NovelToon NovelToon
HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erni Handayani

Arini Karisma Putri atau yang lebih akrab dipanggil Arin tidak pernah mengira jika ia akan menikah muda. Diusianya yang baru menginjak 20 tahun seharusnya ia bisa menikmati masa-masa muda yang tidak akan pernah terulang kembali. Akan tetapi karena kesalahannya yang memberikan kehormatannya Arin merasa begitu bersalah kepada dirinya sendiri. Terkadang Arin menyesali pertemuannya dengan Reza Rahardian seorang duda muda yang menjadi pacarnya saat ini. Arin yang hidup bersama ayahnya selalu merasa kesepian dan kurang perhatian. Bertemu dengan Reza membuat Arin merasa beruntung sebab setelah ia bertemu dengannya membuat hidup Arin lebih berwarna. Sementara Reza Rahardian yang sebelumnya memiliki seorang istri harus menjalani kehidupan rumah tangganya seperti dineraka. Bahkan sang istri Sintia Azkya jarang sekali melayani Reza, ada saja alasana agar Reza tidak menyentuhnya. Hal itulah yang membuat Reza pada akhirnya melakukan perbuatan terlarang bersama Arin. Bagaimana nasib Arin ke depannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Hari Pertama Bekerja

Hari ini adalah hari pertama bagi Sintia untuk bekerja. Itu artinya Sintia harus bangun lebih awal untuk membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Zidan. Meski berat dan sangat mengantuk tapi Sintia harus melakukan semua ini.

"Mah, kenapa mamah harus bekerja?" tanya Zidan yang yang melihat Sintia sedari tadi mulai sibuk.

"Mamah melakukan ini hanya untuk kamu sayang. Jika mamah tidak bekerja, siapa lagi yang akan membiayai sekolah kamu," lirih Sintia yang merasa sedih dengan pertanyaan anaknya.

Zidan yang mendengar jawaban dari ibunya seketika terdiam. Zidan merasa bersalah karena tidak seharusnya ia bertanya seperti itu.

"Maafkan aku mah," ujar Zidan lirih.

"Maaf kenapa sayang? Mamah tidak apa-apa," jawab Sintia yang langsung mensejajarkan dirinya dengan Zidan.

"Tidak seharusnya aku menanyakan hal itu pada mamah," lirih Zidan.

"Tidak apa-apa sayang," timpal Sintia yang tersenyum simpul.

"Ya sudah sekarang kamu sarapan dulu ya, sebentar lagi pasti jemputan kamu datang," tukas Sintia.

"Iya mah," jawab Zidan yang langsung segera menyantap makanannya.

Sementara Zidan makan, Sintia segera bersiap untuk pergi ke kantor. Meski tidak tega tapi Sintia harus melakukan semua ini. Hal ini ia lakukan semata-mata hanya untuk Zidan. Panji sebagai ayahnya tidak pernah membiayai anaknya atau bahkan sekedar menanyakan bagaimana kondisinya.

"Tega kamu mas bahkan sampai saat ini kamu tidak pernah menanyakan kabar kami," gumam batin Sintia yang seketika berkaca-kaca.

"Mah,"  teriak Zidan yang seketika membuyarkan lamunan Sintia.

"Iya sayang, sebentar," jawab Sintia dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian Sintia pun segera keluar dari kamarnya. Sintia kini sudah terlihat begitu rapi. Sementara Zidan sudah bersiap karena jemputan dari sekolahnya sudah tiba. Yang menjadi nilai plus di sekolah Zidan yaitu ada fasilitas antar jemput bagi setiap siswa. Untuk itu Sintia tidak perlu repot harus mengantarkan anaknya dulu ke sekolah.

"Mah, aku pergi sekolah dulu ya, mobilnya sudah datang," pamit Zidan yang menyalami ibunya sebelum berangkat ke sekolah.

"Iya sayang hati-hati ya. Belajar yang baik!" seru Sintia yang mengecup pucuk kepala Zidan sebelum ia berangkat.

"Dadah mamah," ujar Zidan sambil melambaikan tangan dan segera bergegas menuju mobil yang sedang terparkir tak jauh dari rumahnya.

"Dadah sayang," teriak Sintia yang melihat kepergian anaknya sebelum ia benar-benar pergi bekerja. Sintia terus memperhatikan laju mobil itu hingga mobil itu tidak terlihat lagi. Sintia baru pergi setelah mobil itu benar-benar pergi.

"Sudah siang, aku harus segera pergi," ujar Sintia setelah melihat jam yang ada ditangannya.

Sintia pun segera masuk kedalam rumah mengambil tas dan segera mengunci rumahnya. Setelah siap Sintia mengunci rumah dan berjalan sebentar menuju jalan raya. Hanya butuh beberapa menit saja untuk tiba dijalan raya. Sintia menunggu sebuah taksi dihalte agar tidak kepanasan.

Namun saat ia sedang duduk, tiba-tiba saja ada orang yang menghampirinya

"Sintia!" panggil seorang laki-laki itu.

"Mas Panji? Sedang apa kamu disini?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.

"Aku ingin berbicara denganmu Sintia," ujar pria itu

"Tapi maaf aku sudah terlambat bekerja," pamit Sintia yang segera memanggil taksi. Sintia pun segera masuk ke dalamnya.

"Untuk apa dia menemuiku?" gumam batin Sintia.

"Sial! Kenapa Sintia harus menghindar, aku hanya ingin meminta maaf," tukas Panji yang hanya bisa menyaksikan kepergian Sintia.

Setelah berbulan-bulan mereka tidak bertemu, tiba-tiba saja Panji datang menemuinya. Hal apa yang akan ia bicarakan.

"Syukurlah untung aku bisa menghindarinya. Aku tidak ingin berbicara lagi dengannya," gumam batin Sintia.

