Rana wanita teguh dan pantang menyerah dua kata yang menggambarkan kepribadiannya, dia di paksa menikah dengan Faiz yang notabenenya merupakan calon suami kakaknya.
Apa boleh buat tanpa bisa menolak dia akhirnya resmi menikah dengan Faiz. Sang mertua mengharapkan kehadiran cucu di tengah-tengah keluarga dengan cepat meminta Rana untuk hamil. Tapi di tunggu punya tunggu Rana tak kunjung hamil hingga pernikahan mereka menginjak ke-tiga bulan barulah Rana mengalami yang namanya mual-mual, tapi dia bingung dia hamil atau asam lambungnya naik menyebabkan dia mual-mual.
Ini kisah drama rumah tangga receh dari mulai sang kakak yang tega merebut suami sang adik hingga terbongkarnya rahasia besar yang di sembunyikan. Ayo silahkan mampir jika penasaran, saya penulis amatir jika ada kesalahan atau tidak nyambung antar satu konflik mohon di bimbing atau di arahkan baik-baik sekian;
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rana Vanya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31 surat persetujuan
Sampai dirumah aku cari berkas-berkas untuk mengurus pernikahan dengan Cahya setelah kudapatkan aku menuju mobilku mengendarai menuju rumah sakit. Keputusanku sudah bulat mau siapapun yang menentang aku tidak peduli dan akan gentar yang ada di pikiranku hanya Cahya Cahya dan Cahya.
Aku tinggal berkas-berkas di mobil yang aku kunci menaruhnya di bawah kursi kemudi takut ada yang mengambil.
Tok
Tok
"Ngapain kamu di sini" sinis ayah mertua saat aku baru sampai di ruang rawat Rana istriku.
"Lihat kondisi Rana ayah, Faiz mau masuk dulu ya" aku bersiap masuk tapi sebelum itu ayah mertua menghalangi pintu otomatis tidak bisa aku masuk.
"Baru datang hmm, saya sudah bilang dengan kamu kalau jika sudah bosan dengan anak saya kamu bilang dengan saya atau kembalikan dia ke rumah saya. Saya sudah curiga saat kamu pergi tanpa pamit di acara syukuran itu dan tebakan saya benar bukan kalau kamu ada masalah dengan anak saya".
"Tidak ayah Faiz tidak seperti itu_
"Faiz Faiz kamu kira saya tidak menyelidiki semua hal tentang kamu saat menikah dengan anak saya, kamu harus berpikir dua kali karena Rana itu satu-satunya anak saya sekaligus anak kesayangan saya. Kamu kaget bukan mengetahui fakta ini".
Aku terkejut bukan main kala ayah mertua bilang bahwa dia hanya memiliki satu anak yaitu Rana saja istriku. Lalu Cahya anaknya siapa dong kalau begitu.
"Saya beberkan satu fakta hanya dengan kamu. Cahya itu anak saya temukan di jalan ketika saya dan keluarga akan pergi berlibur ke kampung halaman, kamu bisa lihat kan perbedaan wajahnya dengan kami. Dia saya anggap anak kandung sendiri tapi apa balasannya dia malah pergi hampir mempermalukan kami yang notabennya orang tua angkatnya, saya kecewa sekaligus menyesal akan tingkahnya itu".
"Saya menyayangi dia, saya juga khawatir kala dia pergi dari rumah tapi apa daya saya. Sudah saya kerahkan detektif dan juga para polisi tapi hasilnya nihil, Cahya tidak tau di mana dia berada. Begitu mereka melaporkan saya bahwa Cahya kamu selamatkan dari para penculik saya sangat senang. Tapi kesenangan itu berganti saat saya mendengar bahwa kamu ingin menikahinya".
"Kamu tidak berpikir ha kalau kamu menikahinya bagaimana nasib anak saya Rana. Kamu berjanji dengannya hanya menikah sekali seumur hidup dan akan melupakan Cahya jika dia kembali tapi semua yang kamu ucapkan itu hanya sampah begitu Cahya kembali dengan kondisi menyedihkan kamu langsung berniat menikahinya. Dimana hati kamu Iz, saya kecewa dengan kamu!".
Pintu tertutup rapat meninggalkan aku di luar yang meratapi apa yang disampaikan ayah mertua tadi. Banyak orang berlalu lalang dari para penjenguk pasien serta para dokter dan suster menatapku heran kenapa aku tidak masuk saat sudah sampai di ruangan yang aku tuju biarkan saja aku tidak mau menghiraukan tatapan heran mereka.
"Ya Allah aku harus apa ini. Tak mungkin aku meninggalkan salah satu dari mereka, hamba mencintai Cahya dan juga menyayangi Rana".
"Aku harus bertemu Rana pokoknya".
"Ayah ibu dek Rana" setelah masuk aku menghampiri mereka, ayah yang bersiap mengusirku lagi tapi kali ini Rana mencegah tindakan ayah.
