Pada masa modern jaya pura, Krani, seorang pendidik yang bekerja di sekolah negeri favorit terlibat dalam sebuah drama politik, forum pencitraan dan manusia seribu topeng yang menyebabkan ia harus berurusan masalah tiada henti. Sebuah peristiwa membuatnya tidak sadarkan diri, kemudian dia menemukan dirinya berada di era jaya pura zaman lalu dan terperangkap dalam tubuh seorang perempuan bernama Renggana yang ternyata akan menikah dengan Raja Paku bumi.
Sejak saat itu Krani dalam tubuh Renggana harus menyesuaikan diri dengan jaman Jaya wilayah wangsa selatan sebagai ratu Renggana juga terlibat dalam intrik kerajaan. Berbagai kejadian yang tidak terduga muncul selama Krani hidup sebagai Renggana. Berhasilkan kah kembali ke masa modern dan keluar dari tubuh Renggana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
Di dalam ruangan kebesaran, ratu Renggana menyeduh teh bunga Teratai di temani dayang Kribo yang sedang merangkai bunga di dalam guci besar. Wajah ratu tampak sedih, banyak yang harus dia lakukan, rencana yang di susun dan menjaga keselamatan anak-anaknya.
“Kenapa yang mulia ratu sangat baik pada selir Um?”
“Aku menimbang sikap lucunya saja. Di Istana ini, aku dia sedikit menghiburku.”
“Yang mulia, anda selalu tulus kepada semua orang walau mereka telah berkhianat. Sejujurnya yang mulia ratu, tolong jauhi para selir guna menjaga keselamatan anda.”
“Aku sudah menjauhinya.”
“Benarkah? Yang mulia ratu..”
“Benar, aku menjaga jarak pada mereka dan selalu menjauhinya. Aku juga wanita, raja menjauhiku karena mereka.”
Dayang pendamping ratu Renggana melihat ibu suri mondar-mandir di depan aula belajar agung. Dia mendengar para pelajar merubah pendapat membatalkan pilihan pangeran Hot. Ibu suri menekan perdana Menteri perang agar menetapkan pangeran Hot sebagai putra mahkota.
Dayang pendamping memberitahu pada ratu akan pertemuan rahasia itu. Ratu memanggil perdana Menteri perang menghadapnya.
“Menteri perang Tingkat satu. Aku mengetahui engkau berpihak pada ibu suri. Namun, kau satu-satunya orang terdekat raja setelah masa kepemerintahan negeri Wangsa di mulai. Aku ingin kau menggunakan kekuasaan mu bukan untuk satu pihak semata” ucap ratu Renggana.
“Ibu suri, hamba akan berusaha mengingatnya..”
Pengumuman perkumpulan para perdana Menteri, mendengarkan hasil Keputusan dari raja Paku Bumi. Selembar kertas yang di buka mengubah raut bahagia wajah raja.
“Telah di tetapkan bahwa pangeran agung Buming terpilih sebagai putra mahkota.”
“Baik yang mulia raja.”
......................
“Tidak! Kenapa harus anak itu! Aku tidak bisa menerimanya!” Wa memukul meja menahan rasa amarahnya yang hampir meraih pisau untuk membunuh ratu.
“Tenang bu. Aku masih punya kesempatan duduk di tahta putra mahkota.”
“Ya kau benar. Kakek mu pasti bisa melakukannya sekali lagi. Menggeser calon penerus raja di masa lalu.”
Acara pengangkatan putra mahkota berlangsung dengan lancar. Pangeran agung Buming memulai ujian pertamanya. Sebelum memasuki kelas, ratu menunggu di depan pintu.
“Ibu, aku bisa mengunjungi ibu setelah kelas selesai.”
“Bagaimana bisa ibu melewatkan hari pertama mu putra mahkota?”
“Ibu Bahagia? Senyum ibu sangat lebar.”
“Ya, ibu sangat Bahagia.”
Melihat putra mahkota memasuki kelasnya, ratu mengingat perkataan anak pertamanya dahulu. Pesan-pesan terakhirnya sebelum meninggal adalah meyakinkannya agar tetap semangat menjalani hari tanpanya.
“Ibu, aku akan menjadi angin dan selalu berada di sisi ibu. Tolong jaga adik-adik dan anak ku bu.”
Kalimat pangeran agung Bumi, anak pertama yang menyandang nama raja paku bumi. Ratu memasuki Istana bagian Tengah, melihat daftar nama calon pilihan putri mahkota yangdi pertimbangkan dari rekomendasi dua klan.
“Apa ini dayang Kribo. Semua atas penyuguhan ibu suri. Aku sendiri yang akan turun tangan melihat calon istri anak ku.”
“Baik yang mulia ratu.”
Selir Pegih dan selir Um membantu ratu Renggana saat mendengar dia akan keluar Istana mencari calon-calon putri mahkota. Wa membujuk ratu menuju ke sebuah toko Sepatu, ada beberapa nama putri bangsawan yang akan berbelanja. Mereka melihat seorang gadis memakai gaun yang sangat mewah.
“Hei, kenapa kau sentuh Sepatu ku? Tangan mu pasti kotor!”
“Maafkan hamba nona. Hamba hanya berniat membantu memasangkannya” ucap pendamping wanita tersebut.
Ratu menggelengkan kepala, selir Pegih mencoret nama putri bangsawan dari Menteri Kerajaan Kiri. Satu jam kemudian, ada putri bangsawan memasuki toko ddi dampingi ibunya. Pemilik toko berlari menghampiri, dia meminta maaf karena pesanan gaun yang di minta telah habis terjual.
