NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusup

Setelah semua tamu dan kerabat berpamitan, Bellatrix berjalan perlahan menuju kamar pribadinya di kediaman istana. Begitu pintu tertutup rapat dan ia yakin tak ada siapa pun yang melihat, ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Sebuah cincin perak sederhana yang melingkar di jari manisnya berkilau samar, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut. Tanpa kata-kata, ia memusatkan pikirannya, dan seketika itu juga pintu masuk ke ruang penyimpanan pribadinya terbuka lebar di hadapannya.

Bellatrix tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu, di mana ia menyimpan segala stok perawatan tubuh dari dunia modern.

Ia langsung berjalan menuju satu sudut ruangan yang tertata rapi berisi kotak-kotak berlabel rapi. Di sana tersimpan persediaan barang-barang perawatannya. Ia mengambil beberapa botol berisi pembersih wajah, toner, pelembap, hingga serum khusus, lalu tak lupa menumpuk beberapa lembar masker wajah tipis yang beraroma menenangkan.

“Pas sekali, kulitku butuh istirahat setelah hari yang melelahkan ini,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Setelah mengambil kebutuhan perawatan wajahnya, ia beralih ke lemari khusus di sudut lain. Di sana tersimpan pakaian yang biasa ia pakai dulu, yang menurutnya paling nyaman untuk beristirahat. Dengan gerakan cepat, ia meraih sepasang celana pendek berbahan lembut dan sebuah tanktop tanpa tali yang pas di tubuhnya.

Ia mengambil semua barang yang telah disiapkannya, lalu melangkah keluar dari ruang cincin. Seketika cahaya itu lenyap, dan ia kembali berdiri di tengah kamarnya yang luas.

Baru saja ia meletakkan barang-barang itu di meja samping tempat tidur dan hendak duduk di tepi ranjang, terdengar ketukan pelan di pintu.

“Permisi, Nona Bellatrix? Bolehkah saya masuk?”

Suara itu terdengar lembut namun tegas. Bellatrix tersenyum dan berteriak riang: “Masuk saja, Sheren!”

Pintu pun terbuka perlahan, dan masuklah Sheren pelayan pribadi yang paling setia dan paling lama melayaninya. Sheren berhenti sejenak di ambang pintu, kemudian Sheren segera menunduk hormat dan melangkah mendekat.

“Nona… Maaf mengganggu waktu istirahat Nona. Saya hanya ingin memastikan apakah Nona membutuhkan bantuan untuk mandi atau menyiapkan sesuatu?” tanya Sheren sopan, meski matanya tak bisa menahan rasa penasaran melihat beberapa barang didekat Bellatrix.

Bellatrix tertawa renyah, lalu melambaikan tangan dengan santai. “Tidak perlu, Sheren. Kamu bisa istirahat lebih dulu. Aku hanya ingin merawat diriku sebentar dengan caraku sendiri malam ini. Lihat, aku sudah membawa semua yang kubutuhkan.” Ia menunjuk tumpukan botol dan masker di meja.

Sheren tersenyum lembut, mengangguk paham. “Baik, Nona. Jika Nona membutuhkan apa pun, panggil saja saya. Saya berjaga di depan pintu.”

“Terima kasih, Sheren. Selamat beristirahat,” jawab Bellatrix dengan ramah.

Setelah mengusir Sheren dengan senyum ramah, Bellatrix segera melangkah menuju kamar mandi pribadi yang terhubung dengan kamarnya. Ia melepaskan sisa-sisa gaun berat yang sempat menyiksanya sepanjang malam, lalu membiarkan air hangat menyiram seluruh tubuhnya perlahan.

Rasa lelah, rasa sakit yang sempat ada di kepala, serta ketegangan yang menumpuk di bahu perlahan luruh terbawa aliran air.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, ia kembali ke tempat ia meletakkan barang-barang dari cincin ruang. Ia mengenakan celana pendek katun yang longgar dan lembut, serta tanktop tanpa tali yang bentuknya pas, hanya menutupi bagian dadanya namun membiarkan perutnya yang rata terlihat jelas. Kain itu terasa sangat ringan, tidak menekan kulit sama sekali, dan membuatnya bisa bernapas dengan lega sungguh perasaan yang sangat berbeda dari korset ketat serta gaun berat yang biasanya harus ia kenakan demi aturan istana.

Ia kemudian mengambil satu lembar sheetmask yang beraroma melati segar, membukanya dengan hati-hati, lalu membentangkannya di atas wajahnya.

Menutupi seluruh area wajah dari dahi hingga dagu, menyisakan lubang kecil untuk hidung dan bibir. Sensasi dingin dan lembap dari masker itu langsung terasa menenangkan, meresap ke dalam pori-pori kulitnya yang sempat tegang seharian.

Setelah itu, ia meraih sepasang headset berwarna hitam yang juga ia simpan di cincin ruang lalu menyelipkannya ke kedua telinganya. Ia menekan tombol kecil di sampingnya, dan seketika alunan musik instrumen yang lembut dan menenun memenuhi telinganya, memisahkannya sejenak dari dunia luar.

Bellatrix kemudian naik ke atas ranjangnya yang empuk, menarik selimut sebatas pinggang, lalu berbaring telentang sambil memejamkan mata. Ia begitu rileks, begitu tenang, hingga ia sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar, maupun suara kunci pintu yang terbuka perlahan dari sisi lain.

Thiago berdiri sejenak di ambang pintu. Ia sebenarnya belum bisa tenang sepenuhnya setelah kejadian mengerikan di lorong tadi. Rasa cemas yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya terus menggerogoti hatinya, membuatnya tak bisa diam dan akhirnya memutuskan untuk memastikan keadaan tunangannya sendiri. Ia berjalan tanpa suara, membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa, dan masuk ke dalam kamar yang remang itu.

