Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Pertama
Dyah Ayu Rukmini Sumohardjo. Putri pertama dari keluarga Sumohardjo, pemilik usaha meubel di Jepara. Kakeknya adalah keturunan Mangkunegaran dari garis perempuan. Jika ditarik garis silsilah, Rukmini adalah keturunan ke sebelas dari Dinasti Mangkunegaran.
Di saat para gadis seumurannya sudaj menikah, Rukmini justru meneruskan sekolah hingga SLTA, dimana saat itu masih jarang orang yang sekolah hingga tinggi. Bahkan setelah lulus SLTA ia memilih melajang untuk bisa kuliah. Banyak orang yang mencibir, banyak pula yang memuji.
Pendidikan yang tinggi membuat banyak pemuda tak berani mendekati Rukmini. Apalagi masa itu pemuda juga jarang yang kuliah, bisa tamat SLTA saja sudah bisa disombongkan. Rukmini bukan tioe gadis yabg mudah ditaklukkan. Kriterianya sederhana namun sulit ditemukan. Ia menginginkan pemuda yang bisa menaklukkannya dalam beda pendapat. Lelaki yang bisa mengalahkannya berdebat.
Suatu ketika dalam sebuah acara. Ayah Rukmini menggelar pesta pembukaan cabang meubel baru di Pakisaji, Jepara. Beliau mengundang banyak teman sejawatnya. Hal ini bukan hanya sekedar pesta, Raden Mas Susilo Sumohardjo, ayah Rukmini, pandai dalam berbisnis. Pesta ini akan digunakannya menarik pelanggan. Setiap tamu yang datang akan dimintai nomer telepon. Hal itu untuk dihubungi suatu ketika ada produk baru. Menjadi pengusaha memang harus jemput bola menurutnya.
Sejumlah tamu penting, bahkan Bupati Jepara pun ikut hadir dalam acara itu. Sumardi Bahuwirya, ayah kandung Djani Bahuwirya, turut hadir pula dalam acara itu. Beliau membawa serta putranya, yang tak lain adalah Romo Djani. Saat itu, Ibunda Romo Djani sudah wafat. Kabar yang beredar, sang Ibu wafat karena pikirannya terganggu akibat suaminya yang memiliki kebiasaan buruk judi dan main perempuan.
Dalam acara itu, Tuan Sumardi sengaja mengajak putranya agar diperkenalkan dengan ayah Rukmini yang merupakan pengusaha kaya sekaligus tuan rumah acara ini. Tujuannya agar Romo Djani mendapatkan pekerjaan dari Raden Mas Susilo Sumohardjo, ayah Rukmini. Mengingat Djani sudah dewasa, sudah saatnya mencari modal untuk menikah.
"Bisa saja Pak Sumardi, tapi dia harus dilatih dulu oleh anak buah saya" Kata Raden Mas Susilo.
"Oh, justru itu yang kami harapkan, dia memang harus belajar" Jawab Tuan Sumardi.
Tuan Sumardi dan Raden Mas Susilo adalah kawan lama semasa Sekolah Rakyat. Tak heran jika keduanya saling akrab satu sama lain. Saat keduanya sedang mengobrol dengan renyahnya, Djani muda berkeliling mencari angin segar. Bertemulah ia dengan gadis cantik keturunan ningrat, putri pengusaha meubel sekaligus yang memiliki acara pesta, Dyah Ayu Rukmini Sumohardjo.
"Lihat saja....suatu ketika saya bukan lagi pekerja, tapi saya pemiliknya" Djani bergumam sendiri.
"Ehm..ehm..." Suara gadis di belakang Djani.
Sekonyong-konyong Djani segera menghadap ke belakang. Ia tahu sedang berhadapan dengan siapa. Gadis di depannya ini adalah calon majikannya. Dyah Ayu Rukmini.
"Oh, Nona Rukmini, maaf saya tersesat" Djani berdalih.
"Ahahahha apakah rumah saya ini terlalu luas?"
Djani merasa Rukmini gadis yang cerdas.
"Oh, maaf jika saya salah" Djani mengalah.
"Saya dengar Mas ini tadi bilang suatu hari nanti akan menjadi pemilik meubel ini, boleh saya tahu bagaimana caranya?" Tanya Rukmini.
"Oh hehe, jangan menelan mentah-mentah apa yang anda dengar Nona. Saya tidak bermaksud mengambil alih, tapi suatu ketika saya ingin pula seperti Ayah Anda. Menjadi pemilik, bukan pekerja" Jelas Djani.
"Anda yang terlalu menelan mentah-mentah ucapan saya, saya sama sekali tidak menuduh Anda demikian. Saya ingin tahu aoa yang anda miliki hingga bermimpi menjadi pengusaha seperti ayah saya?"
