NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: BAYANGAN DI BALIK LAMPU JALAN

Raungan mesin motor memecah lengangnya jalanan Jakarta.

Rangga melaju dengan kecepatan sedang, membiarkan angin malam menerpa wajahnya melalui celah helm yang belum tertutup rapat. Pikirannya masih tertinggal di depan rumah kos Sari.

Pelukan itu...

Masih terasa hangat.

Begitu pula bisikan lirih yang terus terngiang di telinganya.

"Berjanjilah... kamu akan kembali."

Rangga menarik napas panjang.

"Insyaallah..."

gumamnya pelan di balik helm.

Lampu-lampu kota berpendar memantul di permukaan jalan yang masih menyisakan bekas gerimis sore tadi. Kendaraan mulai berkurang satu per satu. Semakin jauh ia meninggalkan pusat keramaian, suasana di sekitarnya berubah semakin lengang.

Rute itu sebenarnya sudah sangat dikenalnya.

Jalan pintas menuju ruko yang sering ia pilih ketika malam mulai larut.

Selain lebih dekat, jalur itu jarang dilalui kendaraan besar.

Namun malam itu...

Entah mengapa, suasananya terasa berbeda.

Rangga memperlambat laju motornya.

Tatapannya bergerak ke kaca spion.

Kosong.

Tidak ada kendaraan yang mencurigakan.

Ia kembali memusatkan perhatian ke depan.

Mungkin hanya perasaannya saja.

Beberapa ratus meter kemudian, sebuah minibus hitam melintas dari arah berlawanan.

Mobil itu melaju biasa saja.

Tidak terlalu cepat.

Tidak pula menarik perhatian.

Rangga bahkan tidak sempat memikirkannya.

Sampai kendaraan itu menghilang di tikungan belakang.

Ia terus melaju.

Hanya suara mesin motornya yang menemani malam.

Lalu...

Sorot lampu putih tiba-tiba memenuhi kaca spion.

Sebuah kendaraan melaju cepat dari belakang.

Rangga memberi sedikit ruang ke sisi kiri jalan, mengira pengemudi itu hendak mendahuluinya.

Namun kendaraan tersebut tidak kunjung menyalip.

Jaraknya justru semakin dekat.

Terlalu dekat.

Rangga kembali melihat melalui kaca spion.

Minibus hitam.

Mobil yang beberapa saat lalu berpapasan dengannya.

Kening Rangga berkerut.

"Kenapa dia berbalik?"

Belum sempat ia menemukan jawabannya, suara raungan mesin lain terdengar dari belakang.

Dua sepeda motor muncul hampir bersamaan.

Satu bergerak di sisi kanan.

Satu lagi mengambil posisi di sebelah kiri.

Gerakan mereka terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Rangga mulai menyadari sesuatu.

Ini bukan pengguna jalan biasa.

Naluri yang selama ini menemaninya bertahan hidup di kerasnya ibu kota langsung mengambil alih.

Tanpa panik, ia sedikit mengurangi kecepatan.

Bukan untuk menyerah.

Melainkan memberi ruang bagi pikirannya membaca situasi.

Tiga kendaraan.

Satu di depan.

Dua di belakang.

Jarak mereka terus berubah, tetapi tidak pernah benar-benar menjauh.

Seolah-olah...

Mereka sedang menggiringnya menuju suatu tempat.

Rangga menggenggam setang motornya lebih erat.

Tatapannya mulai menyapu keadaan di sekeliling.

Deretan ruko yang sejak tadi berjajar perlahan menghilang, berganti gudang-gudang tua yang sudah tutup sejak sore.

Lampu jalan berdiri berjauhan.

Cahayanya redup.

Membiarkan sebagian ruas jalan tenggelam dalam bayangan.

Saat itulah...

Perasaan yang sejak tadi hanya berupa firasat berubah menjadi keyakinan.

Mereka...

Sedang mengincarnya.

*****

Rangga tetap memacu motornya dengan tenang.

