NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunangan yang Mulai Curiga

Lucien membawaku ke ruang interogasi istana.

Tentu saja namanya tidak secara resmi "ruang interogasi". Di istana, semua hal buruk diberi nama indah. Penjara disebut ruang penahanan sementara. Eksekusi disebut penegakan kehormatan kerajaan. Ruang interogasi disebut ruang klarifikasi.

Aku menyebutnya ruang tempat orang tampan menatapku seolah aku adalah soal matematika sulit.

Lucien duduk di hadapanku. Meja panjang memisahkan kami. Dua pengawal berdiri di dekat pintu. Mira dilarang masuk dan sekarang menempel di jendela kecil seperti hantu yang belum dibayar gaji.

Cassian juga tidak ada. Katanya dia harus "mengurus bukti". Aku tidak tahu apa arti mengurus bukti bagi Duke Utara. Mungkin mengajak bukti minum teh.

"Jelaskan," kata Lucien.

Aku duduk tegak. "Tentang apa?"

"Kapel."

"Saya sudah bilang. Saya berdoa."

"Evangeline, kau tidak pernah berdoa kecuali saat toko perhiasan langgananmu kehabisan kalung safir."

Aku terdiam.

"Itu... terdengar seperti informasi pribadi yang memalukan."

"Kau mengirim surat ke istana selama tiga hari berturut-turut untuk meminta aku menghukum pemilik toko itu."

Aku menutup mata.

Evangeline asli\, kalau aku selamat\, aku akan menulis buku berjudul *Seribu Cara Merusak Reputasi dalam Satu Kehidupan* dan menjadikanmu studi kasus utama.

Lucien menatapku. "Kau berubah."

"Yang Mulia sudah mengatakan itu."

"Dan aku belum mendapat jawaban."

Aku menatapnya balik. "Mungkin karena hampir mati membuat orang berpikir ulang."

"Kau tidak pernah berpikir ulang. Kau selalu menyerang dulu, menangis kemudian, lalu menyalahkan semua orang."

Kalimat itu seharusnya membuatku marah. Tapi yang terasa justru aneh. Sedikit sedih. Bukan kesedihanku, mungkin sisa perasaan Evangeline.

Tubuh ini mengenal Lucien. Mengenal rasa sakit karena dibenci olehnya. Mengenal harapan bodoh yang tidak pernah terbalas.

Aku menarik napas.

"Kalau begitu, anggap saja saya lelah menjadi perempuan yang selalu melakukan hal bodoh."

Lucien terdiam.

Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak sepenuhnya dingin. Ada keraguan. Ada rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa bersalah yang masih terlalu sombong untuk muncul.

"Apa yang kau temukan di kapel?" tanyanya.

"Mengapa Yang Mulia bertanya? Bukankah saya penjahatnya?"

"Aku bertanya karena jika kau benar-benar dijebak, berarti ada orang yang memanfaatkan namaku untuk menghukummu."

Ah. Tentu saja. Harga diri Putra Mahkota.

Tapi aku tidak bisa terlalu memilih motivasi orang saat kepalaku dipertaruhkan.

"Ada pelayan Saintess yang mencurigakan," kataku. "Anna."

Wajah Lucien mengeras. "Hati-hati dengan tuduhanmu."

"Saya selalu hati-hati. Saya bahkan mulai hati-hati terhadap bunga."

"Evangeline."

"Baik. Anna mengambil kain bukti yang berbau lili dari ruang penyimpanan. Lalu ia menyembunyikan sesuatu di kapel."

"Kau punya bukti?"

Aku ragu.

Kalau aku memberikan semua bukti pada Lucien sekarang, bukti itu bisa hilang. Bukan karena Lucien jahat, tapi karena orang di sekitarnya belum tentu bersih. Selain itu, dia masih mencintai atau setidaknya sangat mempercayai Seraphina.

"Saya punya petunjuk," jawabku.

Lucien menyipitkan mata. "Kau tidak percaya padaku."

"Yang Mulia baru kemarin memanggil saya pembunuh. Maaf kalau hubungan kepercayaan kita belum berkembang pesat."

Dia tampak ingin membantah, tapi tidak menemukan bantahan.

