Dipertemukan secara tidak sengaja dengan mantan suaminya yang dulu pernah disia-siakan lewat anaknya yang ditolong karena masuk got.
Lalu apa yang akan terjadi setelah tragedi masuk got itu? Akankah ada cinta di hati kedua mantan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kamu Tidak Ada Apa-apanya Dibanding Dia
Jam 15.30 sore, Marisa tiba di rumah. Tidak ada teriakan sambutan dari Cila yang biasanya selalu berteriak menyambut kepulangannya. Marisa curiga kalau Cila sedang tidur siang. Rupanya benar, Cila memang tidur siang. Sehabis pulang dari sekolah tadi, Cila tidur siang. Beruntung Cila memang anaknya tidak rewel, dikelon sama siapa saja mau.
"Non, Non Cila masih tidur sejak dari tidur siang tadi. Sepertinya Non Cila memang kelelahan karena hari ini di sekolahnya ada latihan untuk tampil dua minggu lagi acara perpisahan sekolah. Dan sepertinya dalam seminggu ini Non Cila akan terus latihan untuk perpisahan sekolahnya, saya kasihan Non Cila kecapaian," resah Bi Rasmi.
"Iya tidak apa-apa, Bi. Biarkan itu berjalan sewajarnya. Sebab semua temannya juga mengalami hal ini, jadi wajar kalau anak-anak kelelahan dan tidur siangnya lama. Yang penting selama Cila tidak sakit semua pasti berjalan dengan lancar," respon Marisa seraya memarkirkan motornya di emper rumah.
Marisa segera menaiki tangga dan menuju kamar, rasa lelah dan gerah kini seakan ingin segera dia guyur dengan air dingin yang segar. Marisa ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan shower air dingin.
Marisa kini sudah segar kembali dan sudah dibaju santai ala rumahan. Rasa lelahnya yang tadi ada kini hilang. Daripada bosan tidak ada kerjaan, Marisa iseng menuju lemarinya. Dia rasanya ingin melihat foto hasil pengantin yang sudah dicetak dan dikirim oleh pihak WO kemarin sore.
Marisa melihat satu persatu foto pengantin itu. Dia memang nampak cantik dengan balutan busana pengantin adat Betawi. Padahal saat itu hati Marisa lebih condong ingin menggunakan adat Sunda yang pretelannya sederhana. Karena mengikuti kemauan pihak lelaki, akhirnya busana yang dipakai adalah busana adat Betawi.
Marisa melihat satu per satu foto itu. Tidak ada yang gagal menurutnya, walaupun baju adatnya tidak sesuai hati, tapi busana pengantin adat Betawi yang dipakainya nampak membuat Marisa semakin cantik. Marisa berdecak kagum. Sampai dengan selesai melihatnya, Marisa tidak berhenti berdecak kagum.
Setelah dia merasa puas melihat foto-foto itu, Marisa berdiri dan kembali berniat menyimpan album foto pengantinnya bersama Raka di laci lemarinya sesuai letak semula.
Marisa meletakkan kembali album itu di laci lemarinya. Namun sebelum album itu tersimpan kembali di tempatnya, Marisa iseng dan merasa penasaran dengan isi di bawah tumpukan newsletter tentang properti bidang pekerjaan yang digeluti Raka sekarang. Satu per satu newsletter itu diangkatnya sampai habis ke bawah. Dan ternyata di tumpukan paling bawah, Marisa menemukan sesuatu yang berbeda dengan newsletter. Kemudian dia meraihnya perlahan.
Beberapa foto tersimpan rapi di sana. Marisa menuju atas ranjang supaya enak saat melihatnya. Lumayan banyak juga foto itu, sebab foto-foto itu disatukan dengan sebuah plastik transparan. Marisa mengeluarkan semua foto itu, kalau dihitung ada sepuluh lembar foto ukuran 5R.
Ternyata semua foto itu adalah foto-foto Raka bersama Cila dan salah satu wanita dewasa yang bisa Marisa tebak adalah almarhumah istrinya Raka. "Cantikkk," puji Marisa jujur. Foto perempuan itu benar-benar cantik , anggun, dan dewasa. Marisa sampai berdecak kagum, berulang kali dia berdecak kagum dengan kecantikan perempuan yang bernama Marsila itu.
