NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rambut Cokelat Dan Rahasia Yang Lebih Gelap

Siang itu matahari di kawasan pelabuhan terasa lebih panas dan menusuk kulit, seolah olah ikut merasakan ketegangan yang semakin membara di dalam tim investigasi Arthur. Mobil sedan hitam milik kepolisian meluncur pelan menembus jalanan pinggiran pelabuhan yang dipenuhi oleh deretan gudang gudang tua, tumpukan kontainer berkarat, dan aroma asin air laut yang sangat kuat bercampur dengan bau amis ikan serta solar. Angin laut yang kencang bertiup masuk melalui celah jendela mobil yang sedikit terbuka, membuat ujung rambut hitam milik Arthur Rutherford yang acak acakan menjadi semakin berantakan.

Ia duduk tenang di kursi penumpang bagian depan, satu tangannya bersandar santai di bingkai jendela sementara sepasang mata hijaunya menatap tajam ke luar dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dibaca, sebuah perpaduan antara fokus yang tajam dan rasa kelelahan yang tersembunyi rapi.

Manuel Vin mengemudikan kendaraan dengan kedua belah tangan yang mencengkeram erat roda kemudi lebih kuat dari biasanya, raut wajahnya tampak sangat tegang dengan garis rahang persegi yang kian mengeras. Di kursi penumpang bagian belakang, Elena Kuznetsova tampak sangat sibuk mengetik di atas layar laptop peraknya. Jari jari lentik wanita Rusia itu bergerak dengan sangat cepat di atas papan ketik, sesekali ia melirik lembut ke arah posisi duduk Arthur dari balik punggung kursi dengan sebuah ekspresi yang sulit diartikan. Ada secercah rasa kekaguman yang mendalam, ada rasa kekhawatiran, dan ada sesuatu emosi yang jauh lebih dalam yang ia sendiri masih belum mau akui secara jujur.

Tujuan perjalanan mereka siang hari itu adalah menuju langsung ke rumah tempat tinggal Richard Rick Harlan, sesosok pria tua pemilik toko jagal grosir Fresh Slaughter Supply.

Rumah tempat tinggal Harlan terletak tepat di ujung sebuah jalan sempit yang sepi, menempati sebuah bangunan tua berlantai satu berwarna abu abu kusam. Meskipun bangunannya terlihat tua, area halaman depan rumah tersebut tampak tertata dengan sangat rapi sekali, rumput rumput hijaunya dipotong pendek dengan ketinggian yang seragam, dan beberapa pot bunga diletakkan dengan posisi yang sangat simetris, sebuah penataan visual yang mencerminkan sisa sisa bekas disiplin militer yang kuat.

Pria tua berusia 78 tahun tersebut rupanya sudah duduk tenang di atas kursi teras kayu, kedua belah tangannya tampak memegang sebuah tongkat kayu tua di sisi kanan tubuhnya. Postur tubuh Harlan masih terlihat cukup tegap dan kokoh meskipun usia senja sudah lama menggerogotinya. Sepasang mata tuanya yang mulai memudar namun masih menyisakan kilatan tajam tampak menatap lurus ke arah kedatangan mobil sedan hitam tanpa berkedip sedikit pun.

Mereka bertiga akhirnya turun dari dalam mobil. Manuel langsung memimpin langkah kaki paling depan, menampilkan lencana perak barunya yang berkilau jelas di bagian dada jaket. Elena melangkah di sampingnya sambil membawa tas khusus berisi perangkat komputer tablet serta beberapa peralatan forensik lapangan, sementara Arthur berjalan santai di posisi paling belakang dengan kedua belah tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket hoodie hitamnya. Sepasang mata hijau Arthur bergerak aktif menyapu setiap detail sudut halaman, mulai dari bekas guratan ban mobil di atas permukaan tanah yang masih basah, simetri pot bunga yang rapi, hingga ke arah bekas tapak sepatu yang tertinggal di depan tangga teras kayu.

