Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Motor Angela pelan-pelan keluar dari gerbang kampus. Angela melirik spion. Senyum kecil masih bertahan di wajahnya.
"Tuh, kan..." gumamnya pelan. "Jadi senyum-senyum sendiri." Dia menggeleng sambil menepuk pelan helmnya.
"Angela, sadar! Jangan gampang ge-er."
Tapi makin berusaha mengusir bayangan Raymond, malah wajah cowok itu terus muncul di kepalanya. Cara Raymond ngebenerin tali helm , cara dia ngambil daun di rambutnya, sampai satu kata terakhir yang masih terngiang jelas.
"Selalu." Angela langsung mendesah panjang.
"Ih... ngomongnya dikit-dikit, tapi bikin orang kepikiran."
Sementara itu...
Di parkiran kampus.
Kevin menyenggol bahu Raymond yang masih berdiri menatap ke arah gerbang.
"Bos."
"Hm?"
"Orangnya udah lima menit pergi."
"Iya."
"Lo masih lihat ke sana."
Raymond akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Dia belum sampai rumah."
Kevin langsung geleng-geleng kepala.
"Lo tuh ya..."
Rio datang sambil membawa handuk.
"Gue baru ngerti sekarang."
"Apa?" tanya Kevin.
"Kenapa Bang Raymond nggak pernah pacaran."
Kevin mengangguk.
"Kenapa?"
Rio nyengir.
"Soalnya sekali suka..."
"..."
"...langsung mode suami."
"HAHAHAHA!"
Kevin langsung ngakak sampai tepuk paha.
"Bener juga!"
Raymond melirik datar ke arah mereka.
"Kalian udah selesai?"
Kevin masih ketawa.
"Belum."
Rio ikut nimbrung.
"Bang."
"Hm?"
"Jujur aja."
"Apa?"
"Udah suka sama Angela, kan?"
Raymond diem beberapa detik.
Kevin sama Rio langsung nungguin jawabannya.
Raymond malah mengambil tas olahraganya.
"Ayo pulang."
Kevin melongo.
"Lah? Kok kabur?"
Rio ketawa.
"Kalau dia nggak jawab..."
"...berarti jawabannya udah ketahuan."
Raymond cuma mengembuskan napas pelan.
"Nggak usah banyak teori."
"Iya, Bos," jawab Kevin sambil cengar-cengir.
"Tapi teori kami biasanya bener."
Raymond cuma geleng kepala.
Susah memang kalau punya sahabat sejahil mereka.
Di sisi lain kampus.
Clarissa duduk sendirian di bangku taman.
Ponselnya terbuka.
Di layar terlihat grup mahasiswa yang masih ramai membahas latihan basket sore tadi.
«"Raymond senyum lagi gara-gara Angela."»
«"Fix, mereka cocok banget."»
«"Kapan jadian, nih?"»
Clarissa mengusap layar pelan, lalu mengunci ponselnya.
Tatapannya berubah dingin.
"Angela..."
Dia berdiri sambil merapikan tas di bahunya.
"Kalau semua orang terus mendukung kalian..."
"...berarti aku harus bikin mereka melihat sisi lain dari kamu."
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Namun senyum itu sama sekali nggak terlihat ramah.
Dia sudah punya satu nama di kepalanya.
Seseorang yang terkenal paling hobi menyebarkan gosip di kampus.
Kalau orang itu mulai bergerak...
Rumor kecil bisa berubah jadi badai.
Clarissa menatap langit sore yang mulai menggelap.
"Kita lihat aja..."
"...sekuat apa hubungan kalian kalau mulai diterpa masalah."
Di kejauhan, angin sore bertiup pelan.
Tanpa disadari Raymond maupun Angela...
Seseorang baru saja mulai menyusun permainan yang bisa mengubah hari-hari mereka di kampus.
Matahari mulai tenggelam saat Angela akhirnya sampai di kontrakan.
"Alhamdulillah..."
Dia mematikan mesin motor, lalu meregangkan bahunya yang pegal.
"Hari ini capek juga."
Baru aja mau masuk ke dalam, suara Bu Sari, ibu kos yang tinggal di rumah depan, memanggilnya.
"Angela!"
Angela menoleh.
"Iya, Bu?"
Bu Sari berjalan menghampiri sambil membawa sebuah amplop cokelat yang kelihatan agak kusut.
"Ini tadi siang ada tukang pos yang nganter."
"Buat aku?"
"Iya."
Bu Sari menyerahkan amplop itu.
"Katanya penting."
