Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Reksa
"Kalian berlima cepat kemari!" bentak Reksa.
Dia tidak bisa menahan lagi emosi di pikirannya, meski dia belum mendengarkan bantahan dari 5 orang tersebut.
Melihat muka Reksa yang memerah karena emosinya memuncak, kelima orang yang dihajar Wira kemarin dengan takut-takut berjalan mendekati panggung yang roboh itu.
"Apa benar yang dia katakan jika kalian sudah mengganggu dan hendak berbuat tidak senonoh kepada kekasih pemuda itu?"
"Tidak benar, Reksa. Kami tidak mungkin akan melakukan hal serendah itu," jawab seorang dari mereka.
"Benar, kami tidak mungkin melakukannya, Reksa!" sahut yang lainnya.
Reksa sedikit gamang dengan bantahan yang temannya lakukan. Dia kemudian memandang Wira dengan ekspresi penuh pertanyaan.
Wira tersenyum tipis setelah melihat keraguan di wajah Reksa, "Kalau ada maling yang mau mengaku, maka penjara akan penuh. Kalian boleh saja mengelak, tapi banyak saksi yang melihat kejadian itu. Termasuk pemilik tempat makan saat kalian mengganggu kekasihku."
"Benarkah yang kau ucapkan itu?" tanya Reksa.
"Kalau tidak percaya, ayo kita temui pemilik tempat makan itu. Tapi konsekuensinya, kepala mereka berlima harus terlepas dari tubuhnya. Dan kau yang harus mengeksekusi mereka," jawab Wira dengan begitu tenang. Tatapan matanya tidak bergeming sedikitpun dari wajah Reksa.
"Apa kalian masih mau melakukan bantahan lagi?"
Kelima orang itu diam dan menundukkan wajahnya. Kedua lutut mereka bergetar karena ketakutan yang amat sangat. Seketika keringat dingin keluar dari setiap pori-pori di kulit mereka dan membasahi pakaian yang mereka kenakan.
"Kenapa diam saja!? Jawab pertanyaanku!" bentakan Reksa membuat kelima orang tersebut hampir meloncat saking kagetnya. Tapi mereka tetap tidak menjawab pertanyaan Reksa.
"Baiklah kalau kalian tidak mau menjawab. Ayo kita temui pemilik tempat makan itu. Jika kalian terbukti berbohong dan berniat mengadu domba aku dengannya, aku pastikan kalian tidak akan melewati siang ini dengan selamat."
"Maafkan aku, Reksa. Aku tidak ikut menggoda kekasih pemuda itu. Tapi Barda dan Santoso yang melakukannya. Aku membantu mereka berdua karena solidaritas sesama anggota perguruan saja," seorang dari mereka langsung berlutut di depan Reksa. Wajahnya begitu ketakutan hingga dia tidak merasakan jika cairan hangat sudah membasahi pangkal pahanya.
Mendengar pengakuan temannya, Reksa langsung menendang dada orang itu hingga terjungkal ke belakang. Setelah itu dia menatap Barda dan Santoso yang tidak sedikitpun berani mengangkat wajahnya.
Reksa lalu mendekati mereka berdua dan mencengkeram leher keduanya. "Kalian tahu apa hukuman bagi anggota yang sudah membuat malu nama perguruan kita?"
"A...Ampun, Reksa. Kami sudah melakukan kesalahan. Tolong ampuni kami, jangan bunuh kami, Reksa," ucap Barda terbata-bata. Suaranya lirih karena pernafasannya terganggu.
"Kalian berdua tidak pantas untuk dimaafkan. Kalian sudah membuat malu nama perguruan kita. Ditambah pula dengan kesaksian palsu yang kalian berikan padaku dan juga yang lainnya. Sekarang kalian pilih mana, bertarung denganku atau aku bunuh secara langsung?"
Barda dan Santoso menelan ludahnya ketakutan. Mereka tidak mungkin memilih salah satu dari dua pilihan yang diberikan Reksa, karena sama-sama berujung dengan kematian.
"Ada yang harus kalian ketahui, kalian berdua hanyalah seorang pengecut yang tidak berani bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kalian lakukan. Dan aku sangat membenci orang seperti itu!"
Krekk! Krek!
Dua kali suara tulang yang remuk terdengar bersahutan. Nyawa Barda dan Santoso akhirnya terlepas dari raga, setelah Reksa membunuh mereka berdua tanpa ampun.
