Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 31
+
+
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH?" Kay memegang tangan Lily yang tertancap pisau. Ketika pisau itu akan di tusukkan, Lily melindungi Kay dengan tangannya sendiri hingga menjadi korban.
Lily terdiam melihat tangan kirinya yang masih tertancap pisau, lalu beralih pada Kay yang berusaha menghentikan darah yang mengalir. Jika pisau itu di cabut Kay yakin jika darahnya akan semakin banyak keluar.
"Kenapa kau bertindak bodoh seperti ini hah." Kay menatap Lily dengan tajam.
"A-aku." Lily kehilangan kata-katanya karena pandangannya tiba-tiba memberat membuat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan jika Kay tidak menahannya.
"Jangan dulu tutup mata." Kay menggendong Lily dan memasukkannya ke mobil menuju rumah sakit terdekat.
"Kay.. ibumu." Ujar Lily dengan lirih di ambang kesadarannya.
"Dia baik-baik saja." Meskipun terlihat enggan, Kay membalas ucapannya.
"Syukurlah." Dan setelahnya mata Lily tertutup sempurna membuat Kay menambah lagi kecepatan mobilnya.
Saat di pesawat tadi, Kay sempat kehilangan komunikasi dengan Lily membuatnya mengamuk dan hampir mengacaukan seisi pesawat jika saja Akira tidak menenangkannya. Entah kemana perginya sifat tenang Kay karena tadi dia seperti orang yang kesetanan.
Di tengah-tengah ketegangan, anak buahnya mengatakan jika Lily bisa di hubungi lagi membuat Kay dengan segera bicara padanya meskipun butuh beberapa waktu untuk Lily menjawabnya.
Hal pertama yang Kay dengar adalah tangisan menyayat dari Lily membuatnya mengeraskan rahangnya.
"Jillian, ini aku."
"K-kay ini kau."
"Ya sayang."
"Kay.. aku takut dia bilang aku- bunuhmu, j-jika tidak ibu." Meskipun ucapan Lily terbata-bata dan sulit dimengerti orang lain tapi Kay langsung menangkap apa maksudnya.
"Stt, tenang baby." Kay memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dengan dalam.
"Aku harus ba-bagimana."
"Kau turuti saja perintahnya untuk membunuhku." Orang-orang di belakangnya yang mendengar ucapan Kay hendak protes tapi Kay mengangkat tangannya tanpa dia tidak ingin ada yang ikut bicara.
"Tidak! aku tidak bisa melakukannya." Tangis Lily kembali pecah membuat Kay mengepalkan tangannya.
"Kau harus percaya padaku." Kay bicara dengan penuh penekanan.
"Tidak, aku tidak mau."
"JILLIAN!" Tangis Lily langsung berhenti dengan jantung yang berdegup kencang.
"Turuti saja perintahku okey, hanya pilihan."
"I-iya."
"Kau haru- hei Lily, Jillian, SIAL!" Kay membanting handphone nya ke depan ketika sambungannya terputus lagi.
"Apa maksudmu Kay?" Tanya Akira seraya membuka kancing kemeja lengannya.
"Brion tahu ibuku." Kay menunduk dengan tangan yang bertumpu pada lutut.
"Bagaimana bisa?"
"Sepertinya dia berhubungan dengan Dimitri." Kay mendongak menatap Akira yang berdiri di depannya.
"Gila, dia sudah sejauh itu."
"Ya dan aku bisa lebih jauh dari itu." Kay menyeringai lalu tak lama kemudian tersenyum membuat yang melihatnya bergidik ngeri. "Jika dia bisa berbuat licik aku akan lebih dari itu." Kay menatap Akira dengan dalam.
"Aku sudah tahu apa yang ada di kepalamu." Akira memutar bola matanya malas.
"Kau memang di takdirkan menjadi partner ku bung, setelah sekian lama dan kini saatnya untuk bermain." Kay meregangkan ototnya yang terasa kaku.
Getaran dari ponselnya membuat Kay segera membukanya, "Brion." Kay berdecih melihatnya sudah menebak jika laki-laki itu akan menghubunginya.
"Cepat buka." Ujar Akira dengan tidak sabar.
"Waktu yang tepat bukan?" Tanya Kay setelah membaca apa isi pesan itu lalu menunjukkannya pada Akira yang langsung mengumpat.
"Wow tenang Akira."
"Brengsek itu masih berani untuk bermain-main setelah apa yang di lakukannya." Akira tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Meskipun dia belum yakin apakah dia Brion yang asli atau bukan.
"Ya tapi aku masih ragu jika dia bukan Brion asli."