“Haduh padahal kami yang terlebih dahulu memesannya.”
“Sekali lagi maafkan kami Nyonya.”
“Kau melewatkan kesempatan promosi toko mu sebagai contoh gaun anak ku yang paling bagus untuk di pakai di pemilihan putri mahkota nanti.”
“Maaf Nyonya, maaf..”
“Ibu, gaun yang ku pegang juga tidak kalan bagus. Tinggal sentuhan kain dari warna gulungan kain yang ini.”
Mendengar perkataan gadis itu, ratu Renggana menganggukkan kepala. Selir pegih memberi tanda nama putri Menteri Kerajaan kanan. Di tempat lain, selir Um berdialog dengan para pelayan yang mengasuh putri bangsawan. Dia bertanya setiap putri nona bangsawan mengenai sifat dan kebiasaannya.
“Kalau nona yang ku jaga, sifatnya sangat buruk. Dia perhitungan, menganggap semua orang adalah bawahannya yang patut di atur” ucap pelayan penjaga putri dewan aula agung Istana.
“Aku juga tidak betah mengurus nona cun. Aku dengar di rumah Menteri kehakiman. Ku dengar sebelum aku bekerja, banyak yang mengundurkan diri disana.” Keluh pelayan pendamping putri penjaga Istana.
“Hoaah mengerikan sekali” ucap Selir Um sambil mencoret nama-nama putri bangsawan yang tidak layak di balik jubah yang dia sembunyikan.
“Kalau aku berbeda, majikan ku sangat menyayangi ku. Lihat, aku memakai baju yang mahal. Setiap kali akau menemaninya ke pusat perbelanjaan. Beliau selalu mencukupi ku. Nona Puma.”
“Apakah Menteri sekertaris Kerajaan? Dok jin?”
“Hei jangan langsung menyebutkan Namanya. Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat bersinar. Kulit mu sangat mulu, putih dan tidak ada daki di leher mu.”
“Benar, dia sangat bersih. Bahkan tidak ada sayatan pisau atau lebam di jemarinya.”
“Hahah ya kalian benar” jawab dayang Um memutar Langkah untuk pergi.
Dia mengabarkan ke ratu Renggana, nama calon putri mahkota sebagai kandidat yang cocok untuk putra mahkota. Tiba-tiba, terdengar suara keributan di Tengah pasar. Ada seorang gadis yang membantu seorang gelandangan yang di aniaya sekelompok pria.
Ratu Renggana melihat keberanian dan ketulusannya. Dia bertanya kepada kedua selir, nama gadis tersebut. “Cepat cari tau identitasnya.”
“Aku mendapatkannya yang mulia. Dia mirip yang ada di daftar nama ibu suri. Putri panglima peran” ucap dayang Pegih.
Ratu memanggil gadis itu, mereka berdua berdialog di sela keinginan tahuan sang ratu mengenai sifatnya. “Apa motif mu membela gelandangan itu?”
“Aku tidak memiliki motif apapun. Aku tidak mau mencari penilaian orang tentang diri ku. Di dunia ini, semua derajat manusia sama di mata Yang Maha Esa. Hanya status sosial yang membedakan. Mereka sangat kejam membully anak tadi.”
“Kau tergolong wanita yang berani. Oh ya, apakah kau tidak mau mengikuti pemilihan sebagai putri mahkota?”
“Tidak. Sekalipun status tertinggi kedudukan sebagai putri mahkota. Kalau aku tidak Bahagia Bersama orang yang di hati ku. Aku tidak bisa hidup lama. Aku, sudah memiliki pria tampan yang ku cintai.”
“Wah, siapa dia? Kelihatannya dia pria yang baik.”
“Benar. Aku punya lukisan wajahnya.”
Gadis itu menunjukkan wajah pangeran agung kedua, anak dari ratu Renggana. Senyum sang ratu semakin melebar, dia membisikkan bahwa pria di dalam lukisan adalah putra mahkota.
“Sebaiknya engkau bergegas. Pendaftaran akan di tutup. Putra mahkota benar-benar pria yang baik.”
“Tidak mungkin. Dia adalah pria sederhana yang ku temui di wilayah perbukitan Wangsa. Nyonya, Apa yang membuat mu yakin kalau pria ini putra mahkota?”
“Aku orang dalam Istana. Mana mungkin aku tidak mengenalinya", ucap sang ratu sambil tersenyum kecil menyembunyikan kebohongannya.
“Kalau begitu aku akan mendaftar. Apakah kau dayang pendamping putra mahkota?”
“Ya. Tapi, selama perjodohan. Engkau jangan memberitahu siapapun bahwa kalian pernah bertemu. Hal ini bisa mempengaruhi nama pendampingnya.”
“Baik akan ku ingat. Terimakasih dayang yang baik. Sampai ketemu di Istana. Dadah…”
Galih digambarkan sebagai karakter tragis dengan dilema moral yang kompleks. Pembaca merasa bahwa perjuangannya melawan ilmu hitam untuk melindungi Renggana menambah kedalaman emosional cerita. Konflik ini memberikan lapisan tambahan pada kisah cinta yang sudah tragis,
Cinta Galih kepada Renggana yang tidak sepenuhnya terbalas memberikan elemen tragis yang mendalam. Pembaca terkesan dengan bagaimana cinta abadi Galih tetap hadir meskipun melalui ilmu hitam, menunjukkan pengorbanan tanpa syarat yang menyentuh hati. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara pembaca dan karakter.