Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan yang Harus Dijaga
Begitu kabar tentang Jung Woo-jin terdengar, suasana kelas langsung berubah menjadi panik. Sementara siswa lain mulai berbisik-bisik ketakutan, Lee Min-woo segera melangkah mendekati bangku Soo-jin. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangan gadis itu dengan gerakan cepat namun lembut, membawanya keluar dari kelas sebelum keributan makin meluas.
Mereka berdua berjalan cepat menuju ujung koridor yang sepi, jauh dari jangkauan pendengaran siswa lain. Begitu sampai di tempat yang aman, Min-woo berhenti, lalu menoleh ke arah Soo-jin dan berbicara dengan suara rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
“Ingat satu hal penting: rahasiakan kepada siapa pun kalau kita adalah pemburu hantu,” bisiknya tegas namun tenang.
Soo-jin mengerutkan kening, merasa bingung. “Kenapa harus dirahasiakan? Bukankah akan lebih mudah jika orang lain tahu dan bisa membantu?”
Min-woo menggeleng pelan, wajahnya terlihat serius. “Bukan begitu aturannya. Dengarkan baik-baik: jangan bertindak gegabah, dan jangan sampai mereka tahu identitas kita. Ini adalah larangan mutlak dari pekerjaan kita.”
Ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang lewat, lalu melanjutkan penjelasannya:
“Jika siswa atau guru tahu tugas kita, mereka akan melihat kita bukan sebagai teman atau warga sekolah biasa, melainkan sebagai orang aneh atau bahkan orang yang membawa sial. Lebih berbahaya lagi—makhluk yang kita hadapi juga bisa memanfaatkan informasi itu untuk menyerang kita atau mengganggu orang-orang terdekat kita. Semakin sedikit yang tahu, semakin aman kita bekerja.”
Soo-jin menunduk sebentar, mencerna setiap kata yang didengarnya. Ia baru sadar bahwa pekerjaan ini bukan hanya soal keberanian dan uang, tapi juga soal menyembunyikan jati diri agar bisa tetap bertahan dan melindungi orang lain tanpa diketahui.
“Aku mengerti sekarang,” jawabnya pelan sambil mengangguk. “Aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada guru sekalipun.”
“Bagus,” gumam Min-woo sambil menepuk bahunya sekilas. “Sekarang ayo, Seung-hyun sudah menunggu di depan. Kita harus segera menolong Woo-jin sebelum kondisinya makin parah.”
Mereka pun melangkah kembali dengan hati-hati, membawa rahasia baru yang harus dijaga erat-erat mulai hari ini.
Soo-jin berhenti melangkah sejenak, wajahnya masih terlihat cemas. Ia menarik sedikit tangannya, lalu menatap Min-woo dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Tunggu… bagaimana kita mengobatinya nanti? Kalau kita bertindak di depan orang lain, bukankah mereka akan tahu apa yang sebenarnya kita lakukan dan membongkar identitas kita?” tanyanya dengan nada khawatir.
Min-woo menoleh sebentar, matanya tetap waspada mengawasi koridor sekitar, lalu menjawab dengan suara tetap rendah namun meyakinkan.
“Jangan pikirkan itu sekarang. Ikuti saja aku, nanti akan kuperlihatkan caranya bertindak tanpa menarik perhatian. Kita sudah terbiasa menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, seolah hanya menangani masalah biasa saja.”
Ia segera melanjutkan langkahnya lebih cepat, memberi isyarat agar Soo-jin tetap dekat di belakangnya.
“Kita akan berpura-pura hanya menenangkan temannya yang tiba-tiba sakit atau kejang. Semua alat dan cara yang kita gunakan akan tersembunyi dari pandangan orang lain. Yang penting kita selesaikan gangguannya secepat mungkin, sebelum ada guru yang datang dan membuat situasi makin sulit.”
Mereka tiba di ujung lorong, tempat Seung-hyun sudah menunggu sambil mengawasi pintu masuk toilet. Begitu melihat kedatangan mereka, Seung-hyun mengangguk, lalu membuka pintu sedikit agar mereka bisa masuk tanpa terlihat jelas dari luar.
“Dia di dalam, kondisinya makin gelisah,” bisik Seung-hyun sambil membiarkan mereka masuk.