"Entahlah mau itu asli atau tidak aku tetap akan membunuhnya." Pandangan Akira berapi-api membuat laki-laki itu sama terlihat menyeramkannya dengan Kay. Akira tidak terima jika pembunuh wanitanya masih berkeliaran dengan bebas. Tidak, dia tidak akan membiarkannya.
"Ya, aku memberikan kesempatannya untuk kau. Tapi tentu setelah aku bermain-main dengannya." Kay mengerti dengan kondisi Akira karena dia juga sama-sama kehilangan orang tersayangnya oleh laki-laki itu dan Kay tidak ingin hal itu terulang lagi.
"Ya ya ya aku tahu itu." Akira terlihat berbicara pada bawahannya.
"Aku yang akan mengurusnya, kau fokus pada Jillian." Ujar Akira setelah bawahannya pergi.
"Tentu saja, mataku hanya tertuju padanya." Kay lagi-lagi tersenyum membuat Akira menatapnya jengah.
"Berhenti tersenyum seperti itu, kau terlihat menakutkan."
Saat pesawat tiba di Napoli Internasional Airport Kay dan Akira harus berpisah karena Kay akan langsung menuju tempat dimana Lily berada sedangkan Akira akan mengurus kepindahan ibunya yang sudah di siapkan.
Kay segera memasuki mobil yang sudah di siapkan, mengikuti kemana arah jalan dimana Lily berada membuat Kay ingin cepat-cepat menemuinya. Jalanan ini sangat sepi dan juga menakutkan, pasti Lily nya ketakutan saat ini.
Kay memicingkan matanya ketika dari jarak kurang lebih seratus meter dia melihat ada seorang wanita yang berjalan dengan terseok-seok membuatnya segera mendekatinya.
Saat tinggal jarak sedikit lagi, Kay menghentikan mobilnya dan berlari keluar dan langsung membawa Lily kedalam pelukannya.
Tangis Lily pecah ketika berada di pelukannya membuat Kay segera menanyakan apakah ada yang terluka. Belum sempat Kay menjelaskan apa rencananya, Lily terlebih dahulu bertindak dengan melukai tangannya membuat pikiran Kay sedikit kalut. Apalagi ketika Lily pingsan.
Sepanjang jalan Kay tidak berhenti menatap Lily dan sesekali mengelus kepalanya yang terasa dingin tapi mengeluarkan banyak keringat. Melihat kearah tangannya di mana pisau masih tertancap bahkan hampir tembus membuat Kay menyalahkan dirinya sendiri.
"Seandainya kau tidak bertindak seperti itu."
Tiba di rumah sakit, dengan cepat Kay mengendong Lily. Dokter langsung menanganinya. Kay menunggu di depan dengan menyandarkan tubuhnya di dinding lalu melihat jam yang melingkar di tangannya kemudian pada pintu yang ada didepannya dimana di dalamnya Lily sedang di tangani.
Beberapa jam berlalu akhirnya pintu di depannya terbuka membuat Kay menegakkan badannya dan langsung menanyakan bagaimana kondisi Lily.
"Saat ini nona Jillian belum sadar. Untungnya masa kritis sudah terlewati dan kami akan memindahkannya ke ruang recovery."
"Langsung tempatkan saja keruangan VVIP." Ujar Kay dengan penuh penekanan.
"Tapi tuan-"
"Aku tidak mau tahu kau harus melakukannya."
"Baik."
"Awasi setiap waktu aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Dokter itu berlalu dari hadapannya membuat Kay menatapnya sekilas.
Pandangan Kay tidak lepas menatap Lily yang memejamkan matanya di atas ranjang dengan damai,yang akan di bawa keruangan selanjutnya.
"Bagaimana." Kay menghubungi Akira setelah memastikan Lily masuk kedalam ruangannya.
"Bagus, sebentar lagi aku kesana." Kay masuk kedalam dan mendekati ranjang dimana Lily berada.
Kay menatap Lily yang asik memejamkan matanya dengan pandangan rumit. Mendekatkan wajahnya, Kay mencium kening Lily sedikit lama.
"Aku harus menuntaskannya sayang, jadi tunggu lah jangan dulu sadar sebelum aku kembali." Kay keluar dari ruangan dan mendapati sekitar enam orang laki-laki berdiri di depannya.
"Kalian jaga dia, awasi semuanya jangan lengah dan tetap waspada." Ujar Kay membuat keenam orang itu mengangguk serempak.
Saat melewati lorong rumah sakit Kay berpapasan dengan seorang laki-laki yang terlihat mencurigakan. Kay akan meneruskan langkahnya tapi tiba-tiba keningnya mengernyit dan membuatnya berhenti. Lalu melihat laki-laki itu yang sudah jauh darinya.
"Kau mendatangi mautmu sendiri rupanya."
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
sukses otor, dan semangat 💪😘