Novel ini merupakan sekuel dari Novel author yang sebelumnya, berjudul Cinta Dalam Diam,
Kelanjutan cerita dari kisah Nabila, putri dari Nuna dan Almarhum Dimas Adiwijaya yang kini menjadi putri kesayangan Dika Pratama, ayah sambung Nabila.
Meskipun Dika merupakan ayah sambung tapi perlakuannya melebihi seorang ayah kandung, wajar saja karena Dika yang membantu Nuna selama dia mengandung Nabila..
Bagaimana kisah selanjutnya? Nabila yang sudah beranjak dewasa? akan kah serumit kisah cinta sang Mama????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bian maupun Nabila sama sama merasa canggung entah kenapa, seharusnya Nabila marah bahkan memaki Bian sekarang tapi dia tidak bisa melakukannya,
Di lihatnya sosok Bian yang jauh lebih tampan dengan pakaian serba hitamnya, Nabila hanya bisa tertunduk sambil sesekali melirik ke arah dimana Bian sedang berdiri.
Pun dengan Bian sama canggungnya dengan Nabila, ingin rasanya memeluk gadis di hadapannya tersebut tapi kakinya terasa kaku untuk melangkah maju.
Jadilah mereka hanya saling bercuri pandang saja.
kenapa dia ikut ikutan diam sih? dia kan laki laki, harusnya dia yang memulai duluan! lagian disini seharusnya aku marah padanya karena dia aku sekarang berada di rumah sakit ini.
Nabila sudah tidak tahan lagi dengan keheningan ini, terpaksa dia harus membuka suara terlebih dahulu.
"apa kau sudah berubah menjadi patung sekarang??" kata Nabila berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.
"eh.. aku?? em.. tidak!" sahut Bian salah tingkah.
"lalu kenapa kau diam saja??" tanya Nabila lagi.
"aku.. aku sebenarnya ingin meminta maaf padamu!" ujar Bian pelan.
"minta maaf?? apa kau sudah tahu apa kesalahanmu?" sahut Nabila memanfaatkan keadaan dengan bersikap ketus kepada Bian yang tampak merasa sangat bersalah.
"iya aku tahu.. tolong maafkan aku, aku tidak menyangka kau akan menungguku di sana!" ujar Bian dengan penuh penyesalan.
"kau sendiri yang menyuruhku untuk menunggumu!! apa kau lupa dengan kata katamu sendiri? "jangan pulang sebelum aku datang"!!" ucap Nabila berusaha mengingatkan Bian pada kata katanya sendiri.
"iya aku ingat Bil.. tapi kemarin aku melihat Arga di sana dan ku pikir kau akan pulang bersamanya!" jawab Bian.
"tapi aku tidak ikut bersamanya karena aku selalu ingat kata katamu itu!" sungut Nabila mulai kesal mengingat betapa lamanya dia duduk di depan kampus menunggu kedatangan Bian.
"itulah letak kesalahanku, aku tidak menyangka kalau kau lebih memilih menungguku daripada ikut dengan Arga! sekali lagi maafkan aku..!" ucap Bian dengan tulus.
"setidaknya aktifkan ponselmu jadi aku tidak perlu repot repot menjadi satpam dadakan kemarin!" ketus Nabila.
"iya iya maaf.. aku terlalu kesal melihatmu bersama Arga kemarin!" sahut Bian terus terang.
"kenapa kau harus kesal?" tanya Nabila dengan sewotnya.
"ya mana aku tahu!!!" sahut Bian yang mulai ikut ikutan sewot.
"kenapa kau jadi ikut ikutan sewot?" tukas Nabila.
"habisnya kau banyak bicara!!" jawab Bian.
"apa? banyak bicara?? kau bertanya jadi aku menjawabnya!!" sungut Nabila sambil tersenyum jengah ke arah Bian.
Dika dan Nuna yang tenyata sudah mengintip sedari tadi, terpaksa keluar dari persembunyian mereka karena melihat Bian dan Nabila yang lagi lagi tidak akur dan mulai berdebat.
"baru juga di tinggal bentar sudah berdebat lagi!" ujar Nuna merasa jengah.
"dia tuh Mah yang mulai duluan!" sahut Nabila sambil membuang muka ke arah lain.
"ya.. aku terus yang disini bersalah!!!" sahut Bian dengan ketus.
" suruh dia pulang Mah.. Bila males liat mukanya lagi!" ujar Nabila pada Nuna.
Dika mengedipkan sebelah matanya pada Bian, memberinya kode agar meninggalkan Nabila, karena saat ini Nabila sedang kesal.
Bian pun terpaksa pergi dari sana.
dasar cewek aneh! di jenguk bukannya terimakasih malah sewot! untung cantik!!
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Setelah menginap semalam di rumah sakit, Arga datang menjenguk bersama dengan Papinya, Banu Suroyo.
Dika dan Nuna menyambut hangat kedatangan mereka, bahkan pihak rumah sakit memberikan jalur khusus pada pengusaha ternama tersebut.