Angela menerima amplop itu sambil mengernyit.
Sekarang udah jarang ada orang yang kirim surat.
Apalagi ke anak kuliahan.
"Siapa ya..."
Dia membalik amplop itu.
Begitu melihat tulisan tangan di bagian pengirim...
Langkahnya langsung terhenti.
Desa Sukamaju.
Itu kampung halamannya.
Tulisan di pojok kiri atas juga nggak asing.
Tulisan Pak RT.
Jantung Angela mendadak berdegup lebih cepat.
"Nggak biasanya Pak RT ngirim surat..."
Dia buru-buru membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Angela mulai membaca.
Semakin lama...
Wajahnya perlahan memucat.
Tangannya gemetar.
Bibirnya bergetar pelan.
"Angela..."
"Ibumu sudah beberapa hari sakit keras."
"Awalnya beliau memaksa kami untuk tidak mengabarimu karena takut mengganggu kuliahmu."
"Tapi kondisinya semakin menurun."
"Kalau memungkinkan, pulanglah secepatnya."
"Beliau sering menyebut namamu."
Surat itu jatuh ke pangkuannya.
Angela membeku.
"Nggak..."
Air matanya mulai menggenang.
"Nggak mungkin..."
Beberapa hari yang lalu ibunya masih sempat menelepon.
Masih tertawa.
Masih bilang kalau dirinya baik-baik aja.
"Kenapa Ibu bohong..."
Suaranya pecah.
"Kenapa nggak bilang kalau lagi sakit..."
Angela buru-buru mengambil ponselnya.
Tangannya gemetar saat mencari nomor ibunya.
"Angkat, Bu..."
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Namun...
Tidak ada jawaban.
Angela mencoba lagi.
Tetap sama.
Dadanya mulai sesak.
"Nggak... angkat dong, Bu..."
Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
Bu Sari yang melihat itu langsung menghampiri.
"Angela... ada apa, Nak?"
Angela menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar.
"Ibu... Ibu sakit, Bu..."
Suaranya nyaris nggak keluar.
"Katanya udah beberapa hari..."
Bu Sari membaca isi surat itu sekilas.
Wajahnya langsung berubah khawatir.
"Ya Allah..."
Beliau memegang bahu Angela pelan.
"Kamu harus pulang."
Angela mengangguk pelan sambil menyeka air mata.
"Iya..."
"Tapi..."
Dia membuka aplikasi mobile banking di ponselnya.
Saldo yang muncul membuat napasnya tercekat.
Uang yang dia punya...
Bahkan belum tentu cukup untuk ongkos pulang, biaya berobat, dan kebutuhan ibunya.
Angela menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Aku harus gimana..."
Di tengah kebingungannya...
Nama seseorang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Raymond.
Namun Angela langsung menggeleng cepat.
"Nggak..."
"Aku nggak boleh terus bergantung sama dia."
Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Aku harus cari jalan sendiri."
Meski begitu...
Jauh di lubuk hatinya, Angela sama sekali nggak sadar kalau malam itu...
Ada satu orang yang akan langsung datang tanpa diminta, begitu tahu dia sedang dalam kesulitan.
Angela masih terduduk lemas di teras kontrakan.
Surat itu masih ada di genggamannya.
Kertasnya udah kusut karena diremas berkali-kali.
Air mata yang tadi sempat berhenti, kini jatuh lagi tanpa bisa ditahan.
"Ibu..."
Suaranya lirih.
Penuh sesak.
Bayangan wajah ibunya terus terlintas di kepala.
Wanita yang selalu bilang dirinya baik-baik aja.
Wanita yang selalu ketawa setiap Angela nanya kabar.
"Ternyata selama ini Ibu bohong..."
"Biar aku nggak kepikiran."
Angela menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Kenapa sih, Bu..."
"Kenapa harus dipendam sendiri..."
Ponselnya kembali diambil.
Ia mencoba menelepon lagi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap nggak ada jawaban.
Angela mulai panik.
Tangannya gemetar hebat.
"Angkat, Bu..."
"Tolong angkat...."
Tetap sunyi.
Angela menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Bu Sari yang sejak tadi menemani, duduk di samping Angela sambil mengusap pelan punggung gadis itu.
"Udah, Nak..."
"Besok pagi kita cari kendaraan buat pulang."
Angela mengangguk pelan.
"Iya, Bu..."
"Tapi uang aku..."
Kalimatnya terputus.
Dia membuka dompetnya.
Isinya cuma beberapa lembar uang pecahan.