Ia tidak ingin memperlihatkan bahwa dirinya mulai menyadari situasi yang sedang terjadi. Pengalaman bertahun-tahun merantau mengajarkannya satu hal: kepanikan hanya akan menguntungkan pihak yang sedang mengincar.

Sesekali matanya kembali melirik kaca spion.

Minibus hitam itu masih berada di belakangnya.

Begitu pula dua sepeda motor yang sejak tadi menjaga jarak.

Tidak ada yang mencoba menyalip.

Tidak ada yang membunyikan klakson.

Mereka hanya mengikuti.

Dan justru itulah yang membuat bulu kuduk Rangga meremang.

Beberapa saat kemudian, jalan yang dilaluinya semakin lengang.

Deretan gudang tua berdiri membisu di sisi kanan dan kiri. Beberapa lampu jalan bahkan sudah mati, menyisakan cahaya redup yang tidak mampu mengusir gelap sepenuhnya.

Rangga menghela napas perlahan.

Ia mulai menghitung kemungkinan.

Menerobos?

Risikonya terlalu besar.

Berbalik arah?

Dua motor sudah menutup ruang geraknya.

Berhenti?

Belum tentu menjadi pilihan yang lebih aman.

Belum sempat ia mengambil keputusan, minibus hitam di belakangnya mendadak meraung lebih keras.

Mobil itu melesat ke depan, menyalip dengan cepat, lalu mengambil jalur di hadapan Rangga.

"Astaga..."

Refleks, Rangga mengurangi kecepatan.

Namun minibus itu justru membanting setir ke kiri.

Ciiittt...!

Suara gesekan ban memecah kesunyian malam.

Mobil itu berhenti melintang, menutup hampir seluruh badan jalan.

Rangga spontan menarik tuas rem sekuat tenaga.

Ban motornya berdecit panjang di atas aspal.

Motor bergoyang hebat sebelum akhirnya berhenti hanya beberapa langkah dari bumper belakang minibus.

Napas Rangga memburu.

Kalau terlambat sepersekian detik saja...

Tubuhnya mungkin sudah menghantam badan mobil itu.

Belum sempat ia memulihkan keseimbangan, dua sepeda motor yang sejak tadi membuntutinya langsung bergerak cepat.

Satu berhenti di belakang.

Satu lagi menutup sisi kanan.

Kini jalan sempit itu benar-benar terkunci.

Rangga memandang ke segala arah.

Tidak ada kendaraan lain.

Tidak ada pejalan kaki.

Hanya dirinya...

dan empat kendaraan yang sengaja menghentikannya.

Pintu samping minibus perlahan terbuka.

Satu...

Dua...

Tiga orang pria turun bergantian.

Tubuh mereka tegap.

Seluruhnya mengenakan pakaian berwarna gelap.

Masker hitam menutupi hampir seluruh wajah mereka, menyisakan sepasang mata yang memandang tanpa sedikit pun keraguan.

Pria yang berdiri paling depan melangkah mendekat.

Langkahnya pelan.

Namun penuh tekanan.

Rangga turun dari motornya.

Ia mematikan mesin, lalu menurunkan standar samping dengan tenang.

Tatapannya bergantian mengamati ketiga pria itu.

Tidak satu pun wajah yang dikenalnya.

"Ada perlu apa?" tanya Rangga datar.

Tidak ada jawaban.

Ketiga pria itu hanya saling berpandangan sejenak.

Lalu...

Pria yang berada di tengah mengangkat tangan kanannya perlahan.

Sebuah isyarat sederhana.

Namun cukup membuat dua pria lainnya mulai menyebar, mempersempit ruang gerak Rangga.

Saat itulah Rangga benar-benar yakin.

Mereka datang bukan untuk merampas motor.

Bukan pula sekadar menakut-nakutinya.

Target mereka...

adalah dirinya.

Rangga mengembuskan napas perlahan.

Kedua telapak tangannya mengepal.

Sorot matanya berubah tajam.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirim kalian."

"Tapi kalau memang ingin lewat..."

"...kalian harus melewatiku dulu."

Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika pria bertubuh paling besar melangkah cepat, mengangkat tinju kanannya, lalu mengayunkannya lurus ke arah wajah Rangga.

