KARYA EVENT ANAK GENIUS S2
Senyum bahagia di hari pengantin Syahnaz harus lenyap saat dirinya menerima kenyataan bahwa pengantin prianya membatalkan pernikahan secara sepihak.
Karena depresi dan butuh ketenangan, Syahnaz malah terjebak di sebuah bar yang membuatnya terlibat skandal dengan Presdir yang di isukan penyuka sesama jenis.
Tidak pernah ada dalam benak Syahnaz bahwa dirinya akan hamil setelah itu, merasa bahwa dirinya malu, ia memilih meninggalkan Indonesia dan berkarir di Melbourne.
Tapi siapa sangka, sembilan tahun kemudian, dia dipertemukan dengan Presiden Direktur itu kembali disaat sang anak hasil hubungan satu malam itu mempertanyakan dimana ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. 100 Juta, Deal!
POV Nanas.
•
•
•
"Kau Gila! Aku tidak mau! Dengar yah Zach! Aku tidak mencintaimu!" Aku kembali menegaskan kepada Zach batasan yang harus dia ketahui.
Pasalnya dengan enaknya dia datang ke hadapanku sekarang dan berkata bahwa aku harus menjadi calon istrinya dan mengikuti seleksi calon istri di hadapan Tuan Antonio.
Asal dia tahu saja yah, harusnya aku yang menyeleksi calon suami, bukan aku yang ikutan diseleksi sebagai calon istri, lagipula aku risih dengan keluarga ini, mereka membutuhkan menantu tapi seribet proses pembuatan KTP cara mereka menerima menantu.
"Bantu aku, Baby, waktu tinggal dua bulan, apakah tidak ada perasaan didalam hatimu kepadaku, sedikit saja," ujar Zach yang membuatku ingin mual.
Ingin ku gampar saja pria di hadapanku ini jika dia terus bertingkah seperti bocah begini, dua bulan lagi dia empat puluh tahun tapi sikapnya seperti anak taman kanak-kanak bahkan aku rasa Andro lebih dewasa sikapnya daripada bapaknya.
"Gak Zach! Aku gamau! Lagipula yah hati itu gabisa dibohongin, kalau aku ga cinta sama kamu, masa aku harus maksain!" tolakku berjalan pergi yang membuat Zach menarik tanganku.
Zach mendempetkan tubuhku ke tembok dan menyeretnya masuk ke dalam ruangannya, di dalam ruangannya Zach langsung menggendongku dan mendudukkanku di meja kerjanya.
"Kau mau apa Zach!?" tanyaku saat aku melihat Zach membuka jasnya.
"Menghamilimu, agar kau bisa menikah denganku!" jawab Zach yang membuatku melotot ke arahnya.
"Kau Gila! Lepaskan aku! Atau aku akan melaporkanmu atas tuduhan pelecehan seksual!" teriakku yang tidak membuat Zach gentar.
Zach malah terus berjalan ke arahku dan kini jarak kami hanya tersisa beberapa senti saja, Zach mendorongku sehingga kini dia menindihku.
Aku benci menatap wajah mesum Zach!
"Zach! Kau tidak akan melakukan itu kan!?" tanyaku pada Zach, untuk pertamakalinya aku akan menggampar wajahnya jika dia berani melakukan ini kepadaku, lihat saja!
KLIK!
"Permisi Tuan Z-"
Itu suara dari orang lain, pintu ruangan terbuka yang memperlihatkan seorang staff perusahaan melihat kami dalam keadaan tidak bisa dijelaskan.
"KELUAR!" pinta Zach yang membuat Staffnya gugup.
"Maaf Tu-"
"KELUAR!" Zach memotong ucapan Staff itu yang membuat Staff itu pergi, tapi baru saja Staff itu membalikkan badannya, Zach malah menahannya. "Tunggu! Jangan sampai aku mendengar ada gosip tentang diriku yah! Kalau sampai ada, kau adalah orang pertama yang aku cari, TUTUP PINTUNYA DAN PERGI!"
"B-Baik, Tuan," jawab Staff itu menutup pintu membuat kini kondisinya tersisa aku bersama Zach dalam ruangan ini, aku sebenarnya kagum karena Zach bisa bersikap tegas begitu didepan Staffnya tidak semenye-menye yang aku kira.