Harlan berdiri dari posisi duduknya secara perlahan dengan bertumpu pada bantuan tongkat kayunya. Nada suaranya terdengar serak khas orang lanjut usia, namun tetap memiliki artikulasi yang tegas saat berbicara. "Jadi pada akhirnya kalian bertiga yang datang menemuiku ke tempat ini. Aku sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi sejak mendengar kabar bahwa Thabo resmi ditahan oleh polisi kemarin sore."

Pria tua itu kemudian mempersilakan mereka untuk melangkah masuk ke dalam ruang tamu berukuran kecil yang dipenuhi oleh pajangan foto foto lama dari masa peperangan Vietnam. Aroma obat obatan lansia, seduhan kopi hitam yang sudah mendingin setengah, serta sedikit bau minyak kayu tercium samar memenuhi udara ruangan. Permukaan dinding ruangan itu tampak penuh dengan bingkai foto hitam putih yang menampilkan sosok Harlan muda saat masih mengenakan seragam militer lengkap, foto bersama teman teman seperjuangannya, jejak helikopter tempur, hingga latar pemandangan hutan tropis yang gelap.

Manuel mengambil posisi duduk di atas kursi tepat di hadapan Harlan, Elena bersiap di sampingnya dengan posisi laptop yang sudah terbuka, sedangkan Arthur memilih untuk tetap berdiri tenang di sudut ruangan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding papan kayu, mengamati setiap detail gerak gerik dan perubahan mikro ekspresi dari pria tua itu dengan sangat teliti.

"Tuan Harlan," kata Manuel membuka percakapan dengan nada suara yang tegas namun tetap menjaga kesopanan. "Anda adalah pemilik sah dari toko jagal Fresh Slaughter Supply. Tim investigasi kami berhasil menemukan adanya aliran dana transfer uang dari rekening pribadi Anda menuju ke rekening milik Thabo Nkosi. Selain itu, kami juga berhasil mengamankan sampel benang kuning dan sehelai rambut cokelat yang berdasarkan hasil uji laboratorium terbukti cocok dengan barang bukti yang tertinggal di lokasi kejadian perkara mendiang Jennifer Cartter. Apakah Anda bersedia untuk menjelaskan detail mengenai hal ini sekarang?"

Harlan terdiam membisu untuk waktu yang cukup lama. Tangan keriputnya tampak mencengkeram gagang tongkat kayu tua miliknya dengan lebih erat, sementara sepasang mata tuanya menatap kosong ke arah lantai kayu ruangan yang sudah mulai aus dimakan waktu. Akhirnya pria tua itu menghela napas panjang yang terdengar sangat serak dan lelah.

"Aku hanyalah seorang pria tua biasa yang menghabiskan sisa hidup dengan mengelola sebuah toko jagal kecil di pelabuhan. Dulu aku memang pernah bertugas aktif sebagai tentara di perang Vietnam pada kisaran tahun 1968 hingga tahun 1970 yang lalu. Di tempat itu, aku sudah melihat terlalu banyak peristiwa kematian, terlalu banyak menyaksikan mayat manusia yang dipotong potong dan dibuang begitu saja di tengah lebatnya hutan. Sekarang di usia senjaku, aku hanya ingin menjalani sisa hidup dengan tenang, menanam bunga di halaman depan, menikmati secangkir kopi di pagi hari, dan tidak memiliki niat untuk mengganggu kehidupan siapa pun."

Arthur perlahan mengubah posisi berdirinya, melangkah pelan mendekati area meja dengan nada suara yang rendah dan tenang, namun setiap untaian kata yang keluar terdengar sangat tajam. "Namun aliran dana transfer uang tersebut baru masuk ke dalam rekening Thabo tepat dua hari setelah jasad Jennifer ditemukan di dalam toko Anda. Serat benang kuning dari pakaian kerja karyawan toko jagal Anda juga terbukti cocok sempurna dengan temuan serat di lokasi kejadian perkara. Apakah Anda, atau mungkin ada seseorang di dalam toko jagal Anda, yang sengaja membantu untuk membersihkan lokasi kejadian perkara, Pak Harlan?"