Djani berpikir sejenak lalu menjawab.
"Tekad. Saya punya tekad yang kuat" Jawab Djani.
"Hahahaha...." Rukmini tertawa. Lebih tepatnya menertawakan.
"Apakah tekad saja cukup Mas?"
"Belum cukup. Tapi tekad adalah kunci utama"
"Apa ijazah Anda?"
"SD"
"Hahahaha hanya SD?"
"Ya"
"Yang Sarjana belum tentu bisa seperti ayah saya, bagaimana Anda bisa sepede itu?"
"Itulah kelirunya Anda Nona, Anda menganggap pendidikan sebagai alat mendapatkan materi. Tapi sesungguhnya pendidikan adalah bekal menjadi manusia seutuhnya. Sedang materi dicari dengan tekad. Pendidikan adalah makanan rohani, tapi uang adalah makanan jasmani"
Dan begitulah, akhirnya ada juga lelaki yang mematahkan pendapat Rukmini. Singkat cerita, Rukmini jatuh cinta dengan pemuda yang merupakan pekerja ayahnya, Djani.
Gayung bersambut, Djani pun mencintai Rukmini. Kisah cinta dua sejoli ini pun tercium oleh Raden Mas Susilo, ayah Rukmini. Raden Mas Susilo tidka menyetujui. Alasannya cukup matang. Pertama, Djani adalah pekerja ayahnya, tentu derajatnya lebih rendah dari Rukmini. Kedua, pendidikan yang jauh berbeda, Rukmini seorang sarjana, sedang Djani hanya tamatan SD. Ketiga, karena gelar kebangsawanan Rukmini akan turun jika menikah dengan masyarakat biasa seperti Djani. Keempat, dan yang menjadi alasan utama adalah, ayahanda Djani, Sumardi Bahuwirya adalah seorang pemabuk, penjudi dan tukang main perempuan. Sedikit banyak sifat itu akan menurun pada diri Djani.
Berbagai usaha telah dilakukan keduanya, barulah tahun ketiga hubungan mereka, sang Ayah merestui. Apalagi melihat Djani yang semangat bekerja selama ini. Mereka pun menikah dan dirayakan dengan meriahnya. Mendengar ini, kakek dari Djani sangat mendukung dan bahkan memberikan tanah yang cukup luas untuk Djani sebagai modal hidup berumah tangga. Apalagi istrinya adalah keturunan ningrat Mangkunegaran. Terangkatlah derajat keluarga Djani karena pernikahan ini.
Kehidupan manten anyar yang dimabuk asmara ini dipenuhi cinta dan kasih sayang yang luar biasa meski ekonomi masih sering pasang surut. Melihat ekonomi yang belum mapan, Raden Mas Susilo memberikan sebidang tanah di Lombok yang juga warisan leluhur untuk dikelola oleh Djani dan istrinya. Saat itu seorang pembantu bernama Naning diperintah untuk mengabdi pada Djani dan istrinya. Namun si pembantu mengajukan syarat agar diperbolehkan membawa serta keponakannya yang masih SD untuk ikut serta, karena menjadi tanggung jawabnya sejak orang tuanya meninggal.
Mereka pindah ke Lombok dan menyewa rumah di Mataram. Tanah yang dimaksud masih kosong dan masih belum terawat. Dengan biaya dari Raden Mas Susilo, Djani membuka lahan itu dan menanaminya dengan tanaman kosmetik atas usul sang kakek.
Tanaman kosmetik berkembang pesat karena bekerja sama dengan perusahaan kosmetik secara langsung jadi tidak ada kata rugi dalam hal ini. Sukses dengan tanaman kosmetik, Djani membeli lahan di Bali dan ditanami palawija. Itupun sukses berkat pengalaman Djani semasa muda membantu pekerjaan kebun keluarga.
Sukses dengan lahan di Lombok dan Bali, Djani membeli tanah di Palembang da ditanami sawit. Tenyu saja modalnya tak sedikit, melihat kesuksesan lahan di Bali dan Lombok, ayah Rukmini tertarik memberikan modal untuk kebun sawit di Palembang.
Usaha Djani berkembang pesat dengan tekad yang kuat dari seorang Djani. Namin, semua kehidupan pasti ada plus minusnya. Ada senang ada sedih, ada kelebihan, ada kekurangan. Itu adalah rumus alam. Begitupun rumah tangga Djani dan Rukmini. Meski bergelimang harta, kebahagiaan mereka kurang lengkap tanpa hadirnya keturunan. Berbagai upaya dilakukan. Mulai dari dokter, dukun, hingga Kyai. Namun belum juga membuahkan hasil.
