NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Menjelang sore, Raka berlari memasuki ruang keluarga dengan sebuah mobil-mobilan di tangannya.

"Mama!" Anak itu langsung memeluk Aurel dari belakang.

"Ayo pulang." kata Raka.

Aurel memejamkan mata sejenak. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya kembali sesak.

Aurel membalikkan badan, lalu mengusap rambut putranya dengan lembut. "Raka senang di rumah Kakek sama Nenek?"

Raka mengangguk cepat. "Senang."

"Boleh main sama Kakek, terus Nenek masakin ayam goreng." kata Aurel sambil tersenyum tipis. Ia menatap wajah polos putranya. Anak itu sama sekali tidak tahu bahwa dunia kedua orang tuanya sedang berada di ambang kehancuran.

"Ada apa, Ma?" Raka mengerutkan dahinya ketika melihat mata ibunya kembali memerah.

"Nggak apa-apa." Aurel segera tersenyum.

"Mama cuma lagi capek kerja." lanjut Aurel.

"Oh..." Raka mengangguk, menerima jawaban itu begitu saja.

Aurel memeluk putranya lebih erat. Di dalam pelukan itu, Aurel mengambil keputusan. Keputusan yang mungkin akan menjadi yang terbaik, meski terasa begitu berat.

Malam harinya, setelah Raka tertidur, Aurel kembali berbicara dengan kedua orang tuanya.

"Pak... Bu..Aku mau minta tolong." kata Aurel.

"Apa, Nak?" tanya ibunya.

"Aku ingin Raka tinggal di sini dulu."

Ayahnya menatap Aurel cukup lama. "Kamu yakin?"

Aurel mengangguk. "Untuk sementara. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi di rumah nanti. Mungkin aku dan Mahesa akan sering bertengkar. Mungkin juga kami mulai membahas perceraian." Aurel menundukkan kepala.

"Aku nggak mau Raka melihat semua itu."

Suasana menjadi hening. Ibunya menggenggam tangan Aurel.

"Anak seusia Raka belum seharusnya menyaksikan orang tuanya saling menyakiti." kata Hanum, ibunya Aurel.

Aurel mengangguk pelan. "Itu yang aku pikirkan."

"Selama ini aku dan Mahesa selalu berusaha menjaga Raka dari pertengkaran. Kalau sekarang rumah sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman..." Aurel menarik napas panjang.

"Aku lebih memilih menjauhkan Raka dulu."

Ayahnya Aurel menyandarkan tubuh ke kursi. "Kamu sudah bicara sama Mahesa?"

"Belum. Aku baru memutuskan sekarang."

Ibunya tersenyum lembut. "Kalau begitu, biarkan Raka di sini. Dia sudah biasa menginap. Nggak akan merasa asing."

Ayahnya ikut mengangguk. "Bapak dan Ibu akan menjaga Raka. Kamu nggak usah khawatir."

Kalimat ayahnya membuat beban di dada Aurel sedikit berkurang. "Terima kasih, Pak... Bu. Tapi aku akan tetap sering datang." kata Aurel.

"Tentu saja." Hanum mengusap pipi putrinya.

"Raka tetap butuh ibunya." lanjut Hanum.

Aurel tersenyum tipis. Malam itu, ia masuk ke kamar tempat Raka tidur. Anak laki-laki itu tertidur pulas sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Aurel duduk di sisi ranjang. Perlahan ia mengusap rambut putranya.

"Maafin Mama ya, Nak." Bisik Aurel lirih.

"Mama lagi berusaha mencari jalan terbaik. Apa pun yang nanti terjadi...Mama janji, Mama dan Papa akan tetap mencintai Raka." Air mata kembali menggenang, tetapi kali ini Aurel segera menghapusnya. Ia tidak ingin menangis di hadapan putranya, meski Raka sedang tertidur. Karena dalam hati, Aurel telah berjanji pada dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi antara dirinya dan Mahesa, ia akan berusaha agar Raka tidak menjadi korban dari kesalahan orang dewasa.Anaknya berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan jauh dari pertengkaran yang bisa meninggalkan luka seumur hidup.

♡♡♡

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Aurel kembali mengendarai mobilnya. Bukan menuju rumah. Melainkan ke rumah mertuanya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Mungkin mereka akan marah. Mungkin mereka tidak percaya. Atau mungkin mereka justru akan menyalahkannya.

Namun Aurel merasa mereka berhak mengetahui semuanya. Cepat atau lambat, kabar ini pasti sampai ke telinga mereka. Dan Aurel ingin mereka mendengarnya langsung darinya, bukan dari orang lain.

