Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Berlumur?
Selama 3 jam aku dan Barra jatuh pingsan di lantai kamar, tak ada satu pun di antara kami untuk saling membangunkan setelah kejadian 3 jam yang lalu menimpa kami berdua.
Jderr!!
Tik! Tik!
Suara petir menyambar cukup kuat bersama rintik hujan yang perlahan jatuh membasahi atap rumah. Suara petir dan rintik hujan membangunkan ku. Perlahan aku duduk, kedua tangan masih di lilit gesper milik Barra.
“Akh!” Keluhku merasakan sakit hampir di seluruh tubuhku saat bangun. Kedua mata membesar saat melihat rok milikku berubah menjadi merah. “Darah. Ke-kenapa bisa banyak seperti ini?” Tanyaku sendiri. Aku langsung berdiri, namun saat kaki kanan hendak melangkah mengalir gumpalan berwarna merah gelap dari kaki kananku dan jatuh tepat di atas lantai. “Gumpalan berwarna merah gelap! Apa aku….” Kedua mata menatap tubuh Barra yang masih terbaring. “Tidak. Lelaki ini tidak boleh tahu jika aku keguguran, aku harus cepat membuang gumpalan ini.” Ucapku pelan, kedua tangan meraup gumpalan berwarna merah gelap, kedua kaki melangkah cepat menuju kamar mandi.
Kedua kaki berhenti di depan kloset duduk, aku menatap gumpalan berwarna merah gelap di kedua tanganku. “Maafkan Ibu nak.” Ucapku lirih, air mata pun menetes bersamaan dengan gumpalan berwarna merah gelap yang aku jatuhkan ke dalam kloset. Tangan kanan dengan cepat menekan tombol yang berada di samping kloset, membuat gumpalan berwarna merah gelap ikut hanyut bersama air yang mengalir.
Tok!tok!
“Vivana. Apa kamu di dalam?”
Aku segera berlari menuju wastafel khusus pencuci wajah, dengan cepat aku menekan kran air dan pura-pura membasuh wajah dengan kedua tangan yang masih terlilit. Ku raup wajah ini memakai air bersih bercampur darah, tetesan air mata demi tetesan pun jatuh bersamaan dengan air yang kini sudah jernih.
‘Kenapa aku tidak menyadari jika aku hamil, dan kenapa aku bisa hamil padahal pernikahan kami baru genap 2 minggu lebih 4 hari. Kenapa aku tidak teringat kapan terakhir kali aku datang bulan, dan kenapa begitu mudahnya aku merelakan bayi yang ada di dalam kandunganku mati di tangan Barra, Ayah kandungnya sendiri. Sungguh tega kamu Barra.’ Batinku. Walau hati terasa perih dan sakit, kedua tangan tetap membasuh wajah yang tak kotor agar aku tak mendengar suara Barra dan langkah kakinya.
“Kenapa kamu tidak membangunkan aku, tadi malam aku terpeleset dan jatuh hingga membentur lantai saat menutup jendela.” Ucap Barra berbohong. Kenapa dirinya berbohong, apa sebenarnya yang ia sembunyikan dariku. Barra terus melangkah mendekati diriku, tangan kanan menutup kran air. Barra memutar posisiku menghadap dirinya. “Kenapa kamu diam saja, apa ikatan ini sangat sakit?” Tanya Barra datar, kedua tangan membuka perlahan gasper yang ia lilitkan di kedua pergelangan tangan kananku.
“Dahi Anda berdarah.” Ucapku mengalihkan pembicaraan, aku berbalik badan, tangan kanan mengulur ke atas, membuka kotak kaca P3K yang entah kapan menempel di atas wastafel khusus pencuci wajah. “Tadi aku kebelet pipis, jadi aku tidak sempat membangunkan Anda.” Ucapku berbohong, kedua tangan meletakkan kotak P3K di pinggiran wastafel, kepala tertunduk. “Maaf kan aku, tuan Barra.”
Barra memegang daguku, menaikkan pandanganku. “Husst!!! Jangan panggil aku tuan, karena aku bukan majikan kamu.” Tangan kanan Barra menyingkap rambut yang menutup sebagian wajahku. “Kamu tidak perlu minta maaf sayang.” Barra menggendong tubuhku dan mendudukkan aku di atas wastafel. “Kamu sangat cantik dan juga benar-benar manis jika patuh seperti ini.” Tangan kanan Barra memegang tengkukku, membawa wajahku mendekat dengan wajahnya.
Barra mencium bibirku dengan lembut, membuat aku terlena dan lupa siapa dirinya. Seorang psikopat dengan perlakuan sangat lembut membawa aku menikmati ciuman manis darinya.
