Sofia Anastasia terlahir dari luka, tumbuh dalam sunyi, dan hidup untuk memberi terang bagi jiwa-jiwa yang hancur. Ia bukan hanya seorang wanita-ia adalah pelipur lara, penawar duka, namun diam-diam menyimpan luka yang tak pernah sembuh di hatinya sendiri.
Dalam perjalanan hidupnya, Sofia bertemu cinta sejatinya, Ryanda Prasetya-seorang prajurit tangguh yang terluka oleh masa lalu, namun menemukan cahaya di tatapan mata Sofia. Cinta mereka bukan kisah biasa. Ia ditempa oleh perpisahan, doa, pengkhianatan, dan pengorbanan yang melampaui logika manusia.
Ketika ajal dan kehidupan menari di batas tipis kelahiran, Sofia memilih menyerahkan nyawanya demi hidup sang buah hati. Keputusannya membungkam semua tangis, menyisakan duka dalam dada sang suami yang kini harus membesarkan putra mereka seorang diri.
Dua puluh satu tahun kemudian, sang putra-Letda Adhiyaksa Putra-berdiri gagah di halaman Istana Merdeka, menerima penghargaan tertinggi sebagai perwira lulusan terbaik TNI Angkatan Laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khalisa_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari terakhir bulan Ramadhan
Usai magrib, Zayn datang bersama abangnya ke rumah Sofia. Tak lupa, ia membawa titipan sang tuan putri yang dipesan sejak sore tadi—hal kecil yang mampu membuat senyum Sofia semekar fajar.
“Zayn, sudah sampai?” sapa Abimanyu, menyambut kedatangannya.
“Baru aja. Ini buat apaan?” Zayn menunjuk kulkas baru yang berdiri megah di sudut ruang.
“Shuuut...” Abimanyu mengangkat telunjuk ke bibir, menyuruh diam seolah kulkas itu menyimpan rahasia.
“Langsung ke dapur aja,” ucapnya pelan tapi penuh makna.
Zayn hanya mengangguk. Ia tahu betul, ini pasti ulah Sofia. Tak perlu banyak tanya, ia dan abangnya berjalan ke ruang makan, tempat kehangatan berkumpul. Di sana, ibunda Sofia menyambut mereka dengan senyum yang hangatnya mampu mencairkan beku malam.
“Fan, kapan pulang?” tanya ibunya Sofia pada Arfan, abang Zayn yang berdiri di sampingnya.
Ya, nama Arfan bukan nama asing di rumah itu. Arfan—sang abang Zayn, memiliki nama yang sama dengan adik Sofia. Saat adik Sofia lahir dulu, sang dokter yang menolong persalinan langsung memberi nama Arfan. Takdir berkata unik, karena beberapa waktu setelahnya, Bu Aynur berkunjung ke rumah ibunya Zayn dan terkejut saat tahu anak laki-lakinya pun diberi nama Arfan. Maka jadilah dua Arfan dalam satu lingkar persahabatan.
“Kemarin sore, Kak,” jawab Arfan santai, menyelipkan senyum di antara kata.
“Yaudah… yuk, sekalian kita makan malam bersama,” ajak Bu Aynur dengan kelembutan yang hanya ibu sejati miliki. Arfan hanya mengangguk, tak ingin membantah.
“Sofia ke mana, Kak?” tanya Arfan, celingukan ke kiri dan ke kanan, mencari sosok gadis kecil itu.
“Di kamarnya. Biasalah… kalau udah datang bulan, ada aja yang salah sama badannya,” ucap Bu Aynur santai, namun tetap bersahaja.
“Nah, itu dia datang,” tunjuk Abimanyu saat langkah ringan terdengar mendekat.
Sofia berjalan ke arah mereka, laptop di tangannya. Wajahnya berseri, senyumnya mengembang seperti langit pagi ketika melihat Arfan duduk di sana.
“Kapan datang, Om?” tanya Sofia ceria.
“Baru aja, Ay,” jawab Arfan.
“Ma, persiapan buat besok gimana?” tanya Sofia tanpa basa-basi.
“Udah beres semua,” jawab sang ibu tenang.
“Ada acara apa, Ay, besok?” tanya Arfan penasaran.
“Besok kan terakhir puasa. Jadi, Aya buat acara buka bersama besok di sini,” jelas Sofia.
“Besok, jangan lupa datang ya, Om,” lanjutnya manja. Arfan mengangguk.
“Eh, pesanan Aya tadi ada?” tanya Sofia pada Zayn, matanya bersinar penuh harap.
“Ada. Udah Om kasih ke Mamamu,” jawab Zayn ringan.
“Berapa tagihannya, Om?” Sofia bertanya serius.
“Gak usah, Ay,” jawab Zayn.
“Beneran?”
“Iya, beneran. Gak usah diganti.”
“Thank you... bestie,” ujar Sofia sambil tersenyum manis. Zayn pun memukul pelan dahi Sofia dengan telunjuknya, tertawa geli—tawa yang membuat waktu terasa lebih ringan.
Sofia berdiri di depan pintu, menyambut para tamu yang berdatangan. Teman-teman SMP, SMA, sampai guru-gurunya hadir membawa tawa dan cerita.
Namun, walau semuanya sudah hadir, Sofia tetap berdiri, matanya menatap gerbang seolah menanti sebuah keajaiban. Hatinya menyebut satu nama: Reygan.
