NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baby Twin?

"Baik, dok," jawab Zulfa mantap. Ucapan itu bukan sekadar formalitas.

Belakangan ini, Zulfa benar-benar berusaha menjalankan setiap saran yang diberikan dokter dengan sebaik mungkin. Ia mulai lebih disiplin mengatur pola makan. Hampir setiap hari menu makanannya dipenuhi sumber protein tinggi, mulai dari ikan, telur, daging tanpa lemak, hingga berbagai makanan bergizi yang direkomendasikan untuk menunjang program kehamilan.

Berbagai vitamin dan suplemen yang diresepkan pun tak pernah ia lewatkan. Bahkan alarm khusus di ponselnya selalu berbunyi sebagai pengingat agar tidak ada satu dosis pun yang terlewat. Perjuangan itu terkadang melelahkan. Namun Zulfa memilih untuk menjalaninya dengan penuh kesungguhan.

Setidaknya, ia ingin memberikan kondisi terbaik bagi tubuhnya untuk menyambut kesempatan yang mungkin datang kali ini. Tak hanya menjaga asupan makanan, Zulfa juga mulai membiasakan diri berolahraga ringan secara rutin. Jalan kaki pagi, yoga, hingga stretching sederhana menjadi bagian dari aktivitas hariannya. Selain menjaga kebugaran tubuh, kegiatan itu juga membantunya mengendalikan kecemasan yang sering muncul tanpa diundang.

Sebab dalam program seperti ini, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Untungnya, Arslan juga menunjukkan perubahan yang sangat besar dibandingkan sebelumnya. Jika dulu kesibukan pekerjaan sering menyita hampir seluruh waktunya, kini pria itu berusaha menyediakan ruang khusus untuk istrinya.

Di sela-sela jadwal bisnis yang padat, Arslan rutin mengajak Zulfa berlibur. Memang tidak selalu ke luar negeri. Sering kali mereka hanya pergi ke Bali untuk beberapa hari. Namun Arslan selalu memastikan perjalanan itu terasa istimewa. Ia memilih resort-resort terbaik dengan suasana tenang, jauh dari keramaian dan tekanan kehidupan sehari-hari.

Bagi Arslan, tujuan liburan itu bukan sekadar bersenang-senang. Ia hanya ingin istrinya bisa bernapas lebih lega. Bisa tertawa tanpa memikirkan jadwal kontrol berikutnya. Bisa menikmati matahari terbenam tanpa dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang anak. Karena setelah bertahun-tahun bersama, Arslan akhirnya menyadari satu hal.

Program kehamilan bukan hanya tentang mendapatkan seorang anak. Tetapi juga tentang menjaga wanita yang ia cintai agar tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah perjalanan panjang yang penuh harapan dan kekecewaan itu. Dan jika harus memilih, Arslan ingin memastikan bahwa apa pun hasilnya nanti, Zulfa tetap merasa dicintai, dihargai, dan tidak pernah berjuang sendirian.

"Hari yang cukup melelahkan." Keluh Zulfa.

"Hmm... Kita mampir cari makan dulu aja ya!" Ujar Arslan menawarkan untuk mengajaknya makan siang.

"Baiklah."

"Kamu mau makan apa hari ini?" tanyanya lagi.

"Kayaknya aku pengen Pizza, deh! Udah lama banget nggak makan masakan Itali."

"Eh... Nggak boleh! Kamu kan harus menghindari makanan seperti itu. Ingat loh... Kita sudah program hamil lagi. Tahan dulu yaa, nanti kalau baby twin udah ada di perut kamu, aku bakal turutin semua yang kamu minta termasuk makanan, nggak akan aku larang-larang lagi." Zulfa langsung mengatupkan bibirnya saat Arslan memberinya ultimatum.

"Hem... Iya maaf."

Dalam hati Zulfa bergejolak, "Mau makan junk food aja harus nunggu hamil dulu."

Sedikit mengeluh itu wajar, bukan! Mengingat ia sudah berusaha mati-matian untuk selalu makan-makanan bergizi.