Harlan seketika mengalihkan pandangan matanya, menatap lurus ke arah wajah Arthur untuk waktu yang cukup lama. Sepasang mata tuanya tampak menyipit tajam meresapi kehadiran pria di depannya. "Kau… kau adalah sosok mantan pembunuh berantai yang sempat menghebohkan itu, bukan? Alur dunia ini memang terasa sangat lucu sekali. Aku yang sudah tua bangka begini harus duduk ditanyai perihal pembunuhan oleh orang yang memiliki rekam jejak seperti dirimu. Apakah kau sendiri tidak merasa bahwa situasi ini sangat ironis?"

Proses sesi interogasi itu berlangsung melelahkan selama hampir dua jam penuh. Harlan tetap bersikeras pada pernyataan awalnya bahwa ia sama sekali tidak terlibat dalam aksi keji tersebut. Ia menjelaskan bahwa uang yang dikirimkan itu hanyalah sebuah dana pinjaman murni karena ia merasa kasihan melihat Thabo yang sedang mengalami kesulitan finansial untuk mengirimkan nafkah kepada keluarganya di Afrika Selatan. Mengenai keberadaan benang kuning, ia berargumen bahwa kain tersebut adalah bagian dari seragam standar karyawan toko jagal yang memang diproduksi massal. Sementara saat ditanya mengenai keberadaan helai rambut cokelat halus, ia menggelengkan kepalanya dengan sangat tegas berulang kali.

"Aku bersumpah demi sisa hidupku bahwa aku tidak mengetahui apa pun perihal keberadaan helai rambut cokelat itu," kata Harlan dengan nada suara yang terdengar sangat lelah. "Aku hanya seorang pemilik toko jagal biasa yang sudah sangat lelah dengan segala bentuk aksi kekerasan di dunia ini. Dulu saat berada di Vietnam, aku sudah terlalu sering melihat jasad manusia yang dibelah dan digantung terbalik. Aku sama sekali tidak ingin melihat pemandangan mengerikan itu lagi di masa tuaku."

Arthur terus bergerak aktif mengamati setiap detail kecil dari perubahan tubuh Harlan, mulai dari cara tangan tua itu yang sedikit gemetar saat nama Jennifer disebutkan, arah pandangan matanya yang sesekali menghindar dari tatapan tim, hingga ke gestur tangannya yang reflek menyentuh bekas luka lama di bagian lengan kanannya. Insting Arthur mengatakan bahwa ada sesuatu hal penting yang sedang disembunyikan oleh pria tua ini, namun karakteristik emosional Harlan tampak lebih condong seperti seorang tersangka biasa yang sedang dirundung rasa ketakutan, bukan profil ideal dari sesosok dalang utama yang merencanakan pembunuhan berdarah dingin ini.

Akhirnya tim memutuskan untuk menyudahi pertemuan hari itu setelah berhasil mendapatkan sampel DNA tambahan dari Harlan serta kesepakatan bahwa pria tua itu wajib bersikap kooperatif jika sewaktu waktu tim membutuhkan keterangannya kembali. Perjalanan pulang menuju ke arah markas pusat dilakukan dalam keheningan yang terasa sangat berat bagi mereka bertiga.

Mereka kembali tiba di markas pusat kepolisian saat sore hari mulai menjelang.

Begitu mobil sedan hitam milik Manuel memasuki area halaman parkir gedung kantor polisi, seorang petugas analis forensik muda bernama Sarah tampak langsung berlari tergesa gesa menghampiri kedatangan mereka dengan wajah yang tegang sambil mendekap sebuah map berkas tebal di tangannya.

"Detektif Vin, Tuan Rutherford, Nona Kuznetsova, hasil pemeriksaan analisis laboratorium lengkap mengenai helai rambut cokelat itu akhirnya baru saja keluar."