Semua orang yang melihat kekejaman Reksa langsung bergidik ngeri. Tak terkecuali 3 orang lainnya yang kemarin membantu Barda dan Santoso. Mereka bertiga begitu merasakan ketakutan yang amat hebat. Takut mengalami hal yang sama, kematian.
"Kalian bertiga boleh memilih, tinggalkan perguruan Singa Merah untuk selamanya, atau tetap tinggal di sana dan harus menjalani hukuman yang aku berikan."
Ketiga orang itu saling memandang satu sama lain. Tak lama, akhirnya mereka sepakat untuk tetap tinggal di perguruan Singa Merah.
"Kami akan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kami perbuat, Reksa. Kami memilih tetap tinggal di perguruan dan siap menjalankan hukuman yang diberikan," ucap salah seorang yang mewakili kedua temannya.
Reksa menghela nafas panjang. Emosinya secara perlahan berangsur turun. Dia kemudian berjalan mendekati Wira. "Maafkan karena aku sudah salah duga kepadamu. Aku juga salah tidak bisa mendidik mereka dengan baik. Jika ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, katakanlah!"
"Tidak usah dipikirkan tentang itu. Yang penting faktanya sudah terungkap sekarang. Suatu saat nanti aku akan mencarimu ke perguruanmu ketika aku membutuhkan bantuanmu," jawab Wira.
Reksa mengernyitkan dahinya sebentar. Dia dibuat bingung dengan ucapan pemuda tampan tersebut. Namun dia tidak hendak bertanya lebih lanjut.
"Terima kasih atas pengertianmu. Sekarang aku dan teman-temanku akan kembali ke perguruan." Reksa menundukkan kepalanya sebentar lalu mengajak semua temannya meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Reksa dan teman-temannya, Lesmana berjalan mendekati Wira. "Kenapa kau tidak bilang jika ada yang mengganggu Sinta?"
"Sebisa mungkin aku akan menyelesaikan masalahku sendiri, Tuan," jawab Wira dengan sopan. Wira berpikir, kebaikan yang sudah diberikan Lesmana kepadanya dan Sinta, sudah sangat banyak. Dia tidak ingin membebani lelaki itu dengan masalah yang lain.
Lesmana memandang panggung yang sudah roboh dan tidak bisa digunakan lagi itu. "Apa kau yang sudah merobohkan panggung ini?"
Wira tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.
"Tolong panggung yang lain jangan kau robohkan," pinta Lesmana.
"Aku tidak bisa memastikannya, Tuan." Wira tertawa pelan memandang Lesmana yang menepuk dahinya pelan.
Setelah berpikir, akhirnya Lesmana membuat keputusan bahwa panggung 4 ditiadakan. Jadi turnamen akan dilanjutkan hanya dengan 3 panggung saja. Selain karena waktu yang akan terbuang jika membangunnya lagi, juga karena peserta sudah berkurang banyak.
Sementara itu, Raden Sanjaya yang meminta agar dirinya dipertandingkan siang hari saja, akhirnya mendatangi arena turnamen. Dia dibuat terkejut dengan keberadaan Wira yang ada di tempat itu dan juga dengan robohnya panggung keempat.
Tatapan matanya tajam terarah kepada Wira yang juga memandangnya. "Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa kau mau aku hajar di sini!" bentak Raden Sanjaya. Dia tidak peduli meski ada Lesmana di dekat Wira.
"Jangan sekarang, Raden. Nanti akan ada waktunya bagi kalian berdua bertemu di atas panggung," sahut Lesmana.
"Apa maksudmu, Tuan Lesmana?" tanya Raden Sanjaya keheranan.
"Apa Raden tidak tahu jika Wira juga ikut dalam turnamen ini? Dan sekarang dia sudah lolos ke babak 16 besar."
Raden Sanjaya kembali dibuat terkejut dengan keikutsertaan pemuda itu dalam turnamen. Namun sedetik berikutnya dia tersenyum lebar, "Aku menunggu saat itu tiba. Aku pastikan tulang-tulangmu akan patah dan kau akan lumpuh selamanya!"
"Bagaimana jika ternyata nanti tulang-tulang Raden yang patah?" tanya Wira dengan senyuman mencibir.
Pertanyaan singkat Wira tersebut seketika membuat emosi Raden Sanjaya meledak. "Kau berani mengancamku?" bentaknya. Kedua tangan Raden Sanjaya langsung terkepal kuat.