"Ya sudah kalau begitu, aku mau makan apa saja sesuai keinginannya kamu."

"Kalau gitu kita cari seafood aja ya! Kan kamu harus banyak makan yang punya protein tinggi." Zulfa pun langsung mengangguk tak kuasa menolak.

Tak selang berapa lama mereka sampai di sebuah restoran seafood ternama, tepatnya di daerah yang terkenal banyak menyediakan masakan Indonesia. Akhir-akhir ini Zulfa selalu teringat mendiang ayahnya yang pandai memasak menu seafood sampai memiliki restoran dengan banyak cabang.

Restoran yang mereka datangi berkonsep seperti pedesaan. Dengan desain ala rumah gubug yang berjejer rapi, ditambah suara gemercik air dari kolam-kolam ikan yang berisikan ikan hias menambah kehangatan dan kenyamanan saat berkunjung ke tempat ini. Tidak begitu luas namun cukup membuat nyaman untuk di singgahi.

Mereka memilih untuk duduk di salah satu gubug yang letaknya tepat dipinggir kolam. Setelahnya seorang Pramusaji menghampiri mereka. Arslan langsung meraih menu makan yang sudah disodorkan. Seolah Zulfa tak di ijinkan memilih sembarangan jadi yang bisa ia lakukan hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja saat Arslan menyebutkan makanan yang dipesannya satu persatu.

Setelah selesai memesan makanan, Arslan langsung selonjoran dan membaringkan tubuhnya di lantai kayu tempat mereka duduk. Ia terlihat begitu kelelahan, mungkin tempat ini membuatnya nyaman hingga membuatnya mengerjapkan matanya sesaat.

Sementara Zulfa, sibuk menyaksikan tingkah laku ikan-ikan di kolam yang berputar kesana kemari seolah memberinya kode kalau mereka sedang kelaparan. Zulfa memilih menepi di pinggir kolam untuk memberi mereka makan yang sudah disediakan oleh pihak restoran.

Zulfa menaburkan butiran-butiran makanan ikan tersebut ke kolam yang bentuknya seperti danau kecil. Membuat para ikan-ikan tersebut berhamburan datang menghampirinya. Mereka berloncat-loncat sehingga menciptakan percikan-percikan air yang sontak membuat Arslan terbangun dari tidurnya.

"Aduh maaf ya ikannya jadi ganggu tidur kamu." Arslan langsung bangkit dari tidurnya mengusap wajahnya yang terkena percikan air, lalu ia pun ikut nimbrung bersama Zulfa di tepi kolam.

"Wah... ikannya banyak banget. Sini aku juga mau ngasih makan." Arslan langsung mengambil segenggam makanan ikan dari pangkuan Zulfa.

"Ternyata ngasih makan ikan bisa nyenengin juga, ya! kayaknya kita harus buat kolam ikan juga di rumah, deh!"

"Nggak usah aneh-aneh, deh! siapa yang mau ngerawat ikan-ikanmu nanti? terus siapa juga yang mau bersihin kolamnya?" Zulfa mengeluh tak setuju dengan keinginan suaminya itu.

"Hem... fungsinya pelayan di rumah buat apa? Masa iya aku yang bersihin kolam ikan? Kan nggak lucu, seorang Emir Arslan Wilaga pemilik pabrik terbesar di negri ini nguras kolam ikan." Kedua mata Zulfa terbelalak lebar mendengar ucapan sombong suaminya.

"Ingat loh... diatas langit masih ada langit." Zulfa melirik singkat ke arah Arslan, sedikit mengingatkan.

Arslan langsung mengkerutkan dahinya, "Eh... Apa ucapanku tadi kedengaran sombong, ya?"

"Menurutmu?" Tanya Zulfa balik.

Arslan meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin tidak terasa gatal. "Ya lagian aku mau pelihara ikan aja enggak dibolehin."