Kalau dipakai buat ongkos pulang...
Belum tentu cukup buat biaya rumah sakit.
Belum lagi obat.
Belum lagi kebutuhan sehari-hari.
Angela mengembuskan napas panjang.
Dadanya makin sesak.
"Aku harus pinjam ke siapa..."
Nama Maya sempat muncul di pikirannya.
Tapi langsung dia coret.
"Maya juga anak kos."
"Nggak mungkin punya uang sebanyak itu."
Lalu...
Tanpa sadar...
Wajah Raymond muncul di benaknya.
Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak..."
"Aku nggak bisa terus nyusahin dia."
Dia menggenggam ponselnya erat.
"Nggak boleh."
Tepat saat itu...
Ting!
Ponselnya berbunyi.
Layar menyala.
Raymond
«Udah sampai rumah?»
Angela menatap layar itu cukup lama.
Biasanya...
Dia bakal langsung balas.
Tapi sekarang...
Jarinya terasa berat.
Dia nggak tahu harus jawab apa.
Beberapa menit berlalu.
Pesan itu masih belum dibalas.
Di sisi lain.
Raymond baru aja selesai mandi.
Rambutnya masih setengah basah.
Dia melirik ponselnya di atas meja.
Belum ada balasan dari Angela.
Raymond mengernyit.
"Aneh."
Biasanya Angela nggak pernah selama ini membalas pesannya.
Beberapa detik kemudian...
Ponselnya kembali diambil.
«Angela?»
Masih centang dua.
Tapi tetap nggak ada jawaban.
Raymond mulai merasa nggak enak.
Dia langsung mengambil kunci mobil yang ada di meja.
Saat itu juga, Raina baru turun dari lantai atas sambil makan keripik.
"Lho?"
"Kak, mau ke mana?"
Raymond tetap berjalan ke arah pintu.
"Keluar bentar."
"Malam-malam?"
"Hm."
Raina mengernyit.
"Nyari Kak Angela, ya?"
Raymond berhenti sebentar.
"Iya."
Raina langsung nyengir tipis.
"Nah, feeling aku bener."
"Tapi..."
Senyumnya perlahan menghilang saat melihat ekspresi kakaknya.
"Kak..."
"Kenapa?"
"Perasaan Kakak kok serius banget?"
Raymond menatap layar ponselnya sekali lagi.
"Dia belum balas."
"Cuma gara-gara itu?"
"Bukan."
"Terus?"
Raymond menarik napas pelan.
"Perasaan aku nggak enak."
Ucapan itu bikin Raina ikut terdiam.
Selama ini...
Insting Raymond hampir nggak pernah meleset.
Kalau dia bilang firasatnya buruk...
Biasanya memang ada sesuatu yang terjadi.
Raina mengangguk pelan.
"Hati-hati di jalan, Kak."
"Iya."
Raymond langsung masuk ke mobil.
Mesin mobil menyala.
Sorot lampunya memecah gelapnya malam.
Tanpa membuang waktu sedetik pun...
Dia melajukan mobil menuju kontrakan Angela.
Sementara itu...
Angela masih duduk memeluk lututnya di teras.
Air matanya belum juga berhenti.
Dia sama sekali nggak tahu...
Bahwa seseorang sedang melaju menembus malam...
Hanya karena khawatir padanya.
Suasana kontrakan malam itu terasa sunyi.
Hanya suara jangkrik dan angin malam yang sesekali berembus pelan.
Angela masih duduk di teras.
Matanya sembab.
Surat dari kampung itu masih dia genggam erat.
Beberapa menit kemudian...
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kontrakan.
Ckiiit...
Angela refleks mengangkat kepala.
Begitu melihat siapa yang turun dari mobil, dia langsung mengusap cepat sisa air matanya.
"Ray..."
Raymond menutup pintu mobil, lalu berjalan menghampiri.
Langkahnya tenang seperti biasa.
Tapi sorot matanya penuh rasa khawatir.
Dia berhenti tepat di depan Angela.
"Kamu nangis."
Bukan pertanyaan.
Tapi pernyataan.
Angela buru-buru memalingkan wajah.
"Nggak..."
"Bohong."
Angela tersenyum hambar.
"Kok tahu?"
"Mata kamu merah."
Angela langsung terdiam.
Raymond memang selalu peka terhadap hal-hal kecil tentang dirinya.
Raymond ikut duduk di kursi teras, menyisakan sedikit jarak.
Nggak terlalu dekat.
Tapi cukup untuk menunjukkan kalau dia ada di sana.
