Silvia adalah seorang gadis baik hati dan polos yang masih duduk di bangku SMA. Gadis kurus dengan rambut panjang dan kulit putih itu tak jarang menjadi rebutan dikalangan pria disekolah nya dan itu membuatnya merasa percaya diri.
Namun semuanya sirna ketika mendengar bahwa dia akan di jodohkan dengan seorang CEO yang tidak dia cintai. Tidak percaya bahwa dizaman modern seperti ini masih ada yang namanya perjodohan. Namun semua itu mungkin terjadi melihat kondisi keluarga nya yang krisis keuangan.
Dia pun harus siap meninggalkan kekasih nya bahkan impiannya di masa depan demi keinginan orang tuanya. Diawal semua terlihat baik baik saja sampai ketika dia mengetahui sifat asli suaminya yang membuatnya tersiksa batin setiap harinya. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan hidup nya sendiri bahkan nekat untuk menikah lagi.
"Inilah kehidupan Silvia dengan kehidupan pernikahan yang tak dia harapkan"...
[Cerita ini telah berhenti, tidak disarankan membaca] -Author-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wira Noviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32. Kematian Desi
"Eum.. Aku sedang haid Zai.. Dan sekarang aku nggak bawa pembalut" ucap Silvia dengan rasa malu dan menunjukkan celana nya dengan bercak darah.
"Oh.. Eum.. i.. ini pakai jaketku dulu untuk menutupi bercak itu tunggu disini aku akan belikan pembalut untuk mu" ucap Zaiden memberikan jas panjang milik nya yang dipakai nya dan mengeluarkan uang nya. Aleena yang melihat Silvia mendapat perhatian dari Zaiden karena haid membuat nya iri.
"Zai belikan pembalut untukku juga ya!" ucap Aleena tiba tiba dengan lantang yang membuat Zaiden, Laura dan Silvia bingung dengan perkataan Aleena yang tiba tiba membuat suasana menjadi canggung.
"Ha? untuk apa?" ucap Zaiden bingung.
"Aku juga lagi menstruasi! Dan pembalutku udah penuh dan gak bawa pembalut untuk mengganti nya" ucap Aleena dengan sedikit canggung.
"Emang bisa penuh ya? Eh maaf, iya yaudah biar ku belikan juga" ucap Zaiden merasa canggung dan malu.
"Zai aku juga lagi mens!" ucap Laura tiba tiba.
"Apa? Bukan nya kemarin kamu bilang saat kamu marah ku tanya kamu enggak haid?" tanya Zaiden.
"Tadi pagi aku bangun dan ngecek kalau aku ini haid! Dan ini lagi deras deras nya jadi beli yang ukuran nya besar ya" ucap Laura lantang.
"Oke.. Beli pembalut itu yang kayak pampers kan?" tanya Zaiden memastikan.
"Iya" jawab Laura.
Zaiden pun pergi ke Indomaret terdekat untuk membeli pembalut.
"Dimana rak nya yang ada pembalut ya?.. Oh
Itu dia.. Merk apa? Banyak banget merk nya ini, oh iya kata Laura yang besar yaudah deh yang ini aja kayak nya nggak masalah untuk mereka bertiga" ucap Zaiden mengambil benda yang dipilih nya dan membayar nya lalu kembali ke tempat dimana Laura, Silvia dan Aleena berada.
"Ini aku sudah membeli nya" ucap Zaiden dan mengeluarkan barang yang di beli nya dan itu membuat ketiga wanita tercengang. Bagaimana tidak, Zaiden bukan nya membeli pembalut tapi popok atau pampers lansia.
"Zai astaga!" ucap Laura berusaha menahan tawa dan malu nya karena tidak pernah bertemu orang se bodoh Zaiden yang tidak tau tentang pembalut.
"Bukan yang itu Zai!" ucap Aleena menghindari kontak mata dengan Zaiden.
"iih.. Zai biar aku aja yang beli deh!" ucap Silvia merengut dan membeli milik nya sendiri lalu memakai nya.
Tidak berselang lama ada seseorang yang menelepon Zaiden.
Ditelepon.
"Halo nak!" ucap Desi.
"Kenapa mamah nelpon Zaiden lagi?" tanya Zaiden dingin.
"Nak cepat ke rumah dan bawa mamah ke rumah sakit" ucap Desi dengan lemah.
Zaiden pun langsung panik, lalu dia pun bergegas ke rumah Desi dan membawa Desi dari rumah ke rumah sakit dan Desi di nyatakan terkena penyakit serius yang menyatakan bahwa usia nya tinggal beberapa hari lagi.
Zaiden akhirnya tak kuasa menahan tangis nya dan terus menangis. Zaiden pun berniat untuk membahagiakan ibu nya dalam dua hri terakhir di kehidupan nya.
Setelah desi di kabar kan terkena penyakit serius yang menyatakan bahwa hidupnya tak lama lagi membuat Zaiden terus menemani ibu nya untuk beberapa hari terakhir. Zaiden bercerita mengenai hal apa yang tidak sempat dia ceritakan di hidup nya kepada Desi. Desi juga meminta maaf karena selama ini telah pilih kasih bahkan lebih menyayangi Hevin di banding Zaiden padahal yang sekarang di samping Desi dan menemani Desi hanyalah Zaiden dan berharap agar Desi menemukan kebahagiaan nya.
