Jodoh itu misteri, siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, tak seorang pun mengetahuinya.
Sejak masih belia, Rian dan Dina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang berkawan baik.
Mereka tidak kuasa menolak perjodohan, hingga pernikahan pun terjadi dan membuat orang yang mereka cintai patah hati.
Maretha, mantan pacar Ryan, yang terpaksa harus menikah dengan calon suami kakaknya.
Serta Fardhan, yang setengah hati menerima pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya, berharap bisa segera move-on dari Dina.
Apakah Ryan jodoh sejati untuk Dina? Bagaimana dengan para mantan, Maretha dan Fardhan?
Akankah rumah tangga mereka bertahan atau berpisah menjadi keputusan akhir mereka?
Bagaimana dengan para mantan yang patah hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Tanda Sayang
Langkah Ryan terasa ringan menuju toko Dina. Pertemuannya dengan Maretha tidak meninggalkan kesan apapun di hatinya. Kebohongan Maretha selama ini, sudah cukup membuatnya sangat kecewa dan menghilangkan semua rasa dihatinya.
Saat ini hatinya sedang diliputi kebahagiaan, dengan meniti manisnya pernikahan bersama Dina.
Ryan sebenarnya tipe lelaki setia, ketika dia sudah menetapkan hati mencinta seorang wanita, dia akan memproteksi hati dan matanya dari pesona wanita lain. Ryan memang periang dan rame, tapi untuk jatuh cinta, dia termasuk lelaki pemilih.
Kenapa bisa jatuh cinta dengan sangat cepat kepada Dina? Ryan sangat yakin, jika semua karena do'a dari ibundanya. Bundanya Ryan pernah berkata, tidak akan merestui hubungannnya dengan Maretha dan selalu berdo'a setiap sepertiga malamnya agar hati Ryan dilembutkan untuk mencintai Dina.
Saat Ryan masuk ke toko, Dina sedang turun tangan melayani pembeli. Keadaan toko Dina cukup ramai, menjelang akhir pekan banyak pengunjung yang datang dari dalam dan luar kota.
Dina belum menyadari kedatangan suaminya. Setelah menyimpan helm dipojokan meja, Ryan menghampiri seorang wanita yang Ryan lihat sedang mengamati tas-tas yang di atas etalase.
"Ayo diborong tasnya mba..." perkataan Ryan yang tiba-tiba, tentu saja mengagetkan wanita tersebut, namun kekagetannya berubah jadi senyum, saat melihat sosok yang menarik mata dihadapannya.
"Lihat-lihat dulu, A..." jawab si wanita dengan suara lembut mendayu-dayu.
"Yang mba pegang itu bagus... bahannya dari kulit asli, diproses pull-up sehingga kulitnya halus dengan kesan mewah, seperti tas-tas merk ternama," jelas Ryan tanpa diminta.
Ryan yang bekerja sebagai marketing, tentu saja pandai berbicara agar menarik minat konsumen dan tertarik membeli produknya. Seringnya Ryan menyambangi toko Dina, bahkan jika akhir pekan terkadang seharian menemani Dina, Ryan sedikit banyak tahu barang-barang yang dijual sang istri.
Wanita tersebut tidak terlalu memperhatikan penjelasan Ryan saat mempresentasikan sebuah barang. Malah dia dengan sengaja bertanya ini dan itu agar Ryan terus berbicara kepadanya.
Tanpa Ryan dan wanita tersebut sadari, tatapan tak suka Dina yang melihat pemandangan itu dan suara tawa yang bagi Dina hanya dibuat-buat saja.
Dina yang memang tidak tahu keberadaan suaminya, tetap fokus melayani seorang konsumen. Hingga indera pendengarannya menangkap suara tawa dan suara berat seseorang yang dia kenal. Hal itu tentu saja membuat hatinya terasa panas. Bahkan Dina merasa udara tiba-tiba menjadi gerah.
Mood Dina langsung anjlok, suasana hatinya berubah kesal. Dia bahkan tidak meneruskan melayani pembeli dan menyerahkannya pada pegawainya yang baru selesai melayani pembeli yang lain.
Dina berjalan menuju mejanya, dari tempatnya duduk, Dina menatap tajam suaminya.
"Jadi mba mau pilih tas yang mana?" tanya Ryan di akhir sesi presentasinya.
Akhirnya wanita tersebut membeli dua tas tangan dengan model berbeda, dompet, dan empat buah sandal dengan ukuran berbeda. Ryan membawa barang-barang tersebut ke meja Dina untuk dihitung, wanita tersebut mengekori di belakang Ryan.
"Din tolong hitung belanjaan mba ini..." ujar Ryan pada istrinya.
Tanpa mengatakan apapun, Dina langsung menghitung total belanjaan, Ryan langsung membungkus tanpa melihat wajah Dina.
