Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Rapat Para Pemburu
Matahari mulai merambat naik menuju puncak langit, memancarkan sinar hangat yang mengusir hawa dingin di sekitar lembah.
Setelah selesai membantu Nenek Greta memilah akar-akar obat di gua penyimpanan, Yana melangkah menuju ke area tengah pemukiman.
Di sana, sebuah drum kayu besar berlapis kulit binatang dipukul tiga kali dengan suara menggelegar.
Bum!
Bum!
Bum!
Gema pukulan drum itu merupakan pertanda panggilan rapat bagi seluruh prajurit dan kelompok pemburu Suku Serigala.
Para pria bertubuh tegap segera menghentikan aktivitas mereka.
Dengan membawa senjata masing-masing seperti tombak berlapis tulang keras, busur kayu tebal, dan kapak batu—mereka berbondong-bondong berkumpul di depan Gua Utama tempat Kepala Suku dan para tetua biasa memimpin.
Yana mengambil posisi berdiri di balik rimbunnya semak tebal dekat tebing, mengamati kerumunan tersebut dari jarak yang aman. Matanya tertuju lurus pada sosok Aron, ayahnya, yang berdiri gagah di atas panggung batu bersama tiga tetua suku lainnya.
Di samping ayahnya, Luka berdiri dengan busur di bahunya, dikelilingi oleh para pemburu muda lainnya yang tampak tertawa bersenda gurau.
Luka beberapa kali menoleh ke sekeliling kerumunan, seolah-olah mencari keberadaan Yana, tetapi Yana sengaja menyembunyikan posisinya.
"Dengar, semuanya!" Suara Aron bergema keras, seketika membungkam riuh suara kerumunan.
Seluruh prajurit dan warga yang berkumpul langsung menaruh perhatian penuh pada sang Kepala Suku.
"Musim gugur sudah hampir berakhir, dan hawa dingin dari utara bertiup lebih cepat dari tahun lalu!" ujar Aron dengan raut wajah tegas dan penuh wibawa. "Pasokan daging kering di penyimpanan utama kita masih belum cukup untuk bertahan melewati musim dingin yang panjang. Mulai hari ini, kita harus melipatgandakan hasil buruan!"
"Hooouu!" Sorak-sorai para prajurit membumbung tinggi ke udara, menyuarakan semangat bertarung mereka.
Aron mengangkat tangannya, meminta ketenangan. "Tim pemburu akan dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Paman Barek untuk berburu di lembah selatan. Kelompok kedua dipimpin oleh Luka untuk menyisir sungai barat."
Aron kemudian menepuk dadanya sendiri. "Dan kelompok ketiga... akan kupimpin sendiri menuju ke wilayah Hutan Hitam di batas utara!"
Deg!
Mendengar nama Hutan Hitam, jantung Yana seolah berhenti berdetak.
Sensasi dingin mendadak menjalar cepat dari ujung kakinya hingga ke ujung kepala.
'Hutan Hitam?! Tidak... tidak boleh!' jerit Yana di dalam hatinya.
Ingatan kelam dari kehidupan sebelumnya langsung membayang jelas di benaknya seolah baru saja terjadi kemarin.
Di kehidupan lalu, tepat di hari ini, ayahnya memimpin kelompok berburu ke Hutan Hitam. Di sana, mereka dijebak oleh sekawanan Babi Hutan Berduri—binatang buas yang sangat agresif dan beracun. Akibat serangan mendadak itu, setengah dari anggota kelompok berburu tewas mengenaskan, sementara ayahnya mengalami luka dalam parah yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh.
Luka dalam itulah yang membuat kekuatan tempur ayahnya menurun drastis, sehingga ketika tragedi kedatangan transmigrator dan serangan suku tetangga terjadi kemudian, ayahnya tidak bisa bertarung dengan kekuatan penuh hingga akhirnya gugur!
'Peristiwa itu... Bencana Babi Hutan Berduri berawal dari hari ini!' batin Yana dengan napas memburu.
Di panggung batu, Aron melanjutkan instruksinya. "Kelompok Hutan Hitam akan berangkat dua jam lagi. Persiapkan senjata dan pembawa perbekalan kalian!"
Para prajurit mulai membubarkan diri untuk bersiap-siap.
Aron turun dari panggung batu sambil berbincang dengan dua tetua suku.
Tanpa membuang waktu, Yana keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari cepat memotong jalan menuju ke arah ayahnya.
"Ayah!" panggil Yana dengan suara sedikit sengau karena panik.
Aron menghentikan langkahnya dan menoleh.
Senyum hangat langsung terukir di wajah tegas pria itu saat melihat putrinya mendekat. "Yana? Ada apa, Nak? Mengapa kamu berlari seperti itu?"
Yana menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia menggenggam erat lengan baju kulit binatang milik ayahnya.
"Ayah... jangan pergi ke Hutan Hitam," kata Yana cepat, menatap langsung ke dalam mata ayahnya dengan raut wajah sangat serius.
Aron agak terkejut mendengar ucapan itu. Ia terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk tangan Yana. "Mengapa? Hutan Hitam adalah tempat terbaik untuk mendapatkan daging segar dalam jumlah besar sebelum musim dingin tiba. Binatang di sana sangat gemuk."
"Tidak, Yah! Hutan Hitam sangat berbahaya hari ini!" desak Yana dengan nada suara yang makin tinggi, membuat beberapa prajurit di dekat mereka sempat menoleh heran. "Hawa dingin dari utara membuat binatang buas di Hutan Hitam menjadi sangat agresif. Ayah harus mengalihkan rute berburu ke Lembah Bintang saja!"
