Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Darah di Atas Puing
Asap tebal yang berbau hangus perlahan mengubur sisa-sisa kemegahan aula utama benteng timur. Di tengah reruntuhan pilar yang membara, Hana masih berdiri dengan kokoh. Pendar cahaya suci dari tusuk konde emas di genggamannya bergetar hebat, menahan hantaman hawa panas yang terus menguar dari tubuh Kai di belakangnya. Keringat dingin membasahi pelipis gadis suci itu, namun sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun menatap tiga wanita yang kini mengepung mereka.
Kai terengah-engah, merasakan gesekan menyakitkan antara amarah naga yang menuntut darah dan kesadarannya yang mulai terkikis. Tatapannya tertuju pada punggung Hana. Kebenciannya pada klan selatan membuat hatinya terus berbisik bahwa ini adalah bagian dari sandiwara.
"Menyingkirlah, Hana," geram Kai, suaranya berat dan bergetar hebat. "Jangan berlagak menjadi penyelamatku setelah apa yang klanmu lakukan pada perbatasan ini. Kau hanya ingin aku berutang nyawa padamu, bukan?"
Hana tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang mendengar tuduhan itu. "Jika aku menginginkan kematianmu atau darah nagamu, Kai, aku tidak akan berdiri di sini menjadi perisaimu! Aku bisa saja membiarkan Mai dan Rei mengoyakmu sejak tadi!"
Mai melangkah maju dengan tawa kecil yang mengejek, ujung belatinya sengaja digoreskan pada permukaan puing batu hingga memercikkan api. "Dengar itu, Kai? Adik seperguruanku yang manis ini sedang mencoba menjadi pahlawan. Sayang sekali, sumpah darah perguruan kita tidak mengizinkan adanya pengkhianat, Hana."
"Aku tidak mengkhianati perguruan, Mai!" balas Hana tajam, suaranya meninggi memecah gemuruh api. "Kau yang menodai sumpah kita sejak kau bersekutu dengan Rei demi kekuasaan kotor ini!"
Rei, yang sejak tadi mengamati dengan pandangan dingin, akhirnya mengangkat tangan kanannya. Isyarat itu membuat beberapa bayangan prajurit penjaga benteng yang telah ia batasi kesetiaannya mulai muncul dari balik reruntuhan pintu aula, mengepung posisi Kai dan Hana dengan tombak terhunus.
"Sudah cukup dramanya," ucap Rei dingin, suaranya datar tanpa emosi. "Hana, kau telah memilih sisi yang salah. Dan kau, Yuki... jangan biarkan emosimu membuat makananmu lepas."
Yuki, yang manik mata vertikalnya masih berkilat keemasan ganjil, menjulurkan jemarinya yang pucat. Sulur-sulur es yang lebih pekat dan tajam mirip jarum raksasa mulai terbentuk di sekeliling tubuhnya, melayang di udara, siap melesat untuk melumpuhkan Kai. "Aku sudah menunggumu terlalu lama, Kai. Jangan harap gadis suci ini bisa membawamu pergi dariku."
Melihat kepungan yang kian rapat, Hana menarik napas dalam-dalam. Dengan satu gerakan cepat, ia menggores telapak tangan kirinya sendiri menggunakan ujung tajam tusuk konde emasnya. Darah segar berwarna merah terang menetes, membasahi batu pusaka di genggamannya.
WUSH!
Sebuah lingkaran pelindung berwarna keemasan murni meledak dari pijakan kaki Hana, meluas dengan cepat dan menghantam mundur jarum-jarum es milik Yuki serta para prajurit tombak Rei. Kekuatan spiritual yang murni itu membuat Mai terpaksa melompat mundur demi melindungi wajahnya dari pendar cahaya yang menyengat.
Hana jatuh berlutut, wajahnya kian pucat karena energinya terkuras habis untuk mempertahankan segel pelindung tersebut. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk menoleh ke belakang, menatap langsung ke dalam sepasang mata merah darah Kai.
"Aku tidak peduli jika kau membenciku atau klan keluargaku, Kai," bisik Hana, suaranya melemah namun sarat akan ketulusan yang tak bisa dibantah. "Tapi demi dewa yang mendekap langit... malam ini aku bertaruh nyawa bukan untuk klan selatan. Aku di sini untukmu."
Kai terpaku. Untuk pertama kalinya, hawa membara di dalam dadanya mendadak surut, bukan karena es milik Yuki, melainkan karena getaran ketulusan dari darah yang menetes di tangan Hana. Di balik kabut kecurigaan yang selama ini mengurungnya, Kai menyadari satu hal: di tengah kepungan para wanita yang menginginkan kehancurannya, gadis yang paling ia curigai justru menjadi satu-satunya orang yang siap mati demi melindunginya.