Pintu ruang terbuka. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi teh dan makanan kecil. Aku menatap kue di nampan itu dengan penuh kerinduan. Sejak masuk tubuh ini, aku hidup dengan roti keras dan tekanan psikologis. Kue kecil tampak seperti berkah dari surga.

Pelayan itu meletakkan cangkir di depanku.

Aku langsung menatapnya curiga.

Lucien memperhatikan. "Kau takut diracun?"

"Saya sedang dituduh meracun. Ironis kalau saya mati karena racun saat membuktikan diri tidak meracun."

Dia mengambil cangkirku, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali. "Aman."

Aku memandangnya.

Tindakan itu kecil. Tapi di dunia ini, kecil bisa berarti besar.

"Terima kasih," kataku pelan.

Lucien memalingkan wajah. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin kau mati sebelum sidang."

"Tentu. Sangat romantis. Saya hampir tersentuh."

Dia menatapku tajam. "Kau selalu setajam ini?"

"Saya sedang berlatih agar bisa memotong tali eksekusi dengan kata-kata."

Untuk sesaat, sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum.

Aku pura-pura tidak melihat. Jika Putra Mahkota mulai tersenyum, alur cerita bisa menjadi terlalu berbahaya.

Setelah pelayan pergi, Lucien mengeluarkan setumpuk surat dari laci meja. Ia meletakkannya di hadapanku.

"Ini surat-suratmu untukku."

Aku menatap tumpukan itu dengan horor.

"Berapa banyak?"

"Dalam satu bulan terakhir? Empat puluh tujuh."

Aku menutup wajah. "Ya Tuhan."

"Siapa Tuhan?"

"Lupakan. Itu ekspresi."

Lucien mengambil salah satu surat dan membacanya datar. "Yang Mulia Lucien, mata Anda seperti danau musim semi yang membuat hati saya ingin tenggelam secara terhormat."

"Berhenti."

"Jika Anda tersenyum pada Saintess lagi, saya akan membeli semua bunga di ibu kota dan membiarkannya layu di depan istana sebagai simbol hati saya."

"Yang Mulia, tolong berhenti."

"Saya rela menjadi bayangan Anda, kursi Anda, bahkan sendok sup Anda jika itu membuat saya dekat dengan Anda."

Aku membanting dahi ke meja.

Lucien berhenti membaca.

"Apakah Anda menikmati penderitaan saya?" tanyaku dengan suara teredam meja.

"Sedikit."

Aku mengangkat kepala dan menatapnya tajam. "Yang Mulia ternyata punya sisi kejam."

"Aku belajar dari surat-suratmu."

Aku menarik salah satu surat. Tulisan tangannya indah, tetapi ada sesuatu yang aneh. Ingatan Evangeline tidak sepenuhnya muncul, tapi tubuhku tahu. Tangan ini pernah menulis banyak surat memalukan, sayangnya. Namun goresan di beberapa surat ini berbeda.

Aku membandingkan dua surat.

"Ini bukan tulisanku."

Lucien membeku. "Apa?"

"Maksud saya, bukan tulisan saya." Aku menunjuk satu surat. "Goresan huruf E di sini berbeda. Tinta ini juga lebih pucat. Surat ini palsu."

Lucien mengambil surat itu. Wajahnya berubah serius.

"Kau yakin?"

"Saya mungkin kehilangan martabat, tapi sepertinya belum kehilangan kemampuan mengenali tulisan sendiri."

Dia memeriksa surat-surat lain. Aku ikut membandingkan. Dari empat puluh tujuh surat, setidaknya dua belas tampak berbeda.

Isi surat palsu itu jauh lebih agresif. Mengancam Seraphina. Menyebut racun. Bahkan ada satu surat yang berbunyi, "Jika Saintess menghalangi takdirku bersama Yang Mulia, aku akan membuatnya tertidur untuk selamanya."

Aku merinding.

"Ini bukan surat cinta," kataku. "Ini persiapan alibi."

Lucien diam lama.

Wajahnya pucat.

Untuk pertama kalinya, dia tampak benar-benar terguncang.