* * *
Di hari pertama Desi terus di temani oleh Zaiden dan tiga orang perempuan yang tidak lain dan tidka bukan adalah Silvia, Aleena dan Laura. Di malam hari Zaiden terus merenung hingga Laura datang menemani nya yang ternyata sudah menangis hingga kedua mata nya sampai bengkak. Laura menenangkan nya hingga di sela sela itu Laura mengungkapkan rasa cinta nya terhadap Zaiden.
Lalu di hari kedua, kondisi Desi mulai memburuk hingga di bawa ke rumah sakit.
"Zaiden anakku. Kau dulu bilang mamah tidak pernah mengatakan bahwa mamah menyayangi mu kan? Maka mamah akan katakan bahwa mamah sayaaang banget sama Zaiden" ucap Desi lalu mengusap kepala Zaiden dengan tulus.
"Mamah tau apa yang mamah lakukan selama ini itu sangat menyakiti kamu Zaiden, tapi mamah mohon sama kamu nak maafkan mamah karena telah melakukan semua itu. Oh ya nanti kalau seandai nya kamu jumpa sama kakak mu bilang ya kalau mamah udah tidur, nggak bangun lagi.." ucap Desi menangis se jadi jadi nya.
"Mah jangan ngomong kayak gitu mah! Zaiden belum siap untuk mamah pergi!" ucap Zaiden menangis dengan kesedihan nya yang begitu dalam.
"Dimana Laura?" tanya Desi dan menyuruh Laura untuk masuk.
"Nak, kalau kamu mau menikah dengan Zaiden mamah udah restui kok, kamu perempuan yang baik" ucap Desi lalu menyuruh Silvia untuk masuk kedalam.
"Nak Silvia maafkan semua kesalahan Hevin ya, mamah sekarang merasakan bahwa dia memang sangat keterlaluan" ucap Desi.
"Mah jangan tinggalin Zaiden kayak gini mah" ucap Zaiden dengan air mata yang berderai.
"Sebenar nya sebelum mamah meninggal mamah pengen banget liat kamu menikah Zai, bahkan dari dulu mamah pengen banget punya cucu tapi sampai detik ini enggak kesampaian" ucap Desi tersenyum sambil kecewa.
"Mamah jangan khawatir mamah akan segera punya cucu dari aku yang terpenting sekarang mamah sehat sehat aja" ucap Zaiden lalu memeluk Desi dengan erat.
"Mamah sayang sama kamu Zaiden" ucap Desi lalu perlahan kelopak mata nya menutup dengan lemas. Detak jantung nya perlahan melemah dan tubuh nya terdiam kaku perlahan memucat. Zaiden pun berdiri dari duduk nya.
"Yaudah mah, istirahat yang tenang, Zaiden keluar dulu ya" Zaiden pun berusaha untuk tersenyum dan meninggalkan ruangan itu, begitu juga dengan Silvia dan Laura. Para dokter pun berdatangan dan masuk ke dalam ruangan Desi sedangkan Zaiden sudah tau bahwa ibu nya sudah meninggalkan dunia ini.
Setelah meninggalnya Desi, kini Zaiden dan Hevin sudah menjadi yatim dan piatu. Namun mereka berdua tidak pernah bertemu lagi, sekarang Zaiden fokus untuk menjaga tiga orang wanita yang bersama nya yakni Silvia, Laura dan Aleena karena hanya mereka lah yang Zaiden punya saat ini.
Mereka bertiga masih tinggal di rumah Zaiden hingga di suatu hari Silvia mengalami kecelakaan yang membuat ingatan lama nya kembali. Pada akhir nya Silvia mengetahui apa yang sebenar nya terjadi bahwa Zaiden bukan lah suami Silvia. Namun hubungan mereka tidak berakhir di situ saja, Silvia malah semakin akrab dengan Zaiden dan sering menemani Zaiden di kantor sampai dia akhirnya berkerja secara mandiri.
Laura juga di modali oleh Zaiden dan sekarang Laura dapat memimpin usaha nya sendiri. Dia bahkan sudah membangun beberapa hotel dan memiliki banyak pemasukan. Sedangkan Aleena memutuskan untuk bersekolah di sekolah kesenian di luar negeri dan itu semua di biayai oleh Zaiden juga. Sekarang perusahaan Zaiden juga sudah semakin maju dan sukses.
Sedangkan Hevin dia yang sudah kembali ke amerika langsung mengurus jasad Aileen dan merawat Jini anak nya Aileen. Sedangkan Frey, dia tak kunjung dinikahi oleh Hevin sampai akhirnya Frey melahirkan bayi nya. Namun Persalinan itu gagal, Frey harus tiada bersama bayi yang ada di perut nya. Beberapa bulan kemudian Yumi akhirnya hamil anak nya Hevin.
Setelah melahirkan anak yang dinamai Zini Anaya Hevin pun menikahi Yumi agar ada yang merawat Jini juga nanti nya. Hevin pun sengaja memberi nama anak anak nya mirip seperti anak kembar agar mudah mengingat nya. Lalu setelah beberapa lama karir Hevin pun meningkat pesat di luar negeri. Namun sampai sekarang Hevin belum mengetahui bahwa ibu nya sudah meninggal dan tidak ada seorang pun yang mengabari nya.