Disaat kami kembali berdua, Zach melepas jeratan tangannya kemudian menarik tanganku sehingga aku dalam kondisi duduk sekarang.
"Baby, Help! Mau yah jadi calon istriku?" pinta Zach kembali.
Oke aku tarik kalimatku, Zach adalah orang kekanak-kanakan yang sangat memaksakan cinta, aku tidak mencintainya bagaimana bisa cinta dipaksa.
"Kau tidak kasian padaku?" tanya Zach.
"Tidak!"
"Serius?"
"Iya! Sekarang lepaskan aku, aku tidak ingin berlama-lama lagi di sampingmu, kau adalah pria yang buruk, tidak ada wanita yang Sudi bersamamu, itulah alasan kenapa kau di isukan Gay!"
Zach terdiam, apakah ucapanku salah, Zach melepaskan tanganku kemudian menghela napas panjang. "Sorry, kau bisa pergi, Baby."
"Z-Zach, apakah aku salah bicara, Maaf, aku tidak bermaksud!" jawabku yang membuat Zach terdiam.
"Tidak ada masalah apapun, aku hanya pria yang membenci sebuah hubungan dengan wanita karena aku trauma akan pernikahan orang tuaku yang harus gagal," jawab Zach padaku. "Keluar, aku butuh waktu sendiri."
Sepertinya Zach tersinggung, kalimatnya sangat dalam, aku berjalan keluar dari sini meninggalkan jejak kalau terjadi sesuatu pada Zach, dia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
•
POV Andro.
KLIK!
"Aku bilang kau boleh keluar sekarang, aku ingin sendiri!" teriak Daddy yang membuatku mendelik saat baru saja masuk ke dalam ruangan kerja Daddy.
"Dad? What's Wrong?" tanyaku yang membuat Daddy berbalik.
Daddy menghela napas, ah dia menangis, apakah ditolak Mommy membuatnya menangis? Tapi Daddy kini tersenyum kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan ini.
"Aku pikir siapa, tidak ada apa-apa Andro, Daddy hanya ada beban pikiran," jawab Daddy yang membuatku berjalan menghampirinya.
"Karena ditolak Mommy?" tanyaku berusaha menggoda Daddy.
Daddy mendelik, mungkin dia heran bagaimana bisa aku tahu, padahal daritadi aku menguping pembicaraan mereka jadi setelah Mommy pergi, aku bisa langsung masuk.
"Aku kan luar biasa!" jawabku duduk disamping Daddy.
"Yang kau katakan itu salah satunya, tapi banyak alasan pikiran lain di kepala Daddy, Ndro!"
"Namaku, Andro!" jawabku meralat kalimat Daddy aku tidak ingin aja Ndro, hampir mirip dengan panggilan nama pelawak di Indonesia.
"Iya, Maaf, Daddy rasa mendapatkan cinta Mommy kamu tuh berat, Daddy gak kuat!"
"Daddy aja yang salah taktik," jawabku yang membuat Daddy beralih menatapku.
"Maksud kamu?"
"Berani bayar berapa Daddy untuk ku bantu cara untuk mendekati Mommy?" tanyaku membuat penawaran.
"Kau matreliastis juga yah," jawab Daddy mengusap kepalaku.
"Uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, Dad," jawabku.
Daddy mengangguk-anggukkan kepalanya merasa lucu dengan kalimatku mungkin kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
"Seratus juta?"
"Dua ratus lima puluh juta, Deal?" tawarku.
"Seratus juta plus iPad baru!"
"Oke Deal!" jawabku menjabat tangan Daddy.
•
•
•
TBC
Anak sama Bapak sama aja
beri keajaiban dong ..
bukan sok bener sendiri... tapi bok jangan seperti itu.
kita menjelek² kan orang... belum tentu kita bagus dan baik.
setiap orang memang punya pemikirannya sendiri²... tapi tidak perlu menghujat to menjatuhkan orang lain.
berkaca pada diri sendiri... apa yang kurang to yang baik pada diri kita... dan moga² hati kita d jauhkan dari PENYAKIT HATI.
maaf bila kata² to tulisan saya menyakitimu...buka membela siapa²...hanya mengingatkan. moga jadi lebih baik dan sehat selalu. 🙏🙏🙏🙏☺☺