Saat usaha Djani berkembang dengan pesatnya. Ada seorang janda yang datang menemui Djani. Halimah namanya. Dia mengeluh telah diceraikan suaminya secara sepihak. Dia bukan asli orang Lombok, melainkan dari Jawa Tengah. Di Lombok ini, pasca diceraikan oleh suami, ia hidup sendiri. Ia harus bertahan hidup sementara waktu. Setelah uang terkumpul, ia berencana untuk kembali ke Jawa Tengah.
Rukmini merasa kasihan. Ia meminta suaminya untuk menerima janda itu bekerja. Sebenarnya sudah banyak pembantu di rumah ini. 3 orang tukang masak, 4 orang tukang kebun, 2 orang satpam, 2 orang sopir. Semuanya hanya melayani sepasang suami istri. Namun karena kasihan, diterimalah ia sesuai kemapuannya, memasak. Jadilah ia tukang masak di keluarga ini.
Setahun kemudian, usaha Djani dan Rukmini berhasil, Rukmini hamil dengan sistem bayi tabung yang saat itu masih cukup langka. Begitu bahagianya mereka hingga membuat pesta besar di rumahnya melibatkan seluruh karyawan yang bekerja padanya. Hal ini membuat marah Kakek Djani, sebab acara pesta sebelum kandungan usia tiga bulan dapat mendatangkan kemalangan. Menurut adat kejawen, akan banyak dukun yang mengincar janin dalam perut yang belum genap tiga lapan (bulan kalender jawa).
Benar saja, tepat usia kandungan tiga bulan hitungan jawa, Rukmini mengalami keguguran. Dokter yang menangani program bayi tabung mereka pun heran bagaimana bisa keguguran padahal telah di beri obat penguat janin yang terbaik. Untuk dapat menumbuhkan sel telur yang baik, Rukmini menjalani operasi kuret agar tidak ada kotoran janin yang hancur yang menempel di dinding rahim.
Tiga bulan kemudian. Saat itu Djani sedang mengurus usahanya di Palembang. Halimah menemui Rukmini secara pribadi. Dia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Hal yang membuat kaget Rukmini sekaligus meretakkan kehidupannya, bahwa Halimah mengandung anak suaminya. Wanita mana yang tak hancur dengan berita ini.
Rukmini tak buru-buru mengambil tindakan. Selama berhari-hari ia mempertimbangkan banyak hal, ia membawa Halimah ke dokter dimana dia biasa berkonsultasi. Benar, Halimah memang hamil. Sekarang tinggal membuktikan siapa ayah dari bayi itu.
Setelah Djani pulang dari Palembang.
"Maafkan saya Rukmini" Kata Djani sambil berlutut dengan suara yang bergetar.
"Jadi Kangmas mengakui?"
"Saya khilaf"
Khilaf apa yang menyebabkan perempuan sampai hamil. Mana mungkin dengan sekali main sudah jadi. Khilaf apa yang dilakukan sampai berulang-ulang. Itu bukan khilaf. Itu kesenangan.
Begitulah, akhirnya Djani bertanggung jawab menikahi pembantunya, Halimah. Dikabarkan di dunia luar bahwa Rukmini sulit hamil sehingga berpoligami agar mendapatkan keturunan. Hal ini untuk menutupi aib keluarga.
Bersamaan dengan itu, dokter yang menangani kasus gugurnya janin Rukmini menemukan racun penghancur janin yang masih menempel di gelas terakhir yang digunakan Rukmini. Tentu saja Djani berupaya mencari pelakunya. Dua minggu lamanya kasus itu ditangani hingga ditemukan tersangkanya, Naning. Seisi rumah kaget bukan main. Pasalnya, Naning adalah pembantu pertama yang dibawa dari Jepara. Yang dianggap paling setia justru mengkhianatinya. Naning dipecat dan hingga kini tak diketahui keberadaannya.
Dua bulan kemudian Rukmini jatuh sakit karena pendarahan. Rahimnya terus mengeluarkan darah. Dokter by yang menanganinya tak sanggup menghentikan itu. Rukmini harus menjalani Operasi pengangkatan rahim. Memang berat, karena dengan diangkat rahimnya otomatis Rukmini tidak akan memiliki keturunan.
Seminggu setelah operasi pengangkatan rahim, Rukmini wafat. Tentu saja hal ini membuat Djani terpukul. Rasa bersalah, rasa kehilangan, berikut penyesalan menghantui pikirannya berbulan-bulan. Istri pertama, yang menemaninya dari nol hingga usahanya maju, telah tiada sebelum sempat menikmati hasil kerja kerasnya.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