ke dalam kasus PT Artha Samudra.
"Oke, Mbak Kirei. Karena Mbak mau mendengarkan, saya akan jelaskan prediksinya secara gamblang," buka Bumi dengan mata yang berbinar penuh keyakinan. "Penurunan harga saham perusahaan Mbak itu bukan karena murni sentimen pasar, melainkan karena ada aksi short-selling massal yang dikoordinasikan oleh orang dalam Mbak sendiri yang melakukan sabotase keuangan. Langkah pertama yang harus Mbak lakukan malam ini juga adalah memerintahkan sisa tim IT yang terpercaya untuk menyebarkan draf laporan keuangan sekunder yang sedikit dimodifikasi, bisa dibilang fake report yang terlihat seolah perusahaan Mbak bener-bener mau bangkrut."
"Hah?! Bikin laporan palsu biar kelihatan mau bangkrut? Lu beneran gila ya?!" potong Roni lagi, tidak tahan untuk tidak menyanggah. "Itu sama saja bunuh diri namanya! Saham kita bakal langsung terjun bebas ke harga terendah!"
Bumi tidak terpengaruh oleh bentakan Roni. Ia justru tersenyum santai dan melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sangat tenang namun menghanyutkan. "Memang itu tujuannya, Pak Roni. Justru itu umpannya. Begitu si pelaku sabotase internal melihat laporan itu bocor, dia bakal mengira rencananya berhasil seratus persen. Dia pasti akan kalap dan langsung melepas seluruh sisa lot saham short-selling miliknya malam ini juga di pasar negosiasi untuk menghancurkan harga sampai ke titik terendah psikologis. Nah, di saat itulah Mbak Kirei masuk."
Bumi mengetuk titik tengah bagan di tisunya. "Tepat dua jam sebelum pasar dibuka besok pagi, Mbak Kirei gunakan dana dari pihak ketiga atau sisa kas tersembunyi lewat beberapa sekuritas samaran yang berbeda. Borong semua lot saham yang sengaja dibuang murah oleh si pelaku. Begitu jam perdagangan dibuka besok, pasar akan kaget melihat ada akumulasi besar-besaran dari pihak misterius. Harga saham PT Artha Samudra bakal langsung meroket naik sampai menembus batas auto rejection atas dalam hitungan menit!"
Kirei mendengarkan setiap kalimat Bumi dengan napas tertahan, otaknya yang cerdas langsung bisa menangkap kejeniusan di balik strategi berbahaya ini. "Lalu... gimana dengan nasib pelaku sabotasenya, Mas Bumi?"
Bumi menyeringai tipis, sebuah seringai penuh kemenangan yang taktis. "Si pelaku sabotase itu bakal terjebak dalam posisi short-nya sendiri. Dia harus membeli kembali saham di harga yang sudah terlanjur meroket tinggi demi menutup posisinya, yang artinya dia bakal mengalami kerugian finansial yang sangat masif dalam sekejap. Selain itu, dengan melacak rekening sekuritas mana yang melakukan short-selling paling besar di harga bawah tadi pagi, Mbak Kirei bakal langsung tahu dengan pasti siapa nama orang dalam yang selama ini mengkhianati perusahaan Mbak. Ini solusi menjebak yang paling aman dan bersih."
Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi kayu cafe dengan santai, lalu memberikan jaminan yang luar biasa berani. "Mbak Kirei gak usah cemas. Saya berani kasih garansi waktu, jalankan skema ini malam ini, dan dalam waktu tepat satu hari saja, besok sore semua masalah krisis keuangan dan sabotase di perusahaan Mbak bakal teratasi sepenuhnya."
Mendengar penjelasan Bumi yang sangat runtut, logis, dan penuh perhitungan matematika pasar yang sempurna itu, Kirei merasakan sebuah keheningan yang menenangkan di dalam dadanya. Beban berat yang menghimpitnya selama berhari-hari ini mendadak terangkat. Meskipun asisten pribadinya, Pak Roni, masih menggeleng-gelengkan kepala sambil menyangsikan hal tersebut karena menganggapnya terlalu berisiko, Kirei sudah membulatkan tekadnya.
"Gila... ini bener-bener strategi spekulasi tingkat tinggi yang sangat gila, tapi... ini adalah satu-satunya strategi yang punya peluang sukses paling besar yang pernah saya dengar," ucap Kirei dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa lega dan kagum yang amat mendalam kepada Bumi.
Kirei langsung bangkit berdiri dari kursinya, merapikan tas tangannya dengan terburu-buru namun penuh semangat baru. "Mas Bumi, saya bener-bener berterima kasih atas waktu dan ilmu yang luar biasa berharga ini. Saya tidak punya waktu banyak lagi, saya harus segera mengumpulkan tim inti saya malam ini juga untuk mencoba dan menjalankan solusi dari Anda."
"Sama-sama, Mbak Kirei. Semoga sukses ya besok," jawab Bumi ramah sambil ikut berdiri menghormati.
Kirei tersenyum manis, lalu menoleh ke arah pelayan cafe yang kebetulan sedang mengantarkan pesanan makanan meja Bumi. "Mbak pelayan, tolong semua tagihan makanan dan minuman di meja ini dimasukkan ke dalam bil pembayaran saya saja ya. Semuanya saya yang tanggung."
Bumi yang mendengar hal itu langsung melambaikan tangannya mencoba mencegah. "Eh, gak usah, Mbak Kirei! Enggak usah repot-repot, kami bisa bayar sendiri kok. Tadi kan niatnya saya cuma mau bantu urus coret-coret aja."
Kirei tertawa kecil, menggelengkan kepalanya menolak penolakan Bumi. "Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kecil dari saya karena Anda sudah menyelamatkan masa depan perusahaan saya, Mas Bumi. Kalau besok strategi ini terbukti sukses besar... saya pasti akan datang menemui Anda lagi untuk memberikan ucapan terima kasih yang jauh lebih layak daripada sekadar makan malam ini. Saya pamit dulu ya, semuanya!"
Dengan langkah kaki yang kini terasa sangat ringan dan penuh keyakinan, Kirei berjalan cepat keluar dari cafe diikuti oleh Roni yang masih tampak kebingungan di belakangnya. Di meja cafe, Alya dan Dika langsung menatap Bumi dengan pandangan mata yang melotot penuh kekaguman yang luar biasa besar, tidak menyangka bahwa makan malam pertama Bumi di cafe justru langsung mempertemukannya dengan seorang CEO cantik yang takluk oleh kejeniusan otaknya.