"Ada apa?" Angela menggigit bibirnya.
"Nggak apa-apa." Raymond menghela napas pelan.
"Angela."
"Hm?"
"Lihat aku." Angela menggeleng pelan.
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Nanti aku nangis lagi." Raymond terdiam beberapa detik.
Lalu, dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, dia berkata,
"Nangis juga nggak apa-apa."
Kalimat sederhana itu...
Justru bikin benteng yang Angela bangun sejak tadi runtuh begitu aja.
Air matanya kembali jatuh.
Maaf..." ucapnya lirih sambil menutup wajah.
"Aku... aku cuma..."
Suaranya tercekat.
Raymond nggak memotong.
Dia membiarkan Angela meluapkan emosinya lebih dulu. Beberapa saat kemudian, Angela menyerahkan surat yang sejak tadi dia genggam.
Raymond menerimanya.
Tatapannya membaca setiap baris isi surat itu. Rahangnya perlahan mengeras.
"Ibu kamu sakit..." Angela mengangguk pelan.
"Pak RT baru ngirim surat hari ini, Ibu sengaja nyembunyiin semuanya, sampai akhirnya kondisinya makin parah."
Raymond melipat kembali surat itu dengan hati-hati.
"Kapan kamu mau pulang?" Angela menunduk.
"Besok pagi."
"Kenapa besok?" Angela menarik napas panjang.
"Karena..." Dia tersenyum pahit.
"...aku lagi ngitung uang." Raymond langsung paham.
"Nggak cukup?"
Angela menggeleng pelan.
"Buat ongkos mungkin cukup."
"Tapi buat biaya berobat Ibu..." Kalimatnya kembali terputus. Dia menahan tangisnya sekuat tenaga.
"Aku bingung harus pinjam ke siapa."
Raymond mengeluarkan dompetnya.
Angela yang melihat itu langsung buru-buru menggeleng.
"Ray, jangan." Raymond tetap mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
"Pegang." Angela mundur selangkah.
"Nggak."
"Angela."
"Nggak bisa."
"Aku masih bisa cari cara lain." Raymond menatapnya lurus.
"Kamu mau cari cara..."
"...atau nyelametin Ibu kamu?" Angela langsung membeku. Kalimat itu menusuk tepat ke hatinya.
"Aku..." Raymond menyodorkan kartu itu sekali lagi.
"Anggap pinjaman."
"Nanti kalau udah mampu..."
"...baru balikin."
Angela masih ragu.
"Tapi jumlahnya pasti besar."
"Nggak usah dipikirin."
"Aku nggak enak."
Raymond mengembuskan napas pelan.
"Angela."
"Hm?"
"Aku nggak lagi nolong orang lain."
"..."
"...aku lagi nolong orang yang penting buat aku."
Deg.
Angela langsung mengangkat kepalanya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya...
Angela melihat dengan jelas kesungguhan di mata Raymond.
Bukan rasa kasihan.
Bukan sekadar simpati.
Tapi ketulusan.
Air mata Angela kembali mengalir.
Kali ini bukan karena putus asa.
Melainkan karena merasa...
Ada seseorang yang benar-benar berdiri di sisinya.
Dengan tangan gemetar, Angela akhirnya menerima kartu itu.
"Ray..."
"Makasih."
Raymond mengangguk pelan.
"Besok aku anter kamu pulang kampung."
Angela langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah."
"Kenapa?"
"Jauh."
"Nggak masalah."
"Kamu sibuk."
"Aku bisa atur."
Angela masih ingin menolak.
Tapi sebelum sempat membuka mulut...
Raymond lebih dulu berkata,
"Untuk kali ini..."
"...jangan nolak aku lagi."
Angela hanya bisa menunduk.
Lalu mengangguk pelan.
"...Iya."
Di balik jendela rumah depan, Bu Sari memperhatikan semuanya sambil tersenyum haru.
"Semoga..."
"...anak itu benar-benar jadi jodoh Angela."
Malam itu...
Untuk pertama kalinya sejak menerima surat dari kampung...
Angela merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
****
Malam makin larut.
Angin berembus pelan, bikin daun-daun di halaman kontrakan bergesekan pelan.
Angela masih menggenggam kartu yang diberikan Raymond.
Tatapannya belum lepas dari benda itu.
"Ray..."
"Hm?"
"Aku janji bakal balikin semuanya."
Raymond tersenyum tipis.
"Aku percaya."
"Beneran?"
"Iya."
Angela mengembuskan napas pelan.
"Terima kasih..."