"Ayah ibu tolong tinggalkan Rana dengan mas Faiz. Rana mau bicara berdua saja dengannya" pinta Rana namun hampir ditolak oleh ayah.
"Kalau terjadi sesuatu dengan Rana. Rana bakalan teriak kok, ayah dan ibu tenang saja".
Ayah mengangguk dan pergi dari ruangan ini menarik pergelangan tangan ibu lembut.
"Rana mas akan bi_
"Rana tau mas, ayah sudah bilang semuanya. Mas ingin menikahi mbak Cahya kan? Silahkan Rana tidak melarang. Mana suratnya biar Rana bisa tandatangani" surat yang diminta Rana ialah surat persetujuan suami menikah lagi, ini dilakukan supaya sang istri pertama mengetahui dan menyetujui suaminya menikah lagi.
"Bawa mbak Cahya ke rumah seperti kata mas. Kamar di rumah satu lagi kosong mas suruh mbak Cahya menempati kamar itu, kalau mbak gak mau mbak bisa tukar kamar dengan Rana".
"Rana gak keberatan kok" lanjut Rana lalu berbaring bersiap istirahat total.
"Mas ambil dulu saja berkas yang mas simpan di sana. Nanti kalau sudah sampai bangunkan Rana saja".
Aku tak bisa berkata-kata lagi kala Rana memintaku mengambil berkas yang ada di dalam mobil. Dalam pikiranku mengapa dia berubah begitu cepat, kemarin saat aku utarakan niatku untuk menikah dengan Cahya dia malah nangis sekarang saat aku datang lagi berniat menjenguknya niatnya sudah berubah total. Pun dengan ekspresi wajah yang membuat panas dingin, apa dia sangat kecewa sampai-sampai nada suaranya berubah.
"Ini dek" aku sodorkan berkas yang aku ambil lalu memberikannya pulpen agar bisa menandatangani surat itu.
"Sudah".
"Setelah Rana melahirkan mas bisa menceraikan Rana. Rana tak masalah kalau mas berniat itu" ungkap Rana tanpa memandangku.
Deg
Rana kok bisa tau niatku akan menceraikan dia saat sudah melahirkan jangan-jangan dia cenayang yang bisa menebak pikiran dan isi hati seseorang.
"Mas menganggap Rana cuma sebatas adik dari dulu kan?. Mas meminta Rana dulu untuk menjadi pengganti mbak Cahya pasti karena terpaksa dan malu kalau sempat membatalkan pernikahannya, makanya mas dengan terpaksa menyuruh Rana".
"Mas pergi temuin mbak Cahya gih. Rana mau istirahat dulu".
Secara halus dia mengusirku tapi aku paham betul karakternya, dia ingin sendiri saat terjadi masalah apapun itu. Dia tak mau membaginya dengan orang terdekatnya karena dia tidak percaya dengan mereka.
"Mas pergi dulu, handphone mas gak mas matikan. Kalau kamu perlu apapun bisa telpon mas, mas akan siap sedia".
Aku tinggalkan dia sendiri seperti permintaannya untuk menemui Cahya, tapi sebelum itu aku ambil berkas-berkas yang sudah selesai dia tandatangani.
"Seperti apa kata Rana Faiz, jika Rana sudah melahirkan lepaskan dia. Jangan temui lagi dia dan bayinya, kamu menyakiti hati anak saya dan anak yang dia kandung. Belum lahir saja kamu sudah berniat menceraikan ibunya dimana hati nurani kamu Faiz. Begitu tergila-gila nya kamu pada Cahya sampai lupa memiliki istri. Kamu menyelamatkan wanita hamil tapi kamu juga menelantarkan istrimu yang lagi hamil juga demi wanita hamil yang sialnya kakaknya".
"Berjanji dengan saya hanya untuk kali ini. Ceraikan Rana saat sudah melahirkan itu permintaan saya dan Rana" aku setujui permintaan ayah mertua dan Rana biar saja toh aku mencintai Cahya bukan Rana. Sebut saja aku egois tapi inilah Faiz sosok yang buta akan segalanya karena rasa cinta. Aku akan mengorbankan apapun demi untuk bersama sang pujaan hati yaitu Cahya Putri Kusuma. Dan akan aku cari asal usul Cahya serta dimana keberadaan orang tua kandungnya.
Dengan alasan yg tepat biar tetap di rumah saja, biarkan saja mereka kl mau jalan-jalan
Suami yg menurut agama tak pantas untuk di pertahankan lebih baik di hempaskan saja, suami menikah saudara angkat dr istri dlm kondisi hamil itu tak sah
Semoga bisa di ambil hikmahnya oleh setiap pembaca ☺️
apalagi suami jg masa bodoh dg dia dn anaknya.
ayahnya jg dah nyuruh pulang..masih ngeyel mau bertahan.
laki2 kek gitu ngapain di pertahanin