"Ini adiknya ya, A? mirip..." tanya wanita tersebut setelah menyerahkan sebuah kartu debit sebagai alat pembayaran.
"Istri saya, mba..." jawab Ryan dengan mengulas senyum manis dan menatap Dina hangat, sayangnya Dina tidak melihat senyuman Ryan untuknya, karena tatapannya melihat ke arah lawan bicara Ryan.
Mendengar jawaban Ryan, tentu saja wanita itu tidak menyangka, bahkan senyumnya langsung pudar dan Dina melihat hal itu.
"Ini struknya, mba," ucap Dina sambil menyerahkan selembar struk dan kartu debit wanita tersebut.
Saat Ryan akan memberikan beberapa kantong belanjaan, Dina dengan sigap merebutnya dan menyerahkannya langsung pada wanita tersebut.
"Terima kasih sudah belanja di toko kami, ditunggu kedatangannya kembali," ucap Dina dengan mengulas senyum lebar.
Wanita tersebut menerima kantong-kantong belanjaan dengan wajah masam.
"Kata orang-orang, kalau jodoh biasanya memang suka mirip. Iya kan sayang?" Dina menyusupkan jemarinya di telapak tangan Ryan dan tersenyum semanis mungkin hingga Ryan merasa aneh melihatnya.
Wanita tersebut langsung pergi dengan wajah ditekuk dan keluar dari toko, tanpa menanggapi ucapan Dina.
"Sayang?" tanya Ryan senang, sebab baru kali ini dia mendengar Dina mengatakan sayang.
Dina yang tak siap dengan pertanyaa Ryan langsung melepaskan tautan jemarinya dan memalingkan wajahnya.
"Tau..." jawab Dina ketus.
Ryan tentu saja kaget dengan perubahan sikap Dina, tadi istrinya begitu manis.
"Tumben kak Ryan ke sini lebih cepat."
"Mau ngajak kamu jalan."
"Ah alesan..."
"Kamu kenapa, sih? lagi PMS ya?" tanya Ryan yang belum mengerti penyebab istrinya berkata ketus, seperti awal-awal mereka bertemu.
Ryan menarik bangku agar bisa duduk berdekatan dengan istrinya. Dina diam, tak tahu harus memberikan jawaban apa pada suaminya. Dia pura-pura sibuk menghitung nota-nota di depannya.
"Udah mulai nggak rame, pulang yuk!"
"Masih belum terlalu sore, kak..."
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Kejutan..." jawab Ryan dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ish.. ganjen. Pantes aja wanita tadi nempel terus, pasti tadi lagi ngobrol matanya dikedip-kedipin gitu?"
Ryan mengernyitkan dahinya tak mengerti, tapi kemudian seulas senyum terukir dibibir sen..sualnya.
"Cemburu yaaa..." Ryan mendekatkan kepalanya ke arah Dina.
"Nggak," jawab Dina cepat.
"Kalau cemburu bilang, neng..." Wajah Ryan makin mendekat.
"Sana iiih, jauhan dikit,"
"Nggak mau."
Dina memundurkan kursi. "Ini di toko, ka..."
"Bilang dulu kalau cemburu."
"Nggak..." tukas Dina cepat.
Ryan hendak mendekat kembali namun gerakannya terhenti saat karyawan Dina menginterupsi Dina menanyakan harga jaket kulit. Keduanya menjadi salah tingkah, Dina malu pada karyawannya dengan kekonyolan Ryan.
Dina beranjak bangkit meninggalkan Ryan.
"Pulang sekarang yuk, sayang...."
Setelah keadaan toko berangsur sepi, Ryan kembali mengajak Dina untuk pulang. Saat mengucapkan kata sayang, Ryan sengaja membisikannya langsung ke telinga Dina, membuat bulu-bulu halus Dina seketika meremang.
"Ish..." Dina pura-pura kesal, tapi tidak dengan hati dan rona merah di pipinya.
Tak ingin Ryan terus menggodanya, Dina pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengambil tasnya.
"Aku senang kamu cemburu kayak tadi," ucap Ryan saat memasangkan helm untuk istrinya.
"Siapa yang cemburu..." Dina berkata dengan ketus.
"Cemburu itu tanda sayang lho..." Ryan terus menggoda Dina.
Ryanpun mendapat hadiah cubitan diperutnya dari Dina, yang membuat Ryan justru tertawa senang.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Dina pada Ryan yang tak kunjung melajukan kendaraan roda duanya.
"Berasa ringan aja ini badan."
Dina yang mengerti maksud Ryan, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Setelah itu, barulah Ryan melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju tempat yang ingin dia dan istrinya datangi.
BERSAMBUNG
dan adzan maupun iqomah hanya dilakukan laki2