"Pantas saja Mas Raka masih terkenang dengan almarhumah istrinya, ternyata secantik ini. Sepertinya dia baik dan penuh kelembutan. Wajar Mas Raka merasa kehilangan. Ternyata aku tidak ada apa-apanya dibanding Mamanya Cila ini," gumannya jujur dan betapa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Marsila .
"Cantik, ya?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba mengagetkannya sampai Marisa hampir tersungkur di atas kasur. Raka datang tiba-tiba dan rupanya Raka sudah pulang dari pekerjaannya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 menit.
"Mas Raka, sudah pulang, Mas?" tanya Marisa gugup seraya bangkit dari kasur dan segera memasukkan foto itu ke dalam plastik transparan tadi. Setelah semua foto sudah masuk kembali ke dalam plastik tadi, Marisa bangkit menuju lemari dan akan meletakan kembali foto itu di laci pada tumpukan paling terakhir.
"Iya, aku sudah pulang. Kamu saking fokusnya melihat foto itu sampai tidak mendengar aku pulang membuka pintu. Pasti keberadaan foto itu menyita penglihatan kamu, kan?" tuding Raka menatap punggung Marisa yang membelakanginya.
"Iya, Mas. Almarhumah Mamanya Cila sangat cantik," puji Marisa tulus.
"Benarkah, atau pujian kamu itu hanya sebuah kebohongan saja untuk menutupi rasa iri kamu pada Mamanya Cila?" tuduhnya seraya mendekat dan meraih bahu Marisa dan menghadapkannya pada Raka.
"Benar, Mas. Mamanya Cila sangat cantik. Aku tidak iri sama sekali. Ucapanku jujur," tegas Marisa dengan suara sedikit bergetar.
"Betul sekali, dia sangat cantik. Dan kamu tidak ada apa-apanya dibanding dia. Dia istri yang baik dan selalu menjaga kehormatan suami ketika dia masih hidup," ujar Raka tandas membuat Marisa benar-benar tidak bisa berkutik. Nafasnya tiba-tiba seakan tersengal dan jantungnya berdebar kencang.
Demi menyembunyikan rasa sedih atas ucapan Raka barusan, Marisa kembali membalikkan badan dan meletakkan foto itu di tempat semula.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Raka saat Marisa sudah berjingkat menjauhi lemari.
"Lelaki, lelaki mana, Mas?" heran Marisa mengerutkan keningnya.
"Lelaki yang di simpang Kencana. Kamu bisa sesumringah begitu tersenyum pada lelaki lain, sementara dengan suami sediri asem," ujarnya membuka hasil penemuannya tadi di jalan Kencana.
"Dia hanya teman kerja, Mas. Dia datang saat motorku tiba-tiba mogok. Aku tidak memintanya untuk datang tapi dia yang menemukanku dengan kondisi motorku yang mogok," jelas Marisa jujur.
"Teman atau mantan, kok bisa tersenyum dengan semanis itu. Aku bisa membedakan mana teman biasa dan teman dekat."
"Sumpah, Mas, dia hanya teman di kantor aku. Aku tadi tersenyum hanya karena membalas kebaikannya yang berhasil membuat motorku kembali menyala," jujur Marisa dengan wajah yang sudah memerah.
"Kamu ini sudah menikah meskipun pernikahan ini bukan kemauan aku. Jangan karena permintaan Cila, lantas kamu boleh tebar-tebar senyuman pada laki-laki lain saking kesepiannya karena tidak ada perhatian dan belaian dariku. Kamu di sini sudah tidak bisa menjaga harga diri dan kehormatan suami kamu. Lama-lama kamu akan kembali liar seperti kamu yang dulu."
Deggg, jantung Marisa berdegup kencang seakan baru saja mendapatkan hantaman batu karang. Sakit dan menyesakkan. Lagi-lagi Raka mengaitkan dengan masa lalu. Marisa sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain segera berjingkat dari dalam kamar.
Marisa merasa sangat sedih dan terhina dengan ucapan Raka tadi. Sungguh Raka sangat keterlaluan, padahal sekalipun di luaran sana dia tidak pernah tebar-tebar pesona atau senyuman ke teman laki-laki manapun, senyuman pada Riki tadi hanyalah senyuman rasa terima kasih.
Marisa menuju taman belakang dan menangis di sana, menumpahkan kekecewaan atas tuduhan Raka barusan.
tak gibengae