"Kalau kamu nggak datang malam ini..."
"...aku bener-bener nggak tahu harus gimana."
Raymond menggeleng pelan.
"Kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian."
Angela menunduk.
Jari-jarinya memainkan ujung amplop surat dari kampung.
"Aku dari kecil cuma hidup sama Ibu."
"Ibu kerja apa aja biar aku bisa sekolah."
"Kadang pagi ke sawah..."
"Siangnya bantu tetangga bikin kerupuk."
"Malamnya masih sempat jahit baju."
Suara Angela mulai bergetar.
"Padahal badannya sering sakit."
"Aku pernah nyuruh Ibu berhenti kerja."
"Tapi beliau malah bilang..."
Angela tersenyum pahit.
«'Kalau Ibu berhenti, nanti anak Ibu kuliahnya pakai uang siapa?'»
Seketika suasana jadi hening.
Raymond mengepalkan tangan di atas lututnya. Dia bisa ngebayangin seberapa besar pengorbanan ibu Angela.
Pantas aja...
Angela selalu hidup hemat.
Nggak pernah neko-neko. Bahkan makan di kantin pun selalu pilih menu paling murah.
"Makanya..." lanjut Angela lirih.
"Aku harus cepat lulus."
"Biar Ibu nggak capek lagi." Raymond menatap Angela cukup lama.
"Kamu pasti bisa." Angela mengangkat kepala.
"Hm?"
"Kamu bakal lulus."
"Terus?"
"Kamu bakal bikin Ibu bangga." Senyum kecil muncul di bibir Angela.
"Aamiin."
Tiba-tiba...
Perut Angela berbunyi.
"Kruuuk..."
Angela langsung membeku.
Wajahnya berubah merah seketika.
"Ya Allah..."
Refleks dia menutup perutnya sendiri.
Raymond menatapnya.
"Kamu belum makan malam?"
Angela nyengir canggung.
"Hehe..."
"Tadi nggak kepikiran."
Raymond langsung berdiri.
"Ayo."
Angela ikut berdiri.
"Hah?"
"Makan."
"Nggak usah."
"Kamu lapar."
"Nanti aja."
Raymond menatap Angela datar.
"Angela."
"Hm?"
"Perut kamu udah jawab duluan."
Angela langsung menutup wajah sambil mengerang pelan.
"Ih... malu banget."
Raymond hampir tersenyum lagi.
"Habis makan, baru mikirin yang lain."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi."
Angela mengembuskan napas pasrah.
"Iya deh..."
Lima belas menit kemudian.
Mereka berhenti di sebuah warung makan sederhana yang masih buka.
Pemilik warung langsung menyambut ramah.
"Silakan, Dek."
Angela duduk pelan.
Tatapannya menyapu menu yang ditempel di dinding.
Diam-diam dia memilih menu yang paling murah.
Raymond yang duduk di depannya langsung sadar.
"Kak."
"Iya, Mas?"
"Dua nasi goreng spesial."
Angela buru-buru menoleh.
"Eh, jangan..."
Raymond ikut memandangnya.
"Kenapa?"
"Aku mau yang biasa aja."
"Kenapa?"
"Yang spesial mahal."
Raymond mengembuskan napas pelan.
"Lagi-lagi mikirin harga."
Angela nyengir kecil.
"Kan harus hemat."
Raymond menoleh ke pemilik warung.
"Sekalian tambah dua es teh."
"Siap."
Angela mendesah.
"Ray..."
"Hm?"
"Kamu jangan boros gara-gara aku."
Raymond menyandarkan punggung ke kursi.
"Bukan boros."
"Terus?"
"Investasi."
Angela mengernyit.
"Investasi?"
"Iya."
"Investasi apa?"
Raymond menjawab tanpa ragu.
"Supaya besok kamu punya tenaga buat ketemu Ibu."
Angela langsung terdiam.
Dadanya kembali terasa hangat.
Cowok ini...
Nggak pernah pintar merangkai kata-kata manis.
Tapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya...
Selalu berhasil menyentuh hati Angela.
Di sudut warung, pemilik warung sampai senyum-senyum sendiri sambil berbisik ke istrinya.
"Itu pasangan muda lucu juga, ya."
"Iya. Cowoknya kelihatan dingin, tapi perhatian banget." Angela yang nggak sengaja dengar langsung batuk kecil.
"Ehem..." Pipinya kembali memerah, Sedangkan Raymond, masih tetap tenang, seolah nggak sadar kalau mereka baru saja dikira sepasang kekasih.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y