Tinju pria bertubuh besar itu melesat lurus menuju wajah Rangga.

Dalam sepersekian detik, Rangga memiringkan kepalanya. Kepalan keras itu hanya menyapu angin di samping telinganya. Memanfaatkan celah sekecil apa pun, Rangga segera membalas dengan hantaman siku ke arah rusuk lawannya.

Buk!

Pria itu mengerang pelan sambil mundur satu langkah.

Namun kesempatan itu tidak bertahan lama.

Dua pria lain langsung bergerak hampir bersamaan. Salah satunya menyerang dari sisi kanan dengan pukulan lurus, sementara yang lain mencoba memutari punggung Rangga untuk menutup jalan mundurnya.

Rangga memutar tubuh, menepis pukulan pertama menggunakan lengan kirinya. Di saat yang sama, kaki kanannya menyapu rendah ke arah betis lawan yang berada paling dekat.

Brak!

Lawan itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas aspal.

Rangga tidak mengejar.

Nalurinya mengatakan bahwa bertahan jauh lebih penting daripada memaksakan serangan.

Sayangnya, jumlah lawan mulai menunjukkan perbedaannya.

Pria bertubuh besar yang tadi sempat mundur kembali bangkit dengan amarah yang lebih besar. Kali ini ia tidak menyerang sendirian.

Ketiganya bergerak bergantian.

Tidak saling berebut.

Tidak saling menghalangi.

Seolah mereka sudah terbiasa bekerja dalam satu tim.

Sebuah pukulan datang dari depan.

Rangga berhasil menghindar.

Namun tendangan dari samping mengenai lengannya.

Rasa nyeri menjalar hingga ke bahu.

Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, sebuah siku menghantam punggungnya cukup keras hingga napasnya tercekat.

Rangga terdorong beberapa langkah.

Ia mengepalkan rahang, memaksa dirinya tetap berdiri.

"Orang ini lumayan juga."

Salah satu pria bertopeng berkomentar pendek.

"Jangan main-main."

Suara pemimpin mereka terdengar dingin.

"Selesaikan."

Hanya satu kata.

Namun cukup membuat dua rekannya kembali menyerang tanpa ragu.

Rangga menyadari sesuatu.

Mereka bukan sedang mencari kemenangan.

Mereka sedang menjalankan tugas.

Gerakan mereka terlalu rapi.

Terlalu terukur.

Dan tidak dipenuhi emosi seperti perkelahian jalanan pada umumnya.

Rangga kembali mengangkat kedua tangannya.

Ia menghindari satu pukulan, lalu membalas dengan tendangan lurus ke arah perut lawan.

Serangan itu mengenai sasaran.

Namun di saat bersamaan, sebuah tinju keras menghantam rahang kirinya.

Dug!

Kepalanya seketika berputar.

Pandangan Rangga sempat mengabur.

Ia mundur dua langkah sambil mencoba mengembalikan fokus.

Belum selesai.

Sebuah tendangan rendah menyapu kaki kirinya.

Tubuh Rangga oleng.

Ia masih berusaha bertahan.

Tetapi keseimbangannya mulai goyah.

Keringat bercampur darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.

Napasnya kini terdengar berat.

Ia sadar...

Tenaganya terus terkuras.

Sementara ketiga pria di hadapannya masih tampak sanggup menyerang tanpa henti.

Pemimpin kelompok itu memperhatikan Rangga beberapa saat.

"Sudah selesai."

Katanya datar.

Ia melangkah maju perlahan.

Dua anak buahnya ikut bergerak, mempersempit ruang gerak Rangga hingga nyaris tidak menyisakan celah.

Rangga mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.

Ia kembali memasang kuda-kuda.

Walau kedua lengannya mulai terasa berat dan pandangannya belum sepenuhnya pulih, tekadnya belum runtuh.

Ia memilih tetap berdiri.

Karena menyerah...

bukan pilihan yang pernah diajarkan hidup kepadanya.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, empat sosok itu kembali saling berhadapan.

Malam masih panjang.

Dan Rangga mulai menyadari...

pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!