Mobil Aurel berhenti di halaman rumah orang tua Mahesa. Lampu teras masih menyala. Aurel menarik napas panjang sebelum menekan bel. S

Tidak lama setelah Aurel menekan belz kemudian pintu terbuka.

"Aurel?" Wajah ibu mertuanya langsung berubah heran.

"Lho, Nak? Kok malam-malam datang sendiri?" Beliau buru-buru membuka pintu lebih lebar.

"Masuk dulu." kata ibu mertua,

Aurel mengangguk pelan. "Terima kasih, Bu."

Begitu memasuki ruang tamu, ayah Mahesa yang sedang membaca koran ikut mengangkat kepala. "Aurel?" Beliau tersenyum. "Mahesa mana?" Pertanyaan sederhana itu membuat dada Aurel kembali sesak.

Aurel mencoba membalas senyum, tetapi gagal. Melihat wajah menantunya yang pucat, senyum kedua orang tua Mahesa perlahan memudar.

"Kamu kenapa, Nak?" Ibu mertuanya duduk di samping Aurel.

"Kalian bertengkar?"

Aurel menundukkan kepala. Beberapa detik ia hanya menggenggam kedua tangannya sendiri. Lalu akhirnya berkata pelan.

"Pak..."

"Bu..."

"Aku datang ke sini bukan untuk mengadu."

"Tapi karena aku merasa Bapak dan Ibu berhak tahu."

Kedua orang tua Mahesa mulai memasang wajah serius.

"Ada apa sebenarnya?" tanya ibunya Mahesa dengan rasa sangat penasaran.

Aurel mengangkat wajahnya. Matanya kembali memerah.

"Aku dan Mahesa..." Kalimat itu terasa begitu berat.

"kemungkinan besar akan bercerai." lanjut Aurel.

"Apa?" Ibu Mahesa refleks berdiri.

Sedangkan ayah Mahesa mengernyit tajam. "Bercerai? Apa maksudmu?"

Aurel mengangguk pelan. "Kalau tidak ada perubahan...Bapak dan Ibu akan segera mendapatkan menantu baru."

Ruangan mendadak sunyi. Ibu Mahesa menggeleng pelan. "Nak...jangan bercanda seperti itu."

"Aku tidak bercanda, Bu." Suara Aurel terdengar sangat tenang.

"Mahesa sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain selama tujuh tahun." Aurel mencoba menjelaskan.

Wajah kedua orang tua Mahesa seketika berubah.

"Tidak mungkin." Ayah Mahesa langsung menyela. "Mahesa bukan anak seperti itu."

Aurel tidak membantah. Ia memahami reaksi tersebut. Kalau ia berada di posisi mereka pun, mungkin ia akan mengatakan hal yang sama.

"Dulu aku juga percaya begitu, Pak." Jawaban Aurel membuat ayah Mahesa terdiam.

"Perempuan itu bukan orang asing." Aurel menelan ludah.

"Dia Kayla." Nama itu meluncur pelan. Namun efeknya begitu besar.

"Kayla?" Ibu Mahesa membelalakkan mata.

"Kayla yang sering datang ke rumah? Kayla sahabatmu itu?"

Aurel mengangguk. "Iya, Bu."

Ruangan kembali diliputi keheningan. Ayah Mahesa meletakkan koran yang sejak tadi masih berada di tangannya. Wajahnya mulai memucat.

"Apakah..." Beliau menatap Aurel. "Mahesa mengaku?"

Aurel menggeleng. "Dia tidak mengucapkannya. Tapi ketika aku bertanya apakah malam saat aku melahirkan Raka dia benar-benar sedang bekerja..." Aurel menarik napas panjang. "dia hanya diam. Itu sudah cukup menjadi jawaban buatku."

Ibu Mahesa menutup mulutnya. Air matanya mulai mengalir. "Ya Allah...Kenapa jadi seperti ini..." Beliau menggenggam tangan Aurel erat.

"Maafkan Mahesa." Kalimat itu keluar dengan suara bergetar.

Aurel membalas genggaman tersebut. "Bu...Aku datang bukan untuk meminta Bapak dan Ibu memilih pihak. Aku hanya ingin kalian tahu. Kalau nanti aku benar-benar pergi dari rumah itu...bukan karena aku berhenti mencintai keluarga ini." Aurel menatap kedua mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Selama delapan tahun menjadi bagian dari keluarga ini, Bapak dan Ibu selalu memperlakukanku seperti anak sendiri. Itu tidak akan pernah aku lupakan."

Air mata ibu Mahesa semakin deras. Sedangkan ayah Mahesa hanya mampu menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ayahnya Mahesa berharap kabar yang baru saja didengarnya hanyalah mimpi buruk yang akan hilang saat ia membuka mata.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!