Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Sengit 2
Bima tetap diam dan tidak berencana untuk membuka pembicaraan.
Setelah mengukur Bima, alis Yosep berkerut ketika dia melihat Wira yang berada di belakang Bima. Dia mencoba mengukur kekuatan Bima dan Wira, dia berdiri dan berkata " aku sedang menunggu beberapa orang untuk datang kesini, ngomong-ngomong apakah kamu yang di panggil Bima.?"
Alih-alih Bima segera menjawabnya dia melihat di sekeliling Yosep, sudah berkumpul sekitar dua puluh orang yang ternyata mereka adalah orang sama. Yang Ingin merobohkan rumah bu Lisma. Setelah satu atau dua menit penglihatannya kembali ke arah Yosep, sambil menghela napas, "mobil yang sangat bagus, aku menebak anda orang yang berkemampuan. Dan juga memungkinkan anda adalah orang yang mengaku sebagai pemilik rumah bu Lisma. Akan tetapi sangat di sayangkan itu tidak akan pernah terjadi."
Sambi menyipitkan matanya Yosep berkata dengan nada dingin, "Kamu belum menjawab pertanyaanku"
Menunjuk jari ke dirinya sendiri Bima berkata sambil tersenyum. " Aku..? Apa yang harus aku jawab untukmu!"
"Kauu..."
Yosep sangat marah dia tidak menyangka bahwa Bima akan begitu sombong, karena menurut anak buahnya bahwa hanya Wira yang memiliki kekuatan super dan pantas untuk sombong. Akan tetapi tidak dengan Bima.
Melihat Yosep yang marah, Bima segera mengungkapkan pandanganya berubah tepat berada di depan Yosep. Bima berkata sambil tersenyum, "Aku baru ingat kamu barusan bertanya kepadaku, apakah aku Bima atau bukan. Tentu benar aku adalah Bima dan tidak mungkin akan berubah nama."
Yosep tersenyum dingin. "Ada pepatah yang mengatakan bahwa lebih baik hidup damai, daripada mempertahankan permusuhan maka akan mengakibatkan hidup terancam dan di bayang-bayangi ketakutan. Aku tahu kamu ingin mempertahankan rumah itu!"
"Jadi aku harap segera pergi dan kosongkan rumah itu, jika tidak maka aku tidak akan tinggal diam." Yosep mengancam
Dengan perubahan ekspresi Bima menyeringai, "Aku memuji dengan sikapmu. Tiba-tiba berubah marah, apakah kamu pikir aku juga akan tetap diam, asal kamu tahu rumah ini bukanlah milikmu dan aku yakin kamu telah memalsukan surat bukti kepemilikan. Apa yang bisa kamu lakukan tehadapku!"
"Kamu.." Yosep sangat marah dan dalam pikirannya dia sedikit terkejut karena memang bukti kepemilikinnya palsu.
"Ada apa denganku..? kamu pikir dengan kekuasaan dan ke kayaanmu dapat menjadi arogan, juga mendominasi untuk menggertak orang lain? Hari ini kamu masih beruntung hanya memprovokasiku, jika itu orang lain yang memiliki kekuasaan lebih tinggi darimu aku pastikan kamu akan habis." Bima mencibir
"Bima kamu jangan kurang ajar"
Seseorang berteriak ketika berjalan dan mendekatinya.
"Akhirnya kamu Bergawa sudah datang" Yosep tersenyum cerah ketika yang adalah adalah orang yang di tunggu salah satu anggota geng Srigala hitam.
"Aku datang karena sesuai perjanjianmu tuan, aku sebagai salah satu anggota geng Srigala hitam tidak akan pernah ingkar janji" Bergawa dengan bangga menepuk dada
"Kalau begitu silakan selesaikan dengan cepat," senyum cerah Yosep semakin jelas. Sudah di pastikan bahwa Bima dan lainnya segera di singkirkan.
Sambil mengukur Bergawa, Bima mendecakkan lidahnya dan menghela napas. "Baiklah karena pendukungmu telah datang. Sudah pasti aku tidak senang dengannya, jadi katakan Bergawa bagaimaa kalau membunuh dengan menggunakan pisau, aku yakin itu sangat menarik."
Bermain seperti orang bdoh, Bergawa menjawab "persetan apapun yang kamu inginkan aku akan tetap menghadapinya."
"Apakah kamu tahu mengapa kakakku mengalahkan dan mengusir kelompok dari tuan Yosep? Kata Bima ringan. Itu karena aku ingin melihat dan ingin tahu sosok seperti apa dia sebenarnya, dan ternyata dia hanya orang licik yang memanfaatkan kelemahan orang lain."
"Kamu..." Bergawa sangat marah. Meskipun dalam hati dia tidak peduli karena bukan urusannya. Ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab karena mendapatkan bayaran.
Mengangkat tangannya, untuk memotong. Mata Yosep menatap tajam ke Bima dan berkata; "Bima kamu jangan bicara sembarangan dan jangan berpikir kamu bisa bertindak arogan. Hanya karena telah mengalahkan anak buahku yang sampah itu, Kamu hanya dua orang dan pihak kami memiliki lebih dari dua orang. Aku hanya ingin kalian segera kosongkan rumah ini dan pergi, maka perselisihan di antara kita akan aku anggap tidak pernah terjadi."
Dari perkataan Bima tadi, dia sebenarnya merasakan sesuatu yang berbahaya.
"Yosep, kan? Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa di depanku." Bima melambaikan tangannya dan berkata, "kamu jelas tahu semuanya bahwa rumah yang kamu klaim kepemilikannya adalah penipuan dan memanipulasi data. Kali ini aku minta kamu segera pergi dan jangan pernah mengusiknya lagi."
"Apa yang bisa kamu lakukan padaku? Jika aku tidak pergi," Yosep menyeringai
Semua pembicaraan mereka sudah terdengar jelas baik Wira yang memang selalu ada di belakangnya, Warga di sekitar rumah bu Lasmi juga telah mendengarnya. Padahal awalnya warga tetangga bu Lasmi akan bekerja, namun tidak jadi karena melihay banyak orang berkumpul di pekarangan rumah bu Lasmi. Membuat hati semua warga menjadi cemas, buntut dari permasalahan sengketa rumah semakin rumit.