Kehidupan setelah menikah pasti bahagia menurut sebagian orang karena adanya cinta. Namun, tidak dengan kenyataan yang justru akan banyak ujian dan juga konflik yang terjadi setelah menikah. Seperti Dinda, yang kehidupan rumah tangganya begitu menyedihkan. Rey, suami yang tak berguna karena tidak bisa di andalkan baik dalam materi atau perhatian Rey, yang hanya bisa memberikan uang sedikit untuk kebutuhannya juga anaknya. Saat di minta uang Rey, selalu bilang tidak punya hingga Dinda, harus meminjam uang pada teman dan tetangganya. Tidak hanya dalam masalah uang Rey, juga tidak perhatian pada Dinda, juga anaknya. Saat anaknya sakit dan Dinda, meminta uang untuk biaya rumah sakit Rey, hanya bilang 'Nanti ku telepon lagi' itu saja yang Rey, ucapkan tanpa rasa khawatir. Rey, suami yang tak berguna juga pelit tetapi Rey, berani royal pada wanita lain.
Bagaimanakah cara Dinda, menghadapi Rey, suami yang tak berguna? Konflik apa lagi yang terjadi pada rumah tangga mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ( Keputusan Karin )
Kini Dinda, merasa tenang. Dan akan memulai hidup baru bersama Syena. Dinda, sama sekali tidak memikirkan tentang lelaki, atau kekasih. Dan belum memikirkan tentang pernikahan yang Dinda, pikirkan saat ini adalah Syena, hanya kebahagiaan Syena.
Keputusan Rey, saat itu membuat hidup Dinda, lebih tenang. Setidaknya tidak ada lagi ketakutan pada dirinya. Tapi bagaimana dengan Karin.
Karin!
Vikram, terus berteriak memanggil nama Karin. Suaranya begitu menggema mengundang perhatian banyak karyawan.
Vikram, sangat kesal setelah mobilnya di ambil Karin, dan pemblokiran semua kartu debitnya. Walau Karin, sudah menyisakan satu kartu debitnya.
Karin!
"Bu, bagaimana ini pak Vikram, terus berteriak dan meminta masuk," ujar seorang wanita yang menjabat sebagai sekretarisnya.
"Panggilkan saja staff keamanan." Titah Karin, yang bersandar pada kursi kebesarannya. Namun, teriakan Vikram, semakain keras terdengar.
"Bu Karin. Jika pak Vikram, tidak pergi mungkin akan membuat kerusuhan." Sekretarisnya begitu khawatir. Beruntung staff keamanan sudah datang dan menyeretnya keluar.
Vikram, menatap tajam pada gedung tinggi di depannya. Tatapannya begitu menakutkan. Tidak berselang lama Vikram, pun pergi meninggalkan gedung itu.
"Sial!"
Sepanjang jalan Vikram, hanya menggerutu. Vikram, teringat jika dirinya masih memiliki satu kartu debit lagi. Kartu itu Karin, berikan khusus untuk karyawannya saat di cek, ternyata kartu itu masih bisa di gunakan. Vikram, senang karena Karin, tidak memblokir kartu itu. Dengan segera Vikram, mengambil semua uang yang ada di dalam kartu nya setelahnya Vikram, pergi menemui Mia.
Di kantor Karin, begitu pusing memikirkan Vikram. Hingga karin, tidak dapat bekerja dengan baik. Karin, butuh merenung dan menyendiri tetapi masalah kembali datang sekretarisnya memberikan kabar jika keuangan perusahaan sedang bermasalah.
"Bu Karin," panggil sekretarisnya
"Sudahku bilang jangan ganggu aku. Aku ingin istirahat sebentar." Ujar Karin, dengan mata yang terpejam.
"Tapi ini masalah besar. Bu Karin, harus tahu."
"Apa?" Karin, mengerjapkan matanya lalu duduk dengan tegak. Sekretarisnya pun segera memberikan beberapa dokumen yang harus di bacanya.
Mata Karin, membulat sempurna setelah membaca dokumen itu. Lalu menatap tajam pada sekretarisnya. "Bagaimana ini bisa terjadi! Kenapa kalian baru memberikan laporannya padaku sekarang panggilkan manajer keuangan." Karin, terlihat sangat marah. Tidak berselang lama seorang wanita datang yang menjabat sebagai manajer keuangan.
"Jelaskan. Kenapa dana perusahaan bisa berkurang. Cepat jelaskan."
"Maaf Bu Karin, saya tidak tahu tentang itu. Setiap dana yang masuk dan dana yang di keluarkan untuk membangun proyek hanya pak Vikram, yang bisa menerima dan mengeluarkannya. Saya hanya mendata total keseluruhan dana yang masuk setiap bulannya untuk keseluruhan total dana saya tidak tahu." Wanita itu terlihat gemetar karena takut.
"Siapa yang memerintah. Aku meminta Vikram, untuk membantumu bukan kamu yang membantunya. Kemana kamu bisa melimpahkan tanggung jawab itu pada Vikram!"
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak berani membantah."
"Kenapa?"
"Karena pak Vikram, selalu mengancam akan mengadu pada ibu dan dia berkata jika dia suami ibu jadi saya takut di pecat."
Karin, benar-benar kesal. Bisa-bisanya Vikram, menjadikan status pernikahannya untuk mengancam orang lain. Dengan segera Karin, beranjak dari duduknya dan bergegas pergi.
****
Di sisi lain Vikram, bersenang-senang. Vikram, masih berani menemui Mia, di saat seperti ini. Vikram, meminta maaf pada Mia, atas perlakuan Karin, yang sudah memecatnya dalam sepihak.