"Bila.. bagaimana keadaanmu nak?" tanya Banu dengan lembut.
"Bila sudah membaik Om!" sahut Nabila dengan canggung.
Bagaimana tidak canggung, kedatangan Banu Suroyo di kawal oleh beberapa orang berjas hitam yang sedang berjaga di luar ruangan.
"Om baru dengar dari Arga kalau kau masuk rumah sakit, jadi apa yang sebenarnya terjadi Bil?" tanya Banu penasaran.
"Bila hanya kelelahan dan dehidrasi Om! tidak ada yang mengkhawatirkan!" jawab Nabila.
"Arga.. bukan kah kemarin kau menjemput Nabila?" lanjut Banu bertanya pada Arga yang masih terdiam mendengarkan Papi dan Nabila berbicara.
"iya Pi.. kemarin aku memang menjemput Nabila tapi..!" kata Arga berusaha menjelaskan namun di potong oleh Nabila.
"tapi aku menyuruh Arga untuk kembali ke kantor karena Bila masih ada kegiatan di kampus Om!" sambar Nabila dengan cepat.
"oh begitu.. Om pikir Arga yang membuatmu sampai seperti ini!" ujar Banu sambil melirik ke arah Arga.
"tidak Om.. ini semua murni kesalahan Nabila sendiri bukan kesalahan Arga!" ujar Nabila.
"terimakasih atas semua perhatian anda pada putri kami Tuan Suroyo!" ucap Dika dengan sopan kepada Banu.
"Nabila sudah saya anggap sebagai putri saya sendiri Tuan Pratama!" sahut Banu sambil mengangguk senang menatap Nabila.
"dan terimakasih karena sudah meluangkan waktu anda yang berharga untuk menjenguk Nabila kemari!" ucap Nuna menimpali.
"tidak perlu seperti itu Nyonya, saya senang bisa menjenguk Nabila!" jawab Banu.
"dan saya berharap semoga hubungan kita bisa semakin dekat Tuan dan Nyonya Pratama!" lanjut Banu berkata pada Dika dan Nuna.
Dika dan Nuna saling berpandangan mendengar ucapan Banu barusan.
"sepertinya saya terlalu bersemangat, maaf atas kelancangan saya Tuan!" ujar Banu lagi.
"ah.. tidak apa apa Tuan Suroyo, kami pun memiliki harapan yang sama, kami juga berharap bisa berhubungan baik dengan orang penting seperti anda!" kata Dika dengan canggungnya.
"anda terlalu berlebihan Tuan.. " sahut Banu sambil terkekeh.
Arga tampak tersenyum senang mendengar percakapan kedua orang tua tersebut.
Sedang Nabila tertunduk malu, entah apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
"apa kau baik baik saja Bil?" tanya Arga.
"em.. iya..!" sahut Nabila singkat.
"kalau kau mau istirahat, aku dan Papi akan pulang!" kata Arga.
"tidak.. aku tidak lelah kok.. lagian Papi mu masih berbincang dengan Papaku!" ujar Nabila.
"iya... mereka terlihat sangat akrab!" timpal Arga sambil melihat ke arah Papinya dan Dika yang sedang mengobrol hangat.
"sebenarnya siapa teman yang kau tunggu kemarin?" tanya Arga tiba tiba.
"em.. dia.. teman kampusku!" jawab Nabila dengan terbata.
"teman macam apa yang membuat temannya menunggu selama itu? berhenti berteman dengannya!" ujar Arga merasa geram.
"em.. ini bukan salahnya kok.. ada selisih paham yang membuatnya terlambat datang!" ujar Nabila berusaha membela.
"oh.." sahut Arga hanya ber oh ria saja.
Tak lama Banu pun berpamitan pada kedua orang tua Nabila dan Arga mengikutinya.
"Bila.. cepat sembuh ya nak.." ucap Banu sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"terimakasih Om!" jawab Nabila dengan senyum ramah.
Sepeninggal Banu dan Arga, beberapa pria berjas membawa beberapa buah tangan yang dibawa oleh Banu dan Arga berupa bunga lengkap dengan vas nya, parcel buah dan masih banyak lagi yang lainnya.
"lihatlah sayang.. Tuan Suroyo benar benar menyukai putrimu!" bisik Dika pada Nuna.
"sepertinya begitu, putranya juga terlihat sangat menyukai Nabila!" balas Nuna berbisik pada Dika.
"biarkan Nabila yang menentukan siapa yang pantas di sampingnya!" ujar Dika dengan wajah serius.
"iya sayang.." sahut Nuna setuju.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
tinggal lanjut di cerita yang lain
makasih Thor untuk karya nya, sangat menghibur.
ditunggu karya selanjutnya, semangat selalu othor ku💪💪❤️❤️
tp kalau aq pikir2 dlu 😁😁😁😁😁😁😁
seharusnya foto Han sedang marah..kok itu senyum..bikin pangling aja😄😄😄