“Nunggu siapa, Ay?” tanya Abimanyu yang menyadari gelagat adiknya.
“Pak Reygan,” jawab Sofia lirih, nadanya lesu, seperti hati yang digenggam rindu.
“Mungkin dia berhalangan untuk hadir, Ay. Masuk, semua orang menanyakanmu,” bujuk Abimanyu, merangkul adiknya sambil berjalan ke ruang tamu.
Tiba-tiba…
“Assalamualaikum.”
Suara itu memecah keramaian. Semua mata menoleh ke arah pintu utama.
“Bang Rey?” Sofia membisik penuh harap. Wajahnya berbinar, hatinya bergetar.
Reyden berdiri di sana. Senyumnya, tubuhnya, sosoknya… nyata. Sofia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, lalu memeluknya. Di depan semua orang. Di depan dunia.
Tak ada malu, hanya rindu yang tak mampu disembunyikan.
Reyden membalas pelukannya. Tanpa ragu. Teman-teman dan guru-guru hanya mampu menatap, tertegun, terbawa suasana.
“Bang Rey.” Sebuah suara memanggil. Sofia dan Reyden menoleh. Bila menuruni tangga, berlari sambil tersenyum cerah.
“Pelan-pelan, Bil,” ujar Reyden khawatir.
Namun Bila mengabaikannya. Ia berlari dan memeluk Reyden erat, sampai pemuda itu terdorong dua langkah ke belakang.
“Kangen Abang…” ucap Bila manja.
“Abang juga kangen… banget sama kalian berdua,” ucap Reyden sambil mengusap kepala dua gadis kecil itu.
“Besok Abang sama kita kan?” tanya Sofia penuh harap.
“Iya... sayang. Besok Abang sama kalian,” jawab Reyden lembut.
Dari arah dapur, Bu Aynur muncul bersama ibu Ryan dan Zayn. Wajahnya terkejut saat melihat Reyden. Sudah lama sejak kepindahan Reyden, dan malam ini, ia kembali. Waktu berhenti sejenak.
Tanpa ragu, Bu Aynur memperkenalkan Reyden sebagai anak lelakinya. Semua mata terpukau akan ketampanan dan wibawa Reyden. Tanpa sempat berganti seragam, Bu Aynur memintanya bergabung bersama yang lain.
“Assalamualaikum…” terdengar lagi suara dari arah pintu.
“Waalaikumsalam.”
“Masya Allah… Bang Aditya, Bang Dicky,” ucap Sofia, bangkit dengan senyum penuh bahagia.
“Enggak mengganggu, kan?” tanya dua prajurit berseragam sersan satu itu.
“Enggak lah. Ayo masuk,” jawab Sofia ramah.
“Alhamdulillah kalian datang…” ujar Bu Aynur dengan senyum khas ibu yang menyambut anak-anaknya pulang.
Sofia dan Bila menyalami mereka.
“IB, Bil?” tanya Dicky.
“Iya Bang, dari pendidikan kemarin baru ini dapat IB,” jawab Bila.
“Bang di sini juga?” tanya Aditya sambil memberi hormat pada Reyden.
“Iya, mumpung dapat IB tiga hari,” jawab Reyden.
Semua kini lengkap. Acara buka puasa dimulai dengan kehangatan yang membungkus hati dan ruang.
Usai acara, tamu-tamu pamit satu per satu. Rumah mulai sunyi. Tapi hati Sofia tak bisa diam. Ada yang mengganjal.
Ia menghela napas pelan, bukan karena lelah, tapi karena kecewa. Seseorang tak hadir.
“Maaf Sofia, aku mengganggu?” Suara Winata membuatnya menoleh.
“Kenapa, Win?” tanyanya datar.
“Dari tadi aku perhatikan, kamu seperti sedang menunggu seseorang.”
“Memangnya siapa yang sedang kamu tunggu?” lanjutnya.
“Iya Ay, kamu nunggu siapa?” Arumi ikut bertanya.
“Aku nunggu Pak Rey. Dia kok nggak datang ya? Padahal pesan aku dibacanya,” jawab Sofia.
“Lah, kamu gak tahu Ay?” tanya Winata dengan wajah serius. Ia duduk di sebelah Sofia, disusul Arumi, Ayu, dan Aisyah.
Sofia menatap mereka penuh bingung.
“Tahu apa?” tanya Sofia pada Winata.
“Pak Reygan kan udah nggak ada, Ay. Beliau udah meninggal,” jawab Winata.
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Laa ilaha illallahu wallahu akbar,
Allahu Akbar wa lillahil hamd.
“Gak ada?” tanya Sofia, suaranya pecah. Air matanya jatuh tepat saat takbir raya menggema. Hatinya luruh bersama gema langit.
Winata menggenggam jemarinya, seerat harapan terakhir. Arumi memeluknya, membiarkan air mata mereka bertemu.
Mereka tahu, luka Sofia lebih dalam dari yang terlihat. Ia tak hanya kehilangan seseorang. Ia kehilangan cinta, kehilangan doa yang diam-diam dipanjat tiap malam.
Tubuh Sofia membeku. Tapi air matanya tak henti mengalir—seolah hujan tak mau berhenti dari jiwanya yang basah kehilangan.