"Aku menerima surat ini dua hari sebelum pesta," katanya pelan. "Karena itu, saat Seraphina pingsan, aku langsung mengira..."

"Mengira saya pelakunya."

Dia tidak menjawab.

Aku tidak menyalahkannya sepenuhnya. Kalau aku jadi dia dan menerima surat mengerikan dari tunangan dengan reputasi kacau, aku mungkin juga curiga. Tapi tetap saja, rasanya sakit. Mungkin itu perasaan Evangeline lagi.

"Siapa yang mengantar surat ini?" tanyaku.

Lucien memanggil petugas arsip. Setelah diperiksa, sebagian surat asli dikirim melalui pelayan Arvella. Tapi surat-surat palsu dikirim melalui kurir istana yang mengaku menerimanya dari pelayan perempuan berkerudung.

"Pelayan perempuan?"

Petugas mengangguk. "Dengan sarung tangan putih."

Aku dan Lucien saling menatap.

Anna.

Atau seseorang dari lingkaran Seraphina.

Saat itu, pintu ruang terbuka lagi. Cassian masuk tanpa mengetuk, seolah pintu adalah saran bukan aturan.

"Duke North," kata Lucien dingin. "Ini ruang pribadi."

"Saya tahu. Itu sebabnya saya masuk."

Lucien tampak ingin memanggil pengawal. Aku hampir ingin tepuk tangan lagi.

Cassian meletakkan sebuah kotak kecil di meja. "Kain lap sudah saya amankan. Ada jejak bubuk yang sama dengan racun di ujungnya. Dan aroma lili digunakan untuk menutupi bau asli racun."

Aku menegang. "Jadi racunnya memang dipindahkan dengan kain itu?"

"Kemungkinan besar."

Lucien menatap kotak itu, lalu surat palsu di tangannya.

Keraguannya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.

"Kita perlu memeriksa Anna," katanya.

Aku mengangkat alis. "Kita?"

Lucien menatapku. "Untuk sementara, aku menunda anggapan bahwa kau pelakunya."

"Wah. Dari pembunuh menjadi tersangka sementara. Perkembangan karakter yang indah."

Cassian tertawa kecil.

Lucien mengabaikanku. "Tapi jika kau membohongiku..."

"Saya akan mati?" potongku. "Tenang, Yang Mulia. Ancaman itu sudah masuk daftar harian saya."

Mira tiba-tiba membuka pintu sedikit dari luar dan menyembulkan kepala. "Nona! Maaf mengganggu! Hamba mendengar kata mati dan menjadi cemas secara profesional!"

Aku menunjuk pintu. "Keluar."

"Baik, Nona! Tapi hamba membawa roti!"

"Tinggalkan rotinya."

Mira melempar roti ke meja dengan presisi mengejutkan, lalu menutup pintu lagi.

Lucien menatap roti itu.

Cassian menatap roti itu.

Aku mengambilnya dan menggigit dengan elegan yang gagal.

"Apa?" kataku sambil mengunyah. "Orang yang hampir mati juga butuh sarapan."

Lucien menutup mata sejenak. Mungkin berdoa agar tunangannya kembali normal. Sayang sekali, normal versi Evangeline jauh lebih berbahaya.

Sebelum kami bisa menyusun rencana, seorang pengawal masuk terburu-buru.

"Yang Mulia!"

Lucien berdiri. "Ada apa?"

"Pelayan Anna ditemukan di taman belakang. Dia..."

Pengawal itu menelan ludah.

"Dia tidak sadar. Di sampingnya ditemukan botol kecil berisi racun."

Ruangan langsung membeku.

Aku menggenggam roti terlalu erat sampai hampir hancur.

Cassian menyipitkan mata.

Lucien berkata pelan, "Mereka ingin membungkamnya."

Aku berdiri.

"Tidak," kataku. "Mereka ingin membuat kita berpikir kasusnya selesai."

Karena kalau Anna mati atau dibuat bersalah sendirian, maka pelaku sebenarnya akan tetap bersembunyi.

Dan aku tetap bisa dieksekusi sebagai dalang utama.

Tiga hari menuju kematian, dan musuhku baru saja mengorbankan pion pertama.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!