Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Cerita Masa Lalu
Suara rintik hujan yang membasahi atap seng rumah seolah menjadi melodi pengiring malam yang sunyi. Kania baru saja pulang dari pernikahan Firman, melangkah pelan memasuki ruang tengah.
Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu kamar ibunya yang sedikit terbuka. Di ujung ranjang, ibunya duduk membelakangi pintu. Bahu wanita paruh baya itu bergetar hebat. Terdengar isak tangis yang berusaha ditahan, namun lolos juga menembus keheningan.
Kania mendorong pintu itu perlahan. Hatinya mencelos saat melihat ibunya sedang memeluk erat sebuah bingkai foto yang sudah mulai kusam.
"Ibu kenapa menangis?" tegur Kania dengan suara lembut, memecah kesunyian.
Sang ibu tersentak kaget. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung kerudungnya yang memudar, lalu menoleh dengan senyum yang dipaksakan. Bingkai foto itu diturunkannya perlahan ke atas pangkuan.
"Ada masalah, Bu? Apa ada yang sakit?" tanya Kania cemas. Ia segera menghampiri ibunya, berlutut di lantai, dan menggenggam kedua tangan wanita yang melahirkannya itu. Tangan ibunya terasa dingin.
Ibunya menggeleng pelan, mengusap puncak kepala Kania dengan sayang.
"Nggak, Nia. Ibu nggak apa-apa. Ibu sehat kok," suaranya serak dan bergetar. "Ibu cuma... tiba-tiba kangen sekali sama Bapakmu."
Mendengar itu, dada Kania terasa sesak. Ia melirik bingkai foto di pangkuan ibunya. Di sana, mendiang ayahnya, Maheswara, tersenyum gagah dalam balutan kemeja sederhananya. Sudah bertahun-tahun ayahnya pergi, namun luka di hati ibunya sepertinya tak pernah benar-benar mengering.
Kania bangkit, lalu duduk di sebelah ibunya. Ia merangkul bahu renta itu dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Ibu, Bapak sudah tenang di sana. Jangan terlalu dipikirkan sampai Ibu menangis begini. Nanti kalau Bapak lihat Ibu sedih, Bapak di surga juga ikut sedih, lho," hibur Kania, berusaha menahan air matanya sendiri agar tidak ikut jatuh.
Ibunya menarik napas panjang yang terdengar gemetar. Jari-jarinya yang keriput mengusap kaca bingkai foto itu tepat di bagian wajah suaminya.
"Ibu tahu, Nduk. Ibu sudah ikhlas," lirih ibunya pelan. "Hanya saja, hari ini tepat peringatan hari kepergian Bapakmu. Dan setiap kali hujan turun di bulan ini, Ibu selalu teringat kejadian itu. Tragedi yang merenggut Bapakmu dari kita."
Kania terdiam. Sejak kecil, ia hanya tahu bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ibunya tak pernah mau menceritakan detailnya karena terlalu menyakitkan.
"Bapakmu itu orang yang sangat baik, Nia. Terlalu baik." Ibunya menatap kosong ke arah dinding. "Kematian Bapakmu dulu itu bukan sekadar kecelakaan biasa. Dia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawa orang lain."
Kania mengangkat kepalanya, menatap ibunya dengan dahi berkerut.
"Menyelamatkan nyawa orang lain? Maksud Ibu?"
Air mata kembali menetes dari sudut mata sang ibu. "Iya, Nduk. Siang itu, ada sebuah truk rem blong yang melaju tak terkendali ke arah trotoar. Di sana ada seorang wanita yang mematung karena ketakutan. Bapakmu berlari, mendorong wanita itu hingga selamat, tapi tubuh Bapakmu sendiri yang akhirnya tertabrak."
Kania menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar kencang mendengar fakta yang baru terungkap itu.
"Ya Allah, Bapak..."
"Wanita yang diselamatkan Bapakmu itu namanya Dahlia," lanjut ibunya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Kania tersentak keras. Matanya membulat sempurna.