Aron mengerutkan dahi, raut wajahnya berubah menjadi sedikit heran. "Lembah Bintang? Lembah Bintang itu jaraknya dua kali lipat lebih jauh dan jalurnya berbatu. Lagipula, dari mana kamu tahu binatang di Hutan Hitam sedang agresif? Kamu bahkan tidak ikut patroli kemarin."
Yana menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa ia adalah seorang yang hidup kembali dari masa depan! Jika ia mengatakannya sekarang, ayahnya pasti akan menganggapnya stres atau terganggu jiwanya.
"Aku... aku merasakannya, Yah! Angin pagi ini membawa bau berbahaya dari arah utara!" Yana memutar otak memberi alasan yang paling masuk akal bagi suku mereka yang sangat mempercayai naluri alam. "Naluri serigalaku memberitahuku bahwa ada bahaya besar yang menunggu di Hutan Hitam hari ini!"
Aron menatap Yana cukup lama.
Keheningan sempat tercipta di antara mereka berdua.
Pria gagah itu bisa melihat ketakutan dan keseriusan yang sangat nyata di mata abu-abu kehijauan milik putrinya—ketakutan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Namun sebagai seorang Kepala Suku, Aron tidak bisa membatalkan keputusan rapat hanya karena firasat seorang gadis muda tanpa bukti fisik yang jelas.
Aron mendesah pelan, lalu mengelus rambut perak Yana dengan penuh kasih sayang. "Yana, Ayah menghargai perhatian dan nalurimu. Tapi Ayah adalah Kepala Suku. Ayah membawa sepuluh prajurit terbaik suku kita. Apapun binatang buas yang ada di sana, kami pasti bisa mengatasinya."
"Tapi, Ayah—"
"Tidak ada tapi, Gadis Kecil," potong Aron lembut namun tegas. "Kebutuhan makanan suku adalah yang paling utama saat ini. Kami akan kembali sebelum matahari terbenam dengan daging yang melimpah, mengerti?"
Yana terpaku. Ia tahu sifat keras kepala ayahnya jika sudah menyangkut tanggung jawab sebagai pemimpin suku. Membujuknya dengan kata-kata saja sama sekali tidak akan berguna.
'Jika Ayah tidak mau mengubah rutenya... maka aku sendiri yang harus memastikan bahwa bencana itu tidak akan pernah terjadi!' tekad Yana di dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, Ayah..." bisik Yana sambil menundukkan kepala, pura-pura menerima keputusan ayahnya.
"Bagus. Sekarang kembalilah ke gua dan beristirahatlah," ujar Aron lega, lalu menepuk bahu Yana sebelum berjalan pergi menemui kelompok prajuritnya.
Yana memandangi punggung ayahnya yang menjauh dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
Ia tahu persis di mana sarang Babi Hutan Berduri itu berada di Hutan Hitam. Di kehidupan sebelumnya, para pemburu menyusuri jalur bawah tebing dan langsung masuk ke perangkap binatang-binatang ganas tersebut.
Jika Yana ikut dalam kelompok berburu itu, ia bisa mengarahkan mereka untuk menghindari jalur bawah tebing atau memberi peringatan sebelum serangan terjadi!
Tetapi masalahnya... Aron pasti tidak akan pernah mengizinkan putri tunggalnya yang belum lulus ujian prajurit untuk ikut dalam kelompok berburu tingkat tinggi di Hutan Hitam.
"Hei, Yana! Kamu sedang apa di sini?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Yana.
Dari arah depan, Luka berjalan mendekatinya dengan senyum lebar dan busur kayu di genggamannya.
"Aku dengar dari paman Aron kamu melarangnya pergi ke Hutan Hitam? Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin ada bahaya yang tidak bisa ditangani oleh Kepala Suku kita," ucap Luka terkekeh, tampak meremehkan ketakutan Yana.
Yana menoleh ke arah Luka dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Cowok di depannya ini benar-benar tidak berguna dan hanya tahu membanggakan diri.
"Bukan urusanmu, Luka," jawab Yana singkat dan kaku.
"Yana, ada apa sih denganmu hari ini? Sejak tadi pagi kamu bersikap seperti ini padaku!" Luka mulai merasa kesal dan kehilangan kesabaran. "Aku ini tunanganmu! Nanti siang aku akan memimpin kelompok ke sungai barat dan membawa hasil buruan terbanyak untuk membuktikan padamu bahwa aku—"
Tanpa mendengarkan celotehan Luka lebih lanjut, Yana berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan pemuda itu begitu saja.
"Hei! Yana! Aku belum selesai bicara!" teriak Luka kesal dari belakang, namun Yana sama sekali tidak peduli.
Yana berjalan lurus menuju ke gua tempat tinggalnya. Ia harus bersiap-siap.
Ia mengambil sebuah pisau belati berburu berbilah tulang tebal yang tersembunyi di bawah pembaringannya, menyangkutkannya di pinggang, lalu melapisinya dengan mantel kulit serigala yang ringan namun hangat.
Jika ayahnya melarangnya ikut secara terang-terangan... maka ia akan mengikuti kelompok berburu itu secara diam-diam dari belakang!
Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat sambil menatap bayangannya sendiri di cermin air.
'Di kehidupan ini, aku tidak akan lagi menjadi penonton yang meratapi kematianmu, Ayah. Kali ini, aku yang akan melindungimu!'
***
Bersambung ....