Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Pakaian, Makanan, dan Obat
Ketika masa kurungan berakhir, pintu kamar Momo dibuka sebelum ia sempat mengetuk dari dalam.
Albert berdiri di luar. "Nona boleh keluar hari ini."
Momo menatapnya. "Aku harus berterima kasih?"
"Tidak perlu."
"Bagus. Aku memang tidak berniat."
Albert menunduk sedikit, seolah jawaban itu sudah ia duga. "Tuan menunggu di ruang makan."
Momo hampir berkata bahwa Tuan-nya bisa menunggu sampai lumutan. Tetapi perutnya sudah belajar bahwa perang dengan Renard lebih mudah dilakukan setelah makan.
Sebelum keluar, ia membuka lemari untuk mengambil kardigan yang biasa ia pakai.
Lemari itu penuh.
Momo membeku.
Gaun, kemeja, celana panjang, sepatu, sandal, tas kecil, bahkan pakaian tidur, semuanya tersusun rapi. Tidak ada logo besar. Tidak ada merek yang berteriak mahal. Justru karena itu, Momo tahu benda-benda ini lebih mahal daripada yang bisa ia tebak. Kainnya halus, warnanya dipilih dengan hati-hati, ukurannya pasti.
Ukurannya pas.
Pikiran itu membuat lehernya panas.
Renard tahu ukuran tubuhnya. Bahu, pinggang, kaki. Bukan kira-kira. Tahu.
Momo menutup lemari keras-keras.
Di ruang makan, Renard sedang membaca tablet. Ia tidak mengangkat kepala ketika Momo masuk.
"Aku bukan boneka," kata Momo tanpa basa-basi.
Renard menggeser layar tablet. "Selamat pagi juga."
"Jangan belikan aku pakaian seolah aku barang pajangan."
"Kau butuh pakaian."
"Aku butuh pulang."
Renard akhirnya menatapnya. "Duduk."
Momo ingin menolak. Lalu aroma makanan menyentuh hidungnya.
Ia menoleh ke meja.
Lumpia Semarang.
Tahu gimbal.
Wingko babat kecil yang dipotong rapi.
Untuk beberapa detik, dunia Momo menyempit menjadi aroma rebung, kacang, bawang goreng, dan kelapa panggang. Dadanya sakit. Makanan itu bukan sekadar makanan. Itu gang sempit Pecinan. Itu tangan Ama membungkus lumpia dengan kertas minyak. Itu sore ketika Momo pulang kerja, duduk di bangku plastik, makan sambil mendengar Ama mengomel karena ia terlalu kurus.
Mata Momo panas.
Ia membenci Renard karena memilih luka yang tepat.
"Kenapa ada ini?"
"Makan."
"Aku tanya kenapa."
"Karena kau akan makan lebih banyak."
Jawaban itu praktis, dingin, dan hampir membuatnya menangis.
Momo duduk. Ia mengambil sepotong lumpia, menggigitnya pelan. Rasanya tidak persis seperti buatan Ama. Terlalu rapi, terlalu bersih, terlalu restoran. Tetapi cukup dekat untuk membuat tenggorokannya tercekat.
Renard pura-pura tidak melihat.
Itu yang membuatnya makin sulit ditahan.
Setelah sarapan, Momo keluar ke taman. Albert berjalan beberapa langkah di belakang. Angin laut masih sama, tetapi untuk pertama kalinya Momo merasa perutnya penuh oleh sesuatu selain takut.
"Dia yang memilih menu itu?" tanya Momo tanpa menoleh.
Albert diam.
"Kalau kamu tidak jawab, aku anggap ya."
"Tuan meminta daftar makanan khas Pecinan Semarang," kata Albert akhirnya. "Lalu mencoret yang terlalu pedas untuk kondisi lambung Nona."
Langkah Momo berhenti.
"Dia meneliti sampai itu?"
"Tuan meneliti semua hal yang dianggap penting."
Momo tertawa kecil, tetapi tidak ada lucunya. "Aku dianggap penting atau dianggap milik?"
Albert tidak menjawab.
Malam itu, Momo berdiri lama di depan pintu penghubung.
Ia masih membenci Renard. Itu belum berubah. Ia masih ingin pulang. Itu juga belum berubah. Tetapi lumpia di meja, teh hangat di malam demam, jas basah di dermaga, buku tanaman obat yang belum ia tahu nanti akan ia lihat, semua detail itu mulai membentuk celah kecil di dinding bencinya.
Celah kecil bisa berbahaya.
Momo memegang kunci pintu.
Lalu melepaskannya.
Makan malam datang dengan kejutan yang lebih kejam daripada gaun.
Di atas meja ada lumpia Semarang, tahu gimbal, nasi hangat, dan wingko babat yang masih wangi kelapa. Semua makanan itu terlalu akrab. Terlalu tepat. Momo berdiri di pintu ruang makan dan merasakan lututnya hampir lemah karena rindu yang tidak meminta izin.
"Siapa yang memberi tahu?" tanyanya.
Albert menarik kursi. "Tuan Renard memilih menu."
"Dia tidak pernah makan di warung Semarang."
"Tidak."
"Lalu dari mana dia tahu?"
Albert tidak menjawab cukup cepat.
Momo tertawa tanpa suara. "Tentu saja. Dari file tentang aku."
Renard duduk di ujung meja, wajahnya sulit dibaca. "Kau harus makan."
"Aku bukan boneka. Aku bukan proyek amal. Aku bukan perempuan yang bisa dibuat jinak dengan makanan kampung."
"Aku tidak sedang menjinakkanmu."
"Tidak? Lemari penuh pakaian, dokter untuk Ama, makanan masa kecilku di meja. Apa namanya kalau bukan menjinakkan?"
Renard meletakkan sendok. Suara kecil itu membuat Albert diam.
"Kalau aku ingin menjinakkanmu," kata Renard, "aku tidak akan memilih makanan yang membuatmu ingat siapa dirimu."
Momo kehilangan jawaban selama satu detik.
Ia membencinya karena itu.
Pria ini selalu begitu. Ia menaruh rantai di satu tangan dan obat di tangan lain, lalu membuat dunia terlihat terlalu rumit untuk disebut hitam putih. Momo ingin menolak makanan itu, tetapi perutnya sakit oleh lapar. Aroma lumpia memanggil bagian dirinya yang masih duduk di kios Ama, menghitung koin, mencuri gigitan kecil saat tidak ada pembeli.
Ia duduk.
Renard tidak tersenyum. Tetapi ketika Momo mengambil suapan pertama, sesuatu di bahunya turun sedikit, seperti orang yang baru melepas napas.
"Jangan terlihat puas," kata Momo.
"Aku belum puas."
Kalimat itu keluar terlalu rendah.
Momo hampir tersedak.
Renard menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi matanya tidak datar. Ada kilatan yang membuat panas naik ke wajah Momo lebih cepat daripada sambal tahu gimbal. Ia menunduk, marah pada makanan, pada pria itu, pada tubuhnya sendiri yang tidak bisa membedakan bahaya dan tarikan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak mengunci pintu penghubung.