"Dahlia?" ulangnya dengan nada tak percaya. "Lho, Bu, bukannya itu nama ibu kandungnya Pak Abimanyu? Ibu dari bosku sekaligus laki-laki yang..." Kania tak melanjutkan kalimatnya, pikirannya tiba-tiba berkecamuk hebat.
Ibunya menoleh, menatap Kania dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu kenal Nyonya Dahlia, Sayang?"
Kania mengangguk patah-patah. "Tentu saja Kania kenal, Bu. Pak Abimanyu itu atasan Kania. Dan ibunya memang bernama Ibu Dahlia. Beliau istri dari keluarga Adiningrat yang sangat kaya itu. Apa itu Dahlia yang sama, Bu?"
Sebuah senyum getir dan penuh keharuan terbit di bibir ibunya.
"Dunia ini memang sangat sempit, Nduk. Rahasia Tuhan tidak ada yang tahu. Ya, itu Dahlia yang sama. Dulu, sebelum keluarga mereka seberjaya sekarang, Ibu, Bapakmu, dan Dahlia adalah teman baik. Kami sering bertukar cerita, bahkan sering makan di warung tenda yang sama."
"Lalu kenapa Ibu tidak pernah cerita pada Kania? Kenapa Ibu dan Ibu Dahlia tidak pernah bertemu lagi setelah kejadian itu?" tanya Kania dengan suara bergetar. Hatinya hancur membayangkan betapa berat beban yang dipikul ibunya sendirian.
Ibunya menghela napas panjang, tatapannya menerawang menembus waktu.
"Setelah kejadian itu, Dahlia sangat terpukul dan merasa bersalah atas kematian Bapakmu. Dia berkali-kali datang ke rumah kita sambil menangis histeris, meminta maaf dan menawarkan banyak uang sebagai ganti rugi," tutur sang ibu dengan suara parau.
"Tapi Ibu menolaknya, Nia. Nyawa Bapakmu tidak bisa dibeli dengan uang berapapun. Saat itu, hati Ibu hancur dan masih dipenuhi amarah. Ibu meminta Dahlia pergi dan tidak usah menemui kita lagi, karena melihatnya hanya mengingatkan Ibu pada kematian suamiku."
Air mata Kania akhirnya tumpah. Ia memeluk ibunya dari samping dengan sangat erat.
"Ibu..."
"Tapi itu dulu, Sayang," Ibunya membalas pelukan Kania, mengusap punggung putrinya dengan lembut. "Sekarang Ibu sudah benar-benar melupakannya dan memaafkan segalanya. Ibu sadar, itu murni kecelakaan. Takdir Bapakmu memang harus berakhir hari itu dengan cara yang mulia."
Ibunya menangkup wajah Kania yang basah oleh air mata, lalu menatapnya dengan penuh kasih.
"Ibu lega mendengar kamu sekarang dekat dengan keluarga mereka, apalagi dengan putranya. Jangan pernah menyalahkan Dahlia atau Abimanyu atas masa lalu itu, ya? Bapakmu menyelamatkannya karena kebaikan hatinya. Biarkan kebaikan itu menjadi ladang pahala buat Bapakmu di akhirat sana."
Kania tak mampu berkata-kata lagi. Tangisnya pecah. Ia kembali memeluk ibunya erat-erat.
Ternyata, takdir yang mengikatnya dengan Abimanyu memiliki akar masa lalu yang begitu dalam, begitu perih, sekaligus begitu indah.
baru seminggu jadi loo mantu
gimana rasanya s tahun
gimana kalau mawar tau dia hanya anak pelakor
hasil hubungan gelap gulita🤣🤣
agar Dahlia meninggal
namun sayangnya malah bpknya Kania yg kena
truk blong itu
jadi mawar hasil hubungan gelap tooh
dan sekarang hasilnya sama
dia merebut suami orang
hadeeuuh
jadi adik kandung beda ibu
hemm