Begitu melangkah masuk, Soo-jin langsung mencium bau khas yang jauh lebih kuat dari sebelumnya—bau lembab dan bunga layu yang menyengat, membuat dadanya terasa sesak. Di sudut ruangan, Jung Woo-jin duduk tertekuk di lantai, matanya melotot kosong, mulutnya menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, dan tubuhnya bergetar hebat seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Min-woo melirik Soo-jin sekilas, memberi isyarat agar tetap tenang. “Ingat apa yang tadi kukatakan. Tetap berpura-pura seperti siswa biasa. Biarkan kami yang mengatur gerakannya, kau cukup bantu menjaga agar tidak ada orang yang masuk secara tiba-tiba.”
Soo-jin menelan ludah, menguatkan hatinya, lalu mengangguk mantap. “Baik, aku mengerti.”
Begitu pintu tertutup rapat, suasana di dalam toilet terasa sesak dan dingin. Bau khas yang Soo-jin kenal menyengat hidungnya, jauh lebih pekat dibanding malam sebelumnya. Jung Woo-jin masih duduk tertekuk di lantai, tubuhnya bergetar hebat, matanya melotot kosong tanpa fokus, dan suaranya terdengar parau, bukan seperti suara biasanya.
Min-woo segera memberi isyarat dengan tangan, meminta agar tidak ada yang bergerak tiba-tiba. Ia melangkah perlahan mendekati Woo-jin, sementara Seung-hyun berdiri di sisi lain, menghalangi pandangan dari luar seolah sedang menolong temannya yang sakit.
“Kita buat seolah dia hanya kejang karena lelah atau tekanan darah turun,” bisik Min-woo cukup keras agar hanya mereka bertiga yang mendengar. “Jangan tunjukkan benda apa pun yang mencurigakan.”
Dengan gerakan yang terlihat seperti memegang bahu Woo-jin untuk menenangkannya, Min-woo diam-diam menggenggam selembar jimat yang dilipat kecil di telapak tangannya, menempelkannya ke bagian belakang leher pemuda itu tanpa terlihat. Sementara itu, Seung-hyun berpura-pura membuka botol air minum, tapi sebenarnya ia menuangkan sedikit air yang sudah dicampur garam halus ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya perlahan ke dahi dan pelipis Woo-jin.
Begitu sentuhan itu terasa, tubuh Woo-jin tersentak keras seolah terbakar, lalu ia berteriak dengan suara yang sangat asing dan tinggi:
“Jangan ganggu aku… ini tempatku!”
Suhu ruangan turun drastis, dan angin berhembus kencang meski semua jendela tertutup rapat. Soo-jin langsung merasakan tekanan berat di dadanya, tapi ia tetap berdiri di dekat pintu seperti yang diperintahkan, mengawasi agar tidak ada siswa atau guru yang datang secara tiba-tiba.
“Kau tidak punya tempat di sini!” jawab Min-woo dengan suara tegas namun tetap rendah. “Kembalilah ke tempatmu, jangan bawa penderitaan kepada orang yang tidak bersalah!”
Seung-hyun pun mulai melantunkan doa penenang dengan nada yang pelan, seolah hanya berbicara lembut untuk menenangkan temannya. Perlahan, getaran tubuh Woo-jin mereda, teriakannya berubah menjadi rintihan lemah, dan bau menyengat itu mulai memudar sedikit demi sedikit.
Beberapa menit kemudian, mata Woo-jin perlahan menutup, tubuhnya lemas terkulai, dan napasnya kembali teratur seperti orang yang hanya tertidur lelap. Suhu ruangan pun berangsur normal, dan keheningan kembali menyelimuti.
Min-woo mengusap keringat di dahinya, lalu berdiri dan menoleh ke Soo-jin. “Sudah selesai. Dari luar, mereka hanya akan melihat dia pingsan karena kelelahan. Tidak ada yang akan curiga.”
Seung-hyun segera mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura menghubungi petugas kesehatan sekolah. “Nanti kita katakan dia tiba-tiba pusing dan jatuh. Semua akan percaya dengan penjelasan itu.”
Soo-jin menghela napas panjang, merasa lega sekaligus kagum melihat cara mereka menyembunyikan segalanya. Ia baru benar-benar mengerti—menjadi pemburu hantu bukan hanya soal keberanian, tapi juga kepintaran menyembunyikan kebenaran agar rahasia itu tetap terjaga.