NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 - Bayangan di Balik Kaca

Suara pecahan kaca itu menggema ke seluruh rumah.

Alea refleks memegang lengan Raka.

"Jangan keluar sendiri."

Raka menoleh. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya jauh lebih tajam dibanding biasanya.

"Dengarkan aku."

Kalau nanti aku bilang bersembunyi...

"Jangan membantah."

"Tapi—"

"Tolong."

Satu kata itu cukup membuat Alea mengangguk.

Raka membuka laci meja kerja, mengeluarkan sebuah senter kecil, lalu menyerahkannya kepada Alea.

"Listrik kemungkinan sengaja diputus."

"Kunci pintu setelah aku keluar."

"Kalau ada siapa pun yang mengetuk, jangan buka sebelum mendengar suaraku."

Alea menggenggam senter itu erat.

"Aku akan hati-hati."

Raka mengusap pelan punggung tangannya, gestur yang begitu singkat hingga Alea hampir mengira itu hanya perasaannya.

"Percaya padaku."

Lalu ia keluar.

---

Rumah itu gelap gulita.

Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.

Raka menuruni tangga dengan langkah perlahan. Tidak tergesa-gesa, tetapi penuh kewaspadaan.

Di lantai bawah, serpihan kaca berserakan di dekat ruang keluarga.

Jendela samping pecah.

Angin malam masuk membawa udara dingin.

Raka berjongkok.

Bukan sekadar kaca yang pecah.

Ada bekas lumpur di lantai.

Seseorang baru saja masuk.

Namun...

Tidak ada barang yang hilang.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

Lalu berhenti pada lemari kecil di bawah televisi.

Pintunya terbuka.

Padahal sebelum mereka naik ke ruang kerja, pintu itu tertutup rapat.

Raka membukanya perlahan.

Kosong.

Hanya ada sebuah amplop putih.

Tanpa nama.

Tanpa alamat.

Ia mengambilnya.

Di dalam hanya ada satu lembar kertas.

Tulisan tangan berwarna merah.

> **Berhenti menyelidiki.**

>

> **Kalau tidak, orang yang paling kau lindungi akan menjadi korban berikutnya.**

Tatapan Raka mengeras.

Ancaman itu bukan ditujukan kepadanya.

Melainkan kepada Alea.

---

Di lantai atas...

Alea berdiri di balik pintu sambil memegang senter.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa suara detaknya bisa terdengar keluar.

Rumah menjadi sangat sunyi.

Terlalu sunyi.

Lalu...

Tok...

Tok...

Tok...

Ada suara ketukan.

Alea membeku.

"Raka?"

Tidak ada jawaban.

Ketukan itu terdengar lagi.

Lebih pelan.

Tok...

Tok...

Tok...

Ingatan tentang pesan Raka kembali terlintas.

**Jangan buka pintu sebelum mendengar suaraku.**

Alea menahan napas.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki menjauh.

Ia tetap tidak bergerak.

Sampai akhirnya terdengar suara yang dikenalnya.

"Alea."

Itu Raka.

"Ini aku."

Alea baru membuka pintu setelah mendengar nada suaranya.

Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat wajah Raka yang tampak lebih serius dari biasanya.

"Ada apa?"

Raka tidak langsung menjawab.

Ia hanya menunjukkan amplop putih yang dibawanya.

"Sepertinya kita baru saja mendapat peringatan."

---

Tak lama kemudian, lampu rumah kembali menyala.

Bibi Maya keluar dari kamarnya dengan wajah panik.

"Ya ampun, tadi kenapa listrik mati?"

Begitu melihat pecahan kaca di ruang keluarga, wanita itu langsung menutup mulutnya.

"Astaga... ada pencuri?"

"Belum tentu."

Raka sengaja tidak menjelaskan semuanya.

Ia tidak ingin membuat bibinya ikut cemas.

"Aku sudah menghubungi petugas keamanan kompleks."

Tak lama kemudian, dua petugas keamanan datang memeriksa area sekitar rumah.

Salah seorang dari mereka menggeleng.

"Aneh."

"Apa?"

"Tidak ada jejak kendaraan."

"Pelakunya kemungkinan masuk lewat jalan setapak belakang."

Petugas lain ikut menambahkan.

"Dan CCTV di area belakang mati sekitar lima belas menit."

"Mati?"

"Iya."

"Bukan rusak."

"Seseorang memutus aliran listriknya."

Raka dan Alea saling berpandangan.

Ini bukan ulah pencuri biasa.

Seseorang datang dengan persiapan yang sangat matang.

---

Malam semakin larut.

Setelah petugas keamanan pergi, Alea kembali ke ruang kerja.

Laptop masih tergeletak di atas meja.

Ia menatap layar yang kini sudah menyala kembali.

Foto terakhir yang tadi mereka buka masih terpampang.

Pantulan kaca.

Sosok samar itu.

"Aku merasa pernah melihat postur tubuh ini."

Raka ikut memperhatikan.

"Aku juga."

Alea memperbesar gambar itu sekali lagi.

Meski buram, tampak pria tersebut mengenakan jam tangan dengan bentuk yang tidak biasa.

Bentuk segi delapan.

Ada ukiran kecil di bingkainya.

Raka tiba-tiba teringat sesuatu.

Ia segera membuka ponselnya, lalu mencari sebuah foto lama dari berkas penyelidikan lima tahun lalu.

Beberapa detik kemudian, ia membandingkan keduanya.

Jam tangan itu...

Sama persis.

"Itu milik seseorang?" tanya Alea.

Raka mengangguk pelan.

"Dulu."

"Jam ini hanya dibuat terbatas."

"Pemiliknya tidak banyak."

"Siapa?"

Raka menghela napas panjang.

Sebelum sempat menjawab, ponselnya kembali berdering.

Adrian.

Begitu panggilan diangkat, suara Adrian terdengar tergesa-gesa.

"Raka, dengarkan aku baik-baik."

"Ada apa?"

"Kami baru menerima laporan."

"Arga ditemukan."

Napas Alea langsung tertahan.

"Di mana dia?" tanya Raka.

Adrian terdiam beberapa detik.

"Laki-laki itu ditemukan dalam keadaan kritis."

"Dan sebelum pingsan..."

"...dia hanya sempat menyebut satu nama."

Raka menggenggam ponselnya lebih erat.

"Nama siapa?"

Suara Adrian terdengar pelan.

"Alea."

Di samping Raka, wajah Alea langsung memucat.

Orang yang telah menghancurkan hidupnya...

Kini kembali muncul.

Dan kemungkinan besar...

Membawa jawaban yang selama ini mereka cari.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!