"Aku tidak menyangka masalahnya serumit ini. Maaf kan aku honey."
"Aku bingung apa yang harus aku katakan pada ibuku. Aku tidak bisa memberikannya uang. Mungkin setelah ini aku harus mencari pekerjaan lain. Lalu bagaimana denganmu apa Bu Karin, marah?"
"Ya, dia marah mungkin aku juga akan di pecat. Tapi itu tidak mungkin karena Karin, tidak mungkin melakukannya. Karin, tidak akan bisa jauh dariku." Vikram, begitu yakin jika Karin, masih mempertahankannya dan mencintainya.
"Mungkin kamu masih aman tapi bagaimana denganku."
"Jangan sedih kamu bisa mencari pekerjaan lain. Untuk sementara gunakanlah uang ini untuk keperluanmu." Vikram, memberikan uang yang baru saja di ambilnya. Mia, tersenyum lalu memeluk Vikram.
Hari sudah malam. Vikram kembali ke rumah dengan langkah gontainya. Karena hari ini Vikram, harus melewati hari yang melelahkan. Menaiki taksi dan berjalan kaki karena dirinya sudah tidak memiliki mobil lagi. Sesampainya di rumah Vikram, melihat semua barang-barangnya berserakan di teras saat akan membuka pintu. Pintu itu terkunci rapat.
"Apa ini. Apa Karin, mengusirku." Ucap Vikram, seraya mengaut-autkan barangnya.
"Karin! Karin buka pintunya." Vikram, berusaha membuka pintunya namun tidak bisa karena pintu itu terkunci. Vikram, terus berteriak memanggil nama Karin.
Di dalam Karin, hanya duduk sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing karena mendengar teriakan Vikram. Dengan segera Karin, menghubungi security penjaga rumahnya untuk membawa Vikram, pergi dari rumahnya.
"Halo pak usir orang itu."
"Tapi Bu, pak Vikram." Security itu terlihat ketakutan karena yang dirinya tahu Vikram, adalah suami bosnya.
"Usir saja dia bukan suamiku lagi." Tegas Karin, lalu menutup sambungan teleponnya. Karin, beranjak dari duduknya dengan membawa sebuah surat di tangannya. Sesampainya di depan pintu Karin, pun membukanya.
Cklek,
Vikram, terlihat tenang dan tersenyum karena berpikir jika Karin, membukakan pintu untuknya. Dan tidak akan mengusirnya.
"Sayang, aku tahu kamu tidak akan melakukan ini. Kamu tidak benar-benar mengusirku, kan!"
"Kamu pikir aku akan memaafkanmu. Setelah kamu mengkhianatiku juga perusahaanku."
"Maksudmu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Vikram. Karin, malah melempar sebuah surat pada Vikram lalu kembali menutup pintu dengan rapat.
"Pengadilan agama." Ucap Vikram, saat membaca surat itu. Dengan segera Vikram, membukanya dan membacanya ternyata itu adalah surat gugatan cerainya.
"Dia ingin bercerai. Tidak mungkin." Vikram, masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia baca.
"Karin! Karin! Bukalah, dengarkan aku dulu maafkan aku. Aku mohon maafkan aku." Vikram, terus berteriak memohon maaf. Beruntung tetangga sebelahnya sedang tidak ada di rumah. Karena Rey, sedang berada di rumah sakit saat ini. Namun, tetap saja teriakannya mengganggu tetangga yang lain.
"Lepaskan! Ngapain kalian tarik-tarik aku."
Teriak Vikram, saat tangannya di tarik paksa oleh kedua security.
"Pak Vikram, tolong jangan membuat keributan. Pergi dari sini atau kami akan menyeretmu."
"Aku bisa jalan sendiri lepaskan tangan kalian." Kedua security itu pun melepaskan genggaman tangannya. Dengan terpaksa Vikram, pergi membawa barang-barangnya. Di dalam sana Karin, terlihat mengintip di balik jendela tatapan sayu yang menyedihkan. Mungkin Karin, tidak pernah menyangka jika hubungannya dengan Vikram, akan berakhir seperti ini. Jika boleh jujur dalam hatinya masih sangat mencintai Vikram. Namun, setelah apa yang di lakukan Vikram, terhadap dirinya juga perusahaan membuat Karin, harus memilih jalan cerai.
Karin, melangkah gontai memasuki kamarnya. Lalu merebahkan tubuh di atas king sizenya. Matanya menatap kosong pada langit-langit kamarnya.
Ting!
Satu notifikasi pesan yang masuk pada ponselnya. Karin, pun membuka pesan itu.
[Pulanglah. Sudah lama kita tidak bicara dan minum teh bersama]
Satu pesan dari ibunya. Mungkin ibunya sudah mengetahui jika hubungan Karin, dan Vikram, tidak membaik. Atau mungkin ibunya sudah mengetahui jika dirinya menggugat cerai Vikram.
[Aku akan datang saat waktuku senggang]
Balas Karin. Lalu Karin, kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Aku memang sudah di butakan cinta. Aku telah mencintai lelaki yang salah," ucapnya demikian.
...----------------...
Cinta memang buta, karena cinta tidak pernah melihat kesalahan seseorang.
Siapa yang ngarepin Karin, cerai nih! Mana like dan komennya jangan lupa votenya berikan untukku tersayang❤
Dari tokohnya juga sangat mengisnpirasi untuk tetap sabar dalam menjalani cobaan.
enak skli laki2 kyk gitu sllu main perempuan trus punya anak2 di mna,
bayakin cerita dinda sma willy dong thor
males cerita.rey mulu