Mereka bertiga tanpa membuang waktu langsung bergerak mengikuti langkah kaki Sarah menuju ke dalam ruang laboratorium forensik yang terletak di area basement gedung. Suasana di dalam ruangan tersebut terasa sangat dingin, dipenuhi oleh deretan mesin analisis dan layar layar monitor komputer yang menyala terang. Sarah kemudian menampilkan hasil cetak data serta visualisasi gambar dari mikroskop elektron di atas sebuah layar monitor besar.

"Sampel helai rambut cokelat yang Anda bawa kemarin memang terbukti sebagai milik manusia. Namun berdasarkan hasil uji kecocokan, rambut tersebut dipastikan bukan milik Tuan Harlan, dan juga bukan milik Thabo Nkosi."

Manuel seketika mengerutkan keningnya dalam dalam, merasa bingung dengan temuan itu. "Lalu jika bukan milik mereka berdua, rambut itu milik siapa sebenarnya?"

Sarah sempat menelan ludahnya perlahan sebelum akhirnya memberikan jawaban dengan nada suara yang sangat pelan. "Tim kami sudah mencoba mencocokkan profilnya dengan database nasional untuk kasus orang hilang. Dan hasilnya, helai rambut cokelat ini terbukti cocok sempurna dengan profil DNA milik seorang gadis berusia 16 tahun bernama Mia Thompson. Gadis muda ini resmi dilaporkan hilang sejak tiga minggu yang lalu di kawasan sekitar pelabuhan yang sama dengan lokasi toko jagal tempat kejadian perkara kita."

Ruangan laboratorium forensik itu seketika menjadi hening total selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lama bagi mereka semua.

Arthur Rutherford bisa merasakan ada sebuah sensasi dingin yang berbeda yang perlahan merayap naik di sepanjang tulang punggungnya. "Enam belas tahun, itu artinya ada sesosok gadis muda lain di dalam pusaran kasus ini."

Elena langsung menutup rapat mulutnya menggunakan telapak tangan, sepasang mata birunya melebar sempurna memancarkan rasa keterkejutan yang luar biasa. "Jadi maksudmu helai rambut ini bukan berasal dari tubuh sang pembunuh Jennifer, melainkan berasal dari tubuh korban pembunuhan sebelumnya?"

Sarah mengangguk pelan memberikan konfirmasi, nada suaranya terdengar sedikit bergetar karena ngeri. "Kemungkinan besar analisisnya memang seperti itu. Struktur akar dan folikel rambut menunjukkan bahwa rambut ini sudah dipotong atau dicabut secara paksa sekitar tiga minggu yang lalu. Temuan ini menjadi sebuah bukti langsung yang sangat kuat bahwa sosok pembunuh yang mengeksekusi Jennifer Cartter kemungkinan besar sudah melakukan aksi pembunuhan berantai sebelum ini. Dan ada potensi besar bahwa di luar sana masih ada jasad korban lain yang belum berhasil kita temukan."

Manuel mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua belah tangan, ekspresi wajahnya tampak menjadi semakin tegang dan dipenuhi beban berat. "Skala kasus ini ternyata jauh lebih besar dari dugaan awal kita. Kita tidak lagi menghadapi satu kasus kematian biasa, melainkan ada potensi kehadiran seorang pembunuh berantai yang berkeliaran di kota ini. Kita harus segera memperluas area pencarian dan melakukan koordinasi taktis dengan tim penanganan kasus orang hilang sekarang juga."

Arthur berdiri diam membisu tepat di depan layar monitor besar, sepasang mata hijaunya menatap lurus ke arah foto wajah Mia Thompson, seorang gadis berusia 16 tahun yang tampak mengulas senyuman manis nan polos di dalam foto identitas sekolahnya, menampilkan karakteristik rambut cokelat panjang yang persis sama dengan sehelai rambut yang berhasil ditemukan oleh kecerdikan Arthur kemarin.