Namun baru saja ia melangkah dua langkah ke dalam, langkahnya terhenti mendadak, dan seluruh tubuhnya menegang kaku.

Di atas ranjang, terbaring sosok yang sama sekali tidak ia kenal. Sosok itu mengenakan pakaian yang terlihat aneh, terlalu minim, dan asing di matanya. Perutnya yang rata terlihat jelas, bahunya terbuka lebar, dan wajahnya tertutup oleh lapisan putih tipis yang mengerikan, seolah-olah wajah itu tidak ada atau telah tertutup kulit mati. Dalam kegelapan dan cahaya remang lampu minyak di sudut ruangan, Thiago sempat berpikir bahwa ada orang asing yang menyusup masuk ke kamar Bellatrix dan orang yang mungkin berniat jahat.

Naluri perlindungan dan kemarahan langsung meledak di dadanya. Tanpa berpikir panjang, dengan gerakan yang secepat kilat dan tak bersuara, ia melompat mendekat ke arah ranjang.

Tangannya yang besar dan kuat terulur, langsung mencengkeram leher orang yang berbaring itu dengan tegas namun belum sepenuhnya menekan, berniat menahan gerakan sosok asing itu sebelum sempat melawan atau berteriak.

Tindakan kasar itu membuat Bellatrix tersentak kaget dan matanya langsung terbuka lebar. Ia melepas headsetnya dengan kasar, menatap tajam ke arah sosok yang menindihnya, lalu berteriak dengan suara yang masih serak namun penuh kemarahan:

“Kamu ngapain ke kamarku, Thiago?!”

Jari-jari Thiago yang mencengkeram leher itu seketika melonggar. Matanya yang tadinya penuh amarah kini membelah kaget. Ia menatap wajah yang tertutup masker itu, lalu menyadari bentuk bibir, bentuk mata, dan suara yang baru saja ia dengar. Perlahan, rasa panik yang tak terduga menyelinap di hatinya.

“Bellatrix?” gumamnya pelan, suaranya terdengar bingung. “Kau… apa yang terjadi pada wajahmu? Dan… pakaian apa ini?”

Bellatrix mendengus kasar, tangannya mencoba mendorong dada bidang pria yang masih menindihnya itu. “Lepaskan! Kau gila ya? Hampir saja kau mencekikku!”

Thiago tidak langsung bangun, namun ia mengangkat tangannya dari leher gadis itu, melainkan menatapnya dengan tatapan bingung dan sedikit tidak setuju. Matanya menelusuri penampilan Bellatrix dari ujung kaki hingga bahu dan celana pendek yang hanya sampai di pertengahan paha, serta pakaian tanpa tali yang memperlihatkan perut rata dan bahu telanjangnya dengan jelas. Di mata Thiago yang tumbuh di lingkungan istana yang menjunjung tinggi kesopanan dan etika, pemandangan ini terasa terlalu berani, terlalu terbuka, dan terasa… tidak pantas untuk dilihat orang lain.

“Ini pakaian apa?” tanyanya lagi, nada bicaranya datar namun penuh keheranan sekaligus ketidaksetujuan. “Terlalu terbuka. Tidak sopan dilihat orang lain.”

Bellatrix yang masih kesal langsung membalas dengan nada tinggi, matanya menatap tajam meski tertutup masker.

“Kau yang apaan sih? Ini kamarku, aku yang punya hak di sini! Mau aku pakai gamis, mau aku pakai kain perca, atau mau aku telanjang sekalipun itu urusanku sendiri! Tidak ada urusannya denganmu!”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bellatrix dengan blak-blakan, tanpa rasa sungkan sedikit pun.

Seketika itu juga, wajah Thiago yang biasanya pucat dan dingin perlahan memerah naik ke telinga. Bahkan ujung telinganya yang tersembunyi di balik rambut keemasannya tampak berubah warna menjadi merah padam. Ia yang hidup di zaman di mana pembicaraan soal pakaian tubuh begitu tertutup dan dijaga ketat, merasa kata-kata Bellatrix terlalu tajam, terlalu langsung, dan… terlalu membuat jantungnya berpacu kencang tanpa alasan yang jelas. Ia menelan ludah susah payah, mengalihkan pandangan sesaat dari perut gadis itu sebelum kembali menatap wajahnya dengan tatapan yang kini sedikit berubah.

“Kau… benar-benar tidak tahu malu,” gumamnya pelan, namun nadanya tidak lagi terdengar marah, melainkan terdengar seperti sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Tanpa menunggu izin, Thiago mengulurkan tangannya kembali. Ia berniat menyingkirkan benda putih aneh yang menutupi wajah tunangannya itu. Benda yang menurutnya menyembunyikan wajah asli Bellatrix dan terasa mengganggu. Jari-jarinya menyentuh pinggiran masker yang basah dan dingin, lalu perlahan ia menariknya ke atas dengan hati-hati namun pasti.

Saat masker itu terangkat dan terlepas sepenuhnya dari wajah Bellatrix, Thiago tertegun di tempat.

Cahaya remang lampu minyak jatuh tepat di wajah gadis itu. Tanpa lapisan apa pun, wajah Bellatrix tampak begitu bersih, begitu cerah, dan begitu halus seolah tidak memiliki satu pun cacat atau noda.

Kulitnya tampak bercahaya lembut, mata birunya yang cerah bersinar jernih menatapnya dengan kemarahan yang belum hilang, dan garis wajahnya tampak begitu lembut namun tegas. Thiago menatapnya terpaku, seolah baru pertama kali melihat wajah yang begitu sempurna. Ia lupa bernapas sejenak, terpana melihat keindahan yang begitu murni di hadapannya.

1
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!