Bukan hanya ciuman, Barra juga meninggalkan beberapa jejak di beberapa bagian tubuhku dan lagi-lagi aku membiarkan hal itu. Aku seperti terhipnotis dan terhanyut dengan sikap lembutnya, walau hanya sekedar berciuman.
Barra meletakkan dahinya di dahiku, nafas menggebu bersaut dengan nafasku, tangan kanannya masih memegang tengkukku, jari jempol mengusap lembut bibirku yang basah.
“Hanya seperti ini kamu sudah membuatku puas.” Kedua tangan Barra menyelinap masuk ke rok hingga sampai menyentuh penutup segitiga milikku, Barra segera menarik kedua tangannya. Kedua mata membesar menatap kedua telapak tangan di penuhi darah. “Darah! Kenapa kamu tidak bilang jika kamu mengeluarkan darah sebanyak ini?” Barra segera menggendong tubuhku, membawa tubuhku ke bathub. Tangan kanan menekan kran khusus air hangat. “Kamu jangan bergerak, aku akan memandikan kamu dan membersihkan seluruh tubuh kamu dari darah itu.”
“Ini hanya darah Mens.” Sahutku berbohong, kedua mata mengikuti gerak-gerik Barra ke sana kemari di dalam kamar mandi. “Anda cukup membelikan saya anti denyut dan pembalut buat menahan rasa sakit ini.”
“Baik. Aku akan segera menelepon Santo.” Sahut Barra, kedua kaki melangkah menjauh dariku, tangan kanan meraih benda pipih dari saku celananya dan menekan kontak seseorang.
‘Benar-benar psikopat. Sungguh mengerikan jika aku terus hidup bersama dengan dirinya.’ Gerutuku di dalam hati.
.
.
🍃🍃2 jam kemudian. 🍃🍃
Rambut setengah basah, baju piyama tebal, selimut tebal menyelimuti seluruh tubuhku, tak lupa kompres pendingin suhu badan menempel di dahiku. Aku seperti anak kecil yang sedang demam dan terbaring di atas ranjang. Ini semua ulah Barra, sih psikopat itu. Dan siapa pria itu? Pria muda sedikit lebih tampan dan bertubuh kekar berdiri berhadapan dengan Barra di depan pintu kamar.
Apa dia itu Santo! Pria yang baru saja di telepon oleh Barra, dan kenapa pria itu sangat cepat membeli seluruh permintaanku. Siapa Barra dan siapa pria yang bernama Santo itu?
Mereka berdua sungguh mencurigakan dan sangat membuat aku bergidik ngeri setiap menatap wajahnya, terlebih lagi wajah Santo. Walau wajahnya tampan, tapi tatapannya sangat mengerikan. Dia seperti seorang pembunuh berdarah dingin, ia! Kalimat itu yang patut buat mereka berdua.
Melihat Barra dan Santo perlahan berjalan ke arahku, aku langsung memejamkan kedua mataku, aku hanya bisa berpura-pura tidur di saat seperti ini. Agar aku bisa mendengar percakapan mereka. 5 menit kemudian kedua telingaku mendengar suara sandal rumah milik Barra terhenti tepat di sisi kiri ranjangku, dan tepian ranjang juga sedikit mengayun, aku rasa Barra sudah duduk di sampingku.
“Dia adalah istriku. Namanya adalah Vivana. Mulai saat ini kamu harus ekstrak menjaga dirinya” Barra menggantung ucapannya, tangan kanan membelai lembut pipiku. “Karena aku tak ingin kehilangan seseorang yang sangat penting lagi bagiku untuk yang kedua kalinya. Hanya karena dirinya tidak patuh.”
‘Apa! Apa maksud dari ucapan Barra barusan. Berarti sebelum diriku ada seorang wanita yang pernah singgah dan menetap di hidupnya. Siapa wanita itu? apakah wanita itu juga sama menderitanya dengan diriku di sini. Tapi kenapa dia bilang kehilangan! Apa wanita itu sudah meninggal, atau…..tenang Vivana. Semua manusia dan setiap insan juga pernah melabuhkan hatinya kepada orang lain, termasuk kamu. Tenang. Kamu harus tetap tenang agar kamu selamat dari pria seperti Barra.’ Gerutuku di dalam hati berkecamuk.
“Baik tuan. Saya akan melakukan semua perintah yang tuan katakana termasuk.” Sahut Santo datar, dan menggantung ucapannya karena di hentikan Barra.
“STOP! Sekarang kamu cepat sediakan teh kayu manis di campur gula merah hangat buat Vivana.”
“Baik tuan.”
...Bersambung...
makanya datang terus meneror
sereeeemmm