"Kami pasti akan segera menemukan keberadaanmu," gumam Arthur dengan nada suara pelan namun terdengar sangat tegas dan penuh komitmen. "Baik dalam kondisi hidup ataupun mati, kami akan menemukannya sebelum sosok pembunuh itu sempat mendapatkan korban ketiganya."

Elena melirik ke arah profil wajah Arthur secara diam diam dari samping. Guratan rasa kekhawatiran yang bercampur dengan tekad kuat yang terpancar jelas di wajah Arthur membuat debaran di dalam hati Elena menjadi semakin bergetar hebat. Pria ini ternyata benar benar peduli dengan nasib orang lain, pikir Elena di dalam keheningan hatinya. Di balik semua sikap sarkasme, pembawaan yang dingin, serta latar belakang masa lalunya yang dipenuhi kegelapan, Arthur Rutherford terbukti memiliki sebuah hati yang sangat dalam dan tulus di dalam dirinya.

Manuel langsung bergerak cepat memimpin koordinasi untuk menggerakkan tim kepolisian dalam skala yang lebih besar. "Arthur, Elena, aku minta kalian berdua segera melakukan analisis mendalam mengenai seluruh kemungkinan lokasi pembuangan jasad serta membaca bagaimana karakteristik pola pergerakan dari sang pembunuh. Aku sendiri yang akan segera menghubungi pihak keluarga dari Mia Thompson dan membentuk tim pencarian khusus di lapangan."

Sisa waktu sepanjang sore hari itu pun perlahan mulai berubah menjadi sebuah malam yang berjalan sangat panjang dan melelahkan bagi mereka. Anggota tim investigasi khusus ini tampak bekerja tanpa mengenal lelah di dalam ruang markas. Arthur dan Elena duduk berdampingan di sebuah meja panjang yang penuh dengan tumpukan berkas, posisi kedua belah bahu mereka tampak bersentuhan secara fisik saat mereka sedang sibuk mendiskusikan titik koordinat dan pola pergerakan pelaku.

Di tengah tengah pengerjaan berkas yang melelahkan itu, Arthur sesekali terlihat menyuapi Elena popcorn hangat dari dalam mangkuk yang sempat Manuel belikan untuk mereka sebelum pergi, sebuah gerakan tangan kecil yang kini perlahan sudah mulai bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan yang hangat di antara kedua insan tersebut.

Elena menerima setiap suapan popcorn dari tangan Arthur beriringan dengan sebuah senyuman kecil yang manis yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Benih benih rasa cinta yang bersemayam di dalam hatinya kini terasa tumbuh dengan semakin kuat dan mengakar, meskipun ia masih memilih untuk menyimpannya rapat rapat di dalam lubuk hati yang terdalam tanpa ada seorang pun yang tahu.

Arthur kembali menatap lurus ke arah layar monitor yang kini menampilkan foto dari kedua gadis muda tersebut, mendiang Jennifer Cartter dan Mia Thompson yang malang.

"Kami pasti akan segera menyingkap seluruh tabir kebenaran dari misteri ini," gumam Arthur dengan nada suara lirih namun penuh tekad. "Tidak peduli seberapa besar harga yang harus kami bayar untuk menebusnya."

Malam kini merayap semakin larut memayungi kota, namun tim investigasi khusus ini menolak untuk menghentikan aktivitas mereka. Karena mereka semua sadar dengan pasti bahwa di luar sana, tepat di dalam keheningan kegelapan pinggiran pelabuhan Manhattan yang luas, sosok pembunuh berdarah dingin yang gemar mengoleksi helai rambut korbannya masih bebas berkeliaran, sedang mengintai di dalam bayang bayang untuk menunggu datangnya kesempatan berikutnya.

Dan Arthur, Elena, beserta Manuel tahu betul bahwa misteri kasus ketiga mereka kali ini baru saja resmi memasuki sebuah babak baru yang jauh lebih gelap, rumit, dan dipenuhi oleh marabahaya yang mengancam keselamatan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!