Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kesepakatan Menjadi Rekan Seperjalanan
Matahari mulai meluncur turun ke ufuk barat, mewarnai langit dengan rona jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi ungu lembut. Rey dan Sylfia akhirnya berhasil keluar dari kawasan hutan lebat dan tiba di sebuah bukit kecil yang cukup terbuka, dengan pemandangan luas ke arah kota Astoria di kejauhan. Di sana mereka berhenti untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Rey menyiapkan tempat duduk dari tumpukan ranting kering dan daun tebal, lalu menyalakan api unggun kecil dengan gerakan halus—hanya menggunakan sedikit energi elemen api agar tidak menarik perhatian dari jarak jauh. Cahaya apinya redup namun cukup untuk menghangatkan udara yang mulai terasa dingin menjelang malam.
Sylfia duduk bersila di seberangnya, menatap nyala api yang bergoyang lembut sambil sesekali melirik ke arah Rey. Sejak pertemuan tadi, rasa ingin tahu dan rasa hormatnya terus bertambah. Ia belum pernah bertemu manusia yang sebaik dan sekuat ini, apalagi yang tidak memandang ras elf sebagai barang dagangan atau makhluk asing yang harus dijauhi.
“Rey…” panggilnya pelan, memecah keheningan.
Rey menoleh sambil mengaduk air dalam panah kecil yang ia letakkan di atas api. “Ya, ada apa?”
“Setelah ini… kemana tujuanmu selanjutnya?” tanya Sylfia dengan pandangan sedikit ragu. “Kau pasti akan kembali ke kota untuk melaporkan apa yang terjadi hari ini, bukan?”
Rey mengangguk perlahan. “Benar. Aku harus menyerahkan laporan tugas dan memberitahu pihak berwenang soal kelompok pemburu itu agar tidak ada korban lain nanti. Setelah itu… rencanaku masih sama: terus menerima misi, mengasah kemampuan, dan menjelajahi tempat-tempat baru seiring waktu.”
Mendengar jawaban itu, Sylfia terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih mantap. “Kalau begitu… bolehkah aku ikut denganmu?”
Rey tertegun sesaat, matanya sedikit melebar kaget. “Ikut denganku? Tapi bukankah kau harus kembali mencari kelompok dan suku keluargamu dulu? Mereka pasti sedang menunggumu dan khawatir.”
“Aku tahu itu,” jawab Sylfia sambil menunduk sedikit, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan tatapan tegas. “Setelah diserang, rombonganku pasti akan berpindah ke tempat persembunyian yang lebih aman dan sulit ditemukan. Mencari mereka sekarang sendirian justru berisiko tinggi—bisa bertemu lagi dengan pemburu itu atau bahaya lain. Lagipula… aku juga ingin menjadi lebih kuat dan bisa melindungi diriku sendiri, tidak hanya bergantung pada kekuatan suku saja.”
Ia melanjutkan, suaranya semakin meyakinkan: “Aku memiliki kelebihan juga, Rey. Indra pendengar dan penciumanku lebih tajam dari manusia biasa, aku mengenali hampir semua jenis tanaman, racun, dan jejak makhluk di hutan. Aku juga bisa menggunakan sihir elemen angin dan cahaya tingkat menengah. Jika kita bekerja sama, kita bisa saling melengkapi—kau memiliki kekuatan bertarung yang hebat, sedangkan aku bisa menjaga kewaspadaan dan mendukung dari jarak jauh.”
Rey mendengarkan dengan seksama, lalu mempertimbangkannya dalam hati. Apa yang dikatakan Sylfia memang masuk akal. Memiliki rekan perjalanan yang andal akan sangat menguntungkan—bisa saling mengawasi, berbagi tugas, dan mengurangi risiko bahaya. Selain itu, ia juga merasa nyaman dengan sifat gadis elf itu yang jujur dan berprinsip.
Namun ia tetap ingin memastikan. “Kau yakin benar-benar ingin berjalan bersamaku? Aku hanyalah petualang peringkat E yang tugasnya masih sederhana, dan jalanku ke depan tidak selalu mulus. Bisa saja kita menghadapi bahaya yang lebih besar dari hari ini.”
Sylfia tersenyum lebar, senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih cerah dan bersahabat. “Justru itu yang aku inginkan. Aku tidak mencari jalan yang mudah, tapi jalan yang bisa membuatku tumbuh. Lagipula, bukankah kita sudah saling menyelamatkan nyawa hari ini? Itu sudah cukup menjadi tanda kita bisa dipercaya satu sama lain.”
Melihat ketegasan dan ketulusan di matanya, Rey akhirnya mengangguk setuju. Ia mengulurkan tangannya ke depan.
“Baiklah. Mulai hari ini, kita adalah rekan seperjalanan. Saling menjaga, saling melindungi, dan berbagi hasil jerih payah secara adil. Kalau ada masalah, kita bicarakan bersama dan cari jalan keluarnya.”
Sylfia segera menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang hangat dan mantap. “Setuju! Aku berjanji tidak akan menjadi beban bagimu, Rey.”
Setelah kesepakatan itu terjalin, suasana di sekitar api unggun terasa lebih hangat dan akrab. Mereka mulai berbagi cerita lebih banyak—Rey menceritakan asalnya dari desa kecil dan alasannya ingin menjadi petualang, sedangkan Sylfia bercerita tentang kehidupan di hutan, kebiasaan suku elf, serta ancaman yang mulai mengganggu kedamaian berbagai wilayah belakangan ini.
Dari percakapan itu, Rey juga mendapatkan informasi penting yang tidak banyak diketahui orang biasa: belakangan ini semakin sering muncul kelompok penjahat yang terorganisir, bahkan ada laporan tentang makhluk-makhluk yang biasanya tenang menjadi lebih agresif dan liar tanpa sebab yang jelas. Hal itu membuat Rey semakin yakin bahwa perjalanannya ke depan tidak hanya tentang mengasah kekuatan pribadi, tapi juga mungkin terkait dengan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia ini.
Menjelang malam semakin larut, mereka menyusun rencana untuk keesokan harinya. Esok pagi, mereka akan berangkat kembali ke kota bersama-sama, melaporkan kejadian hari ini, mendaftarkan Sylfia sebagai petualang baru, dan mulai mencari misi yang bisa dikerjakan berdua.
“Jadi kita mulai langkah baru besok?” tanya Sylfia sambil memeluk lututnya menghadap api.
“Benar,” jawab Rey sambil menatap bintang-bintang yang mulai terlihat jelas di langit gelap. “Dua orang lebih baik daripada sendirian. Bersama-sama, kita akan menapaki tangga ini dari peringkat paling bawah hingga mencapai tempat yang kita inginkan.”
Di bawah cahaya bintang yang bersinar terang, ikatan persahabatan dan kerja sama itu terbentuk dengan kokoh. Mereka belum tahu bahwa pertemuan dan kesepakatan sederhana ini akan menjadi awal dari kisah yang kelak akan dikenang di seluruh penjuru benua—kisah tentang dua sosok yang datang dari latar belakang berbeda, namun bersatu untuk menghadapi takdir besar yang menanti.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