"Yang bilang enggak boleh siapa? Aku hanya khawatir kalau ikan-ikannya nanti akan terlantar. Terlebih kamu orangnya gampang bosenan terhadap sesuatu,"

"Lihat saja mobil-mobilmu yang harganya milyaran itu jarang kamu pake, kan! Bahkan kamu selalu pengen ganti mobil setiap ada mobil sport keluaran terbaru. Kamu itu beli cuma menuruti hawa nafsu aja. Hati-hati loh, pas hari kiamat nanti hisabnya berat!" Mendadak Zulfa ceramah di depan suaminya.

"Ya... Ampun bu ustadzah mulai lagi deh khotbahnya." Ini bukan sekali atau dua kali Zulfa berkata seperti itu.

Kedatangan Pramusaji menghentikan perdebatan mereka yang bermula hanya karena ikan. Mereka menikmati aroma makanan yang disajikan dimeja.

"Kita makan dulu ya, berdebat juga butuh energi!" ujar Arslan sambil mengambil cumi asam manis di hadapannya.

Sementara Zulfa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kadang menjengkelkan tapi tidak pernah bisa membuat Zulfa membencinya.

"Kira-kira kita mau kasih nama siapa ya buat baby twin nanti." Arslan berbicara di sela-sela makannya.

"Eh ... kalo kata orang itu pamali. Yang baru hamil aja belum boleh nyiapin nama apalagi yang belum hamil!"

"Inget lo kata papa, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Aku ngomong kayak gini karna aku yakin kita bakal punya anak kembar."

"Ya, tapi kan nggak harus bahas nama anak juga. Kita masih bisa bahas yang lain. Misalnya kalau nanti aku hamil kamu mau nadzar apa? Kayak gitu kan lebih enak dengernya." Arslan tersenyum malu mendengar penjelasan Zulfa. Mungkin dirinya memang terlalu tergesa-gesa.

"Oiya .. ya, kalau dipikir-pikir kita emang nggak pernah bahas Nadzar makanya promil kita sering gagal."

"Gagal itu bukan karna kita nggak punya Nadzar tapi emang belum waktunya aja Allah kasih. Ya siapa tau kalau kita mulai bernadzar Allah ridho ngasih anak ke kita."

"Oke deh, tapi mau nadzar apa ya? Perasaan kita udah terlalu baik sama banyak orang. Tiap bulan aku nggak pernah kurang-kurang bersedekah ke banyak yayasan, selain itu kita juga punya banyak anak asuh di panti asuhan yang selalu kita tanggung biaya hidup dan juga pendidikannya. Hem ... " Arslan mulai menunjukkan kebingungannya sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Gimana kalau kita bikin nadzar untuk memberangkatkan orang umroh setiap tahun?"

"Wah boleh juga ide kamu. Tapi siapa yang mau kita ajak umroh?" Arslan kembali berfikir keras.

"Ya karyawan-karyawan kamulah. Kamu pilih karyawan yang paling bagus dan rajin kerjanya. Kalau bisa cari karyawan yang nggak pernah ninggalin sholat lima waktu sekalipun sibuk sama kerjaannya."

Seketika Arslan tersenyum senang mendengar ide istrinya itu. Arslan sadar kalau selama ini ia belum pernah membiayai orang untuk berangkat umroh. Karena selama ini hanya dirinya dan Zulfa yang selalu pergi umroh bahkan sampai berkali-kali. Ya, begitulah mereka setiap kali akan melakukan progam hamil mereka selalu berdoa di tanah suci agar impiannya untuk memiliki buah hati segera terwujud. Hanya kali ini saja mereka tidak menunaikan ibadah umroh seperti sebelumnya, bukan karna tidak percaya lagi dengan mustajab-nya berdoa disana, melainkan Arslan ingin agar istrinya bisa lebih fokus istirahat sebab perjalanan Indonesia-Singapura yang hampir enam bulan ini dijalani sudah cukup menguras fisiknya.

Toh dari sekian banya doa yang mereka panjatkan di tanah suci itu hanya satu doa saja yang belum terkabul, yaitu memiliki keturunan. Arslan dan Zulfa selalu percaya kalau ini hanya soal waktu saja. Sebab Allah tidak mungkin mengabaikan orang-orang yang serius memanjatkan doa kepada-Nya, bukan?

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!