Tanpa terasa akhirnya Sintia tiba dikantornya. Sintia berjalan menuju ruangannya begitu tergesa-gesa

"Sintia?" panggil Reza dari arah belakang.

"Iya," jawab Sintia yang dengan spontan kembalikan tubuhnya.

"Kenapa buru-buru seperti itu Sintia? Apa ada masalah?" tanya Reza yang melihat Sintia begitu mengkhawatirkan sesuatu.

"Aku tidak apa-apa, aku hanya kesiangan. Makanya aku terburu-buru," jawab Sintia.

"Oiya aku lupa, bukankah hari ini hari pertamamu bekerja,"ujar Reza.

"Syukurlah dia percaya," gumam batin Sintia yang melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.

Setelah menjawab pertanyaan Reza, Sintia segera melanjutkan langkahnya. Sintia bergegas pergi meninggalkan Reza menuju ruangannya.

Di dalam ruangannya Sintia segera duduk dan segera minum air putih yang ada diatas mejanya. Sintia merasa lega karena akhirnya ia bisa menghindari Panji.

"Untuk apa Panji tiba-tiba datang setelah sekian lama tidak bertemu. Apa dia ingin meminta maaf, atau akan merebut Zidan dariku," gumam batin Sintia yang merasa bingung. Sintia takut jika Panji merebut Zidan darinya. Selama ini dialah yang mengurus Zidan.

"Tidak, semua itu tidak akan aku biarkan," gumam batin Sintia.

"Ada apa Sintia? Kenapa aku perhatikan sejak tadi namun hanya melamun," tanya Reza yang sedari tadi memperhatikan Sintia didepan pintu. Sementara Sintia tidak menyadari jika Reza berada dihadapannya sejak tadi.

"Sejak kapan kamu berada disana?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya. Sintia tidak menyadari kedatangan Reza diruangannya. Ia hanya sibuk dengan lamunannya saja.

"Aku dari tadi sini," jawab Reza datar.

"Lalu kenapa tidak memanggilku?" tanya Sintia lagi.

"Sudah berapa kali aku panggil tapi kamu tidak mendengar. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reza.

"Aku, aku tidak apa-apa," jawab Sintia yang berusaha menyembunyikan yang sebenarnya. Sintia merasa Reza tidak perlu tahu jika Panji menemuinya, toh itu juga bukan urusannya.

"Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita, aku hanya ingin memastikan jika kamu tidak kesulitan di hari pertama kamu bekerja," ujar Reza.

"Sejauh ini, aku masih bisa. Nanti jika ada yang tidak aku aku mengerti aku pasti akan menanyakannya," tukas Sintia.

"Ya sudah kalau begitu, aku ke ruanganku dulu," pamit Reza.

"Iya," jawab Sintia singkat. Sebenarnya Sintia tidak ingin selalu menjawab pertanyaan Reza. Akan tetapi ini sedang berada dikantornya, Sintia tidak bisa jika harus mengabaikan Reza. Untuk itu Sintia hanya menjawab seperlunya saja.

Entah kenapa Reza merasa jika Sintia sedang menyembunyikan sesuatu. Sintia terlihat begitu khawatir sejak tadi pagi. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sintia? Kemarin perasaan dia masih baik-baik saja. Tapi hari ini, sejak pagi tadi aku perhatikan dia seperti sedang memikirkan sesuatu," gumam batin Reza.

Tidak seharusnya Reza ikut campur dengan urusan Sintia, sebab ia bukan siapa-siapa lagi. Tapi entah mengapa Reza merasa begitu khawatir pada Sintia. Reza selalu saja memikirkan tentang Sintia. Apa ini semua karena janji Reza kepada ayahnya?

"Aku tahu semua ini hanya karena aku sudah berjanji akan selalu menjaga Sintia pada ayahnya. Aku tidak mencintainya, aku hanya ingin memenuhi janjimu saja," gumam batin Reza.

1
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
R-Niie
ya kak 🙏, makasih sudah mau mengikuti sampai tamat 😁. Jangan lupa cerita ke cerita yang lain juga ya kak 😅🙏😉
ajiu jiu
happy ending .......
R-Niie
emang cwo tu sukanya belok-belok ae 😅
ajiu jiu
ud lah Reza jgn kau "belok" 🥴🥴🥴
ajiu jiu
🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
ajiu jiu
lanjut ......
ajiu jiu
ibu tangguh ....
ajiu jiu
Arin terlalu banyak pendam kata2 😩😩
R-Niie
hihi kalau ga gitu ga rame kak😂😅
ajiu jiu
sbnry chemistry Sintia sama Reza lbh dpt , dr pda Reza am alin , tp Thor kl bs jgn pkai alur perselingkuhan y 😅😅
ajiu jiu
lanjut ......Thor
R-Niie: siap kak 😁
total 1 replies
Ani Ratih
selalu bagus cerita nya
ajiu jiu
Sheila mengandung 🥴🥴🥴
Girlysky
Next kak, ceritanya seruu, semangat terus ya :)
Jangan lupa mampir di ceritaku kak😍
R-Niie: makasih ka 😁, judulnya apa ka?
total 2 replies
🌸EɾNα🌸
ceritanya keren ditunggu up nya Thor 👍
jangan lupa feedback ke ceritaku ya
"Kekasih Simpanan Tuan Muda"
makasih 🥰
R-Niie: makasih ka , 😁
oiya k siap.. 🖒😊
total 1 replies
Nur aeni
wahh, Silmi mau sm Gilang appa Glen nih...
R-Niie: Ikuti terus ceritanya ka 😊
total 3 replies
Nur aeni
Ciye Silmi, udh pnya knalan aja,,
Nur aeni
Silmi wanita yang hebat❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!